you're reading...
daily's blings

Sunyi. Di Suatu Pagi.

Ada sunyi yang menyergap di sebuah pagi.

Usai Subuh, usai bersimpuh, usai meluruh di depan Dia yang mencipta, sunyi itu menyergap serta-merta. Seperti sebuah pelukan mendadak dari belakang; rapat mengurung tubuh sampai seluruh nafas tak bisa dilakukan dengan sempurna, sunyi itu membuatku kehabisan nafas.

Satu tarikan nafas seperti membutuhkan energi yang luar biasa. Diiringi nyeri, sakit, ngilu. Bukan, bukan di dadaku. Tapi, jauh di dalam sana. Bukan organ, tapi sebuah rasa. Kesunyian yang mendadak itu membuat rasaku mengilu, membuatku sesak nafas karena tak pernah menyangka bakal dipeluk rapat olehnya di pagi yang masih buta.

Aku butuh udara segar. Sesak nafas yang menggila karena rasa sunyi yang menghebat, membuatku ingin menikmati udara pagi pukul setengah lima. Kesejukan yang paling sempurna untukku; dingin, meski tak menggigil. Kubuka jendela kamar dan kunikmati kesunyian itu makin menggigiti relung. Ketika yang terhampar di depan mata adalah temaram langit, bisikan dedaunan, dan tetesan gerimis yang jatuh perlahan, aku semakin sesak nafas!

Oh, tidak!
Aku butuh udara segar, bukan kesunyian yang makin lama makin rapat memelukku. Aku butuh udara segar.. Aku tak mau sesak nafas karena sunyi kini seolah memiliki jemari untuk mencekik leherku erat-erat. Tidak… Yang kubutuhkan adalah udara segar, bukan kesunyian yang makin menghebat karena panah-panah hujan yang jatuh berderai bak tirai di muka jendela kamarku.

Mengapa mendadak sunyi?
Mengapa aku seolah berjalan di sebuah ruang hampa udara?
Mengapa seperti ada yang kurang dari setiap nafas yang kuhela?

Mengapa sunyi? Mengapa menghampiri? Mengapa di pagi seperti ini?
Kesunyian merampas kebahagiaanku. Merampas senyumku. Merampas anganku. Mencabuli rasa senangku. Diporak-porandakannya seluruh harapan yang aku punya, yang biasa memelukku setiap pagi dan terus erat memeluk sampai kupejamkan mataku di malam hari. Ah, Sunyi. Terlalu erat aku dipeluknya, memang. Tapi mengapa? Mengapa harus pagi ini?

Persis di bibir jendela kamar, aku melamun memandangi rinai hujan yang jatuh satu persatu, sambil mengingat kembali apa yang merusak pagi pukul setengah lima ini.

Apakah hujan? Yang turun terlalu dini di sebuah pagi? Yang menghalangi mentari tiba tepat waktu? Yang membuat Subuhku jauh lebih dingin dari biasanya?

Ah. Aku adalah Pecinta Hujan. Harusnya aku tak perlu merasa sunyi karena langit gelap yang mulai menitikkan air mata!

Lalu apa?
Apakah karena aku sendirian di rumah sebesar ini? Tak ada seseorang pun yang biasa aku ajak bertegur sapa? Yang membuatku membisu sampai seharian penuh?

Ah. Aku mencintai kesendirian. Aku sudah terbiasa sendiri. Biarpun membisu di depan televisi yang berceloteh cerewet, aku menikmati kesendirianku. Harusnya, kesendirianku tanpa kehadiran kakak-kakakku tidaklah masalah. Aku, dan sendiri, sudah seperti dua hal yang melebur menjadi satu. Jadi? Bukan karena aku membisu. Bukan… tapi lantas apa?

Apa?
Apakah karena beberapa waktu yang lalu seseorang menyampaikan undangan pernikahannya padaku? Padahal usianya jauh lebih muda dariku? Apakah karena itu?

Ah! Sudah kubilang. Aku menikmati rasa sendiriku. Bermanja-manja dengan waktu dan membiarkan Tuhan menggelindingkan jodoh mendekatiku. Tak perlu aku bersusahpayah mengatur rencana, karena bagiku, Tuhan memiliki rancangan yang paling sempurna. Aku sudah lelah dengan pencarian. Kini giliran lelaki itu yang mencariku. Aku butuh istirahat.

Jadi,
Bukan karena hujan yang turun terlampau pagi.
Bukan karena tak ada seorang manusia-pun mengajakku berbagi hati.
Atau karena kesendirian yang mencacimaki.

Tidak. Bukan karena itu aku merasa sunyi. Bukan karena itu aku merasakan sunyi yang terlalu hebat mencekik nadi. Bukan itu… Bukan…

Lalu apa?

Di bibir jendela itu, aku terpaku. Menikmati rinai hujan yang turun satu satu.
Rasa sunyi di hati makin menggoda, membuat hati nelangsa.

Diam. Aku terdiam, terpaku di bibir jendela sambil menekan-nekan dada, mencoba menghela nafas dengan sempurna.

Dalam diam itu, perlahan kutemukan jawabannya.
Jawaban dari rasa sunyi yang mencekik nafasku.
Jawaban dari rasa sunyi yang menyergapku terlampau erat di sebuah pagi.
Jawaban dari rasa sunyi, yang kurasakan, ketika usai bercakap-cakap dengan Tuhan di sebuah Subuh yang dingin, menggigil.

Ya.
Sunyi itu datang…
Karena aku sadar…
Tak ada lagi lelaki itu.
Lelaki yang dijemput pulang oleh sang Pemilik Hidup, beberapa waktu yang lalu.

Dan menggapainya kini, seperti menggapai bintang yang terhampar terlalu jauh dari jangkauan.
Dan ketidakbisaan itu, melemahkanku.

Aku…
Merasa…
Sunyi.

…dan sungguh. Tidak pernah sesunyi ini, seumur hidupku.

***
Kamar, 10 November 2010, 10.15 Malam
Special untuk: si Bintang Timur

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

12 thoughts on “Sunyi. Di Suatu Pagi.

  1. aduh sedih banget…
    bukan kisah nyata kan la?

    Posted by arman | November 10, 2010, 10:46 pm
  2. Ada pertemuan, maka ada perpisahan…, kita tidak dapat menghentikannya…

    Posted by Cahya | November 10, 2010, 10:47 pm
  3. It’s a true story, Arman.. 😦

    Posted by jeunglala | November 10, 2010, 10:48 pm
  4. Cahya:
    Betul.. Selalu ada perpisahan untuk setiap pertemuan. Cuman untuk kali ini, terasa lebih hampa dan sakit.. 😦

    Posted by jeunglala | November 10, 2010, 10:50 pm
  5. Lala….. ada kesedihan yg tidak bisa pupus hanya dalam hitungan hari. Sunyi itu adalah duka yang masih berduka.

    Posted by g | November 11, 2010, 6:54 am
  6. ikhlas agar dia tenang di sana

    Posted by orange float | November 14, 2010, 7:14 pm
  7. ada sesuatu yg terjadikah lala..why so sad?..be strong everything happend in our live for a reason, mungkin sekarang kita belum tahu alasan nya, maybe someday kita lihat kebelakang dan mengingat kejadian yg sekarang terjadi, dalam hati kecil bisa bilang..ini dia alasanya. orang² datang dan pergi dalam hidup kita juga dengan alasan to teach us something, only God dan kita sendiri yg tahu apa……..be strong dear..miss u and good luck with everythings

    Posted by suze | November 17, 2010, 2:45 am
  8. sedihnya..
    semoga dia tenang di sana..
    🙂
    semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT.

    Posted by anna | November 25, 2010, 3:49 pm
  9. Selamat sore sahabat tercinta
    Saya datang untuk mengokoh-kuatkan tali silaturahmi sambil menyerap ilmu yang bermanfaat. Teriring doa semoga kesehatan,kesejahteraan,kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan kepada anda .
    Semoga pula hari ini lebih baik dari kemarin.Amin

    Dengan bangga saya mengundang anda untuk mengikuti K.U.M.A.T ( Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun ) di BlogCamp. Tali asihnya sih tidak seberapa tetapi sensasinya sungguh ruaaaaaarrrrrrrr biasa.
    Silahkan simak artikel pengantarnya dengan meng-klik.
    http://abdulcholik.com/2010/11/16/kontes-unggulan-muhasabah-akhir-tahun/

    Terima kasih.
    Salam hangat dari Markas BlogCamp Surabaya

    Posted by Shohibul K.U.M.A.T | November 28, 2010, 3:13 pm
  10. gaya penulisanmu,jeung yg dari dulu sampai saat ini blue suka..pengen banget belajar..ehheh
    salam hangat dari blue
    p cabar

    Posted by bluethunderheart | December 6, 2010, 10:32 pm
  11. mbak..aku pernah ngalamin sunyi yg seperti itu..sungguh ga enak banget rasanya.. 😦

    Posted by fitrimelinda | May 10, 2011, 8:04 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2010
M T W T F S S
« Oct   Dec »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: