you're reading...
Fiktif

Dia, Sahabatku.

Dia sahabatku.

Kukenal dia ketika usia kami sudah beranjak dewasa atau mungkin remaja tanggung. Ada yang menarik pada dirinya. Sosoknya seperti memiliki sulur-sulur tak kentara yang menarikku untuk terus mendekat. Mungkin senyumnya, mungkin caranya tertawa, mungkin tingkah polahnya yang mengundang tawa banyak orang, mungkin juga karena dia selalu ramah menyapa siapa saja.

Banyak sekali alasan untuk jatuh hati pada perempuan berambut tak panjang ini. Hatinya yang sensitif dan mudah tersentuh untuk hal-hal sepele, pribadinya yang tangguh dan tahu bagaimana caranya menenangkan perasaanku untuk terus menapak hari ketika paruhan hatiku sedang terluka. Juga caranya berkata-kata, caranya menyentuh hati, caranya mengambil seluruh perhatian siapapun yang ada di dalam ruangan.

Dia seperti cahaya ketika hari gelap.
Bahkan ketika hatinya sedang redup, tapi ia tak mau terlihat rapuh dan gelap, karena baginya, dunia lebih membutuhkan cahaya daripada rengekan hatinya. Dunia sudah terlalu sedih, ia tak perlu membagi aura kesedihan di setiap sudut ruangan.

Pernah kubilang padanya, “Jangan berpura-pura kalau hatimu sedih, Sahabat.”

Lalu ia memandang wajahku. Pelan, sambil tersenyum, ia menjawab, “Kalau aku sedih, itu artinya aku membuatmu sedih, kan?”

Kuanggukkan kepalaku. “Tentu, karena aku sahabatmu…”

“Dan aku tidak mau membuatmu bersedih…”

Senyumannya meneduhkanku. Genggaman tangannya menguatkanku. Sampai-sampai aku heran, bukankah sekarang bukan aku yang bersedih, tapi kenapa justru aku yang merasa dikuatkan oleh senyum dan ketegarannya?

“You’re such a great actress…” komentarku pada akhirnya.

“Bukankah aku memang mirip Drew Barrymore?”

Lelucon itu membuatku mengakui, kalau tidak ada yang sanggup mengalahkan kepandaiannya dalam menyembunyikan sakit hatinya.

Ia perempuan yang sangat hebat.
Dia adalah sahabatku.

**

Ya,
Dia adalah sahabatku.

Seorang pecinta sejati.

Seorang yang kuat memegang satu cinta sampai ia dipaksa untuk mengendurkan genggamannya. Kesetiaannya, rasa percayanya pada cinta, membuatku iri setiap ia bercerita tentang Kekasihnya.

“Kau bertanya kenapa aku setia?” tanyanya.

“Iya.”

“Karena aku percaya pada Karma; kesetiaan dibalas dengan kesetiaan. Ketidaksetiaan akan dibalas dengan ketidaksetiaan pula.”

“Bagaimana kalau ternyata ia tidak setia?”

“Mudah.”

“Bagaimana?”

“Aku percaya Karma. Kalau ia tidak setia, artinya dia akan menuai ketidaksetiaan itu pada suatu masa kelak.”

“Itu yang membuatmu begitu sederhana menyikapi jarak dan waktu?”

“Itu caraku agar aku tidak mudah terluka…”

**

Tapi, kemudian ia terluka.

Sahabatku, seorang aktris hebat itu, akhirnya terluka.

Aku datang padanya ketika kedua biji matanya sembab dan ia begitu ragu mengangkat wajahnya untuk membalas pandanganku.

“Don’t look at me, now. I’m terrible…” katanya sambil berusaha terus menunduk.

“Kamu berhak menangis, Sahabat.”

“Tidak, tidak,” katanya. “Aku tidak boleh menangis.”

“Hey, you’re an actress. Not a robot.”

Dia tersenyum. “Aku tidak dilahirkan untuk menjadi seseorang yang berkubang dalam rasa sedih. Ayahku mengajariku untuk menjadi perempuan yang tangguh…”

“But sometimes, crying is good…”

“No… no way…”

Dia terus mengaduk teh manis panasnya. Kalau pada akhirnya teh itu berasa sedikit asin, aku tahu, darimana rasa itu berasal.

Dari air matanya yang terus berjatuhan dalam setiap adukan…

**

Dia sahabatku.

Ingin kupeluk dia malam ini, ingin kuelus lembut rambutnya malam ini, ingin kusentuh punggung tangannya dan mengalirkan kekuatan di setiap ruas-ruas jarinya.

Tapi dia menolakku.

Tapi dia berkata, “Sudahlah. If I could handle then, I can handle now.”

Dia sahabatku.

Sudah tak terhitung berapa kali ia jatuh cinta, lalu patah hati, lalu jatuh lagi, dan terluka lagi. Entah berapa lelaki yang sudah kuancam agar tidak menyakitinya dan mundur saja kalau mereka memang berniat untuk melukainya. Sungguh, melihatnya terluka adalah satu hal yang tak ingin kulakukan.

Dia sahabatku.

Separuh jiwaku.

Nafasku.

Aku tak bisa bernafas jika sekali lagi aku melihat luka di wajahnya, di kedua biji matanya, di debar jantungnya. Aku tak rela!

“Kamu tahu, kamu perempuan yang hebat.”

“Makasih…”

“You’re such a great friend, good listener, wonderful comedian, faithful girlfriend… Suatu saat kelak, hanya lelaki yang paling beruntunglah yang bakal menjadi Ayah untuk Gabriel dan Talisha…”

“Kamu masih ingat nama anak-anak impianku itu, ya?”

“I remember your dreams, termasuk mimpi-mimpimu dengan lelaki itu…”

“Mimpi yang musti usai…”

“Then start dreaming something new…”

**

Di suatu malam, ketika hening membuat jengkerik terdengar begitu berisik di lapangan rumput sebelah rumah, sebuah dering telepon membangunkanku.

“Kenapa? Malam sekali?”

“Aku nggak bisa tidur. Aku nggak berani tidur.”

“Lho? Kenapa?”

“Kamu pernah bilang kalau aku mustinya start dreaming something new, kan?”

“Iya. Kenapa memangnya?”

“I don’t wanna dream something new… Nope. Not yet…”

Lalu akhirnya ia terisak.
Sama seperti aku, di ujung telepon satunya.

**

Dia adalah sahabatku.

Perempuan manis, berambut pendek, dengan senyum serupa cahaya itu memang sahabatku. Matanya berbinar-binar, wajahnya tetap cerah ceria seperti mentari pagi hari, sekalipun semalaman aku hanya mendengar suara tangisnya di ujung telepon.

“Kamu baik-baik aja?”

Dia tersenyum sambil terus mengaduk teh manis panasnya.

“You sounded so terrible, last night.”

Dia masih tetap tersenyum.

“Don’t hide something, Darling…”

Tak berhenti ia tersenyum sambil terus menyiapkan minuman hangatnya untuk kami habiskan berdua di teras depan.

“Hei… kamu…”

Tiba-tiba dia menoleh.

“Kamu ingin gula berapa sendok? Satu, kan?”

Aku terheran-heran menatap wajahnya.

“You look….”

“… gorgeous. Thank you,” potongnya sambil memasukkan sesendok gula pasir ke dalam cangkirku. “Yuk, bantu aku bawa pisang gorengnya keluar. Kita ngobrol di teras aja, yuk… Eh, by the way, besok jadi nggak, sih, kita janjian ke Bengawan Solo? Aku rindu minum kopi.. Been a very long time…”

Dan dia memang tetaplah sahabatku.

Segala luka hati tidak membuatnya berhenti menjadi perempuan hebat dan tangguh yang pernah kukenal.

Aku tahu dia tengah berjuang menutupi wajahnya sendiri dengan topeng dan aku membiarkannya melakukannya…

“If a mask can make it everything easier to deal with, then put a mask on, Dear Best Friend,” bisikku dalam hati sambil membantunya membawa sepiring pisang goreng itu ke teras.

Dari kursi teras, aku sempat menengoknya sebentar.
Dia mengaduk teh manis panasnya, dengan beruraian air mata…
Argh!

***
Kamar, Minggu, 4 Juli 2010, 00.08

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “Dia, Sahabatku.

  1. dia, sahabatku itu, gadis tangguh luar biasa…
    tetap kuat hadapi apapun
    menangis menjatuhkan air mata lebih baik daripada menangis dalam hati mb…

    Posted by yustha tt | July 6, 2010, 2:42 pm
  2. keren banget ceritanya….

    Posted by rumus cepat matematika | July 6, 2010, 2:43 pm
  3. tapi mau sampe berapa lama pake topeng? pasti akan berasa terbeban terus dan gak bisa berasa bebas…

    Posted by arman | July 6, 2010, 11:49 pm
  4. saya justru pgn tau ini postingan inspirasinya dari mana ya..hehe

    Posted by julianusginting | July 7, 2010, 5:22 pm
  5. luapkan apa yang kau rasakan, dengan sedikit menangis dan sharing akan membuat masalah sedikit lebih ringan. salam buat sahabatnya mbak🙂

    Posted by orange float | July 10, 2010, 11:39 am
  6. menangis bukan berarti lemah.

    Posted by latree | July 10, 2010, 4:30 pm
  7. berat n dilematis yaa…. soal hati emang ruwet

    Posted by HASTu W | July 10, 2010, 9:48 pm
  8. Menangis,
    karena kita semua manusia

    Posted by z4nx | July 11, 2010, 12:54 pm
  9. Ya… terkadang memakai topeng bisa membuat hal rumit jadi lebih baik daripada harus jujur secara naif

    Posted by munlait | July 13, 2010, 2:11 pm
  10. Aku kok malah lebih tertarik pada tokoh ‘aku’, yang membiarkan sahabatnya bersikap sebagaimana yang diinginkannya. Banyak orang, karena merasa sebagai sahabat, lalu memaksa ‘ingin membantu’ sahabatnya itu, padahal yang ia lakukan sebetulnya justru melanggar privasi sang sahabat …

    Posted by tutinonka | July 16, 2010, 1:41 pm
  11. sepertinya klise..
    tapi waktu pasti akan menyembuhkan.. ntah bagaimana caranya🙂

    Posted by anna | July 16, 2010, 3:54 pm
  12. seorang perempuan berhati baja🙂

    Posted by 'Ne | July 16, 2010, 4:11 pm
  13. wow..mba lala tulisannya selalu ok banget.i like it mba.
    btw blognya ganti baju ya mba, kita jadi sama.hehehe
    salam mba lala dah lama saia ga mejeng di blog ini..😀

    Posted by julianusginting | July 21, 2010, 8:34 am
  14. Menangislah biar lega…

    Posted by indra1082 | July 21, 2010, 9:35 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

July 2010
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: