you're reading...
Fiktif

He’s Getting Divorced

Dear Angga,

So you say that you’re getting divorced. Pada suatu pertemuan pertama kita setelah tiga tahun berpisah, kamu mengungkapkan proses perceraianmu itu dengan nada suara datar, yang tak bisa kukenali: you were happy, or sad.

Di sela-sela isapan batang rokok, di antara kepulan asap rokok yang mengembara di antara kita berdua, semalam tadi, kamu bilang padaku kalau perceraianmu sudah sampai tahap akhir. Ketukan palu Hakim, besok, akan menyudahi pernikahanmu dengan Elsa, setelah dua tahun lamanya. Setelah tiga tahun aku menahan rasa sedih dan hampa yang luar biasa karena kehilanganmu.

Ya, Angga.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakanmu. Bahkan setelah tiga tahun kita berpisah, aku masih tak bisa menahan tumbuhnya rasa kangen yang seperti virus epidemik, menjelajah seluruh tubuh hanya karena aku melihat fotomu. Foto kita berdua; where you looked so sexy, and I looked that happy.

Dan kini, Angga, kamu cerita padaku soal perceraianmu. Tentang Hakim yang akan mengetuk palu, lalu resmilah sudah kamu menyandang status duda. Yang artinya, tentu saja, Ngga. You’re now available in the market… which means, you’re available… for me.

“I’ve had enough with Elsa,” katamu, semalam. Sambil sesekali menyesap espresso-mu yang sudah cangkir kedua. “Dia membuatku sakit jiwa.”

Ah, Ngga,
kamu tahu…
Elsa juga pernah membuatku sakit jiwa. Saat dia hadir di antara kita berdua, tiga tahun yang lalu. Dengan wajahnya yang polos, tingkah yang kalem, dan tutur kata yang lemah lembut, siapa yang menyangka kalau Elsa adalah seorang Iblis Betina yang sedang menyamar? Dia menyamar menjadi perempuan baik-baik, tapi diam-diam menikamku dari belakang.
Dan sayangnya, kamu lebih memercayainya.

Aku juga sakit jiwa, Ngga. Asal kamu tahu. Dan rupanya, kamu juga sakit jiwa karenanya. Haruskah aku senang?

“Aku menyesal karena lebih memilih Elsa daripada kamu,” katamu semalam.

Angga, tahukah kamu, kalimatmu yang itu membuatku tak nyenyak tidur sampai saat ini? Sampai lewat pukul dua pagi dan sepasang mataku terbuka lebar karena memikirkanmu. Ah, menyesal? MENYESAL? Benarkah? Saat itu kamu dengan senang hati memilih Elsa daripada aku. Saat itu kamu bahkan tak mau mendengarkan pembelaanku. Saat itu kamu lebih memilih untuk mendengarkan semua kata-kata Elsa lalu memutuskan hubungan kita. Sekarang kamu bilang menyesal?

I don’t get it, Ngga.
Kamu menyesal karena telah dibuat sakit jiwa oleh Elsa,
Atau karena membuatku sakit hati.
Karena setahuku, tiga tahun terakhir, kamu sudah tak lagi peduli padaku, sampai kamu mengajakku bertemu, dan bercerita tentang perceraianmu.

“Ternyata kamu benar,” katamu lagi. “Dia bukan perempuan yang baik-baik…”

Kamu membuatku terdiam, tapi menceracau dalam hati.

“Kesalahan terbesarku adalah karena aku lebih memilih Elsa daripada kamu, karena ternyata baru sekarang aku sadar, kalau kamu adalah perempuan terbaik buat aku… No women can beat you as the perfect one.. No one.”

Screw you, Angga! What’s the point?
You made my life as a living hell for three years and now you admit that I’m the perfect fit for you?
Gila!

Angga, kamu gila.
Karena telah membuatku gila…

“Aku masih sayang kamu, La,” katamu semalam tadi, setelah sesapan kopi terakhir, lalu kemudian kita berpisah di lobby mal, setelah saling berjabat tangan. “Will you please give me another chance?”

Jadi, Angga.
Malam ini, kamu berhasil membuatku tak nyenyak tidur, sampai-sampai aku merasa terganggu dengan bunyi mesin pendingin ruangan yang tadinya tak pernah terdengar berisik sebelumnya. And I’m not happy with that…

Terserah, lah.
Cerai, cerai sajalah.
Cari orang baru, kawini dia.

Aku tak bisa jatuh cinta lagi padamu, Ngga.
Nggak bisa.
Dan kamu tahu alasannya, kan?

Ya, Ngga..
Karena sudah ada Radit, sekarang. Dan aku mencintai lelaki itu; lelaki yang sudah berhasil membuatku melupakanmu, setahun yang lalu, dan yang kuterima lamarannya tiga bulan yang lalu…

**

Kantor, Rabu, 26 Januari 2011, 12.00 siang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “He’s Getting Divorced

  1. baca he’s getting married di fb..
    lanjutannya di sini…

    hmmmhhh…..laki-laki!

    Posted by yustha tt | January 26, 2011, 12:33 pm
  2. wahh..touching me!
    setuju banget..lupakan apa yg ada dibelakang dan mulailah berlari dengan yg ada sekarang..
    karna kita bukan sesuatu yg bisa dibuang dan dipungut lagi seenaknya..
    kita jauuuh lebih berharga daripada apapun!
    -beri kaca saja pada cowok itu ;P

    Posted by ibeth | January 26, 2011, 2:37 pm
  3. hmmmm … hmmmm ….
    mmmmmmmmmmmmmmmm … mmmmmmmmmmmmmm …
    ymmm ymmm ymmm
    after our chit chat, dan meluncur cerita ini, bukan ceritanya yang membuatku tergetar, tapi rasa itu …
    mmmmm speechless, euh …

    Posted by pend | January 27, 2011, 8:55 pm
  4. selalu unpredictable..

    Posted by bendorosahaya | April 1, 2011, 1:45 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: