you're reading...
daily's blings

Bintang Timur

Ada sebuah bintang.

Dia selalu berada di langit sebelah timur. Berkedip genit, memberi terang paling terang di sisi langit. Betah bersinar berlama-lama di sana, lebih lama dari jutaan bintang yang berpendaran di penjuru langit.

Dia adalah bintang paling mandiri.
Paling terang.
Bintang utama sebuah panggung yang kehadirannya ditunggu oleh semua pengelana yang tersesat di dalam pencariannya.

Karena Bintang itu, bintang bernama Kejora, yang dimana ia berada, di situlah para pengelana itu tahu akan arah, meski kompas tak menunjukkan fungsinya.

Cerita itu kudengar dari mulutnya, sosok seorang Lelaki yang senyumnya seterang mentari di pagi yang cerah. Di suatu malam, saat langit terang benderang dipenuhi bintang, dia lincah bercerita tentang sebuah bintang.

Jemarinya menunjuk ke langit. Tepat ke arah sebuah bintang. “Itu namanya Bintang Kejora.”

Aku ikut melihat arah telunjuknya. Melihat sebuah bintang yang namanya sudah sering kudengar, bahkan cerita tentangnya sudah sering kunyanyikan ketika usiaku masih kanak-kanak.

…kupandang langit penuh bintang bertaburan
Berkerlap-kerlip seumpama intan berlian
Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku bintang Kejora yang indah selalu…

“Itu yang namanya Bintang Kejora?” tanyaku.

Dia mengangguk. Lalu dia melanjutkan ceritanya tentang perjalanan-perjalanannya menembus hutan belantara. Hidupnya memang selalu berkelana kemana-mana. Katanya, meskipun tak berbekal kompas, tapi dengan adanya tetumbuhan lumut yang ada di sisi sebuah pohon, juga dengan bermodal sebuah bintang terang di sisi timur, ia tidak akan tersesat dalam kembaranya.

“Dengan melihat bintang itu, aku nggak takut tersesat,” katanya.

“Benar, kamu nggak takut?”

Dia mengangguk. “Karena aku selalu tahu, bintang itu akan memanduku…”

Sejak malam itu, aku selalu melihat langit saat malam menyapa. Teringat sebuah cerita dari mulut seorang Lelaki yang harum tubuhnya masih tercium sampai pagi ini. Dia memang benar, bintang Kejora adalah bintang yang paling terang. Di antara bintang-bintang yang berpendar di seluruh kanvas langit, hanya bintang Kejora yang bersinar paling indah, paling terang.

Kalau Lelaki itu bilang, Kejora adalah bintang yang mandiri, aku tahu kenapa. Karena Kejora selalu sendiri, terpisah dari bintang-bintang yang lain, tapi ia tetap melaksanakan tugasnya untuk berpendar. Tetap bersinar, tetap cemerlang, dengan sekuat tenaga yang ia punya.

Tak peduli, meski sendiri.
Tak peduli, ia tetap menyinari.
Bintang Kejora, Bintang Timur…

…dan mendadak, aku tahu, kalau bintang itu…
adalah dia.

Seorang Lelaki yang selalu hadir, di saat-saat terbutuhkan.
Seorang Lelaki yang selalu hadir, memberi makna di sebuah lukisan langit malam.
Seorang Lelaki yang selalu hadir, berusaha untuk hadir, meski sesungguhnya ia lelah.

Beberapa malam berikutnya, aku bilang padanya, “Kamu adalah Bintang Timurku.”

“Kenapa?” tanyanya.

“Karena kamu memberi cahaya di malam-malamku yang gelap… Terimakasih, ya… Kamu penuntun arahku…”

Karena memang, sudah beberapa waktu, hidupku seperti sebuah kembara yang tak kunjung menemukan arah. Aku seperti seorang pengelana yang tersesat di rimba hidup, tak tahu harus melangkah ke mana, karena aku tak dibekali kompas saat berkelana.

Hadirnya dia, Lelaki yang kupuja, seperti bintang Kejora, bintang Timur yang memberi arah. Hanya dengan mengetahui bahwa ia ada, berpendar dengan indahnya, aku tahu, aku tidak akan tersesat dalam arah.

Ia adalah tujuanku.
Arah kemana aku akan menuju.

Aku tak lagi tersesat, karena aku tahu, ia selalu ada memberi terang dan menuntunku.

Kembaraku menjadi perjalanan yang menyenangkan. Dengan hadirnya, dengan adanya seseorang seperti dia.

Tapi dua malam lalu,
Langit seolah kanvas hitam yang kosong.
Tak ada satupun bintang di sana.
Tak juga bintang Timur yang biasanya betah berlama-lama di sana, berpendar paling terang di sana.

Malam itu, bintang itu hilang ditelan pelukan awan gelap, pekat, dan menangis.
Di malam yang sama, aku kehilangan Lelakiku, bintang Timurku, penunjuk arah untuk setiap kembaraku.

Aku tak melihat Bintang Timur di langit.
Dan Bintang Timur-ku meredup di pelukan maut.

Bintang Timur-ku kehilangan cahaya. Meredup terus, meredup. Sinarnya menghilang setelah Tuhan memanggilnya pulang.

Ah!

Kembaraku kembali tak tentu arah. Aku bahkan tak tahu musti melangkah kemana. Aku bahkan tak tahu apakah aku ingin kembali mengembara. Aku ingin berhenti melangkah, mencoba mengunyah sepi, dan berharap langitku cerah kembali oleh hadirnya!

Aku takut tersesat, tanpanya.
Aku takut tak bisa hidup, tanpanya.

Sampai kemudian, aku teringat, mengapa aku menyebutnya sebagai Bintang Timur.

Dia, adalah seseorang yang akan selalu memberi terang di setiap malam-malam gelapku.
Dia, adalah seseorang yang telah menghadirkan senyum dan tawa untuk setiap risauku.
Dia, adalah seseorang yang memberi energi untuk setiap lelahku.

Dia adalah Bintang Timur; bintang yang tak pernah lelah menjadi cahaya meski lelah, meski nampak sendiri.

Ya, Mas.
Meski sudah dua malam, langitku mendung, gelap dan tak bercahaya, aku tahu, suatu saat nanti, langit akan kembali indah.

Dan di saat aku melihat Bintang Kejora yang berpendar di sisi timur sebuah langit di malam yang cerah, aku tahu, kamu ada…

Selamat berpendar, Mas.
Semoga kau datang malam ini, menghiasi langit-langit hatiku… Seperti dulu, seumur hidupku…

…Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku Bintang Kejora yang indah selalu..

**

Kantor, Jumat, 15 Oktober 2010, 10.07 Pagi
Catatan buat Alm. Mas Endro Murnisetijawan
Semoga, entah bagaimana caranya, kamu bisa membacanya, ya, Mas…

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “Bintang Timur

  1. sabar y mbak,
    mas pasti bangga sama mbak..

    Posted by Emy | October 15, 2010, 5:53 pm
  2. pasti akan ada bintang kejora lain..
    tetap tersenyum..untuk menghilangkan ranting2 yang menghalangi jalan..

    Posted by z4nx | October 16, 2010, 5:41 am
  3. *hugz*

    Posted by Yessi | October 16, 2010, 4:53 pm
  4. moga menemukan bintang yang lain mbak, gak bener hanya bintang kejora saja yang mampu menuntun kita, karena masih banyak bintang dilangit yang bersedia menuntun kita.
    salam….

    Posted by iderizal | October 19, 2010, 8:55 am
  5. sabar yah, mbak. hidup itu emang kadang ga selalu sesuai dengan yang kita harapkan, mbak. salam kenal.

    Posted by krisdeline | October 22, 2010, 2:08 pm
  6. kita akan mendapat pelajaran dari kejadian yang telah kita lewati

    Posted by Fakta Unik | September 21, 2011, 8:12 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

October 2010
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: