you're reading...
daily's blings

Just Remember the Good Old Days

It wasn’t easy to fight with someone I love.

Memangnya mudah, bertengkar dengan orang yang kamu sayangi? Jangan bilang kalau menyimpan amarah terhadap orang yang sudah sangat dekat denganmu, yang sudah menjadi bagian dalam hidupmu selama ini, adalah sesuatu yang hal yang sangat mudah dilakukan. Karena jujur saja, kalau menurutmu mudah, berarti kita sangat, sangat, berseberangan pendapat.

Aku bukan orang yang mudah picking up a fight with my loved ones. Sekalipun aku marah, tapi aku menyimpannya erat-erat dan tak kubiarkan emosi itu membuncah keluar kemana-mana. Sekalipun tentu saja, at times, aku tidak sanggup untuk menahannya lagi sehingga… kaboom! Aku meledak. Dan seringkali, ledakan itu justru lebih dahsyat.

Oh well. Setiap orang punya batasan, kan? Aku juga punya. Sekalipun batasan itu selalu samar, tipis-tipis saja, dan aku memberikan toleransi seluas-luasnya, tapi tetap saja, when it’s time to explode, then it will explode.

Hari ini, aku merasa kesal dengan seseorang. Sekalipun setelah kemudian kami membicarakannya dan akhirnya mengetahui kalau ini hanya sekadar miskomunikasi saja, tapi tetap, sebelumnya aku marah sekali dengan orang ini.

Aku tidak bertegur sapa.

Aku malas ngobrol.

Aku bahkan pura-pura tidak melihatnya.

Pura-pura tidak peduli.

Tapi apa yang terjadi?

Aku sakit sendiri!

Ya. Aku malah jadi serba salah. Sekalipun marah dan memanjakan emosi adalah hal yang paling mungkin dilakukan sore tadi, tapi entah kenapa aku malah merasa sangat, sangat bersalah.

Aku jadi tidak enak melakukan apapun.

Aku jadi merasa apapun yang kulakukan adalah salah.

Sepanjang sore aku berpikir, “Apakah pantas aku marah? Jangan-jangan aku yang bersalah. Lah, tapi aku berhak dong merasa marah… Tapi, kan aku belum mendengarkan penjelasannya…”

Itu terus yang terngiang-ngiang di dalam isi kepala. Membuat aku menjadi tak nyaman ketika berbaring di atas ranjang dan kepikiran terus dengan hal-hal konyol yang sudah kulakukan. Hm, bukankah tidak bertegur sapa dan pura-pura tidak melihat padahal orang itu ada di depanku adalah hal yang konyol, bukan?

Tadinya aku nekat untuk membiarkan emosi itu menjilat-jilat hatiku. Biar saja, lah. Seseorang perlu tahu bagaimana reaksiku, seperti apa perasaanku. Dia juga perlu tahu kalau aku sedang terluka. Dia juga perlu tahu kalau sikapnya menyakitkan. Dia juga perlu tahu kalau aku tetaplah seorang perempuan yang punya perasaan. Dia juga perlu tahu bahwa hal kecil yang dia lakukan telah membuatku marah dan kecewa. Dia harus tahu, kalau aku bukanlah perempuan yang tangguh, tidak setangguh yang dia kira selama ini.

I have feelings.

I have worries.

Dia musti tahu itu, dan salah satu cara memberitahunya adalah dengan memberikan reaksi seperti ini.

…setidaknya itu menurutku, sebelum akhirnya aku merasa serba salah sendiri.

Ugh! Rasanya sama sekali tidak nyaman!

Dan kamu tahu, perlahan-lahan, ketika emosiku tenang, yang kulakukan adalah mengenang kembali hal-hal kecil yang sudah pernah terjadi, kenangan demi kenangan indah, kebaikan-kebaikannya selama ini, apa yang sudah dia lakukan buatku seumur hidupku… I remembered my good old days with him, dan seketika itu juga, aku malah melelehkan air mata.

Ya, I was crying when I remembered our good old days. Apalagi setelah dia memaksaku bicara tentang apa yang aku rasakan, dia malah cerita panjang lebar soal akar permasalahannya. Bahkan, dia bilang kalau dia sayang sekali denganku, in his own ways. Tidak perlu kata-kata sayang atau apalah, tapi lebih ditunjukkan dengan perhatian-perhatian kecil yang terasa biasa padahal luar biasa maknanya.

Beberapa jam yang lalu, aku menangis perlahan di dalam mobil. Membayangkan betapa dia memang benar. Betapa dia memang selalu ada buatku. Betapa dia tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya dengan verbal, tapi dia melakukannya dengan semua perhatian yang dia punya. Bahwa dia sesungguhnya kuatir padaku. Bahkan dia mengaku akan menjadi ‘penjaga’ nomor satuku, jika terjadi sesuatu denganku.

Bagaimana aku tidak menangis saat dia bertutur demikian dengan mata yang hampir menitikkan air hangat itu?

Aku bahkan menangis saat ini, saat menulis posting ini! 😦

Di dalam mobil tadi, aku menangis perlahan, tapi dia tidak mengetahuinya. Aku hanya duduk diam, menunduk, dan membiarkan air mataku jatuh perlahan membasahi kulit pipiku.

Kalimat-kalimat yang meluncur keluar dari bibirnya tadi sungguh berhasil membuatku teringat kembali dengan apa yang sudah kami lakukan bersama, apa yang sudah kami hadapi bersama.

The good old days.

Hari-hari dimana dia menjemputku malam-malam saat hujan deras dan aku berada di sebuah tempat yang tak terjangkau dengan angkot dan terlalu dekat untuk menumpang taksi.

Hari-hari dimana dia rela mengantarkanku kemana-mana selama dia tidak sakit atau capek.

Hari-hari dimana dia selalu mengkhawatirkan keberadaanku dan meneleponku berkali-kali untuk mengetahui dimana aku.

Dan juga ketika aku dan dia saling memeluk saat hari terakhir menyaksikan Papi mengembuskan nafasnya yang paling akhir. Ketika dia mengusap kepalaku sambil berkata, “Kamu jangan nakal, ya, Mbul…” lalu dia menghapus air mataku dengan ujung-ujung jarinya.

My good old days with Bro; lelaki yang membuatku marah dan kecewa sore tadi, tapi kusadari bahwa aku tak pernah bisa marah pada kakak lelakiku tercinta… Kusadari bahwa aku tak BOLEH marah padanya, karena dia adalah pelindungku setelah Mami dan Papi pergi meninggalkan ketiga putera puterinya di dunia ini.

Siapa lagi yang akan menjagaku kalau bukan kakak-kakakku, kan?

Malam ini, saat menulis posting ini, aku menangis hebat saat mengingat kesalahanku tadi. Aku juga menangis hebat karena membayangkan kembali semua yang sudah Bro berikan buatku selama ini. Aku menangis sampai hidungku meler dan mataku sembab karena aku tahu aku sangat, sangat mencintai Bro.

He’s all I have in this world.
Juga Mbak Piet, kakak perempuanku.
It’s just the three of us, now. Kami tidak boleh bertengkar. TIDAK BOLEH.

Jadi pesanku buatmu…

Ya, buat kamu semua yang sempat membaca tulisanku ini.

Apapun yang membuatmu marah pada orang-orang yang kamu cintai, tolong, sisihkan waktumu untuk mengingat semua kenangan kecil kalian. Hari-hari ketika kalian melakukan hal-hal yang indah, hari-hari ketika kalian tertawa, hari-hari ketika kalian saling menangis bersama, hari-hari ketika kalian saling menggenggam tangan dan membagi kekuatan bersama…

Ya.

Just remember the good old days,

and you’ll soon forget the anger.

Seperti yang sudah kulakukan beberapa jam yang lalu. Dan aku malah semakin menyayangi Bro dan tak ingin kehilangannya…

***

Kamar, Sabtu, 27 Maret 2010, 11.24 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

14 thoughts on “Just Remember the Good Old Days

  1. ada yang bilang mbak ” orang yg kita benci sebenarnya orang yg perhatian dengan kita ”
    Kadang kita tidak menyadarinya.. Dia berbuat demikian karena dia sangat menyayangi kita.. 🙂 … saya juga pernah punya perasaan kesal mbak sama saudara sendri.. tapi alhamdulillah sadar bahwa itu juga demi kebaikan kita..

    Makasih atas sharingnya mbak.. salam kenal 🙂

    Posted by delia4ever | March 27, 2010, 11:49 pm
  2. Umm…si bro kn baik bgt sm mb.. Sayang bgt sm mb Lala.. Mb jg pasti syg bgt sm bro..
    Ada masalah justru makin menunjukkan besarnya kasih di antara kalian…

    Jd kangen kakak2.. 🙂

    Posted by yustha tt | March 28, 2010, 2:49 am
  3. ehm, iya La.. kalo orang tua dah gak ada, siapa lagi yang bisa kita andalkan. yaitu sodara.
    aku belum tentu bisa berada di posisi kamu La..

    semoga Lala dan kedua kakaknya selalu rukun dan bahagia selalu.

    kata-kata just remember the good old days, dulu pernah aku denger dari orang deket aku. konteksnya sih beda ya.. mantan-ku. pernah ketika kami mo pisah, kami seperti orang yang tidak pernah saling kenal. tapi kemudian dia bilang kata2 itu..

    akhirnya, walopun udah pisah, dan berkeluarga.. he’s one of my closest friends. walopun udah gak se-intensive dulu, masih kontak terus.

    oh ya, pernah aku nulis http://annafardiana.com/2009/02/good-old-dayz/
    ttg bagaimana aku mensyukuri apapun yg telah terjadi dalam garis hidupku. sekali lagi beda konteks, tapi cuma sama judulnya.. the good old days.

    Posted by anna | March 28, 2010, 8:03 am
  4. sayang kakak’2 gw brengsek semua..gak seperti kalian…

    Posted by suffering3x | March 28, 2010, 8:44 am
  5. dibalik kebencian pasti ada kecintaanya..salam

    Posted by farus | March 28, 2010, 12:23 pm
  6. Yups..mengingat kembali hal2 baik dan indah yg pernah terjadi memang sedikit banyak bisa mengurangi dan mengobati rasa marah dan kesal pd seseorang yg kita sayang.

    Tapi buat saya jika ada rasa negatif thd seseorang yg kita sayang, saya akan coba langsung bicara padanya dan sebisa mungkin tdk akan membiarkan rasa negatif itu mengendap sampai hari berikutnya..

    Posted by Laki-laki Biasa | March 28, 2010, 1:54 pm
  7. aku juga sering ngalamin mbak, kalo aku orangnya gak sabaran, marah suka nggak bisa ngontrol meledak-ledak gt, tapi nggak sampe mecahin barang heheheh
    kalo sama sodara sendiri, marahan gak bisa lama, apalagi aku, hanya punya satu sodara, jadi nyesel bgt kalo sering berantem.

    Posted by tary Sonora | March 28, 2010, 3:23 pm
  8. mlekum..

    maen juga k blogq ya kak

    hihi

    aq mauuuu nyari buku na aahhh..

    cover na menarik

    Posted by FiyaFiya | March 28, 2010, 7:53 pm
  9. itulah dinamika persaudaraan
    berselisih faham itu wajar
    yang penting jangan sampai bertengkar hingga melampaui batas kewajaran
    bahkan terkadang pertengkaran kecil itu perlu
    agar kita bisa merefleksi diri mengingat masa2 indah dulu
    ya, remember the good old days

    salam hangat

    Posted by Abu Ghalib | March 28, 2010, 8:37 pm
  10. setuju banget ama lu La….
    itu juga yang gua sering lakukan kalo lagi berantem ama keluarga. nginget2 the good old days. hehehe. yah namanya orang, kadang bisa aja ya selisih paham. tapi gimanapun juga, mereka tetep keluarga kita, tetep sodara sedarah daging…

    ayo buruan baikan… 🙂

    Posted by arman | March 29, 2010, 8:48 am
  11. itu adalah sebagian dr dinamika kita bersaudara, ada saat2 indah dan juga saat menyebalkan seperti yg Jeung Lala tulis diatas,
    bagaimanapun cinta diantara saudara tdk akan mungkin hilang atau terputus sepanjang hayat.
    Seperti pepatah yg mengatakan : persaudaraan itu seperti sendok dgn garpu, saling melengkapi, walau sering juga berdenting .
    salam

    Posted by bundadontworry | March 29, 2010, 11:38 am
  12. Hmm.. ngga ada salahnya buat marah, atau setidaknya merasakan ‘marah’ itu sendiri karena kalo kita marah tapi kita terus berusaha mengatakan ke diri kita sendiri kalo kita ngga boleh marah, itu namanya mengingkari perasaan..

    Yang mungkin penting untuk dipelajari adalah cara mengekspresikan kemarahan, huehehehe.. jangan sampai kebablasan dan kalap ngga karuan ketika marah2 :p

    Mungkin sesekali juga ada perlunya to let the others know apa yang membuat kita marah supaya lain kali mereka ngga mengulanginya (dengan sengaja), karena kalo mereka ngga tau hal tersebut bikin kita marah, amat sangat mungkin mereka akan mengulanginya lagi di kemudian hari yang kembali bikin kita marah, atau memendam amarah and akhirnya ya malah merugikan diri sendiri aja sih, huehehehe..

    Cepet baikan yaa, Neng 😉

    Posted by Indah | March 29, 2010, 1:49 pm
  13. energi akan mengarah kemana pikiran berada,jadi kalo mikir yg baik akan timbul perasaan baik,kalo mikirin kesalahannya terus bisa dongkol terus ,semoga harmonis selalu keluarganya lala 😀

    Posted by didot | March 30, 2010, 1:06 pm
  14. waah mba lala,,,,,,sumpah aq terharu bgt ma ne postingan hehehe……awalnya aq pikir marahan sama pacar….eh ternyata sama sodara heheeh…salut…btw jdi ingta kalo marah sama kakak ya kayak gini juga ehheeh…..nasibnya mba lala agak mirip neh…papa n mama aq jg udah ga ada….makanya kalo lagi marah sama kakak ya ujung2nya pengen baikan lagi heeheheheh……

    Posted by barnes | March 31, 2010, 11:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: