you're reading...
Fiktif

Di Atas Ranjang Rumah Sakit

Sepasang manusia. Lelaki dan perempuan. Usia mereka tidak lagi muda. Yang seorang, duduk di tepi ranjang. Yang seorang lagi, terbaring di atas ranjang.

Ranjang rumah sakit. Yang dingin, dan membuat tubuh kurusnya berteriak ingin sembunyi dalam pelukan selimut tebal yang dibawakan oleh Istrinya, perempuan yang duduk di tepi ranjangnya itu, yang kemudian menggenggam jari-jemari Suaminya, mengusapnya lembut seperti berusaha mengalirkan kehangatan yang tak kasat mata.

“Kamu sudah makan?” tanya Suaminya.

Perempuan itu menggeleng. “Belum.”

“Makan, lah.”

“Tidak sebelum kamu mau makan,” tukasnya lembut. Diraihnya sepiring bubur yang ada di atas meja kecil, di samping ranjang itu. Seperti mencoba menyuapi anak kecil yang sedang rewel tak mau makan, perempuan itu menyodorkan sesendok bubur di depan mulut Suaminya. “Makan, ya? Kapan kamu sembuh kalau kamu nggak makan, Pa?”

Lelaki itu menghela nafas. “Memang aku bisa sembuh?” tanyanya setengah hati. Ia ingat persis dengan apa yang dikatakan Dokter, beberapa bulan yang lalu, bahwa dengan kanker yang sudah di stadium akhir seperti ini, sembuh sudah seperti mukjizat. Memangnya, masih musim mukjizat jaman sekarang? Seperti potongan roti yang tak pernah habisnya di masa-masa Nabi itu, apakah masih musim?

“Papa, aku nggak suka Papa ngomong gitu,” tukas Istrinya. “Dokter itu bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup mati seseorang, Pa. Jangan menuduh Tuhan hanya sekelas manusia gitu, ah.”

“Aku cuman nggak ingin terlalu berharap, Ma,” katanya.

“Harapan itu penting untuk memacu semangatmu, Pa,” sahut Istrinya.

“Dan kalau harapan itu mengecewakanku? Kalau kenyataan yang terjadi tak sesuai harapanku?”

Perempuan itu meletakkan piringnya dan mulai memegang jari-jemari suaminya, menyelimutinya dengan kedua telapak tangannya. “Kalau kenyataan yang terjadi tak sesuai harapan, itu artinya justru kamu sudah mendapatkan yang paling baik buatmu, Pa.”

“Ah, kamu ini selalu pinter ngomong, ya, Ma,” kata Suaminya sambil mencubit pipi sang istri tercinta. “36 tahun kawin sama kamu dan tidak sedikitpun kamu berubah.”

“Aku berubah tua, Pa,” sahut Istrinya.

“Tidak di mataku yang sudah sama tuanya ini,” tukas lelaki itu sambil tersenyum. “Kamu tetap secantik saat pertama kali aku naksir kamu, Ma.”

“Berarti matamu sudah mblawur, Pa. Sudah kabur,” goda perempuan itu sambil mencubit tangan suaminya, lembut. “Mosok sudah tua gini dibilang masih kayak dulu? Lah, kerut-kerutku ini kamu sembunyikan dimana, tho?”

“Hahaha, ini mungkin pengaruh kanker, ya, Ma? Aku jadi nggak sadar kalau kita sudah sama-sama tua.. Merasa ABG terus-terusan.. Kebacut tenan ya, Ma?”

“Kita ini, kemasannya boleh lungset, kayak belum disetrika, tapi isinya tetep kinyis-kinyis, ya, Pa?” Perempuan itu kembali menggoda dan tawa mereka berderai.

“Aku beruntung punya Istri seperti kamu, Ma,” kata si Lelaki tiba-tiba.

“Bukannya kamu kepingin punya Istri kayak Yessy Gusman? Putih, kalem, ayu gitu?”

“Lah, kamu juga bukannya pingin dapet Suami kayak Rano Karno? Ngganteng, brengosan gitu?”

Dan mereka berdua tertawa. Beberapa detik, mereka terdiam kembali dengan linangan air mata di sudut-sudut matanya, tanda mereka tergelak terlalu hebat.

“Aku beruntung punya Istri seperti kamu, Ma… Serius.”

“…”

“Nggak ada perempuan seperti kamu. Yang seistimewa kamu. Yang tetap mau ada di sampingku saat kereta mautku sudah hampir datang menjemput… Yang tetap mau…”

“Pa, sudah, sudah…”

“Nggak, Ma, aku harus jujur bilang sama kamu…” potong lelaki itu. “Tidak ada satupun perempuan di dunia ini, yang hatinya sebesar jiwamu, tangguhnya sehebat dirimu… Aku bersyukur ketemu kamu waktu itu, Ma.. Aku…”

Lelaki itu kehabisan kata-kata. Dia malah terisak hebat dan memalingkan wajahnya dari sang Istri. Merapatkan selimut dan memunggungi Istrinya yang terduduk tegak di kursi, ikut kehabisan kata-kata.

“Papa mau tidur?”

Lelaki itu masih diam.

“Papa nggak makan dulu?”

Lelaki itu tetap terdiam.

“Ah, ya wis, lah. Aku ke kantin dulu, ya? Tak ngisi ‘bensin’ dulu…” Dia bangkit dari kursi, berdiri ke tepi ranjang, membetulkan selimut Suaminya dan berjalan keluar dari kamar.

Sesaat setelah Istrinya berlalu, si Lelaki membalik badan dan memandang pintu kamar rumah sakit yang sudah kembali tertutup rapat. Dia menghela nafas. Berkali-kali. Mencoba menghilangkan sesak nafasnya yang menyerangnya setiap saat ia mengingat kesalahannya selama ini, pada Sulastri, istrinya yang sudah satu bulanan ini ada di sampingnya, sampai terkadang lupa makan, sampai terkadang tak mau makan.

Ia selalu sesak nafas setiap mengingat wajah Sulastri saat mengetahui usianya sudah tinggal menunggu waktu saja. Ia selalu sesak nafas setiap mengingat sepasang mata Sulastri yang membasah saat ia mengiba minta maaf atas luka yang dia torehkan di suatu masa yang lalu.

Karena dengan mengingat itu semua, ia mengingat semua kesalahan-kesalahannya selama ini. Membagi hati dengan perempuan lain, meninggalkan anak istri, dan kembali saat kanker sudah menggerogoti hati.

“Pas kita kawin dulu, aku pernah berjanji pada Tuhan kalau aku ingin bisa sehidup semati sama kamu, Pa.” Ia ingat kata Sulastri, empat bulan yang lalu. “Dan Tuhan mengabulkannya… Meskipun kita kehilangan dua puluh tahun itu, tapi aku bisa bersamamu, sekarang.”

Ya.

Tidak ada perempuan seperti Sulastri.

Tidak ada perempuan seperti Istrinya yang tak pernah diceraikannya itu.

Tidak ada perempuan seperti seorang perempuan, yang ternyata kini sedang menangis hebat karena tak tahan dengan melihat tubuh kurus dengan hati yang diselimuti kanker ganas itu. Perempuan yang sedang menangis di pelukan seorang lelaki, Suaminya kini. Suami Sulastri yang baru. Yang rela menunggu di balik pintu. Setiap waktu, demi janji Sulastri, waktu itu…

***

Kamar, Jumat, 11 Maret 2011, 10.31 Malam

 

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “Di Atas Ranjang Rumah Sakit

  1. ceritanya seruuuw..

    Posted by nyurian | March 11, 2011, 10:49 pm
  2. waduh.. sepertinya sebenernya si suami baru sulastri yang sebenenrya berhati besar ya…😀

    Posted by arman | March 12, 2011, 7:20 am
  3. wow…endingnya unpredictable La… nice

    Posted by Evi | March 17, 2011, 1:52 pm
  4. baguuuuuuuuuuuusss..^^

    Posted by bendorosahaya | April 1, 2011, 1:40 pm
  5. bikin sesek nih mba😦

    Posted by Izzah | April 10, 2011, 11:33 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2011
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: