you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Jangan Kasihani Aku…

Aku duduk di sebuah warung, di suatu pagi, menanti mobil sedan sang Kakak Lelaki yang sedang dicat bagian belakangnya di sebuah bengkel pinggir jalan. Hari  itu, matahari sudah bersinar terang sekalipun jarum jam tanganku masih menunjuk di antara angka delapan dan sembilan, sehingga dengan terpaksa, aku menyeret langkahku untuk membeli minuman dingin — favoritku adalah Coca Cola dengan es batu. Maklum, panas sekali hari itu.

Warung itu masih sepi. Tak ada satupun orang yang menyesaki warung itu kecuali aku dan seorang pemiliknya; lelaki tua, usia delapan puluhan, dengan tubuh ringkih, dan rambut yang pigmennya luntur.

Kusapa dia dan segera kupesan Coca Cola dan es batu itu. Dengan cekatan, meski lambat, Bapak Tua itu segera meladeni permintaanku. Membuka botol minuman berkarbonat itu, memecah es batu, meletakkannya di dalam gelas bertelinga, dan menyodorkannya padaku. Dengan senang hati, kuterima sodoran gelas darinya, kutuangkan isi botol itu, dan kuminum perlahan, menikmati aliran air dingin manis itu ke dalam tenggorokan.

Benar-benar Surga di teriknya hari begini!

Dan seperti biasa, aku memang orang yang suka sekali memanjakan mata dan pikiranku, sehingga aku kemudian mengamati setiap detil gerakan Bapak Tua itu di tengah-tengah tegukan air minuman dinginku.

Mulai dari membereskan gelas-gelas, menata botol-botol, melayani pembeli yang beberapa kali datang lalu pergi setelah membeli beberapa batang rokok dan kopi panas, sampai kemudian seorang Ibu Tua datang dan berbincang-bincang sedikit dengannya.

Rupanya perempuan itu adalah Istrinya.

Dalam diamku, aku menikmati suguhan pemandangan pagi itu. Sepasang orang tua yang tetap giat bekerja meski usianya sudah delapan puluhan, sepasang orang tua yang tetap terlihat romantis karena saling melemparkan guyonan sebelum akhirnya sang Suami pamit pulang dan Istri-nya yang bergantian menjaga warung mereka.

Ada sebuah perasaan haru menyelinap di dalam hati, saat itu.

Ya.

Aku terharu.

Bahkan, aku sangat kasihan!

Dan naluriku sebagai wartawan — ya, ya. Aku memang perempuan yang selalu usil ingin tahu — membuatku memesan minuman dingin sekali lagi untuk mulai mengulik kisah sepasang lelaki-perempuan yang sudah lanjut usia itu…

**

Dari mulut si Ibu, aku mengetahui kalau usia Bapak sudah sangat lanjut, delapan puluh lebih sedikit.

Mereka menikah di usia yang sangat muda, memiliki enam orang anak yang kelima-nya meninggal ketika masih bayi — tidak ada yang lebih dari delapan bulan — karena sakit. Tempat tinggal mereka yang di pelosok Madura  tidak memungkinkan adanya pertolongan medis dengan segera. Satu-satunya anak mereka yang selamat berusia lima puluhan, menikah, memiliki dua orang anak yang kini sudah besar-besar.

Ibu dan Bapak itu membuka warung di pinggir jalan itu sejak tahun 1980-an, berarti saat aku masih bayi! Yang dijual pun tidak berubah; kopi, teh, minuman instan, minuman botolan, dan mi instan.

Katanya, sebetulnya merugi.

Tapi katanya lagi, semua demi si Bapak yang tak pernah mau menyerah dan mengakui bahwa usianya sudah menggerogot kesehatannya.

Dengan bahasa Jawa Timur-an, beliau banyak bicara kalau sebetulnya dia sudah capek, lelah, dan ingin pulang kampung ke Madura saja. Usianya yang sudah tua, fisiknya yang sudah lemah, membuatnya ingin menikmati usia tuanya dengan tenang. Mengunyah sirih, berkumpul dengan sanak-saudara, berbincang-bincang.. Apapun, selain tetap di Surabaya.

“Tapi Bapak ndak mau, Mbak,” katanya dengan logat Maduranya yang kental.

Beliau pun terus mengalirkan cerita tentang keseharian mereka. Pukul enam pagi, Bapak berjalan kaki dari rumah mereka untuk membuka warung. Menyiapkan semuanya agar warungnya sudah siap ketika sang Istri tiba. Pukul setengah sembilan, Istrinya datang, dan beliaupun pulang; masih dengan berjalan kaki. Pukul setengah satu, beliau datang bersama anak lelakinya, bergantian menjaga warung sampai pukul setengah empat sore, sang Anak kembali datang, membantu memberesi warung, lalu mereka pulang.

Hari libur mereka hanya hari Minggu, ketika kantor-kantor di sekitar warung mereka tutup. Selain hari itu, mereka terus bekerja dengan jadwal yang tak pernah berubah, sejak tahun 1980-an itu.

Sekali lagi, terbersit rasa kasihan di dalam hatiku. Ada keinginan hati untuk memberikan lebih dari harga yang seharusnya dibayar untuk dua gelas Coca Cola dan beberapa bongkah es batu, nanti kalau urusan mobil Kakak Lelaki sudah beres dan aku harus pergi.

Dengan pemikiran yang seperti itu, dengan hati yang ngilu seperti itu, sudah kusiapkan uang di dompetku untuk memberikan yang lebih buat perempuan tua itu, namun sebuah cerita lain menggelinding dan membuatku tak tahu harus melakukan apa…

**

“Bapak tidak suka dikasihani, Mbak,” kata Ibu itu.

Beliau bercerita tentang rasa kesal Suaminya ketika seorang pengunjung warung merelakan uang kembaliannya untuk disimpan saja. Lumayan, kembalian tujuh ribu Rupiah diberikan begitu saja untuk si Suami.

Saat itu, Suami-nya malah mengomel panjang pendek dan berkata kalau ia tidak perlu dikasihani. Usianya memang sudah lanjut, tapi dia masih sehat. Dia masih bisa bekerja seperti ketika masih muda dulu. Mungkin ia tak segesit dulu, tapi ia masih mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Uang tujuh ribu Rupiah itu dianggapnya sebagai penghinaan, wujud kepedulian yang dianggapnya sebagai hinaan.

Koyok aku iki gak isok kerjo ae…

Begitu kata-kata yang meluncur dari mulut Bapak Tua itu yang ditirukan oleh Ibu yang bercerita sambil tertawa kecil. “Lah, pancen wis tuwek, yo, Mbak? Aku yo ngomong nek paling yo arek iku ngesakno awakmu, Pak…” Lalu Ibu itu tertawa sekali lagi.

Aku ikut tertawa, sekalipun otakku berpikir. Mencoba mengunyah kalimat-kalimat tersebut, mencernanya sampai lembut, tak tak kunjung membuatku tenang…

**

Seumur hidupku, baru pertama kali ini aku melihat hal ini dari perspektif yang sama sekali lain. Baru kali ini aku melihat hal ini dari sudut pandang seorang lelaki yang mendapatkan uang lebih karena rasa iba.

Tidak sekali dua aku memberikan lelaki tua penjual opak di lahan parkir motor, dekat Mal. Harganya yang cuman beberapa ribu saja, kubeli dengan harga sepuluh ribu.

Tidak sekali dua aku membayar beberapa ribu lebih banyak untuk sebuah koran pagi, karena aku kasihan dengan anak kecil yang menjajakan korannya.

Bukannya sombong, tapi jujur, aku hanya kasihan. Setidaknya, memberikan kelebihan uang itu adalah salah satu hal yang paling mudah aku lakukan saat itu juga.

Hari itu aku terpikir, jangan-jangan, mereka pun sama seperti Bapak Tua penjual warung itu.

Bagaimana kalau Bapak penjual opak itu tersinggung?

Bagaimana kalau Adik kecil itu tersinggung?

Karena mereka berniat untuk menjual sesuatu, bukan mengemis.

Tapi bagaimana aku tahu isi hati orang lain, kan? Bagaimana mungkin aku tahu apa yang sedang ada di dalam hatinya? Masa aku harus melatih indera keenam atau bertanya ke Dukun terlebih dahulu untuk mengetahui apakah kelebihan beberapa ribu Rupiah itu akan menyinggung hati seseorang atau tidak?

Hari itu, aku mencoba mencerna kata-kata Ibu Tua itu dengan hati-hati, di sela-sela tegukan air minuman manis dingin itu, di sela-sela perbincangan hangat kami berdua yang membuat waktu menggelinding tanpa terasa, sampai mobil Kakak Lelaki-ku sudah selesai dan sudah waktunya kami beranjak pergi.

Ketika mengeluarkan dompet dan mengambil selembar uang dua puluh ribuan, ada sesuatu yang berkecamuk di dalam hati.

Bagaimana dengan uang kembalian ini nanti? Aku berikan saja, atau aku menguatkan hati untuk menerimanya utuh?

Dan, aku memang tak pernah berubah.

Uang kembalian itu tak pernah masuk ke dalam dompetku lagi.

Aku melangkah pergi, melambaikan tangan, dan diiringi sebuah senyuman manis dari Ibu Tua yang di genggaman tangannya terdapat beberapa lembar ribuan.

Mudah-mudahan saja, niat baikku akan tercatat baik pula.

Dan mudah-mudahan, niat baikku tak dianggap sebagai yang tak baik oleh orang lain.

Biarlah Tuhan yang mencatat sebagai apa, yang penting aku melakukannya karena aku berterimakasih pada si Ibu yang sudah memberikan banyak cerita menarik di pagi yang terik itu…

***

Kantor, Rabu, 28 April 2010, 10.30 Pagi

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

23 thoughts on “Jangan Kasihani Aku…

  1. 2 jempol.. buat kisahya..dulu waktu saya bekerja di sebuah kantor untuk mengisi waktu istirahat saya lebih senang nongkorong di warung” kaki lima.. karna di sana saya bisa mendapatkan pelajaran kehidupan yg pure.. tanpa di bungkus kepalsuan.. maksih kisahya..

    Posted by kokok | April 28, 2010, 3:10 pm
  2. puuuf… aku juga suka begitu mba. Yang penting niatnya. Masalah penerimaannya, kita doain aja semoga yang ngasih en yang nerima sama-sama ikhlas….

    Posted by aleaja | April 28, 2010, 3:35 pm
  3. Uh, biar gak merasa bersalah, ya anggap saja kasih tips La.

    Rate standard kalau di resto gitu sekitar 15-20% dari harga total 🙂

    Jadi kalo ada yang tersinggung, jelasin maksudnya Tips itu apa hahaha.

    “Ngene lho Mbok… tips kui…” 🙂 asal ojo sampek tuman hehehe.

    Posted by Dewa Bantal | April 28, 2010, 3:46 pm
  4. salut emang kalo ngeliat orang2 yang udah tua tapi masih giat bekerja… ironis nya karena banyak orang2 muda yang badannya gak kurang satu apapun juga, sehat, kuat tapi malah males kerja dan cuma maunya minta2 doang…

    Posted by arman | April 28, 2010, 11:08 pm
  5. beramal baik janganlah ditunda-tunda (bimbo)
    beramal baik jangan khawatir dan berpikir jangan2…
    hehe…nyambung gk mb??
    Niat baik, mudah2an akan diterima dengan baik. 🙂

    (jadi ingat tulisan bang didot tentang bersedekah kepada pedagang karna kasian. Tapi konteksnya beda ya. Kalo ini mah gk pake tawar menawar. Hehe.. )

    Posted by yustha tt | April 29, 2010, 10:16 am
  6. saya pernah, beberapa tahun yang lalu, sedang menyetir di siang yang panas. Datang seorang anak kecil berdagang air mineral menghampiri mobil menawarkan minuman di traffic light. Saya saat itu sedang tidak kehausan karena memang selalu bawa minuman di mobil. Tapi karena siang itu panas sekali, saya kasihan dengan si adik kecil. Lalu saya menurunkan kaca mobil dan berkata, saya ngga butuh minum tapi ini buat kamu, sambil mengulurkan selembar uang. Tiba-tiba saja si adik kecil terdiam dan berkata “Mbak, saya ini jualan aqua bukan mengemis. Mbak beli saja aqua saya”.

    Aduh saya jadi merasa bersalah. Akhirnya air mineral yang ada sekotak itu saya borong semua walaupun saya ngga butuh. Kan besok-besok pasti keminum juga. Dalam hati saya sempet berkata, semoga uang yang tadi benar-benar berguna buat si adik kecil dan bukan buat preman.

    huhuhuhuhu… jadi bener-bener ikhlas itu susah ya ternyata 😦

    Posted by Chic | April 29, 2010, 11:23 am
  7. Semoga penulisnya tidak perlu pula dikasihani.

    Posted by Kika | April 29, 2010, 12:12 pm
  8. Huaaaaa…. bener, yang penting kita sudah ikhlas memberi, biar Allah yang mengetahui amal kita. 🙂

    Posted by Asop | April 29, 2010, 12:56 pm
  9. hm ini kan pernah kutulis ya la di bagian : membeli sambil sedekah 😛

    niat baik kita insya Allah udah dicatat,masalah mau diterima atau gak kita ikhlas aja.

    apa itu ikhlas? tidak marah saat gak diterima sedekahnya,tidak bangga saat dipuji orang lain.

    jadi selalu zero atau dalam titik nol,lepas dari penilaian manusia lainnya,karena kita berbuat karena Allah kan? bukan manusia? 🙂

    Posted by didot | April 29, 2010, 1:52 pm
  10. berkunjung…

    Posted by Osra rental padang | April 29, 2010, 6:19 pm
  11. memang tidak selalu niat baik dianggap baik oleh orang yang menerimanya. perlu kecakapan sikap dan kalimat ketika melakukannya…

    nice story La… 🙂

    Posted by vizon | May 1, 2010, 9:20 am
  12. semua kebaikan akan dibalas kebaikan mbak, heheheh
    oya mbak izin pasang link nya ya, kl gak keberatan mohon di backlink. tq mbak lala

    Posted by Tary Sonora | May 1, 2010, 3:53 pm
  13. Lala,
    Tidak semua orang diberikan perasaan yang peka seperti dirimu. Aku sendiri juga sering merasa kashan pada mereka yang kuramg beruntung, dan selalu saja aku berpikir berkali2 sebelum mengambil keputusan. Akankah dia tersingung? Akankah dia merasa dilecehkan bila kita mmberinya sedikit tip? Memang biarpun miskin, orang2 spt si bapak itu punya prinsip, dan harus kita hargai meski hati terasa berat. Spt katamu, tidak ada maksud apa2 tp rasanya kok sedih ya kalau kita diam saja tidak membantu, ya kan? Bisa-bisa malah terbawa mimpi….
    *Tapi kita sama nih, suka Coke pake ice… 🙂

    Posted by zee | May 3, 2010, 12:24 pm
  14. bukannya kasihan tapi kita peduli pada mereka. kayaknya perlu ada komunikasi biar ngak salah sambung 😀

    Posted by orange float | May 4, 2010, 1:25 pm
  15. semoga uang kembaliannya di ganti dg yg lebih besar lagi……….

    Posted by aguskusuma | May 4, 2010, 8:04 pm
  16. aku ssgt suka dg ceritanya

    Posted by aguskusuma | May 4, 2010, 8:06 pm
  17. keren……..
    ini nyata atau fiktif jeng

    Posted by peri01 | May 6, 2010, 2:30 pm
  18. Saya pernah magang sebagai bellboy di satu hotel bintang 4 di Solo. Sebagai bellboy, saya bertugas mengantar tamu ke kamar setelah check in, sekaligus membawakan barang bawaan mereka. Dari beberapa tamu yang pernah saya temui, ada perbedaan mencolok antara orang pribumi (wislok) dengan bule (wisman). Setiap wisman yang saya antar selalu memberi tip, sedangkan wislok amat jarang sekali memberikan tip. Kalaupun memberi biasanya dengan mimik dan gesture yang membuat saya merasa seperti seorang pengemis.

    Well, apa yang ingin saya sampaikan adalah, setiap orang mempunyai “harga diri” dan tidak mau direndahkan. Menerima pemberian atas sesuatu yang kita lakukan mungkin masih bisa diterima sebagai sebuah kewajaran, seperti saat saya menjadi bellboy dan enjoy saja menerima tip dari tamu atas “jerih payah” saya mengantarkannya ke kamar. Tapi kalau pemberian itu atas dasar rasa kasihan semata, bisa jadi orang yang kita beri justru merasa terhina, tersinggung, sekalipun niat kita baik.

    Jadi, saya rasa memberi juga harus melihat-lihat orang yang mau kita beri. Pada pengalaman di atas, saya rasa si Bapak itu akan sangat senang kalau pemberiannya bukan berupa uang, tapi bantuan lain yang lebih ril dalam mengangkat taraf hidupnya.

    Btw, salam kenal. ^_^

    Posted by Bung Eko | May 10, 2010, 1:05 am
  19. salam kenal dari http://aby-umy.blogspot.com/

    kalau ada waktu mampir ya?? 🙂

    Posted by aby umy | May 11, 2010, 1:31 am
  20. bunda juga suka gitu Jeung,
    hanya krn ingin memberi saja , bukan krn kasihan atau hal lainnya.
    Semoga saja yg menerima tdk tersinggung 🙂
    salam

    Posted by bundadontworry | May 11, 2010, 5:24 pm
  21. La.. Bapak Tua itu hatinya noble 🙂
    beliau memiliki prinsip hidup yang bagus sekali, karakter yang skr ini sdh jarang kita jumpai.

    Yuk.. kita teladani..

    Posted by Ceritaeka | May 12, 2010, 2:51 pm
  22. kisah nyata kah?

    Posted by anantobudiarto | May 13, 2010, 3:05 am
  23. so inspiring!
    jgn pernah menggantungkan hidup kita kpd org lain… 🙂

    Posted by Ivan Le Cerff | May 16, 2010, 7:51 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: