you're reading...
Fiktif

Rindu 7 Purnama

Pernahkah kau merindukan seseorang, sampai-sampai seluruh sel dalam tubuhmu menjerit sakit karena menginginkan ia ada?

Saking merindunya, sampai sekujur tubuhmu ngilu dan hanya kehadiran seseorang itu yang mampu menjadi penawarnya?

Rindu yang sampai menerbitkan air mata, rindu yang membuatmu berhalusinasi akan wajah dan suaranya di setiap pejaman matamu?

Sedang kurasakan rindu itu. Rindu yang membelenggu. Rindu yang tak habis digigit geligi waktu. Rindu, pada lelaki itu.

Sudah tujuh Purnama berlalu, dan rindu itu kian menggebu. Sudah tujuh Purnama, ia berlalu. Dan rindu itu merobek hatiku.

Aku kangen wajahnya. Kerut merut di sudut mata dan bibirnya. Aroma after shave-nya. Ah, bau keringatnya! Semua yang ada padanya.

Tujuh Purnama yang lalu, Lelaki itu masih di sini. Berbagi tawa. Memecah hening dg petikan gitar dan suara bas-nya yang merdu.

Tujuh Purnama yang lalu, lembut tangannya masih mengelus anak-anak rambutku yang bermain ditingkahi embusan angin pantai.

Tujuh Purnama yang lalu, Lelaki itu bilang, “Aku mencintaimu. Kamu adalah hidupku. Energiku. Udaraku.” Lalu dikecupnya keningku.

Dan tujuh Purnama yang lalu, kami bercinta. Menyemai benih kasih terlarang tapi aku tahu, dosa ini tak akan kusesali.

“Aku tak sanggup kehilanganmu,” kataku.

Lelaki itu menatapku. Katanya, “Kau tidak akan kehilangan aku. Aku tidak akan kemana-mana.”

Tapi, Lelaki itu bohong. Dia pergi. Meninggalkan aku yang menangis tanpa henti.

“Katanya aku udaramu. Energimu. Hidupmu? Bullshit! Tai! Kamu bohong!” Teriakku. Di sela tangis yang sembabkan kedua mataku.

Teriakanku merobek udara di sekitarku, lalu kemudian lenyap terbawa angin. Lelaki itu tetap pergi. Aku tetap sendiri.

Purnama pertama berlalu. Tapi Lelaki itu masih tak menghampiriku. Anak-anak Rindu mulai jejali kepalaku.

Purnama kedua, masih tak datang. Kepalaku mulai sesak. Oleh rindu yang membelenggu langkah-langkahku.

Purnama ketiga, keempat, dan kelima, hatiku makin tak menentu. Rindu membuatku gila! Setiap sudut pandangan mata, ia ada…

Dan Purnama keenam, rindu sudah membuatku tak bisa melakukan apa-apa. Sudah tak lagi terasa indah, tapi sakit yang meraja.

“Aku harus mencarinya, sebelum aku gila!” Kataku pd seorang Sahabat yang diam, tapi jemarinya sibuk membelai belakang kepalaku. “Dia harus kutemukan. Aku musti ketemu dia. Harus!”

Sahabatku diam, memandang mataku. Mencari sesuatu, aku tak tahu.

“Mungkin kamu memang harus merelakan sakit hati ini, Sayang.” Suara Sahabatku yang lembut terdengar bak guntur di telingaku.

“Rela? Bagaimana bisa aku merelakan lelaki itu pergi? Ia menjamah tubuhku lalu esoknya ia pergi. Aku tak bisa rela!” Aku meradang.

“Lantas maumu apa?” Sahabatku lelah. Kami memang sudah bertengkar sejak Purnama pertama.

Aku tak tahu bagaimana caranya. Tapi kerinduanku, keinginanku untuk menemuinya, seperti berubah menjadi energi buat setiap lelahku.

“Biar waktu yang memberitahu,” tukasku di Purnama itu. Pertengkaran kami selesai, yg tersisa adalah rindu yang makin mencekam.

Hari-hari menuju Purnama ketujuh, rindu makin menggila. Denyut jantung makin sibuk, tiap menit aku dihadang rindu.

Rindu ini.. Membunuhku! Mengurai kebahagiaanku! Hatiku terserak, tertiup angin, berharap rindu membawanya pulang padaku.

Aku merindunya. Sangat. Tapi Lelaki itu tak pernah datang lagi, bisikkan kata-kata mesra dan kecupan hangat lagi.

Ia tak terjamah. Lelaki itu, tak mau dijamah. Ia tak lagi peduli. Ia biarkan aku merindu seorang diri, sampai tujuh Purnama.

Aku tak sanggup lagi. Malam ini, rindu sudah mencengkeram nadi. Menyerupai jemari yang mencekikku sampai mati.

Tujuh Purnama, sudah cukup aku merindunya. Aku musti bergegas melakukan satu cara ini sebelum terlalu sakit dicekam rindu.

“Kalau memang ini caranya untuk menuntaskan rindu, biarlah kulakukan ini…” Kupejamkan mataku, kuhela nafasku.

Sebotol Aspirin, tiga teguk air putih, dan perlahan rindu itu terkikis sampai habis. “Kita ketemu di sana. Jemput aku!”

Rindu itu usai sudah. Habis, karena kini aku sudah bersamanya. Di alam kematian, tempatnya berada, tujuh Purnama yang lalu..

***

Kamar, 3 September 2010
Ditulis via Twitter, 34 Twits, hashtag: #fiksiLala
Ngoceh mulai pukul 22.56 – 23.48

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

6 thoughts on “Rindu 7 Purnama

  1. segitu kah..?
    mungkin ada lelaki lain yang mau terima apa adanya..pasti !

    Posted by z4nx | September 6, 2010, 12:12 pm
  2. Rindu itu kepada lelaki yang seharusnya tidak.
    Tapi mau bagiamana lagi, bahwa lelaki itu memang BAN*S*T. Tidak seharusnya lelaki berbuat seperti itu.

    Posted by mandor tempe | September 7, 2010, 7:04 pm
  3. mohon maaf lahir batin ya La..
    semoga ibadah kita selama Ramadhan lalu diterima Allah
    dan ibadah kita berikutnya menjadi lebih baik… amin

    Posted by anna | September 19, 2010, 1:54 pm
  4. wow………….dahsyatny, jjur sy jg dpt mrskny!!!!

    Posted by rony | October 4, 2010, 2:27 am
  5. Wuih. Suka ide ‘lewat twitter’nya🙂

    Posted by Endah Raharjo | December 15, 2010, 1:07 pm
  6. kerinduaan datang apabila ada sesuatu yang hilang

    Posted by Yanti | December 21, 2010, 2:15 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: