you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Gone too Soon

 

Like a comet
Blazing ‘cross the evening sky
Gone too soon

5 Februari 2011.

Dini hari tadi.

Adjie Massaid, berpulang di usia yang masih muda. 43 tahun saja. Muda, masih energik, dengan tubuh yang fit. Terenggut maut, justru setelah melakukan olahraga favoritnya: futsal. Olahraga terakhir yang dilakukannya, dan membuat dadanya sesak lalu menjadi tiketnya ke pangkuan Tuhan.

Like a rainbow
Fading in the twinkling of an eye
Gone too soon

Siapa yang menyangka? Mungkin, tidak ada. Bahkan Istrinya, bahkan anak-anaknya, bahkan siapapun juga mungkin tidak akan menyangka kalau Almarhum akan begitu cepat meninggalkan mereka. Dalam sekedip mata saja. In the twinkling of an eye, he’s gone… way too soon.

 

Shiny and sparkly
And splendidly bright
Here one day
Gone one night

Then I remember one time, when  I lost my Dad, setahun yang lalu. 28 Januari 2010, sebuah hari Kamis terakhir dimana bisa kunikmati hangat tubuh seorang Ayah dalam pelukan. Setelah semalaman aku memeluknya, setelah sepagian aku merasakan hangat tubuhnya, lalu… pergi. Denyut nafasnya, hangat tubuhnya, suara erangannya…. gone. Senyumnya memang masih melekat, abadi di wajahnya yang kemudian dingin. Senyum seorang Ayah yang tak pernah lepas dari ingatanku; bungsunya yang selalu merindu.

 

Like the loss of sunlight
On a cloudy afternoon
Gone too soon

Like a castle
Built upon a sandy beach
Gone too soon

 

Dan kemudian kuingat hari-hari ketika Mami meninggal dunia. Di usia yang masih terbilang muda, 52 saja. Ketika aku masih belum lagi lulus kuliah, ketika aku belumlah mengerti bahwa di tubuhnya digerogoti penyakit yang tak mungkin tersembuhkan dan menunggu waktunya tiba. One time I looked at her smiling at me, then the next time, yang kulihat adalah tubuhnya yang sedang mengejang karena menahan nafas yang terakhir. Secepat itu. Secepat itu…

 

Like a perfect flower
That is just beyond your reach
Gone too soon

Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day
Gone one night

 

Seperti halnya rasa kehilanganku buat seorang lelaki, Si Bintang Timur, yang pernah hadir, mencuri hati, lalu pergi. Baru sebentar ia mencuri hati, tapi kemudian musti pergi. Lelaki yang telah mencerahkan langit setiap malam yang kemudian menggelapkan pandangan karena air mata yang mengalir tanpa terkendali. He was gone… way too soon.. way too soon…

Like A Sunset
Dying With The Rising Of The Moon
Gone Too Soon

Gone Too Soon

 

Ya, kuanggap mereka semua pergi terlampau cepat. Di saat mereka masih berpijar dan penuh cahaya, di saat banyak yang menginginkan berada di bawah naungan cahayanya, mereka justru pergi, demi memenuhi panggilan Ilahi, yang mengundang mereka tanpa berkompromi: sudah siapkah? Bagaimana dengan kerabatnya, apakah sudah siap? Bagaimana dengan kekasihnya, apakah sudah rela? Bagaimana dengan dirinya sendiri, sudahkah siap berangkat ke peristirahatan paling akhir?

Nobody is gone too soon.

They’re gone in their perfect times.

Hanya orang-orang seperti aku, atau Angelina Sondakh, atau anak-anak Adjie Massaid, atau kakak-kakakku, atau adik-adik Ayahku, atau siapapun yang merasa kehilangan karena kepergian orang-orang yang dicintai, yang merasa bahwa mereka pergi terlampau cepat.

Padahal ini adalah waktu yang paling tepat.

Hanya sayangnya, merelakan kepergian orang yang dicintai, memang tidak akan pernah mudah…

Tidak akan pernah.

Never ever.

Dan rasa kehilangan itu akan menjadi seperti bekas luka yang tidak akan pernah hilang. To remind us, that the pain…was real.

**

Kamar RS Bersalin, Sabtu, 5 Februari 2011, 3.49 sore
RIP Adjie Massaid

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

6 thoughts on “Gone too Soon

  1. Hidup ini hanyalah antrian yang panjang untuk mati. Bagaimana caramu menanti? Mm?

    Posted by yessymuchtar | February 5, 2011, 6:57 pm
  2. mati muda tak mengapa bila sudah banyak yang sudah kita lakukan dan bermanfaat buat banyak orang, setidaknya untuk orang2 yang dicintainya.
    tidak mudah, memang, menerima kehilangan.
    semoga kita diberi ketabahan dan penghiburan saat menghadapi rasa kehilangan itu.

    luv,
    -d-

    Posted by pend | February 5, 2011, 9:54 pm
  3. Mengagetkan sekaligus menyadarkan, umur rahasia Ilahi….

    Posted by DV | February 10, 2011, 4:28 pm
  4. Only the good die young….begitu katanya yah?

    Posted by bukan detikcom | February 11, 2011, 12:07 am
  5. sebenarnya sedari kecil kita juga sdh sering dijarkan cara berpisah dgn orang lain,, coba dech diperhatiin apa yang pertama kali dikuasai oleh anak2 belia? yup..betul da-dah atau ga kiss bye..dan dari itu kecil kita sdh menemui bahwa wajah2 familiar cepat atau lambat pasti akan segera lenyap, seperti ayah yang tadi pagi mengendong akan hilang agak lama trus muncul kmbali saat malam tiba..atau ibu yang setiap menit mengecup & membelai dahi..sewaktu akan pamit untuk arisan dan teman2 ditaman menjelang sore harus sgra pulang… dan stiap kali ini terjadi, kita cuma bisa melakukan gerakan sedrhana…yang pernah dijarkan oleh ortu kita” mengangkat tangan tinggi2 lalu menggoyangkannya.. bye2…..salam sobat:)

    Posted by kamal | February 11, 2011, 7:38 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Tweets that mention Gone too Soon « The Blings of My Life -- Topsy.com - February 5, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2011
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: