you're reading...
Thoughts to Share

Kepingan Puzzle

“Ayo, Sayang, agak cepat sedikit!” Seorang lelaki berkata sedikit keras sambil menggamit lengan istrinya. Mereka sedang menyeberangi jalanan yang agak ramai dengan lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki.

Perempuan itu mencoba melangkah seirama dengan suaminya. Agak tertatih-tatih memang, karena stiletto setinggi sebelas sentinya bukan alas kaki yang bisa membuat seorang sprinter menjuarai pertandingan atletik.

“Sebentar, dong… Aku, kan, nggak lagi pakai sepatu keds seperti kamu…” Dia merajuk manja.

Suaminya menoleh sambil tersenyum sembari tetap melangkah menyeberangi jalan, dengan posisi melindungi istrinya yang melangkah tergesa-gesa di sampingnya.

“Kamu tahu, kan, kalau aku ini paling nggak suka kamu pakai sepatu yang tingginya kayak egrang itu?” komentar suaminya, dengan senyum yang terkembang.

Perempuan itu memandang suaminya sambil tersenyum. “Dan kamu tahu, kan, kalau aku paling suka sama sepatu pemberianmu ini…”

Lelaki itu memang sering merasa kasihan melihat istrinya melangkah susah di atas sepatu berhak sebelas senti itu, tapi ketika ia melancong ke luar negeri, mengunjungi negeri matahari terbit, dia sempat melihat sepasang sepatu warna hitam, bertali-tali, dengan hak setinggi sebelas senti. Yang terbayang di kepalanya saat itu adalah wajah cantik istrinya yang tengah tersenyum sumringah kalau dia memberikan sepatu cantik itu untuk oleh-oleh. Pasti istrinya sangat senang.

Dan memang, sejak sepatu itu akhirnya berpindah ke lemari sepatu istrinya, stiletto itu menjadi sepatu kesayangan perempuan itu. Sepatu yang selalu dipakainya di saat-saat khusus, sepatu yang selalu dipakainya karena dengan begitu, ia ingat akan kasih sayang suaminya.

“Tapi kamu yakin, ankle kamu nggak kenapa-kenapa?” tanya lelaki itu.

Istrinya menggeleng. “Seperti Carrie Bradshaw, Sayang. The higher I get, the happier I am…

Mereka sudah sampai di sisi jalan satunya. Berjalan sambil bergandengan tangan, sambil sesekali lelaki itu menghadiahi kecupan sayang di punggung tangan istrinya, menyusuri trotoar Hong Kong yang ramai dan gemerlap dengan lampu-lampu.

**

Mereka memang pasangan yang romantis. Sebelum menikah, aku sudah mengenal mereka dan pernah membayangkan kalau suatu saat kelak mereka akan menjadi pasangan suami istri yang istimewa. They were best friends yang kemudian bertransformasi menjadi sepasang kekasih yang tahu bahwa mereka saling memiliki kepingan puzzle yang saling melengkapi. Aku sudah menebak kalau kelak mereka bakal menikah dan hidup bahagia. Aku sudah menyangka kalau kelak mereka bakal berkomitmen dalam hubungan perkawinan yang romantis.

Dan memang, ketika beberapa tahun yang lalu mereka akhirnya saling berikrar di hadapan penghulu, aku tahu kalau aku tidak keliru. Pasangan romantis itu akan menjadi pasangan suami-istri yang istimewa. Terlebih mereka juga berasal dari keluarga yang berada. Rumah serta perabotan sudah menanti, berikut dengan mobil sedan yang siap mengantar mereka kemana-mana.

They spent their honeymoon di luar negeri. Menghabiskan seminggu penuh di sana lalu pulang membawa cerita-cerita menarik dan romantis selama mereka di sana.

I was their witness.

Maksudnya, aku menjadi saksi kegembiraan yang meletup-letup di sepasang mata mereka. Saat aku melihat semua itu, aku merasa bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna.

**

Until one time…

We can’t have babies,” kata perempuan itu.

Aku tersedak. Larutan kopi yang tengah kuminum segera tumpah sedikit dan mengotori bajuku. Dia meminta maaf tapi segera aku menggelengkan kepala.

I’m sorry. Kamu kaget?” dia bertanya.

“Darimana kamu tahu kalau kamu, um, kalian nggak bisa punya anak? Did the doctor say so?”

“Bukan Doctor, Sayang, but ‘DOCTORS’. I went looking for second and third opinions.”

What did they say?”

“Katanya aku nggak punya sel telur yang sehat.”

“Terus?”

And my husband… um… he doesn’t have good ‘swimmers’…”

Aku terdiam. Yang satu, tidak punya sel telur yang sehat. Satunya lagi, kualitas spermanya buruk. Lengkap sudah.

I’ve spent this entire five years to wonder what’s my babies’ names. Alya untuk bayi perempuan, lalu Bima untuk bayi lelaki. Aku bahkan sudah membayangkan kalau nanti Alya bakal mewarisi kegemaranku bernyanyi dan Bima bakal ikut latihan futsal sama Papa-nya. “

Aku sudah menjadi kawan baiknya sejak lama. Aku tahu kalau Alya dan Bima sudah menjadi nama favoritnya sejak dulu, jadi aku bisa membayangkan betapa kecewa dirinya.

“Setiap pergi kemana-mana dan melihat baju-baju anak kecil yang lucu-lucu, aku selalu suka iseng banget beli. Nggak kehitung berapa jumlah baju, sepatu, mainan, boneka, buat Alya dan Bima. We bought everything for our babies, the babies that we could never have.”

Air matanya menetes, seiring dengan bibirnya yang bergetar. Baru kali ini aku melihatnya sebagai sosok perempuan yang rapuh. Sudah belasan tahun aku mengenalnya, tapi untuk pertama kalinya aku melihatnya sebagai seorang perempuan biasa yang kekuatannya tergerus oleh titik-titik air matanya.

Kuelus punggung tangannya, mencoba mengalirkan energi dan semangat, sekalipun kutahu ini tidak akan pernah mudah.

“Beberapa waktu lalu, kami sempat melihat seorang anak perempuan, usianya mungkin baru sembilan tahun, sedang menggendong adiknya. Mereka berdiri di samping mobil, meminta-minta uang, di saat mentari sedang terik-teriknya. Kamu tahu, adiknya masih sangat kecil. Usianya, mungkin, sekitar setahun lebih sedikit. Badannya kurus, hitam, dan rambutnya memerah. Anak kecil menggendong anak kecil,” perempuan itu meraih cangkir kopinya lalu menyesapnya sedikit. “Kami berpandang-pandangan dan dia memegang jemariku. Aku nggak sanggup menahan air mata… I was crying, silently…

Karena mereka telah menikah selama lima tahun lalu divonis tak akan pernah bisa memiliki anak.

Dan sepasang suami-istri telah menelantarkan anak-anak mereka, di tengah hari yang sangat panas, untuk mengiba-iba dan mengetuk kaca mobil orang yang berlalulalang di sepanjang jalan.

She was crying, silently….

Aku juga.

**

Sekeping Puzzle

Lalu aku berpikir bahwa setiap orang membutuhkan kepingan-kepingan puzzle yang melengkapi sebuah gambar agar menjadi sebuah gambar yang utuh.

Kawanku itu, kehilangan satu keping untuk melengkapi kesempurnaannya, yaitu anak.

Anak-anak di jalanan itu, mungkin, kehilangan beberapa keping untuk melengkapi mereka, yaitu kasih sayang, makanan yang enak, pakaian yang layak… atau, um, masa kecil yang bahagia selayaknya anak-anak.

Sementara aku… oh well, aku tak tahu keping mana yang hilang dalam hidupku. Mungkin saja gambarku memang belum utuh, belum sempurna, belum lengkap. Tapi asal tahu saja, aku menikmati proses pencariannya.

Proses pencarian keping-keping yang kelak bakal melengkapi gambarku… 

A picture perfect of an image that I called…

Lala Purwono.

***

Kantor, Kamis, 18 Maret 2010, 3.51 Sore

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

18 thoughts on “Kepingan Puzzle

  1. Mbak Lala bagus banget narasinya… ini kisah nyata ya? 😐

    Aku gak mau bilang turut berduka cita, lha wong bukan layatan, cuman gak mau juga bersedih, nambahin depresi aja.

    Cuman berharap semoga ada kepingan puzzle yang walau nggak perfect , at least bisa nambal yang lubang lah. Tetaplah berbahagia selamanya ^_^

    Posted by Dewa Bantal | March 18, 2010, 6:16 pm
  2. Hm..
    seperti membaca cerita dan kisah ku sendiri .. 🙂
    *tercenung*

    memang, puzzle yang hilang dari setiap individu berbeda-beda. tidak selalu sama.
    namun, kebahagian/kesempurnaan tidak ditentukan dari puzzle yang belum ‘terpasang’ itu La..

    karena kesempurnaan itu relatif. mungkin kesempurnaan umum adalah menikah, punya anak, dsb. tapi buat aku kesempurnaan adalah ketika mensyukuri puzzle yang sudah terkumpul, dari pada meratapi ‘puzzle’ yang belum ditemukan.

    aku baca postingan ini bareng suamiku La.. dia senyum. dan bilang.. you’re such a good writer 🙂

    Posted by anna | March 18, 2010, 7:11 pm
    • Kebahagiaan memang adalah permainan otak semata, permainan pikiran. Just as long as we think that we’re happy, it means that we ARE happy. Hanya saja, aku melihat kesedihan mereka dan merasakan kalau merasa bahagia ketika ada bagian mimpi yang hilang dan tak akan pernah bisa terwujud…

      Soal pujian itu..
      Aduh, Na… Say Hi to your husband. Asli, aku GR banget jadinya! hehehehehe

      Posted by jeunglala | March 19, 2010, 9:01 am
  3. Mari kita susun kepingan2 puzzle itu menjadi kepingan yang baik dan cerah!! 🙂

    Posted by Asop | March 18, 2010, 11:16 pm
  4. nice writing, nice thinking… very well done!
    kehidupan ya begitu ya la. kita emang selalu mencari kepingan puzzle selama hidup kita. gak akan pernah utuh dan sempurna. selalu ada aja yang masih belum ketemu.

    Posted by arman | March 19, 2010, 12:26 am
    • Maaann…. Bikin aku GR aja, deh, aaahhh… :p

      Anyway, it’s true. Akan selalu ada kepingan puzzle yang masih belum ketemu. Yang terpenting adalah, kita bersenang-senang saat mencarinya… 🙂

      So, Arman.
      Pertanyaannya: have you completed your puzzle? 🙂

      Posted by jeunglala | March 19, 2010, 9:09 am
  5. mencari potongan puzzel seperti mencari ikan di laut nih.hehhe..
    But like u said .. just enjoy the process.. ^_^

    Posted by bundy | March 19, 2010, 11:51 am
  6. temenung dan kembali mengingat masa2 ketika bareng suami cari dokter kandungan tuk nyari tahu ko’ belum hamil2 juga. alhamdulillah akhirnya hamil tepat pada waktunya.

    puzlle ya….

    harus kita jaga puzzle yang sudah tertata apik jangan sampai hancur dan tetap semangat mencari puzzle2 lainya agar semakin lengkap hidup kita.

    Posted by hamidah | March 19, 2010, 11:54 am
  7. sad story… ini kisah nyata? or just cerita yang ada di dalam kepala? padahal mereka sudah memiliki cita2, anak2 itu dengan nama, wah, sepertinya memang sudah sangat berencana, tapi ternyata Tuhan berkata lain. dan anak-anak di jalanan itu… sungguh, sad story.

    Posted by hanif IM | March 19, 2010, 12:53 pm
  8. kesempurnaan manusia itu terletak diketidaksempurnaannya La…
    kalau semua yang dia inginkan dapat diraihnya dengan mudah, akan sombonglah manusia itu, bahkan ia akan berani melebihi Tuhan. Fir’aun telah menjadi contoh akan semua itu..

    kemarin aku baru bicara dengan seorang teman yang anaknya terserang kanker. umur anaknya baru 3 tahun. temanku itu nyaris putus asa. katanya, segala usaha telah ia tempuh, segala doa telah ia panjatkan, tapi hasilnya masih nihil… maka, aku sarankan agar ia tak perlu meminta kesembuhan anaknya kepada Tuhan, karena Tuhan sudah punya rencanaNya sendiri, tapi meminta agar Tuhan memenuhi hatinya dengan kesabaran dan keikhlasan mengahadapi segala pemberianNya… barangkali sahabatmu itupun sebaiknya berdoa demikian…

    (lala… maafkan jika aku sangat jarang berkunjung, you know what the reason)

    Posted by vizon | March 19, 2010, 3:24 pm
  9. nice! nice! nice!
    love the new theme, too 🙂

    Posted by rifqie | March 19, 2010, 3:44 pm
  10. wahh kepingan puzzleku masih tercecer dimana-mana mbak mbak, jangankan menyusun, mencari bagian puzzle yg hilang pun belum sempat aku temukan hiks….
    nice story mbak, kapan bikin novel lagi, aku siap2 ke gramedia.

    Posted by tary Sonora | March 19, 2010, 7:46 pm
  11. oh my gosh begitu penuh misterinya ketentuan ilahi

    Posted by gerhanacoklat | March 19, 2010, 9:11 pm
  12. salam kenanl dulu..
    blm berani kumen.
    hehe

    Posted by fai_cong | March 19, 2010, 9:30 pm
  13. semua pasti ada hikmahnya. jangan menyerah

    Posted by orange float | March 20, 2010, 3:10 pm
  14. suer deh, mantap!!! two thumb up… kerennnnnnn… sekarang aku lagi mencari puzzle pelengkap hidupku, hope i will found the other puzzle soon…

    Posted by jane | April 26, 2010, 12:34 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: