you're reading...
Just a Thinking, Thoughts to Share

Test Pack; menjadi awal, atau akhir?

Test Pack; awalmu atau akhirmu?

Sebuah test pack. Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang dicelupkan di sebuah wadah kecil berisi urine seorang perempuan, ditunggui beberapa saat, dan muncul pertanda di sana.

Garis satu: you’re not pregnant.

Garis dua: you’re going to be a Mom.

Ya. Sebatang kecil, alat penguji kehamilan, yang bisa dibeli di apotek dalam berbagai macam merk dan harga, tapi fungsinya tetap saja sama; mengetahui apakah seorang janin tengah bergeliat dalam rahim seorang perempuan, atau tidak.

Sebatang kecil alat penguji kehamilan, yang hasilnya bisa membuatmu berdebar cemas menanti jawabannya.

Negatif. Positif.

Hasil manakah yang akan membuatmu lega?

Ya.

Test pack; menjadi awal dari segalanya? Atau mengakhiri segala yang sudah ada?

**

Inne dan Ananda adalah sepasang suami istri yang sudah menikah delapan tahun lamanya. Pacar sejak masa sekolah, menikah setelah sepuluh tahun bersama. Mereka hidup bahagia, meski aku tahu, ada yang bisa membuat mereka jauh lebih bahagia.

Seperti yang dibilang Inne, “Aku menjadi lengkap, kalau aku memiliki anak, La.”

Aku bisa memahami perasaan Inne. Dia, perempuan yang sudah menikah delapan tahun lamanya. Sudah kenyang dengan pertanyaan ‘kapan punya anak’, bertahun-tahun lamanya. Ia bosan ditanya. Ia bosan menjawab. Tidak memiliki anak bukanlah pilihannya. Tidak memiliki anak adalah rencana yang sudah dipilih Tuhan untuknya.

Delapan tahun Inne dan Ananda mendamba. Seorang bayi lelaki. Atau perempuan? Terserah. Setiap haid yang datang terlambat, mereka berdoa agar tak pernah datang. Dan selama delapan tahun itu, haid selalu berkunjung dan memporakporanda mimpi mereka.

Tak terhitung berapa batang test pack yang mereka beli. Yang ditetesi urine Inne setiap pagi. Tapi sekali lagi, tak ada sel telur yang berhasil dibuahi. Sekali lagi. Dalam delapan tahun ini.

Sampai akhirnya, di satu pagi, Inne hampir pingsan, terjatuh di kamar mandi. Bukan karena sedih, panik, atau apa, tapi karena ia senang.

Setelah delapan tahun, test pack itu bertanda dua garis.

Inne hamil.

Akhirnya.

Setelah delapan tahun Inne dan Ananda menanti kehadiran buah hati dan kini perut Inne telah terisi. Seorang bayi, meringkuk di dalam perutnya yang terus membesar dalam perjalanan waktu. Membuat kaki dan tangannya bengkak, punggung pegal-pegal, tapi ia tak peduli.

Sembilan bulan sepuluh hari, bayi kecil mereka lahir.

Sebatang kecil test pack, alat penguji kehamilan itu, menjadi awal dari perjalanan hidup mereka. Keluarga kecil mereka. Yang semoga, selalu bahagia.

**

Andy dan Desy. Belum lagi lulus sekolah. Usianya baru tujuh belas tahun. Iya, mereka sebaya.

They were Love Birds, kemana-mana selalu berdua. Setiap pagi, Andy menjemput Desy di rumahnya dan mereka berangkat ke sekolah bersama-sama. Sekalipun tidak sekelas, tapi mereka selalu bersama saat jam istirahat tiba. Duduk di kantin belakang adalah kegemaran mereka. Saling meremas tangan saat mereka sedang berbicara. Pulang sekolah, Andy mengantar kekasihnya pulang ke rumah. Setiap malam minggu, mereka selalu berkencan sampai malam tiba.

Mereka tidak terpisahkan.

Dan dunia seperti sudah menjadi milik mereka berdua.

Dua anak manusia yang sedang jatuh cinta.

Hanya sayangnya, mereka menerjemahkan cinta dengan bahasa yang salah. Tidur bersama tanpa ikatan pernikahan bukan disebut cinta, tapi legalisasi hubungan seksual pada manusia-manusia yang tak ingin dipersalahkan atas segala salah yang mereka lakukan.

Di suatu pagi, Desy menunjukkan sebatang test pack ke depan wajah Andy.

Sebatang kecil alat penguji kehamilan yang kini menunjukkan dua garis.

Artinya?

Seorang bayi tengah bergelut manja di rahimnya.

Seorang bayi tengah bertumbuh di dalam perut seorang anak usia tujuh belas tahun yang mungkin belum tahu betapa mahalnya membeli susu kehamilan, kontrol ke dokter kandungan setiap dua bulan, membeli makanan-makanan yang bergizi untuk menutrisi bayinya, membayar biaya proses persalinan, membeli popok, susu bayi…

Ya.

Test pack itu disodorkan di muka Andy, di suatu pagi.

Desy menangis.

Andy merasa tak lagi memijak tanah.

Sebatang test pack itu menjadi akhir dari masa remaja mereka.

**

Jadi, skenario mana yang kamu suka?

Apakah test pack menjadi awalmu? Atau akhirmu?

Semua pilihan ada di tanganmu.

Semoga, tidak keliru.

 

***

Kamar, 28 Maret 2011, 20.02
Untuk seseorang. Semoga ini bukan akhirmu.

 

Gambar test pack diambil dari sini

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “Test Pack; menjadi awal, atau akhir?

  1. Jelas dong, supaya jadi awal yang baik.😳

    *Semoga gak salah pilih*

    Posted by Asop | March 28, 2011, 10:06 pm
  2. waah, pasti maunya mejadi awal dong,,
    tapi gak mau seperti yang pertama juga yang menunggunya lama.. mudah2an cepat dapet jodoh cepat dapat anak deh🙂

    Posted by niee | March 30, 2011, 4:52 pm
  3. awal yang baik, pembuka pintu rejeki, ladang amal, juga tabungan akhirat, InsyaAllah…

    lama ga kesini… kulo nuwuuun…🙂

    Posted by mamaray | April 1, 2011, 9:55 am
  4. jika belum waktunya, jangan bermain api dulu. bisa hancur masa depan

    Posted by orange float | April 3, 2011, 10:00 pm
  5. test pack itu menyenangkan🙂

    Posted by paluhlimbuy | April 26, 2011, 3:26 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: