you're reading...
daily's blings

When Destiny Said, “Hi!”

Life’s a series of intersecting lives and accidents, out of anyone’s control.

Tak jelas kapan bisa bertemu dengan seseorang lalu menyapa. Tak jelas kapan harus berpisah dengan seseorang dan melambaikan tangan dengan segumpal sedih yang menyesak dada. Siapa bertemu dengan siapa, lalu dimana mereka bertemu dan saling bertegur sapa, dan segala rentetan kejadian-kejadian berikutnya yang memang tak pernah bisa dirancang sebelumnya kecuali dirancang oleh Sang Maha.

Ya.

Intersecting Railways : http://www.downriverlawnservice.com

Hidup adalah lintasan rel-rel yang bisa saja saling bertumbuk di suatu titik. Di satu titik itulah, dua orang manusia bisa bertemu. Saling bertegursapa. Saling membagi cerita; luka atau bahagia. Saling menumbuhkan harapan. Saling bergenggaman tangan. Saling memandang. Atau, ya. Saling berbagi mimpi.

Tuhan paling tahu mengapa di titik itu sepasang manusia harus bertemu. Mengapa di titik itu, mereka harus saling melibatkan peristiwa yang sama dalam satu helaan nafas mereka. Mengapa di titik itu, Tuhan mempertemukan mereka. Tapi jangan tanyakan Tuhan, karena Tuhan tidak akan menjawab dengan bahasa yang kita mengerti. Dia berbicara dengan bahasa yang lain: kejadian yang memberikan hikmah, kejadian yang bercerita sendiri mengapa sepasang manusia itu bertemu dan saling membagi waktu bersama.

Do not question why they met. Why it happened.

Because when destiny says “Hi!”, all we can do is just let the rest of the story begins…

**

I still remember when a friend of mine, Yessy Muchtar, pernah bilang, “Lo udah pernah main ke blognya Mas Deka? Main, deh, La. He’s you. Versi cowoknya elo!”

It was 2008, kalau nggak salah. Di akhir tahun 2008 itu akhirnya aku tahu soal keberadaan blog Ryu Deka, penyiar radio kondang di Jogjakarta. Segeralah aku main ke sana. Mengintip saja. Aku lupa apakah aku sempat meninggalkan komentar di sana, tapi yang kuingat cuman satu: “Mannn.. he is me!”

Yessy bilang, tulisan Deka sejenis dengan tulisanku. A sweet cotton candy. Manis, nggak bikin eneg, dan menagih. Sebelum berkunjung ke sana, aku sama sekali tidak percaya kalau ada dua orang manusia yang tulisannya mirip. Apalagi sampai disebut ‘versi cowoknya Jeung Lala’. But then, akhirnya aku sadar, that he is me. Cara Deka menulis memang mirip sekali dengan tulisanku. Oh, boy!

Tapi, bukan berarti setelah itu aku berkawan akrab dengannya. Oh, tidak. Aku hanya sebatas mengenalnya. Mengetahui blognya. And that was it. Tidak ada niatan sama sekali untuk mengenal dekat lelaki berbakat ini. That time I thought, “Kalau tulisan dia sama denganku, so what?”

Sampai kemudian, di pertengahan tahun 2010, around July, mendadak Deka menyapaku di ranah twitter. Dia cuman bilang, “Follow @jeunglala, ah…” Dan kemudian semua berawal dari situ. Dari sebuah sapaan yang harusnya biasa saja, tapi kemudian bermakna sungguh hebat di paruhan tahun berikutnya.

Kupikir, it was him who said hello.

When in fact, it was Destiny who said “Hi.” Dan mengubah segalanya…

*

Dari satu sapaan itu, berlanjut ke Direct Message. Dari situ, berlanjut ke e-mail. Dari situ pula, berlanjut ke BlackBerry Messenger dan berlanjut pada rencana pembuatan novel bersama. Cute, eh?

Siapa yang menyangka, kalau dari sapaan isengnya itu membuat kedua jempol tanganku ini gatal untuk mengetik, “Eh, Mas, kita nulis novel duet, yuk?” Dan siapa yang menyangka pula, kalau Deka kemudian menyetujuinya?

The time was perfect. I had the idea. He had the extra time. Dan ketika kedua hal penting itu bertemu, diramu dengan semangat dan passion yang luar biasa, akhirnya novel yang ditulis bersama-sama itu bisa selesai juga. Dalam waktu tidak lebih dari satu bulan. Can’t you imagine? Two people, who barely knew each other, decided to write a novel together. Seperti menikahi orang yang tidak kita kenal, berjanji untuk memegang komitmen, dan nyatanya tidak bercerai. For me, it’s awesome!

*

Life’s a series of intersecting lives and accidents, out of anyone’s control.

Aku tidak akan bertanya, “Kenapa harus menunggu hampir dua tahun untuk membuat novel bersama Deka?”

Atau bertanya, “Kenapa harus membuat novel bersama seseorang yang tadinya masih serupa imajinasi saja?”

Atau bertanya, “Kenapa aku harus menulis novel perdanaku — yes, I wrote so many stories, but this is my first novel — dengan  orang lain, tidak sendirian saja?”

Atau bahkan bertanya, “Why Deka, and not anyone else?”

Karena seperti yang aku bilang tadi, ketika takdir sudah menyapa, yang kita lakukan adalah membiarkan seluruh rencana itu terjadi. Mengalir, kemana ia ingin mengalir. Berjalan, kemana ingin ia melangkah. Ini bukan kuasaku. Atau Deka. Ini adalah satu dari sekian banyak rencana Tuhan untuk kami berdua.

Writing a novel together.

Being friends, at last.

Meeting each other, finally.

Dan sejarah telah mencatatnya. Dalam sebuah buku kehidupan, dan sebuah buku tulisan kami berdua; A Million Dollar Question.  

**

Kamar, 13 April 2011, 7.24 malam

Ps. Find more interesting stories, next! Jangan sampai ketinggalan ceritanya, yaa..🙂

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

12 thoughts on “When Destiny Said, “Hi!”

  1. keren dan hebat🙂

    Posted by Luphyta | April 13, 2011, 9:07 pm
  2. Inspiratif banget mbakyu..jadi pengen nerusin proyek duet diam2 yg tertunda..:) Dah gag sabar nunggu buku a Million Dollar Question nyampe Lombok deh soal’e ak dah pesen via Nciz mbakyu..:)

    Posted by Mazmo | April 13, 2011, 9:16 pm
  3. bener la.. itu namanya destiny ya…🙂
    congrats buat novelnya!!!

    Posted by arman | April 14, 2011, 1:50 am
  4. salutttt

    gw pasti beli bukunya
    walo kmrn wkt ktmu ngga smpt beli di TKP :p

    Posted by depz | April 14, 2011, 9:36 am
  5. Selamat ya Lala … akhirnya nulis novel berdua Deka. Wah, aku malah nggak tahu Deka orang Yogya (belum pernah main ke blognya juga🙂 ).
    Novelnya sudh ada di toko buku?

    Ohya, selamat juga untuk Dear Papa. Aku sudah dapet bukunya dari Uda Vizon. Kemarin kopdar bertiga sama DV🙂

    Posted by tutinonka | April 15, 2011, 5:00 am
  6. jadi penasaran ama novel duetnya?

    hmmm apa ada ga diluar sono my male version of me….

    #think think think

    hahahahha

    Posted by Mirna | April 15, 2011, 10:16 am
  7. btw..its funny that few days ago …I had question in mind “kenapa tuhan mempertemukan, jika memang pada akhirnya dipisahkan?”

    and u just answered it in this blog….

    memang deh…when the destiny say hi!

    Posted by Mirna | April 15, 2011, 10:20 am
  8. Ada banyak jalan untuk mempertemukan dua manusia. Entah disengaja ataupun tidak. Si penganyamkata pernah bilang kalau ada banyak kebetulan yang terjadi di hadapan kita. Kebetulan hanya akan jadi kebetulan jika kita tidak dapat menangkap pola atau mengambil manfaat darinya. Dan dirimu, La.. sudah mampu menangkap pola itu dengan baik dan memanfaatkannya… Salut!

    Semoga novel duet ini berjaya ya La, aku doakan..

    Dekaaa… we’ve to meet, soon!😀

    Posted by vizon | April 17, 2011, 10:49 am
  9. sepertinya saya juga perlu nih berkunjung ke blognya mas deka🙂

    Posted by orange float | April 21, 2011, 2:18 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The New Old Passion « - April 15, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: