you're reading...
daily's blings

I’m Married!

Deka & Lala

Ketika mendengar kata-kata ‘married’ atau ‘menikah’, apa yang segera terlintas dalam benakmu?

Komitmen dua manusia untuk saling mencintai, menerima segala buruk dan baik pasangannya, tak peduli ternyata infertile, rambut rontok, badan menggelambir, gigi tanggal, tidak sehat secara fisik, suka ngupil, suka meletakkan baju kotor di sembarang tempat, posesif, dan lain sebagainya itu sampai maut memisahkan mereka berdua?

Atau menikah artinya seseorang terperangkap di dalam sebuah ikatan sakral, sampai seumur hidup mereka, tak bisa melakukan apa-apa karena mereka terlanjur tercatat sebagai suami-istri?

A friend of mine once told me this, “Menikah itu ngerepotin. Bayangin, yang biasanya apa-apa cuman mikirin satu orang aja, sekarang musti mikirin orang lain. Kalau dulu, mau pergi kemana tinggal berangkat, eh, sekarang musti nanya apa yang satunya nggak keberatan kalau aku pergi. Ribet!”

Point taken. Setelah menikah, memang ada dua kepala. Yang jalan pemikirannya pasti tidak akan pernah sama, semirip apapun mereka. Pasangan kembar aja bisa berbeda, kok, apalagi dua orang yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang berbeda. Tidak akan sama. So, that’s true. Menikah, yang artinya penyatuan dua pemikiran manusia itu tidaklah mudah. Cenderung ribet.

Tapi, seorang teman yang lain segera menyahut, mengomentari kalimat temanku sebelumnya, “Iya, emang ribet. Yang dulu cuman mikirin satu orang, sekarang jadi dua orang. Tapi, pernah nggak, sih, kamu ngerasa, kalau dengan adanya dua kepala, artinya kamu bisa punya partner untuk mencari jalan keluar setiap masalah yang lagi kamu hadepin? Kamu punya teman bertukar pikiran, kamu punya temen untuk saling menguatkan dan bersama-sama menghadapi apapun yang kamu rasakan itu?”

Ah, point taken. Jelas sudah seperti yang dibilang temanku. Dengan adanya dua kepala, kita tidak lagi sendiri dalam menghadapi masalah. Kita punya jemari yang digenggam untuk menguatkan. Kita punya seseorang yang bisa didengarkan nasehatnya dan merangkul kita saat tak bisa tidur setiap malamnya. Kita punya seseorang yang tidak akan pergi setelah minum dua cangkir kopi dan menghisap beberapa batang nikotin, misalnya, karena dia akan ikut pulang dan terus memikirkan apa yang terbaik buat kita. The husband. The wife. Separuh jiwa kita yang tak ingin kita kesakitan sendirian.

Hmm…

Marriage is a bit of this and that, memang. Tidak melulu menyenangkan, tidak melulu juga membuat hati ngenes. Just like life itself. There’s always ups and downs in our journeys. Seperti yang pernah aku tulis di buku-ku yang pertama, that life is like riding a roller coaster. Saat berani membeli tiket untuk menaiki wahana itu, kita harus siap dihentak, dibolak-balik, dibuat muntah, dibuat pusing, dan sebagainya. Kita musti menikmati saja, karena toh, kelak, permainan itu akan usai juga. Itulah kenapa, akhirnya aku memilih untuk menyudahi ‘masa lajang’ku. Dan memilih untuk ‘menikah’…

*

Yes, I’m ‘married’. Dengan seorang lelaki yang tidak aku kenal baik sebelumnya. Yang baru kutahu kulit luarnya saja, yang baru kutahu sedikit saja tentang dia, tapi akhirnya aku nekad untuk berkomitmen dengan dia. Gila? Memang! Tapi aku sudah jatuh hati dengannya pada pandangan pertama. Jatuh cinta padanya, karena aku seperti melihat refleksi diriku sendiri di dalam dirinya.

I’m in love with this someone, yang kemudian kami berdua nekad untuk menikah. Meski kami sama sekali buta tentang satu sama lain, tapi kami tetap nekad untuk berkomitmen. Ya, berkomitmen untuk tetap bersama-sama, sekalipun ada aral yang melintangi kehidupan kita, kelak. Sebuah komitmen untuk membangun ‘rumah tangga’. Sebuah komitmen untuk terus bersama-sama, memikirkan segala sesuatunya bersama-sama, untuk mewujudkan cita-cita kami berdua.

Yes, I’m married.

With this guy.

Ryu Deka.

But this is not just a marriage. This is ‘A MARRIAGE’.

Perkawinan isi pemikiranku dengan Deka, yang kemudian baru saja melahirkan seorang bayi mungil, pintar, dan menggemaskan, bernama A Million Dollar Question

**

Aku selalu menganggap kalau proses penulisan novel terbaruku dengan Deka adalah seperti sebuah perkawinan saja. Perkawinan yang nekad, tentunya. Bayangkan saja, dia adalah lelaki yang sama sekali belum aku kenal dengan baik, tapi aku nekad untuk mau menjadi partnernya. Keputusan yang gila, kan?

Menikah dengan seseorang setelah melalui proses pacaran yang sangat panjang saja masih bisa menyimpan potensi untuk terkaget-kaget setelah resmi menjadi pasangan suami-istri, bagaimana dengan aku dan Deka? Yang bertatap muka saja musti menunggu saat launching buku kami, 3 bulan setelah kami berkomitmen? Edan! Sungguh, itu adalah keputusan paling edanku sebagai seorang penulis yang biasa menulis sendiri.

Tapi, ya, seperti layaknya sebuah perkawinan; when you committed to someone, kamu musti menerima dia apa adanya. Menerima setiap kejutan-kejutan yang disuguhkan oleh pasangan. Memahami kesibukan pasangan. Tidak menuntut di luar yang bisa diberi. Dan, ya. Tidak saling melepaskan genggaman jemari ketika menghadapi permasalahan. As a married couple, you are not allowed to run away from the storms, but  you have to find a shelter together, and face them together.

Jadi, memang seperti itulah rasanya menulis berdua dengan Deka. Seperti menikahi pikirannya. Banyak hal yang terjadi dalam proses penulisan A Million Dollar Question. Banyak pula kejutan-kejutan yang terjadi selama satu bulan kami menulis novel duet ini. Dan tentu saja, banyak sekali ketakutan-ketakutan yang sempat mampir: apakah aku dan Deka bisa menyelesaikan novel ini sampai ke halaman terakhir.

But, then, just like a marriage. Ketika sudah berkomitmen untuk menghadapinya bersama-sama, berkomitmen untuk tidak mundur di saat kami sama-sama lelah, berkomitmen untuk terus mewujudkan mimpi berdua, segala ketakutan-ketakutan itu hilang. Ya, hilang sama sekali!

Benar seperti yang dibilang temanku itu. “Tapi, pernah nggak, sih, kamu ngerasa, kalau dengan adanya dua kepala, artinya kamu bisa punya partner untuk mencari jalan keluar setiap masalah yang lagi kamu hadepin? Kamu punya teman bertukar pikiran, kamu punya temen untuk saling menguatkan dan bersama-sama menghadapi apapun yang kamu rasakan itu?”

Ya. Selama ini aku selalu menulis sendiri. Tak pernah berkompromi dengan orang lain, karena menulis sudah semacam kencan antara hati dan pikiranku sendiri, tak bisa dibagi dengan orang lain. Tapi, setelah aku akhirnya memutuskan untuk ‘menikah’ dengan Deka, ternyata aku justru merasakan betapa nikmatnya menghadapi semuanya berdua. Ketika aku kehilangan ide untuk chapter berikutnya, dia menyumbang ide. Ketika aku bingung bagaimana membuat cover bukunya, dia dengan berbaik hati menghubungi temannya (@cacikchicho) untuk membantu membuatkannya. Ketika aku merasa takut naskah ini tidak akan pernah selesai, dia dengan sepenuh hati ikut menguatkan semangat. That’s what a partner is for. Dan memang sepenting itu Deka dalam proses penulisan novel terbaruku ini.

He’s definitely the kind of partner that everyone should envy about.

Dan aku beruntung, telah menjadi pasangannya.

*

Sekarang, usia ‘bayi’ kami sudah 2 minggu sejak kelahirannya 9 April lalu. Sudah banyak yang berkunjung dan berkomentar kalau ‘bayi’ kami ini manis sekali. Ya, seperti ‘Bapak’ dan ‘Ibu’nya! Haha. Sekarang, tugas kami sebagai ‘orangtua’ adalah menjaganya dengan baik. Membuatnya nyaman dengan dunia luar. Membuatnya menjadi anak yang disukai banyak orang.

Semoga A Million Dollar Question tidak ditakdirkan menjadi ‘anak tunggal’.

Semoga Deka setuju, untuk memberinya ‘adik’.

Yang mungkin, kelak, akan kami namakan: A Million Dollar Answers. Siapa tahu, kan? 🙂

**

Kamar, Kamis, 21 April 2011, 10.12 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “I’m Married!

  1. hadah kukira married beneran hihihi tiwas cemburu wkwkk

    Posted by Avy | April 21, 2011, 11:00 pm
  2. hebat deh… bikin novel duet dengan orang yang gak dikenal sebelumnya.. pasti gak gampang ya… tapi mungkin jadi gampang karena emang udah ‘jodoh’ ya la! 🙂

    Posted by arman | April 22, 2011, 12:13 am
  3. Sempat senang dan terkejut membaca judulnya, terjawab sudah saat membaca isinya. 🙂

    Posted by Asop | April 22, 2011, 8:30 am
  4. makin ngefans sama mbak lala, sukses selalu ya mbak 🙂

    Posted by Mbakyu tary | April 24, 2011, 7:05 am
  5. hahaha…blognya seru kayak orangnya. Beruntung dah akhirnya ketemu

    Posted by manda | April 24, 2011, 9:26 am
  6. hmmmm aku penggemar tulisannya mas deka lhooo 😀

    pasti keren deh ‘perkawinan’ kalian ini 🙂

    Posted by didot | April 25, 2011, 1:38 pm
  7. #uhuk dodotan gitu? #ngabur

    Posted by Unge | April 25, 2011, 2:56 pm
  8. jadi penasaran, pengen baca novelnya. hehehe

    Posted by funnie | April 26, 2011, 2:40 pm
  9. Hihihi saya ketipu judul 😀

    Posted by sibair | April 27, 2011, 3:48 pm
  10. sepertinya wajib dibeli bukunya. penasaran sekali dengan isinya

    Posted by orange float | April 28, 2011, 9:34 pm
  11. sepertinyah keren.. mau beli bukunya ahhh.. 😀 atau mau dikasih gratis? :mrgreen:

    Posted by ratutebu | July 14, 2011, 2:20 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: