you're reading...
daily's blings

The Lost Boy

Ada sepotong wajah yang tidak akan pernah aku lupakan.

Wajah seorang lelaki; yang bersih tak berjerawat meski kadang dagunya tak lagi licin karena ditumbuhi rambut-rambut kasar yang membuatnya semakin nampak jantan.

Wajah seorang lelaki; yang memiliki sepasang mata yang teduh dan menenangkan, hidung yang mencuat tinggi, bibir berwarna merah muda yang seringkali terselip sebatang rokok yang ujungnya membara.

Wajah seorang lelaki; yang selalu menjadi bagian terpenting dari masa-masa remajaku, ketika aku masih lagi duduk di bangku SMA, ketika hari ke hari adalah untuk bercanda, bersenang-senang, dan… ya. Jatuh cinta.

Aku tidak akan pernah melupakan wajah lelaki itu. Aku bahkan mengingat persis setiap senti wajahnya, tarikan senyumnya, suara amarahnya, cara tertawanya, caranya memilin rokok di antara jari-jemarinya, atau caranya menendang bola saat pertandingan sepak bola seusai Salat Jumat.

Ya. Bagaimana mungkin aku lupa pada sepotong wajah yang di setiap partikel-partikel penyusunnya adalah cinta?

Lelaki itu yang membuatku ingin bergegas berangkat ke sekolah, meskipun hujan turun membuat sepatuku kotor.

Lelaki itu yang membuatku bersemangat sekolah, sekalipun hari itu aku menghadapi ujian Kimia dan Fisika yang sungguh menyebalkan.

Lelaki itu yang membuatku ingin agar masa-masa SMA tak hanya tiga tahun, tapi bertahun-tahun lagi agar aku masih bisa terus menikmati keindahannya.

Lelaki itu yang membuatku menangis ketika pengumuman kelulusan tiba dan pesta perpisahan dihelat begitu heboh di sekolah.

Lelaki itu.
Ray.
Lelaki yang kepadanya pernah kutitipkan hati,
…tapi ia tak pernah mengetahuinya.

**

Dia, lelaki itu, memang tak pernah tahu. Aku, perempuan yang menjadi kawannya, telah diam-diam mengamati keindahannya dari kejauhan. Menikmati setiap polah tingkahnya, menikmati suara tertawanya, menikmati setiap detik bersamanya, berbagi oksigen dengannya… dalam diam, dalam kata-kata yang tersembunyi di dalam tenggorokan, yang selalu membeku setiap mata kami beradu.

Bertahun-tahun aku menghabiskan waktuku untuk memujanya, tapi tak satu detik pun aku mengucapkan kekagumanku padanya.

Hingga detik terakhir aku menemukannya di balik pintu pagar rumah saat pesta perpisahan kelas, detik itu pula aku terakhir berbagi oksigen dengannya.

Dia, lelaki itu, kemudian hilang.
Aku, perempuan yang diam-diam mencintainya itu, kemudian menangis. Masih dalam diam.

Belasan tahun kemudian.

**

He’s the lost boy.

Aku dan sahabatku menamakannya demikian, karena sejak tiga belas tahun yang lalu, lelaki itu seolah lenyap ditelan bumi.

Angin tak membisikkan kabarnya.
Kecanggihan teknologi tak berhasil menemukannya.

Dia memang seolah menghilang, tak tersentuh. Tak terhitung berapa kali aku mencoba menemukannya untuk menuntaskan satu hutang pada gadis kecil di dalam hatiku. I have to find this lost boy. Satu hutang yang aku kemudian meyakini bahwa tidak akan pernah terpenuhi.

“Memangnya, apa yang bakal kamu lakukan kalau kamu ketemu dia, La?” tanya sahabatku.

“Bilang kalau dia pernah jadi segalanya.”

“Itu aja?”

“Hmm…”

“Kamu nggak berharap apa-apa?”

“Maksudmu?”

“Dia masih lajang, misalnya?”

Aku tak berani bermimpi bisa menjadi kekasih hatinya. Aku tak berani bermimpi dia akan menginginkanku. Cukup hanya bernafas di dekatnya, mengurai cerita bersamanya, duduk berdua dengannya lalu bercanda tentang kebodohan-kebodohan masa lalu sudah membuatku bahagia.

Tak perlu impian menjadi kekasihnya.
Aku hanya cukup bermimpi untuk menemukannya kembali, di antara rimba gedung-gedung yang menjulang tinggi dan belantara teknologi yang semakin mencanggih.

“Jadi, kalau kelak kamu ketemu dia, kamu tetap nggak berharap apa-apa?”

Aku menganggukkan kepala.

“Yakin?”

“Ya.”

Aku pikir, menemukan dia setelah belasan tahun tak terjamah teknologi adalah suatu mukjizat. Alangkah tidak tahu dirinya aku kalau aku masih menginginkan dia bakal menjadi kekasihku. Miracle doesn’t happen by request. Jadi, aku hanya butuh satu keajaiban itu saja.

**

Belasan tahun, sepotong wajah itu masih selalu di hati. Masih selalu bersembunyi di sebuah ruang yang tak boleh diketahui siapapun, termasuk kekasih hati. Dan suaranya. Ya, suaranya, masih menggema di dalam hatiku, mengusik mimpiku.

Aku memang tak akan pernah melupakannya; lelaki serupa cahaya yang membuat langkah-langkahku ringan menempuh hari.

Aku memang tak akan pernah melupakannya; lelaki yang jarang tersenyum tapi sebentuk senyumnya masih terukir sempurna di hati.

Aku memang tak akan pernah melupakannya; lelaki yang di hatinya kutitipi hati dan membawanya pergi.

Aku memang tak akan pernah melupakannya.
Wajahnya.
Senyumnya.
Cahaya di kedua biji matanya.
Bibir yang membisikkan asap rokok ke udara.
Cinta terpendam masa SMA.
Melupakan Ray, the Lost Boy, yang telah membuat belasan tahunku menjadi penuh petualangan karena mencari remah-remah sosoknya.

Aku tak akan pernah berhenti mencarinya.
Aku tak akan lelah berusaha menemukannya.

Untuk satu hutang yang musti lunas kubayar.
Hutang pada gadis remaja yang seluruh kosa katanya tercuri oleh kawan sekelasnya.

Aku akan terus mencari Ray.
Dan semoga, keajaiban bisa berpihak kepadaku…

***

Pssstt… Siapa kenal dengan Raymond Antonio Wijaya? 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “The Lost Boy

  1. smg Tuhan mengizinkan kalian tuk bersua 🙂

    Posted by dianaledi | May 8, 2011, 9:58 am
  2. Ini kisah nyata kah La?
    I like it….
    Mengalir lancar, dan terasa so natural…

    Posted by zee | May 12, 2011, 2:37 pm
  3. kangen baca tulisan-tulisan jeunglala,
    dan kali ini saya menikmatinya .. sungguh!
    piye kabare? 🙂

    Posted by mascayo | May 16, 2011, 6:37 pm
  4. saya ngak kenal mbak dengan Raymond Antonio Wijaya 😆

    Posted by orange float | May 19, 2011, 3:49 pm
  5. wahh..kisahnya mengingatkanku… 😀

    Posted by funnie | May 20, 2011, 2:31 pm
  6. apakah ray yg dimaksud sudah ngebaca postingan ini..?

    Posted by Dominguest | July 5, 2011, 7:29 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: