you're reading...
Thoughts to Share

She’s Lonely…

Sekali lagi, ramai mengejeknya.

Geliatan penuh gelora dari lingkungan di sekitarnya, gejolak tawa yang membahana dan memekakkan telinga dari mulut-mulut yang ada di sekitarnya, juga dentuman musik yang tak pernah berhenti membisingkan telinganya, sekali lagi mengejeknya.

Dia memang ikut bergeliat penuh gelora, dia juga ikut tertawa, suara musik yang membahana itu memang keluar dari speaker ponselnya, tapi ramai masih mengejeknya. Lagi, dan lagi.

Ramai itu mengatakan, “Percuma berlindung dan pura-pura tidak kesepian kalau kamu merasa sepi. Percuma kamu menutup-nutupinya karena aku tahu persis apa yang kamu rasakan.”

Yang dia rasakan adalah rasa sepi yang tak berkesudahan.

Rasa hampa yang tak terperi.

Rasa sendiri, yang belum juga hilang sekalipun dia telah menawarkan rasanya dengan menciptakan keramaian demi keramaian.

Kalau sudah begini, dia hanya menuli. Pura-pura tak mendengar.  Pura-pura kehilangan fungsi dengar telinganya. Dia pura-pura menikmati rasa ramai yang dibuatnya.

Sekalipun ia tahu itu kamuflase.

Sekalipun ia tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, dia tetap seorang diri menikmati luka batinnya.

*

Kukenal dia sebagai perempuan yang cerewet, banyak omong, bawel, dan sering membuat gosip. Usianya sudah di ambang empat puluhan, tapi semangatnya bak gadis remaja yang sedang senang-senangnya menikmati usianya.

Tak banyak yang kuketahui tentang dia, tapi dia mirip sebuah buku terbuka, dimana banyak orang tak perlu menyapanya untuk mengenal lebih dekat. Dari kejauhan pun sudah jelas terbaca tentang siapa dia.

Sekalipun pada akhirnya aku tahu, bahwa tak semua lembarnya tertulis dengan bahasa yang mudah dicerna. Tak semua tulisannya bisa terbaca sempurna karena menggunakan huruf-huruf rahasia yang mungkin hanya beberapa saja yang mengetahuinya.

Aku tak pernah mengenalnya cukup dekat untuk mampu mengetahui semua rahasianya, tapi aku tahu, dari kedua bola matanya yang pernah memandangku di suatu pagi, aku melihat kesepian yang menggelora di dalamnya. Kesepian yang bak memiliki sulur-sulur tak kentara yang ingin menyeretku ke dalam sana untuk menemaninya.

Sungguh, bukan maksudku untuk lancang menikmati tarikan sulur-sulur itu. Tapi aku tak berdaya. Kumasuki saja hatinya dengan perlahan, sekalipun dia menutup diri.

Kuketuk pintunya, kutunggu di depan pintunya dengan sabar.

Sampai suatu ketika dia membuka pintu itu, lalu kesepian itu mengejutkanku.

**

Aku tak pernah menyangka kalau dia sangat kesepian. Aku tak pernah menyangka kalau hidupnya begitu hampa. Suami dan seorang anak lelaki seharusnya meramaikan hatinya, tak hanya rumahnya saja. Tapi, kehadiran mereka tak membuat dahaganya terpuaskan.

Hatinya tetap sepi.

Hatinya terasa hampa.

Bukan itu yang dibutuhkannya. Seperti sebuah mur dan baut; sama-sama mur atau sama-sama baut, jika bukan pasangannya, mur apapun tak akan mampu bersatu dengan bautnya.

Demikian pula rasa sepi yang mengentak jiwanya, dan penawar sepi berupa anak dan suaminya.

Bukan itu yang diinginkannya.

Bukan itu yang dibutuhkannya.

Dia membutuhkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dulu pernah dirasakannya kemudian hilang. The sensation that she once knew.

Sensasi sebuah cinta yang menggelora.

Cinta yang membutuhkannya.

Cinta yang menginginkannya.

Sesuatu itu sudah lama hilang sejak bertahun-tahun yang lalu dan menciptakan sebuah ruang di hatinya.

Ruang hati bernama sepi.

**

“Tapi bukan berarti akhirnya dia boleh berselingkuh dari suami juga janji pernikahan mereka, kan, La?”

“Tapi apa yang kita tahu soal apa yang dia rasakan, sih?”

“Aku takut dia terjebak oleh lelaki yang menawarkan kebahagiaan yang semu.”

“Tahu apa kita soal kebahagiaannya?”

“Kamu nggak takut kalau lelaki itu cuman datang untuk mengambil apa yang bisa diberikan olehnya, lalu pergi setelah mendapatkan semuanya?”

“Tahu apa kita soal motif lelaki itu?”

“Kamu bikin aku jengkel, La.”

“Kenapa? Karena aku mencoba untuk melihat dari sisi yang lain? Bahwa mungkin saja ada sebuah cinta yang tulus di sana? Bahwa bisa jadi malah dia yang memanfaatkan lelaki itu untuk mengobati rasa sepinya?”

“Tahu apa kamu soal kesepiannya, La?”

“Aku tidak tahu. Aku cuman mencoba untuk memahaminya. Bola matanya kosong saat menatapku, apakah kamu tidak pernah melihatnya?”

“…”

“Cobalah sesekali mencoba melihat seseorang lebih dalam lagi, Sayang. Daripada kamu terjebak untuk terus menjustifikasi keputusan orang lain…”

**

Perempuan di ambang empat puluh itu terus melakukan berbagai macam cara untuk  menikmati perasaan hangat yang diciptakan oleh kehadiran mantan kekasihnya itu. Kencan makan siang, kencan makan malam, telepon yang sering, SMS yang tak putus.. Semua dilakukannya untuk menikmati semua rasa bahagia itu.

Perempuan-perempuan di sekelilingnya terus mencibir, menghujat, membicarakannya di belakang. Tak pantas buat perempuan seusianya menikmati cinta yang tak lazim itu. Tak pantas pula buat perempuan yang sudah terikat oleh tali perkawinan menikmati cinta dari lelaki lain. Tak pantas buat perempuan itu untuk berpura-pura tuli, berpura-pura menjadi anak gadis yang sedang jatuh cinta.

Aku melihatnya dengan rasa sedih yang tak bisa hilang sampai hari ini.

Rasa sedih yang kurasakan karena aku tahu persis bagaimana rasanya kesepian, bagaimana rasanya sendiri di tengah keramaian, sehingga pernah aku melakukan apapun caranya untuk mengisi kekosongan hati itu.

Aku pernah ada di posisinya.

Aku pernah berlari dari kesepian itu lalu memuja keramaian yang kemudian mengejekku.

Sampai aku lelah sendiri, sampai tungkai-tungkaiku terasa lemas dan tak mau kompromi.

She’s just lonely.

Sama sepertiku.

Tapi aku sudah melewatinya.

Dan aku berharap, segala gunjingan, segala cacian, segala makian yang perempuan itu hadapi sekarang, tidak membuatnya semakin jauh berlari, tapi menariknya kembali ke tempatnya berasal.

Suaminya.

Anak lelakinya.

Bukan lelaki milik orang lain yang rajin mengirimnya sms, menelepon menanyakan kabarnya, mengajaknya makan siang, dan banyak bertukar cerita dengannya.

Karena kutahu dengan pasti,

Sekali seseorang berlari dari kenyataan yang ada, dia akan terus menjauh dari segala solusi…

And it will never end… sampai dia kembali pulang, lalu menyelesaikan segala yang belum terselesaikan… yang entah apa itu…

***

Surabaya, Rabu, 31 Maret 2010

Gambar diculik dari: http://neuronarrative.files.wordpress.com/
Cerita diculik dari seseorang 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “She’s Lonely…

  1. sambil bernyanyi…dengan suara seriosa
    “Lonely… I’m mister lonely….
    I have nobody……”

    EM

    Posted by ikkyu_san | March 31, 2010, 9:53 pm
  2. makanya aq jalan – jalan supaya ga ngerasa sendiri

    salam hijau

    Posted by banny | March 31, 2010, 10:12 pm
  3. Setiap orang memang bisa memiliki rasa sepi, tetapi mengisi sepi dengan jalan yang mengingkari komitmen pernikahan, bagaimanapun juga tidak bisa dibenarkan. Sayangnya, membicarakan masalah yang ada, sumber kesepian itu, dengan pasangan perkawinan, juga tidak selalu mudah. Jadi bagaimana? Ya itulah tantangan sebuah perkawinan …

    Posted by tutinonka | April 1, 2010, 2:17 am
    • Betul, Bunda.
      Menurutku, yang paling menjadi tantangan dari sebuah komitmen adalah how to keep the passion alive. Kadang, ketika semua rasa itu hilang, kita malah mencari passion itu di tempat lain, dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dan malah mengingkari komitmen itu tadi…

      Posted by jeunglala | April 1, 2010, 8:35 am
  4. Aku jadi inget kalimat ini dari salah satu Stand Up Comedian kondang favoritku.

    When you’re married you then realized and say if it’s all too late.

    But when your first child was born, then you realized and say “Shit… I could’ve left”

    Bener juga toh, begitu ada buah hati, seumur hidup gak akan bisa mengulang kembali tanpa membawa beban hahaha. Ah penyesalan.

    Posted by Dewa Bantal | April 1, 2010, 8:06 am
    • Siapa stand up comedian favoritmu, Bro?
      Biasanya, setelah punya anak, mereka akan berpikir ulang untuk melakukan macam-macam. Tapi kawanku ini tidak sama sekali. Jujur, I’m amazed… Bukan apa-apa, sih.. Soalnya selama ini kupikir perempuan itu lebih pemikir.. hehehehe

      Posted by jeunglala | April 1, 2010, 8:40 am
  5. main2 ketempat peri yah jeng biar gak kesepian lagi 😀

    Posted by peri01 | April 1, 2010, 8:44 am
  6. ya…
    masalah tidak akan pergi dengan seseorang itu berlari dari kenyataan kan. karena masalah itu akan selalu membayangi sampai masalah itu diselesaikan.

    btw La.. bukumu udah nyampe.
    jadi beberapa hari ini agak males online. Soalnya baca bukunya Lala… 🙂

    Posted by anna | April 1, 2010, 9:42 am
  7. Dalem, menyentuh!
    jadi miris bacanya 😦

    Posted by kelly amareta | April 1, 2010, 10:01 am
  8. nyanyi juga: di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu…….

    ya mb, keramaian tak serta merta menyembuhkan kesepian kita…

    Posted by yustha tt | April 1, 2010, 4:28 pm
  9. masalah untuk diselesaikan
    bukan untuk dihindari
    lari dari kenyataan adalah bentuk dari insan yang tidak bertanggung jawab

    Posted by Abu Ghalib | April 2, 2010, 8:58 am
  10. lonely ituh kadang menyenangkan,,,,,

    Posted by myryani | May 3, 2010, 11:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: