you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Saling Melengkapi

OppositeAjang kontes America’s Got Talent sudah mencapai babak penyisihan untuk sampai ke perempat final — 40 peserta terbaik. Dari ribuan peserta, hanya tersisih beberapa ratus peserta. Dan dari ratusan itu, hanya 40 peserta saja yang bisa lolos sampai ke Hollywood.

Bisa terbayang betapa banyak air mata yang tumpah saat itu, kan? Berapa banyak jantung yang berdebar kencang sampai mungkin tak perlu stetoskop untuk mendengarnya secara jelas. Berapa banyak orang yang berkeringat dingin, berharap-harap cemas: apakah aku lolos? Apakah aku akan pulang ke kampung halamanku? Apakah setelah ini aku menelepon orang-orang tersayangku dan mengabari mereka bahwa aku belum akan pulang karena masih harus mengikuti proses selanjutnya? Atau mereka harus bersiap-siap menemaniku dugem akibat stress dengan hasil keputusan juri?

Sejak sekitar pukul setengah sebelas malam tadi aku menonton acara yang tayang di Indosiar itu. Karena memang telah mengikuti dari awal, aku menjadi terikat secara emosional dengan wajah-wajah peserta yang lolos dari penyaringan awal. Seorang kakek-kakek usia tujuh puluhan yang bergaya seperti Elvis, anak kecil dengan suara Malaikat, penari-penari atraktif dengan beralaskan sepatu roda, dan sekelompok penyanyi akapela yang terdiri dari para pekerja di kantor pos sebuah kota di Amerika sana. Mereka adalah sedikit dari sekian banyak para peserta yang berhasil merebut perhatian juri-juri, dan juga aku.

Saking terikatnya aku secara emosional dengan acara itu, akhirnya aku malah ikut deg-degan saat menyaksikan tayangan tadi; prosesi pengumuman kelolosan sampai perempat final itu.

Hatiku ikut terlonjak gembira saat ada yang lolos sampai ke babak selanjutnya, lalu hatiku memedih saat melihat wajah-wajah kecewa serta air mata yang berjatuhan dari kelopak mata yang menyiratkan kesedihan yang luar biasa dari mereka-mereka yang tidak lolos.

Seorang lelaki sederhana yang bekerja sebagai peternak ayam akhirnya lolos sampai ke perempat final dan keluar dari ruangan dengan wajah yang sumringah dan lega. Dia merasa sangat bahagia karena bisa lolos. Penampilannya yang sederhana – flanel dan jeans – malah terlihat luar biasa karena senyum di wajahnya yang girang-gemirang bukan kepalang. Siapa yang tidak bahagia setelah dinyatakan lolos, kan?

Di saat yang sama, seorang anak kecil, dengan suara Malaikatnya, akhirnya harus berhenti melaju di panggung America’s Got Talent karena dinilai tak cukup berbakat untuk bisa berkompetisi dengan yang lainnya. Anak perempuan usia delapan tahun itu menangis tersedu. Siapapun pasti akan sedih ketika kenyataan tak seindah impian, kan? Apalagi anak sekecil itu. Dia benar-benar sedih dan kecewa.

Apa yang kutonton di acara adu bakat itu memang sungguh menyiratkan pemandangan yang kontras.

Yang satu bahagia.

Yang satu menangis sedih.

Sama kontrasnya ketika kalau setiap kali ada seseorang yang melonjak gembira karena memenangkan sebuah kompetisi, maka ada orang lain yang akan merasa sedih karena telah kalah. Kalau setiap kali sepasang manusia berbahagia saat duduk di pelaminan, tidak berarti tidak ada orang lain yang sedang meratap sedih karena perasaan yang tak terbalaskan. Kalau setiap kali ada seseorang yang sukses dipromosikan oleh Boss, ada yang sedih karena lagi-lagi tak dipromosikan. Ya, ya, hal semacam itulah. Kamu tahu maksudku, kan?

Hm.

Akhirnya aku berpikir, bahwa selagi dunia adalah bukan Surga, sudah sewajarnya hidup memang akan selalu berkebalikan seperti ini. Ada senang, ada sedih. Ada sakit, ada sehat. Ada tenang, ada ramai. Ada kanan, ada kiri.

Keduanya diciptakan ada untuk saling melengkapi. Tak ada senang, jika tak pernah tahu rasanya sedih. Tak ada yang disebut sehat kalau tak mengetahui definisi sakit. Kenapa musti disebut kanan, karena ada kiri. Dan ramai tidak akan bisa terasa bising kalau tak pernah mengalami duduk sendirian di sebuah tempat yang tenang.

Ya.

Keduanya diciptakan berlawanan agar manusia bisa meresapi esensi setiap rasa dengan sesungguhnya. Agar manusia bisa menghargai kenapa hal yang buruk bisa terjadi untuk mengapresiasi segala kejadian baik yang akan menanti. Karena yang aku tahu,  seorang manusia BIASANYA seringkali baru menghargai sesuatu setelah terjadi sesuatu, kan? OK, manusia itu aku, kok! 🙂

Jadi, pagi ini, kutuntaskan menonton America’s Got Talent dengan sebuah pemikiran baru di dalam kepalaku, yang kemudian kutuang dalam status di FB dan kuceritakan panjang lebar di blog ini.

“Ketika seseorang meraih kemenangan lalu melonjak-lonjak gembira, di saat yang sama ada seseorang lagi yang sedang tertunduk lesu, menangisi kekalahannya. Dunia memang bukan Surga; akan selalu ada hal-hal yang sifatnya berkebalikan tapi saling melengkapi satu sama lain, untuk memaknai setiap hal dengan lebih sempurna…”

Dengan hukum berkebalikan itu, memang bisa membantuku memaknai semuanya dengan lebih sempurna, sekalipun aku juga ingin terus belajar untuk mengapresiasi sekecil apapun peristiwa yang terjadi dalam segenap nafasku sampai hari ini, agar tak perlu membutuhkan peristiwa yang buruk untuk membuatku menyadari betapa beruntungnya seorang Lala Purwono, lajang tiga puluh tahun yang kumat insomnianya… 😦

Selamat Dini Hari! 🙂

***

Kamar, Minggu, 21 Februari 2010, 12.39 Pagi

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

13 thoughts on “Saling Melengkapi

  1. Bagus sekali La, dlm memaknai acara tv yg km tonton.. Segala sesuatu itu memang ada kebalikannya. Seperti Allah menciptakan adanya siang dan malam, kanan dan kiri, surga dan neraka, dll.

    Plus ada juga kebahagiaan dan kesedihan. Dibalik kesulitan pun jg ada kemudahan.

    Yg jelas, like this lah..heheh 🙂

    Posted by anna | February 21, 2010, 7:53 am
  2. kalo kata mbah saya semua sudah punya jalannya. jangan kaget kalo jalannya terjal, ndak usah terkagum-kagum liat keberuntungan, juga ndak usah sok kalo lagi di atas. kita cuma menjalani 🙂

    Posted by mas stein | February 21, 2010, 7:56 am
  3. yah begitulah yang namanya hidup ya…. selalu ada plus minus. biar balance…. 🙂

    btw ganti template nih ya… bagus!

    Posted by arman | February 21, 2010, 8:44 am
  4. pemenang adalah orang yang mampu bangkit dari setiap kekalahan, bahkan disaat ia merasa tak mampu melakukannya…dan senyum yang paling indah adalah saat kita tersenyum untuk keberhasilan orang lain

    Posted by Oyen | February 21, 2010, 9:33 am
  5. kau cerdas sobat, selalu saja bijak dalam menyikapi keadaan.

    maaf lama gak BW ke sini

    Oh ya baru saja saya bikin postingan “Ngeblog Juga Korupsi”
    Masih anget, selamat mencicipi! 🙂

    Posted by achoey | February 21, 2010, 12:34 pm
  6. yang bunda kagumi darimu Jeung, apapun yg ditonton, apakah film atau reality show, Jeung Lala selalu menemukan sesuatu yg ada nilainya disana.
    hebat, bener2 hebat, Jeung Lala sepertinya memang senang merenung ya Jeung?
    dan, hasil renungan itu selalu istimewa 😀
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 21, 2010, 12:55 pm
  7. slam kenal ya mba….

    Posted by elizer | February 21, 2010, 4:04 pm
  8. insomnia kumat yaa…tp gpp kan hari ini libur 😀

    selalu indah jika bisa memaknai setiap apapun yang kita tonton atau hadapi. kalah atau menang hanya sebuah permainan dalam hidup…
    tak selamanya akan kalah, tak selamanya juga menang…jadi dalam keadaan apapun harusnya kita tetap bersykur

    *jiiaah ngawur bgt komennya

    Posted by idana | February 21, 2010, 4:09 pm
  9. Suara peternak itu bagus ya 🙂
    Eh ya yang penari Bollywood masuk babak lanjutan gak ya ?

    Salam bentoelisan

    mas Ben

    Posted by Mas Ben | February 21, 2010, 4:59 pm
  10. Tabea… Salam kenal. Nice blog. Tukeran link ya. Blog Ku : MANADO INFOMENT BLOG http://rafans2010wordpress.com Trims,-

    Posted by N. Raymond Frans | February 21, 2010, 5:03 pm
  11. sori baru sempet komen,bacanya panjang sih jadi baru sempet la. kirain kamu bener2 mau nulis soal acara itu aja,hehehe

    ndak taunya ujung2nya pemikiran filosofis tentang keseimbangan dan berpasang2an:D

    yah kita semua tau lah ,gak akan ada yg cantik kalo gak ada yg jelek,kalo semua cantik gak ada yg cantik lagi,karena semuanya sama alias standar dar dar…

    harus ada yg kalah supaya ada yg menang.

    tapi kalo soal akherat,kita semua bisa masuk surga,karena surga itu luas banget,gak seperti kompetisi tadi dimana y yg kalah jadi masuk neraka, jadi semua dari kita bisa masuk surga kok, asal mau bersyukur selalu ,dengan melaksanakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA, iya kan la??

    Posted by didot | February 21, 2010, 7:00 pm
  12. agar tak perlu membutuhkan peristiwa yang buruk untuk membuatku menyadari betapa beruntungnya seorang Lala Purwono

    Gua pikir ini poin paling penting dari postingan elo, Laa 😉

    Semangaatt!! ^o^

    Posted by Indah | February 22, 2010, 9:38 am
  13. heeeemmmmmmm yg palink menyenangkan yg saya pelajari adalah…….kevin skinner akan menjadi pemenang…dan dari sini aku belajar bahwa…..orang yang rendah hati danhidup bersahajah memank suatu saat pasti akan ditinggikan oleh TUHAN…..

    mudah2an kita orang indonesia dapat menjadi penonton yg baik yang tidak hanya menyimak acara tertentu…

    tapi bagaimana kita juga dapat memetik sesuatu dari acara tersebut….

    Posted by ajoo ajib | March 8, 2010, 5:27 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: