you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Bukan Puteri Duyung

Kiki, keponakan tersayang dengan kostum Puteri Duyung-nya

Alhamdulillah, aku manusia, dan bukan Puteri Duyung.

Memiliki sepasang kaki yang siap melangkah, kemana saja, sekuat tenaga yang aku punya. Di atas stiletto, di atas sandal jepit, di atas bakiak, atau flat shoes, aku bebas melangkah, berjalan ke mal-mal, berjalan ke pasar, berjalan ke warung soto dekat rumah, berjalan ke depot pangsit mie ayam — heran, makanan semua yang dituju! hehe. Aku bisa melangkah kemanapun, selagi nafas masih mudah dihela dan energi masih menyala-nyala.

Alhamdulillah, aku manusia, dan bukan Puteri Duyung.

Tak perlu kerepotan memakai baju yang keliatan udelnya dan membiarkan deposit lemak salah tempatku itu membuatku semakin cihui! Nggak pernah lihat ada tokoh Puteri Duyung di dongeng-dongeng yang memakai baju tertutup, kan? Mana ada Puteri Duyung yang pakai baju lengan panjang dan berambut cepak, sih? Not in any movies that I’ve ever seen, kecuali aku yang bikin! 🙂

Alhamdulillah, aku manusia, dan bukan Puteri Duyung.

Aku mudah terkagum-kagum dengan sesuatu — entah itu benda atau kepandaian seseorang — sehingga repot banget, kan, kalau aku terkagum-kagum sama Ikan Paus yang gede banget itu lalu akhirnya aku naksir – gara-gara cinlok, keseringan ketemu di laut? Pernikahan beda agama kabarnya bisa diselenggarakan di luar negeri, tapi kalau beda spesies? Ada yang tahu? 🙂

Dan alhamdulillah banget, aku ini manusia, dan bukannya Puteri Duyung.

Karena sore tadi, saat berenang dengan keluarga kecilku — aku, kakak lelakiku dan istrinya, kakak perempuanku dengan suami dan anak-anaknya — aku menyadari bahwa aku ini seorang perempuan yang mabuk laut. Pusing melihat gelombang yang besar dan mengombang-ambingkan tubuhku, apalagi saat duduk di atas pelampung besar mengitari kolam renang yang segede gambreng itu. Berkali-kali aku merasa perutku mual seketika saat tubuhku dihajar oleh ombak-ombak buatan yang besar, sehingga aku terdorong sampai ke pinggir. Kepalaku cenut-cenut, seketika. Isi perutku seolah teraduk-aduk. Bahkan memejamkan mata bisa bikin aku makin mual saja!

Saat aku beralih ke tepi, duduk memandang ombak yang bergulung, aku malah pusing sendiri. Seperti tidak bisa melihat satu titik yang fokus karena gelombang ombak silih berganti datang dan membuyarkan pandanganku. Aku mual-mual, tapi aku musti tetap kalem dan tenang karena harus menjagai keponakanku yang malah girang-gemirang bermain ombak. Duh, Kakak! Padahal Aunty udah mau pingsan aja! Superman mana mau nyelametin Aunty di dalam air? Wong celana dalamnya luntur! *siap-siap dikeplak sama Superman* 😀

Nah, kalau aku mabuk laut begitu, bagaimana bisa aku menjadi seorang Puteri Duyung, kan?

Kalau aku mual lantas muntah, yang ada aku malah mencemari habitatku sendiri. Aku bisa diusir dari rumah dan tidak diakui sebagai anak. Repot, kan?

Makanya,

Aku beruntung menjadi manusia.

Alhamdulillah, aku adalah manusia.

Tapi, seandainya saja aku memang adalah seorang Puteri Duyung, mungkin aku bakal segera menemui seorang Nenek Sihir di lautan lalu memintanya untuk menjadikanku sebagai manusia saja.

Bukan untuk jatuh cinta dengan seorang manusia tampan, putera mahkota sebuah negeri, lalu menikah dengannya, tapi simply karena ternyata jadi manusia itu jauh lebih menyenangkan daripada menjadi seorang Puteri Duyung!

Iya, tho? 🙂

***

Kamar, Jumat, 2 April 2010, 9.54 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “Bukan Puteri Duyung

  1. eh kalo jadi putri duyung, karena berenang terus, pasti perutnya gak berlemak La… coba lu liat mana ada putri duyung yang perutnya berlemak? hahaha. 😛

    Posted by arman | April 3, 2010, 1:45 am
  2. kalo jadi putri duyung kemana-mana harus berenang ya? basah..basah..basah.. 😛 xixixixixixi….

    Posted by Yessi | April 3, 2010, 2:03 am
  3. enak jadi putri duyung atuh… mau pipis ngga usah buka celana dan bisa sembarangan ngga ada yang tahu 😛

    EM

    Posted by ikkyu_san | April 3, 2010, 7:05 am
  4. Hmmmm…. jadi manusia tetep yang terbaik. Nikmat terbaik yang diberikan Allah. 🙂

    Posted by Asop | April 3, 2010, 2:31 pm
  5. mungkin juga seorang putri duyung berkata
    ‘alhamdulillah saya bukan manusia’
    who, knows?
    so, sekali2 blogwalking ke blog para binatang laut
    mungkin lala akan menemukan tulisan seperti ini, tapi yang sebaliknya 😀

    Posted by Abu Ghalib | April 3, 2010, 2:37 pm
  6. kalo jadi putri duyung enak lho…ngak perlu belajar renang lagi karena otomatis langsung bisa 😀

    Posted by idana | April 3, 2010, 8:14 pm
  7. hahaha… jadi ngebayangin putri duyung rambut cepak..

    tapi kan kalo putri duyung berenang terus La, bakalan langsing terus dong.. 🙂

    Posted by anna | April 3, 2010, 11:30 pm
  8. baca ini jadi inget temen yg dipanggil duyung ,padahal nama aslinya hesty… gak pernah nanya kenapa dipanggil duyung sih,mungkin kalo ketemu lagi suatu hari 😀

    Posted by didot | April 4, 2010, 10:28 pm
  9. baaa harga baju duyung nya berapa

    Posted by zahra alviera calista | June 17, 2012, 10:33 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: