you're reading...
daily's blings

Dua Orang Lelaki

Seorang lelaki.

Tak bisa tidur tenang. Istri di sampingnya juga gelisah,  seolah-olah kegelisahan adalah virus yang bisa menular dengan sekali sentuh. Tubuh mereka bergesekan di atas ranjang, punggung dengan punggung, sebelah kaki dengan sebelah kaki. Hangat terasa, tapi mereka diam dalam gelisah.

Lelaki itu memandang nyalang ke langit-langit rumahnya yang penuh dengan bekas-bekas air yang bocor. Membuat lukisan yang makin menyuramkan pandangannya malam itu. Ada sesuatu berupa sulur-sulur yang menariknya untuk terus membuka mata, memandang nyalang kemana saja, dan menyuburkan gelisahnya.

Ah, dia tidak hanya gelisah.

Dia juga takut!

**

Seorang Lelaki.

Tak bisa tidur tenang. Istrinya memeluk dari belakang, mengusap punggungnya. Mencoba menyalurkan kekuatan lewat setiap sentuhan, tapi tetap saja, sentuhan istrinya tetap tak bisa membuatnya nyenyak tidur. Ada beragam imaji melayang-layang di dalam isi kepalanya sehingga membuatnya tak mampu memejamkan mata.

Tubuhnya bergetar hebat hanya dengan membayangkan apa yang akan terjadi esok pagi. Lintasan imaji itu semakin menambahi rasa gelisahnya. Berkali-kali dicobanya untuk memejamkan mata, tapi sungguh, lebih sulit memejamkan mata daripada mengerjakan ujian Kimia sekalipun!

Ia tak bisa tidur.

Ia takut!

**

Seorang Lelaki.

Mengambil wudhu untuk sholat Tahajud. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua. Ia tahu, tak ada yang bisa membantu meringankan gelisahnya kecuali ia berdiskusi dengan Tuhannya.

Diambilnya wudhu, berjalan perlahan menuju mushola kecil di samping kamar tidur anak bungsunya, memakai sarung, dan bersiap di atas sajadah.

Allahu Akbar!

Dia memulai sholat dan berbincang dengan Tuhan tentang gelisahnya.

**

Seorang Lelaki.

Mengambil wudhu di sebuah kamar mandi. Hatinya mulai tak tenang dan ia tak tahu apa yang musti dilakukan untuk mengusir resahnya. Sebuah panggilan dari atasannya makin membuatnya gelisah. Ia terbangun dari tidur, meninggalkan istrinya yang sudah nampak nyenyak dalam tidur, lalu mengambil wudhu. Sholat Tahajud untuk membuatnya lebih tenang.

Sebentar lagi dia akan berangkat.

Meninggalkan Istri dan ketiga putera puterinya yang masih kecil.

Segala imaji itu datang kembali memenuhi benaknya, bahkan ketika ia mulai mengambil air wudhu.

Tuhan, tolong aku… Ia membisik dengan lemah sesaat sebelum memulai sholat tengah malamnya.

**

“Bu, aku pergi dulu.” Lelaki itu pamit usai menciumi dua anaknya yang sedang lelap tertidur.

“Pak… kenapa harus pergi?” Istrinya membisik dengan mata yang tak bisa menyembunyikan perasaan gelisahnya.

“Ini demi keadilan, Bu,”  balas Lelaki itu. “Ini demi kamu, anak-anak kita, tetangga-tetangga kita… Buat kita semua.”

Istrinya hanya bisa memandangnya. “Bapak hati-hati, ya?”

Lelaki itu tersenyum. Dikecupnya perlahan kening istrinya, digenggamnya erat kedua tangannya. Dipastikannya sang Istri bisa ikhlas merelakannya pergi.

“Pak.. pulang, ya?”

Istrinya tak tahu, di antara degup jantungnya, di antara semangatnya yang membara, dia tetaplah seorang manusia yang sedang takut. Ia berjalan menjauhi istrinya dan mulai menebas dini hari. Langkahnya berayun, diikuti gerakan belati yang tergantung di pinggangnya.

**

“Bu, aku pergi dulu,” lelaki itu berpamitan usai mencium puteri ketiganya yang masih tidur.

“Apa yang bakal terjadi, Pak?” Istrinya menarik tangannya, mencoba menghalanginya pergi.

Lelaki itu menggeleng. “Aku nggak tahu, Bu.”

“Apa harus, Pak?”

“Lho, ini tugas suamimu, kan? Ini pekerjaanku, Bu.”

“Tapi, Bapak nggak kasihan sama mereka?”

Pertanyaan istrinya membuat lelaki itu terdiam sejenak. Kasihan? Pada mereka? Ah! Aku juga manusia! Aku memiliki rasa, aku memiliki empati, aku juga kasihan… Sungguh! Tapi bagaimana lagi? Ini adalah tugasku.

“Bu, mereka juga salah karena tidak patuh,” akhirnya kalimat itu yang keluar. Bukan alasan gaji yang menghidupi mereka tiap bulan, tapi keyakinan yang disuntikkan oleh atasannya beberapa minggu sebelum pagi ini.

Lelaki itu mengelus tangan istrinya. Mengecup permukaan tangannya. Mengecup kening dan hidungnya, lalu berkata, “Bapak pergi dulu, ya?”

Istri terdiam sambil terus memandangi suaminya yang berlalu, menghilang di balik pintu bersama sepeda motor yang membawanya ke sebuah tempat.

**

Lelaki itu berkumpul.

Di sebuah tanah lapang.

Dengan seluruh kawan-kawannya. Semuanya lelaki. Sudah siap dengan belati, sekalipun dia berjanji, tidak akan menghunus belati ini kalau nyawanya tak menjadi taruhan.

Dia tahu, mereka juga memiliki keluarga.

Sama sepertinya.

Ia tak mau asal-asalan. Tujuannya bukan untuk membunuh, melukai. Tapi untuk mempertahankan apa yang menjadi haknya.

**

Lelaki itu berkumpul.

Dengan semua rekan-rekannya.

Semuanya lelaki.

Mereka berbaris di sebuah apel pagi. Bergerak dinamis menuju mobil dinas yang akan membawa mereka menuju lokasi.

Lelaki itu sudah siap dengan pelindung kepala, tongkat, pistol berisi peluru karet, gas air mata, perisai pelindung.. Semuanya.

Ia siap.

Ini adalah pekerjaannya.

Kalau meladeni hati nurani, ia takut tak bisa makan esok pagi…

**

Kedua lelaki itu bertemu.

Dengan senjata mereka.

Dengan kegelisahan mereka.

Dengan ketakutan yang sama.

Juga dengan keyakinan yang sama; SAMA-SAMA BENAR.

Keduanya saling memandang sebelum akhirnya adzan Subuh mulai berkumandang dan mereka saling melukai…

***

Siapa yang benar?

Siapa yang salah?

Siapa yang tega?

Siapa yang tak tega?

Siapa yang harusnya mengalah?

Siapa yang harusnya berjiwa besar untuk mengakui salahnya?

Siapa yang musti mundur?

Siapa yang berhak merangsek maju?

Siapa yang pantas terluka?

Siapa yang boleh melukai?

Aku tak tahu. SUNGGUH. Aku hanya bisa menangis di depan televisi sambil berdoa agar anak-anak negeriku segera menyadari bahwa yang telah mereka lakukan adalah sama saja dengan melukai saudara mereka sendiri…

***

Kamar, Rabu, 14 April 2010, 10.01 Malam Terinspirasi dari Peristiwa Priok, seharian tadi.

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “Dua Orang Lelaki

  1. sedih ya mba’ liatnya…

    Posted by Inge | April 14, 2010, 10:17 pm
  2. eh ada kejadian apa di priok? bentrokan massa ama aparat ya?

    Posted by arman | April 14, 2010, 11:46 pm
  3. Yah, mau bagaimana lagi, dalam setiap peperangan, semua pihak yang terlibat pasti merasa benar 🙂

    Yang salah adalah yang memberi perintah untuk langsung berkonfrontasi — yang maju berperang semua pasti sudah siap mental — dan aku hanya bisa menonton dan berkata… “wow” O_O;

    Posted by Dewa Bantal | April 15, 2010, 12:20 am
  4. semoga kejadian itu itu tidak terulang lagi
    sedih juga sih ngeliatnya…harus ada korban jiwa, dari sebuah mis komunikasi antara pemda dan masyarakat…

    Posted by anna | April 15, 2010, 11:52 am
  5. Rusuh lagi, rusuh lagi…. 😦

    Posted by Asop | April 15, 2010, 12:53 pm
  6. kamu kok pinter mengemasnya ya la?? nice one…

    turut berdoa untuk sesuatu yg diluar kemampuan diri ini 🙂

    Posted by didot | April 15, 2010, 2:29 pm
  7. seharusnya melalui sudut pandang inilah kita menilai persoalan ini. sehingga, ketepatan penyelesaian benar-benar diperoleh.

    siapa yang harus mengalah?
    menurutku, cuma satu, yaitu PENGUASA!
    di tangan mereka persoalan itu bermula, dan di tangan mereka jualah persoalan itu seharusnya berakhir.

    lelaki pertama dan lelaki kedua, hanyalah korban dari ambisi tak jelas dari manusia-manusia tamak yang memanfaatkan kedua lelaki itu, dengan caranya sendiri-sendiri…

    aku suka dengan postinganmu yang ini, La..

    Posted by vizon | April 17, 2010, 7:42 am
  8. kedua pihak sama-sama merasa benar dan keduanya pun juga tak menginginkan peristiwa ini terjadi. damai lebih indah bukan

    Posted by orange float | April 17, 2010, 11:40 am
  9. 3,4,5,6,7, …. 14, …. *liat kalender hari ini.. , 17….

    Akhirnya mulai bolong2 ya updatenya >.< hihihi. Ayo ayo.

    Posted by Dewa Bantal | April 17, 2010, 8:44 pm
  10. Kita semakin mudah terprovokasi. Sedih.

    Posted by yustha tt | April 18, 2010, 2:28 pm
  11. aku suka postingan ini…sudut pandang yg sangat manusiawi. semoga hal itu tidak terulang lagi ya la…

    Posted by Ria | April 21, 2010, 8:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: