you're reading...
Fiktif, Thoughts to Share

Lelaki itu, Suamiku

I just did my nails. Lihat,” kata seorang perempuan sembari menyodorkan sepuluh jemarinya di depanku. Memamerkan kuku-kukunya yang kini nampak sudah tercat rapi, berwarna coklat muda yang berkilau.

Aku manggut-manggut, tak banyak komentar. Kupilih untuk menyendoki lasagna yang tinggal beberapa sendok lagi sudah berpindah seluruhnya ke dalam perutku.

“Aku juga beli new underwear. The sexy ones.” Dengan semangat dia mengeluarkan beberapa koleksi lingerie-nya yang memang seksi. Rada gila juga dia mengeluarkan barang-barang itu di coffee shop seramai ini. Terbukti, beberapa pasang mata lelaki melirik ke arah kami berdua, menikmati selembar lingerie yang super seksi.

“Iye, iye, seksi. Tapi, cepet, udahan. Masukin tas lagi, gih!” Aku melolot dan dia pun tertawa sambil memasukkan lingerienya ke dalam tas berbahan kertas keluaran merek mahal.

“Ih, kamu jangan nyamain lingerie sama narkoba, ya. Sampai musti cepet-cepet dimasukin ke dalam tas segala supaya nggak ketangkep polisi aja…”

Aku tersenyum. “Bukan gitu, Neng.. Tapi gila aja pake acara pamer-pamer lingerie di sini. Ntar banyak orang-orang yang nafsu sama kamu, gimana?”

“Ya, itu artinya, I chose the right ones,” katanya sambil mengerling. “Bukankah itu tujuanku membeli lingerie?”

To attract your unfaithful husband?”

Ups!

Dia memandangku. Kesal. “Sampai berapa lama, sih, kata-kata sinis itu keluar dari mulutmu, eh?”

Aku terdiam. Percakapan kami akan menjadi debat kusir yang tidak akan pernah selesai. Bagaimana mungkin bisa kelar kalau keduanya memiliki muatan pikiran yang seragam alias sama-sama merasa benar, kan?

“Sampai kapan kamu bersikap seperti sekarang ini?”

Kali ini aku bereaksi. “Maksudmu? ‘Seperti sekarang ini’?”

“Ya.”

What the hell I’m doing right now, eh?”

“Kamu bersikap sinis.”

“Sinis sama suamimu yang sudah selingkuh habis-habisan sama mantan pacarnya dan kini mengiba-iba permintaan maafmu, memohon kembali karena dia melakukannya selama ini atas nama kesepian?”

Dia menghela nafas. “There. There you’ve said it out loud. Itu yang kumaksud.”

Then, what do you expect? Aku baik-baik saja kalau sahabatku kini malah kebakaran jenggot dan melakukan apapun caranya untuk menarik perhatian suaminya lagi, manicure-pedicure, beli lingerie seksi padahal tak berniat untuk make love, facial, membenahi rambut… you do everything to get to his attention, tapi kamu lupa kalau sebetulnya dia juga bersalah, Dear!”

Tanpa banyak komentar, sahabatku itu berdiri dari sofa, mengangkat semua tas-tas belanjaannya, lalu memandangku dalam-dalam dengan mata yang menahan marah. “Puas?” katanya perlahan. “Puas, hm?”

Aku menghela nafas banyak. Tak berkata apa-apa.

I’m done. I wanna go home.”

Aku masih diam.

“Ya. Ya. Aku mau pulang ke rumah, memakai lingerieku sebelum tidur, menyemprotkan minyak wangi ke belakang telingaku, dan tidur di sebelah suamiku yang tukang selingkuh itu, tanpa berniat untuk bercinta sama dia. Puas kamu, hm?”

Dia melangkah pergi.

Aku hanya memandangnya nanar sampai sosoknya menghilang dari balik pintu coffee shop, sementara wangi parfumnya masih tertinggal di cuping hidungku. Hatiku bergetar hebat.

Ini pertengkaran pertama kami.

Setelah belasan tahun aku menjadi sahabatnya, this is the first time she walks away from me…

Dan aku merasa…
Bersalah.

**

Tapi pantaskah aku merasa bersalah?

I think I did what I had to do.

Sebagai seorang sahabat yang mencintai sahabatnya, bukankah wajar kalau aku sedih ketika suami sahabatku berselingkuh darinya? Ketika suami sahabatku tidur dengan perempuan lain hanya dengan alasan sahabatku terlalu sibuk, sehingga suaminya butuh perempuan lain untuk menemaninya? Menghilangkan rasa sepinya?

Apakah aku salah kalau aku merasa kecewa dengan sahabatku yang malah mempersalahkan dirinya sendiri yang membuat suaminya merasa kesepian? Karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga melupakan kalau suaminya butuh perhatian juga?

Ah.

She’s gone up and beyond for him.

She did everything that she could.

She’s a working mother, tapi dia pandai masak, dia membersihkan rumah tanpa dibantu seorang asisten rumah tangga, dia membantu puteri semata wayangnya mengerjakan pekerjaan rumah, dia melayani suaminya…

Salah sebelah mana sampai-sampai dia beranggapan kalau semua ini murni karena dia? Kenapa harus dia yang mengubah dirinya, tapi suaminya tidak melakukan apa-apa selain minta maaf dan bilang kalau dia telah menyesal?

Jadi.

Sekali lagi aku tanya.

Apakah aku benar-benar bersalah karena telah menyuarakan isi hatiku kepada sahabatku, karena melihat dia berusaha terlalu keras untuk sebuah kesalahan fatal orang lain?

It just seem doesn’t fair.

Itu saja.

**

Aku terus merasa bahwa ini tidak adil buat sahabatku, sampai akhirnya datang sebuah email darinya.

“Dear Nay,

Asal kamu tahu.

Lelaki yang kamu benci itu adalah lelaki yang sudah menggenggam tanganku ketika aku kehilangan Ibu-ku, saat masih kuliah dulu.

Lelaki yang kamu benci itu adalah lelaki yang sudah mengecup kedua kelopak mataku ketika aku bermimpi buruk.

Lelaki yang kamu benci itu adalah lelaki yang ada di sampingku ketika Lilla hampir saja kehilangan fungsi jantungnya di sebuah rumah sakit.

Lelaki yang kamu benci itu adalah lelaki yang memeluk tubuhku erat-erat ketika dokter mengangkat rahimku karena kanker.

Lelaki yang kamu benci itu adalah lelaki yang aku cintai dan dia kini sedang mengiba-iba maafku untuk kesalahannya.

Lelaki itu, Suamiku.

Bisakah kamu mengerti bahwa apa yang aku lakukan sekarang ini adalah untuk mempertahankan apa yang sudah aku miliki?

Karena aku takut kehilangan dia, Nay.

Dia suamiku.

Dia belahan jiwaku.

Aku tahu dia bersalah, tapi bukankah aku berhak memberikan kesempatan kedua buat suamiku sendiri? Buat orang yang sangat aku cintai?

Aku tak butuh jawabmu, Nay.

Aku hanya butuh kamu selalu ada untukku.

Seperti belasan tahun sebelum hari ini.

Sayang,

Mela.”

Malam itu, air mata jatuh di atas pipiku seperti gerimis yang berubah menjadi hujan yang deras.

Ah, Mela…

**

It’s not about fair or not.

Ini adalah soal cinta.

Cinta tidak memiliki ukuran yang pasti, parameter yang jelas, dan hukum yang ketat.

Aku tak berhak menjadi Hakim untuk cinta sepasang manusia yang lain.

Jadi, sekalipun aku tidak menyukai apa yang sudah sahabatku itu lakukan, sekalipun aku menganggap bahwa dia telah melakukan kesalahan, sekalipun kupikir bahwa lelaki itu bajingan tengik yang telah melukai hati sahabatku, pada akhirnya, only her feeling does count.

Aku hanya sahabatnya.

Yang tidak akan pernah pergi dari sisinya, selalu ada di sampingnya.

Seperti belasan tahun sebelum hari ini.

Meskipun aku membenci lelaki itu.

Suaminya.

***

Kamar, Kamis, 25 Maret 2010, 11.31 Malam
Terinspirasi dari film The Woman

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

35 thoughts on “Lelaki itu, Suamiku

  1. kereeeeen…

    suka banget ama deretan kata di emailnya ^^

    met malem mba’

    Posted by Inge | March 25, 2010, 11:55 pm
  2. aaaahhh…

    gua juga paling benci ama orang selingkuh. apapun alasannya tetep yang selingkuh itu yang salah. dan gua suka sebel ama perempuan yang masih mau menerima laki2nya walaupun dia udah selingkuh.

    tapi ngebaca tulisan lu sampe akhir… ya bener juga. emang ini masalah cinta. orang bisa khilaf. dan wanita seperti mela itu adalah wanita2 yang luar biasa with a very big heart. bisa memaafkan laki2 yang udah berkhianat. dan ini emang bukan cerita belaka, gua kenal ama wanita seperti ini.

    tante gua sendiri. suaminya udah selingkuh yang tingkat parah. sampe keluar rumah demi selingkuhannya. gak peduli ama istri dan 3 anaknya. tante gua ini kerja sendiri. buka toko elektronik di pasar. membiayain anak2nya. dan tante gua gak pernah ngomongin yang jelek2 tentang suaminya ke anak2nya. biar anak2nya tetep sayang ama papanya.

    tapi trus setelah om gua itu ditinggal selingkuhannya trus kemana dia? ya minta balik pulang ke rumah. dan tante gua menerima dengan sukacita!!! kita sodara2nya sampe ngomongin dia, ngapain dia mau nerima suaminya lagi?? (padahal justru suaminya itu yang keluarga langsung lho ama keluarga gua, jadi tante gua itu yang status nya ipar). tapi kita kasian ama tante gua itu. kok mau2nya nerima om gua itu lagi setelah disakiti kayak gitu.

    tapi tante gua bilang dia masih cinta. dan dia yakin dia bisa bikin om gua bertobat. dia mau nerima om gua lagi. dan… itu kejadian udah lamaaa banget, berbelas taun yang lalu. dan ya emang sekarang mereka jadi keluarga yang harmonis banget. ketiga anaknya juga deket ama papanya. gak ada yang membenci. what a big heart that my aunt has. dan itu telah menyelamatkan keluarganya…

    Posted by arman | March 26, 2010, 12:03 am
    • Man,
      ceritamu semakin menambah koleksi cerita serupa yang sudah terekam dalam memoriku.
      Pada awalnya, aku memang berteriak kecewa karena kok bisa-bisanya seseorang bisa membuka pintu maaf lebar-lebar untuk orang yang sudah melukainya sedemikian hebatnya.
      Tapi pada akhirnya, aku memang hanya akan menjadi penonton.

      Aku bebas berkomentar.
      Tapi pelakon-pelakon di atas panggung itulah yang berusaha memerankan peranannya dengan baik.

      Itu saja, sih..๐Ÿ™‚

      Posted by jeunglala | March 26, 2010, 12:11 am
    • The power of forgiveness hehe. Jangan dipikir mereka yang gak pernah berbuat salah itu lebih baik dari seorang pembunuh.

      Orang yang pernah berbuat salah, kalau sadar dan (serius) bertobat, bakal jadi baiknya bukan main, kenapa? Karena mereka sudah ngrasain yang namanya betapa kuatnya namanya pengampunan.

      Kalo lebih extrim lagi kubilang, seseorang selingkuh dan kalau minta maafnya beneran serius sama istrinya, itu kayak narapidana yang dihukum mati, minta pengampunan dari hakim. xD

      Posted by Dewa Bantal | March 26, 2010, 3:14 am
      • Hehehe..
        the power of forgiveness.

        Kadang, nih, yang terjadi kita sudah bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan. Sama kasusnya seperti pacarku yang selingkuh dengan teman baikku. Akhirnya temanku itu memang ninggalin mantanku itu setelah pacaran enam bulan, dan satu setengah tahun berikutnya, mantanku mengiba-iba pingin menikah sama aku.

        … and I didn’t even care. Hehe.. karena udah trauma sama kesalahannya dan takut kalau dia begitu lagi in the future..๐Ÿ™‚

        Posted by jeunglala | March 26, 2010, 1:11 pm
  3. bagus ceritanya..

    Posted by Q-think | March 26, 2010, 1:13 am
  4. Edannn… mantep euy. Kayak habis baca cerpen pojok di jawa pos aja๐Ÿ™‚

    Komen singkat aja, aku merasa kalau kamu malah jadi kayak cowok. Aku inget dulu temen cewek ku pernah bilang gini.

    “I don’t need your answer, opinion or correction to all of my questions and whines. Just listen, and agree because that’s what I need right now. A person that I know, who will always on my side.”

    “My side” dalam artian “berpihak kepadaku.” — masalah nasehat memang harus pelan2, susah kalo sinis2 an.. cewek gitu lho hihihi (kamu cewek juga padahal yak? xD)

    Masalah hubungan cinta teman2 ku, aku sih nggak pernah terlalu ikut campur, kecuali ada yang ketangkap basah olehku, kalau memang niatnya merusak temanku. Contohnya: maksa ngedrug, jelek2 in pake mulut ke orang lain, apalagi main gebuk๐Ÿ™‚

    Posted by Dewa Bantal | March 26, 2010, 3:07 am
    • Halah..
      Awakmu ngenyek ki..๐Ÿ™‚
      Tulisan seadanya ngene kok diarani cerpen Jawa Pos sing kondang..๐Ÿ˜€

      Soal sinis-sinisan gitu…. sometimes, kalau udah merasa enough, aku bakal speak out. Bakal nunjukin semua perasaan. Mengkonfrontasi keberatanku. Oh, tidak sometimes, tapi most of the times..๐Ÿ™‚
      Mungkin karena di depan sahabat-sahabatku atau orang2 yang aku sayangi serta dekat denganku, biasanya aku mencoba untuk jujur dan mengungkapkan apa yang aku rasakan..

      Posted by jeunglala | March 26, 2010, 1:16 pm
  5. uummmmm…
    pretty agree with this one :
    “Itโ€™s not about fair or not.

    Ini adalah soal cinta.

    Cinta tidak memiliki ukuran yang pasti, parameter yang jelas, dan hukum yang ketat.

    Aku tak berhak menjadi Hakim untuk cinta sepasang manusia yang lain.”

    bahkan kalo kita liat dari sisi sang mantan pacar sebagai selingkuhan suami Mela…
    we’ll never knew, apa alasan yg membuat dia mau menjadi selir hati si suami
    dan akhirnya mendapat predikat jelek sebagai “perusak rumah tangga orang.”
    mungkin bisa aja kita bilang.. “kayak ga ada cowo lain yg masih bujang aja..”
    tapi..
    ini kan urusannya sama hati..
    dan.. unfortunately, kita ngga bisa milih, sama siapa kita mo jatuh hati..

    nice story say…
    LIKE THIS!! hahaha…

    Posted by Indie | March 26, 2010, 9:02 am
    • Betul.
      Aku juga tidak pernah mau menjustify orang lain, kok, Ndie. Mereka berhak punya rasa, keinginan, serta pemahaman yang tidak akan sama persis dengan kita.

      Love is about falling.
      Tidak bisa diatur.
      We just fall.
      Next… is our destiny๐Ÿ™‚

      Makasih, ya, Ndie..

      Posted by jeunglala | March 26, 2010, 1:18 pm
  6. saya salut sama mela, masih bisa memaafkan suaminya dengan mengingat semua kebaikannya, banyak wanita yang memilih untuk membalas setelah merasa tersakiti. Hmm… baik buruknya, dia adalah suaminya ya

    Posted by Mamah Aline | March 26, 2010, 9:34 am
    • Aku kenal betul dengan seorang perempuan yang mirip dengan tokoh cerpen ini, Mbak. Dan memang, alasannya untuk tetap berada di sisi suaminya yang pernah berselingkuh adalah karena dia sangat mencintai suaminya dan mengenal betul bagaimana karakter persis suaminya sehingga dia menganggap bahwa suaminya hanya khilaf, bukan karena keinginannya…

      Posted by jeunglala | March 26, 2010, 1:28 pm
  7. jeng lala mang wanita hebat….
    salut salut tersakiti tapi masih bisa memaafkan dan memberi kesempatan
    semoga gak terulang lagi yah jeng
    salam pagi

    Posted by peri01 | March 26, 2010, 9:37 am
  8. Butuh keberanian dan kebesaran hati utk memaafkan kesalahan. Kadang saya iri pada orang-orang yang punya keberanian dan mempunyai kebesaran hati utk memaafkan sebuah perselingkuhan. Buat saya perselingkuhan itu mencederai hal paling mendasar dari sebuah hubungan …. kepercayaan.

    Posted by aprian | March 26, 2010, 10:16 am
    • Setuju sekali kalau dibilang perselingkuhan mencederai hal paling mendasar dari sebuah hubungan, yaitu kepercayaan.

      Butuh keberanian untuk memaafkannya.
      Dan butuh waktu untuk melupakannya…๐Ÿ™‚

      Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:34 pm
  9. dia berhak mendapat kesempatan kedua la
    aku pun pernah melakukan hal yang sama namun ternyata dia lelaki yang tak tahu diri

    Posted by julie | March 26, 2010, 10:42 am
  10. wah.. hebat….
    cerita yang kamu tulis luar biasa La…

    hm, terus terang aku nggak bisa komen lebih mendalam. karena belum dan berharap tidak pernah ngalamin peristiwa itu.

    gak tau deh… beyond my imagination… dan don’t dare to figure it out…๐Ÿ™‚

    Posted by anna | March 26, 2010, 11:41 am
    • Makasih, Na….

      Aku bisa menulis seperti itu, tentu karena I know that situation..๐Ÿ™‚
      Ya sudah, kalau nggak bisa komentar dan nggak berani ngebayangin.
      Amit-amit Jabang Britney deh, Na.. Jangan sampe kejadiaaannn…

      Posted by jeunglala | March 27, 2010, 12:38 pm
  11. Great!!! cerita singkat tapi efektif, i’ve got the message… bagus banget deh jeng..

    betewe, sekalian minta izin (eh, pemberitahuan deng…) blog-nya aku link ya…. suka ih ama content2nya…๐Ÿ˜‰

    Posted by iuef | March 26, 2010, 3:35 pm
  12. kunjungan perdana nih.. membaca postingan blog ini serasa membaca cerpen/novel aja๐Ÿ˜€

    Posted by Epenkah | March 26, 2010, 5:13 pm
  13. Kadang masalah Hati adalah urusan yg rumit, sulit utk dipahami. Nice Post

    Posted by Rafi | March 26, 2010, 6:11 pm
  14. cinta itu rumit ,apalagi ditambah pernikahan๐Ÿ˜€

    Posted by didot | March 27, 2010, 12:21 am
  15. Keren ceritanya! -speechless- :-S

    Posted by Wulan Aquariyanti | March 27, 2010, 7:32 am
  16. hallo…salam kenal…

    Posted by deekkyy | March 28, 2010, 10:12 am
  17. Perkawinan memang memiliki logikanya sendiri, yang ada kalanya tidak bisa diterima logika orang-orang yang berada di luar perkawinan itu. Itulah sebabnya banyak perkawinan tetap bisa bertahan, meskipun menurut logika umum seharusnya sudah hancur. Maka, kita mestinya bersyukur pada logika perkawinan yang formulanya ditentukan oleh kedua pasangan dalam perkawinan itu …

    Posted by tutinonka | April 1, 2010, 1:47 am
  18. isi emailnya..
    banar2 isi suara hati seorang istri yg baik hati..
    i like this

    Posted by ervina | April 8, 2011, 1:18 pm
  19. Kece! Aku belum pernah menikah tapi yes, aku pernah diselingkuhin huaaaahhhaa dan yes, aku maafin dia meskipun semua teman-teman, keluarga bilang “Jangan mau!” Love is unlogical things. Aku maafin dia dan yup,benar sodara-sodara, dia selingkuh lagi. Hah…love love love. Love is unlogical things Mbak yu…

    Posted by ladeva | April 8, 2011, 1:30 pm
  20. kereen mbaa๐Ÿ™‚

    Posted by Izzah | April 8, 2011, 2:04 pm
  21. Baguuuus. Sedih juga. Angkat jempol untuk semua wanita berhati luas seperti mela. Angkat jempol juga untuk penulisnya๐Ÿ™‚

    Posted by blossomandbatman | June 27, 2012, 11:29 pm
  22. Bagus banget mbak :’)

    Posted by blossomandbatman | June 27, 2012, 11:35 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Menulis Fiksi « The Blings of My Life - March 30, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: