you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Kecoa yang Pintar!

Kecoa yang Pintar!Ada seekor kecoa bermain-main di kamar mandiku. Setelah kodok kecil yang meloncat-loncat kemarin dulu, kini giliran kecoa yang membuat aku sedikit panik di dalam kamar mandi. Aku memang geli melihat wujud kecoa cuman sayangnya, aku juga nggak tega untuk menggencetnya dengan sandal jepit yang biasa kupakai di kamar mandi. Yang ada, aku malah ‘menari-nari’ di atas lantai kamar mandi karena menghindar tubrukan kecoa yang nubrak-nubruk, srudak-sruduk kayak banteng kalap.

Berhubung geli tapi nggak tega menggencet kecoa, akhirnya aku memilih untuk menyiramnya dengan air dalam gayung. Maksudnya, sih, supaya kecoa itu segera menjauh dari kedua telapak kakiku yang bisa sewaktu-waktu menggencetnya. Berkali-kali kusiram kecoa itu dengan air, sampai akhirnya, kecoa itupun tak lagi membuatku ‘menari-nari’ lagi. Mengapa? Karena tubuhnya sudah dalam posisi terbalik, dengan kaki-kaki yang bergerak-gerak di atas. Tentu saja dia tak bisa bebas merangkak kemana-mana seperti sebelumnya.

Aku pun mulai mandi dengan tenang, sambil sesekali mataku melirik ke kecoa yang kaki-kakinya tak berhenti bergerak itu. Ya, sekalipun aku tahu kalau kecoa itu sudah tak berdaya lagi, tapi tetap saja aku takut kalau sewaktu-waktu kecoa itu bisa dengan suksesnya membalikkan tubuhnya lalu mulai bergerilya lagi. Serem!

Tapi alih-alih merasa takut, aku malah menikmati ‘perjuangan’ kecoa itu. Bukannya aku suka melihat penderitaannya, lho, hanya saja dari kecoa yang tubuhnya terbalik itu aku mendapat permenungan yang luarbiasa.

Permenungan macam apa?

Jadi begini.

Aku melihat kecoa itu berusaha sekuat tenaga untuk bisa merangkak kembali. Dia menggerakkan seluruh kaki-nya terus menerus, tanpa kenal lelah. Tubuhnya pun berputar-putar seiring dengan gerakan kakinya. Semua dilakukannya tanpa henti, mungkin dengan harapan agar kecoa itu menemukan sebuah bidang atau permukaan yang tidak rata sehingga bisa menjadi titik tolak untuk membalikkan tubuhnya. Sampai dia menemukan tempat atau benda itu, dia akan terus-menerus menggerakkan kakinya.

Ada suatu masa ketika kecoa itu berhenti sebentar. Kupikir, dia sudah menyerah. Tapi apa yang kulihat selanjutnya? Kecoa itu bergerak lagi, dengan gerakan lebih kencang dari sebelumnya. Terus, terus, dan terus. Lalu berhenti lagi. Apakah sudah menyerah? Ah, ternyata tidak! Kecoa itu pantang menyerah, Kawan! Dia seolah mengumpulkan energi dulu untuk kembali berjuang. Dan ya… setelah bermenit-menit berjuang, kecoa itupun berhasil membalikkan tubuhnya dan merangkak lagi menyusuri lantai kamar mandi.

Satu hal yang menarik perhatianku adalah..
Dia tidak berani mendekatiku!

Mungkin dia tahu kalau aku adalah ‘biang keladi’ dari kesusahannya tadi, sehingga dia tidak berani lagi membuatku ‘menari-nari’ di atas tubuhnya dan memancing minatku untuk mengguyurnya sekali lagi. Dan mungkin, dia menarik pelajaran dari hal tidak menyenangkan yang dia alami barusan. Kecoa yang pintar!

Later that moment, it got me thinking.

Manusia dan kecoa.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Tuhan. Dianugerahi otak yang berkemampuan luar biasa dahsyatnya. Untuk survival kit, untuk membantu sesamanya, dan lain-lain.

Kalau kecoa? Semua pun tahu kalau di antara seluruh kawanan binatang, hanya Simpanse yang dikabarkan memiliki kepintaran yang dahsyat. Jadi, otak kecoa yang seupil itu tentu saja tidak akan sebanding dengan manusia.

Tapi coba lihat perjuangan kecoa tadi. Perjuangan kecoa yang tanpa henti untuk bisa survive tadi.

Bukankah dari otak yang seupil itu, tapi kecoa tadi seolah lebih pintar dari seorang manusia yang menyerah terhadap keadaan yang mengimpitnya dari kanan, kiri, atas, bawah, depan dan belakang?

Aku, contohnya.

Seringkali berputus asa terhadap sesuatu. Seringkali terjatuh dan terluka oleh sesuatu. Tapi, sekalipun kemudian ketika aku berhasil berdiri lagi di atas kakiku, aku malah mendekati sumber permasalahan yang sama, seolah aku tidak belajar dari kesalahanku yang kemarin-kemarin itu.

Mungkin aku tidak sendirian.

Mungkin ada manusia-manusia lain, kawan-kawanku di luar sana, yang pernah menjadi tak lebih pintar dari seekor kecoa di kamar mandiku.

Mungkin malah banyak manusia-manusia yang berhenti berusaha dan menyerah saja karena terlalu banyak masalah yang mengimpitnya. Mereka lelah berusaha dan tak melakukan apa-apa.

Tapi seperti yang dilakukan kecoa itu, istirahat boleh-boleh saja. Malah bagus untuk mengumpulkan energi, mengumpulkan pemikiran-pemikiran positif dan jernih untuk menentukan strategi. Sayangnya, banyak manusia yang berhenti berusaha dan membiarkan masalah itu berlarut-larut tanpa teratasi. Tidak seperti kecoa yang kemudian mengerahkan kekuatannya lagi, berusaha sekali lagi, banyak di antara manusia-manusia yang memilih untuk ‘selesai’, ‘sampai di sini saja’, ‘aku sudah lelah’.

Kalau kecoa itu saja tak pernah berputus asa, kenapa kita harus dengan mudah menyerah?

Kalau kecoa itu saja berusaha menghindari sumber permasalahan yang sama, kenapa kita masih sering kali terus mendekati sumber masalah itu dan mengulangi kembali ketololan-ketololan yang sama, padahal kita tahu apa akibatnya?

Dengan otak sehebat kita, Kawan, ironis sekali, bukan, kalau kita tak lebih pintar dari seekor kecoa di kamar mandiku tadi sore?

Masa, sih, kita mau kalah dari seekor kecoa yang mudah diinjak dengan satu injakan kuat, yang bisa mati seketika dengan buku yang dipukul keras, yang bisa sekarat dalam beberapa kali semprot pembasmi serangga?

Aku, sih, tidak mau kalah.

Kalau kamu, bagaimana?🙂

***

Depan Televisi, Minggu, 21 Februari 2010, 9.03 Malam

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

30 thoughts on “Kecoa yang Pintar!

  1. kecoa kurang ajar! ngintipin kak lala mandi! namun dimaafkan, karena memberikan sedikit pelajaran. ya kak.. aku juga sering kok, mainin kecoa, kukira dulu kecoa itu beneran bodoh, karena mustahil dengan punggung yang lengkung itu dia bisa berbalik dengan menggerakkan kakinya, sekencang apapun dia menggerakkannya. namun yah… lama2 dia bergeser karena getaran dari gerekan kakinya itu, bergeser… geser… sampai ke dinding, lalu kakinya meraih dinding, dan yak! dia telah berdiri, dan giliran aku yang lari…
    hehehe

    Posted by aurora | February 21, 2010, 11:12 pm
  2. berarti kita pun harus belajar banyak dari kecoa itu Jeunk:mrgreen:

    selamat malam & selamat beristirahat

    -salam hangat-

    Posted by Hariez | February 21, 2010, 11:43 pm
  3. eh kok komen gua gak keluar ya?
    cuma mau bilang kalo makhluk hidup emang dibekali dengan survival instinct… ya gak…

    Posted by arman | February 22, 2010, 1:13 am
  4. Hmmm…Postingan yg sangat Inspiratif. TOP🙂

    Posted by Rafi | February 22, 2010, 2:51 am
  5. aku takut sama kecoa,,selamat pagi semoga sehat selalu

    Posted by hendro | February 22, 2010, 3:02 am
  6. sepintar apakah kecoanya??? xiixixiiiii

    Posted by kank_ripay | February 22, 2010, 4:11 am
  7. itulah mengapa Allah menyindir dlm ayatNya bhw manusia yg tdk mggunakan akalnya dikatakan lbh hina dr binatang ternak…naudzubillah, kenapa lebih rendah? krn binatang tdk pnya akal n masih bertasbih pd Allah…
    kadang kita memang bisa belajar dr binatang mb lala, ktika saya menyampaikan konsep rejeki, kadang sy ambil contoh cicak, cicak yg notabene gak bs terbang tp makanannya nyamuk yg terbang, apa gak susah tuh? susah kalo kt berpikir rejeki itu semata usaha kita, tp tdk jk bpikir Allah lah yg menjamin rejeki setiap makhluknya, jd ketika manusia msh mengeluh dan bputus asa dr rejekinya, maka keimanannya perlu dpertanyakan…manusia wajib berusaha, dan hasil Allah lah yg menentukan, terlepas kita suka atau tdk dg hasilnya, yakinlah itulah yg terbaik yg dberikan Allah unt kita…makasih atas share nya

    Posted by oyen | February 22, 2010, 5:14 am
  8. hm..
    betul juga yang kamu bilang La..
    bahwa ternyata kecoa itu tidak mudah meyerah. ia berani bangkit dari posisi yang menghimpit.

    kita yg katanya makhluk paling pintar, kadang justru mudah menyerah, ketika keadaan sedang susah. padahal belum mencoba untuk keluar dari kesulitan itu.

    yak, mumpung hari senin, mengawali minggu ini dengan semangattttt!! *semangat gak harus senin kali yaaa…tiap hari.. :)*

    Posted by anna | February 22, 2010, 7:41 am
  9. banyak pelajaran yg bisa kita ambil ketika mengamati sekeliling kita, kalau saja kita mau.
    dan, untuk hal ini Jeung Lala adalah ahlinya, segala sesuatu bisa jadi pembelajaran dlm hidup.
    bunda salut dgn Jeung Lala yg begitu pandai melihat yg tak biasa.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 22, 2010, 8:27 am
  10. Huehehehe.. jangan meremehkan kecoa lhoo, Laa..

    Dulu gua pernah chatting ma temen gua and katanya dia tuh kulit kecoa itu lebih keras daripada kulit badak, ahahaha😀

    Jadi besok2 mungkin akan populer istilah : dasar kulit kecoa, buat menggantikan istilah “kulit badak” :p

    Tapi, sekalipun kemudian ketika aku berhasil berdiri lagi di atas kakiku, aku malah mendekati sumber permasalahan yang sama, seolah aku tidak belajar dari kesalahanku yang kemarin-kemarin itu.

    Ini mungkin karena manusia sering make perasaan😀 Dan lagii.. kadang kalo terlalu akrab ma yang namanya “luka” dan “sakit hati”, kadang tuh yaa kalo keadaan tenang2 aja, berasa ada yang “kurang”, hihihi..

    Posted by Indah | February 22, 2010, 9:25 am
  11. Kasian jg kadang2 kalo liat kecoa kebalik. Biasanya ya saya balikin lagi trus tak usir jauh2. Kalo matiin ga tega, kasian, mungkin dia jg punya keluarga.. hiks

    Posted by Darin | February 22, 2010, 10:13 am
  12. ada beberapa hal menarik yg mau aku sampaikan sehubungan tulisan yg cukup menggelitik saya buat komen ini ,
    pertama banget saya mau bilang itu kamar mandi kamu keknya penuh dengan binatang2 ya? coba dicek mungkin besok ada ikan pesut di bak mandinya,ataupun ada pterodactyl di langit2 kamar mandi kamu la (lebay dot com:D )

    kedua banget saya mau bilang kalo kecoak itu memang menjijikkan ,tapi soal survivalnya jangan ditanya,walaupun otaknya kecil,survival ini gak cuma mengandalkan otak belaka,tapi kemampuan fisiknya untuk beradaptasi dengan lingkungan jenis apapun yg menjadikannya sebagai survivor sejati. makanya ada istilah “survival of the fittest” kan?? liat aja di belahan dunia mana yg gak ada kecoak ini? dari gurun pasir sampai kutub utara pun ada,karena dia bisa survive segala cuaca. beda sama tikus ataupun simpanse ,yg mungkin secara otak lebih encer alias cerdas;p

    dan terakhir banget (ketiga) saya jadi ingat omongannya om mario teguh , bahwa kita harus belajar dari cacing,katanya cacing itu kalo kepanasan karena ada api di dekatnya akan bergerak menjauh,ketimbang diam saja. bandingkan dengan manusia yg cuma bisa mengeluh aja tapi gak gerak2. jadi selain harus belajar dari kecoak yg tdk pernah menyerah dan bisa survive,kita juga harus belajar dari cacing yg gak suka (bisa tepatnya) mengeluh.

    its true,we can learn something from all of GOD creation,including animal of course… and of course we must be better than all of them,because we are the ultimate of GOD’s creation:)

    Posted by didot | February 22, 2010, 10:43 am
  13. refleksi yg mantab

    Posted by depz | February 22, 2010, 10:59 am
  14. AWAS kecoa ngesot.!!! hehehee..😀
    gak banyak komen deh..

    Posted by adiarta | February 22, 2010, 11:15 am
  15. *merenung*
    aku merasa jadi manusia itu..yang tak lebih baik dari kecoa. tergores sedikit saja sudah menganggap luka itu tak bisa di sembuhkan..dan ketika bisa bangkit,kenapa justru terbelenggu pada masalah yang sama ??
    malu deh sama kecoa……

    *tapi dia ngak bisa bikin telor dadar kan ??😉

    Posted by idana | February 22, 2010, 1:33 pm
  16. ya ampunnn,,, keren nuy ceritanya jadi inspirasi hehe makasihh

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasih😀

    Posted by darahbiroe | February 22, 2010, 2:58 pm
  17. kecoanya disekolahin kali ya, hehehe

    Posted by yos | February 22, 2010, 6:35 pm
  18. Good story,,
    Thanks a lot😀

    Posted by Lu | February 23, 2010, 1:36 am
  19. kecoa yang inspiratif *eh*

    Posted by oglek | February 23, 2010, 2:36 am
  20. kecoa yang pantang menyerah… hehe..
    Kata konsultan ISO-ku: “tidak ada manusia yang gagal, yang ada adalah mereka berhenti berusaha sebelum mereka berhasil”. Liat kecoanya mb Lala, gk berhenti berusaha, makanya berhasil..🙂

    Posted by yustha tt | February 23, 2010, 8:46 am
  21. biar menjijikan tapi semangat kecoa untuk survive harus jadi motivasi manusia, keren mba…

    Posted by Mamah Aline | February 23, 2010, 8:59 am
  22. beginilah klo seorang penulis menulis…. apapun dapat menjadi ide tulisan dengan bahasa yang indah, dengan pesan yang dapat dikuras dari apa yang dilihat.. dengan analogi yang pas dan tentu dengan kekuatan kata-kata hingga tak bosan orang membacanya…. hebaatt… !!

    *tentang kecoa, saya geli dan jijik… untung saja katanya bila kecoa sudah berbalik, maka ia tak lagi bisa membalikkan tubuhnya sendiri, hingga mati… ( ini bagian dari hal yang tidak sama dengan manusia..) manusia selama ia berusaha dan berdoa maka akan ada saja jalan dan kemudahan … I’m sure about that…. meranalah orang-orang yang mudah berputus asa…

    Posted by ceuceu | February 23, 2010, 9:33 am
  23. Kalo aku sih mendingan dia jauh jauh deh..
    kalo cuma satu sih mendingan singkirin aja pake air.. trus hilang deh ntah kemana…

    Kalo banyak.. boleh deh … pake baygon atau sejenisnya.

    Posted by adelays | February 23, 2010, 12:01 pm
  24. manusia tuw lebih seringnya terlalu manja (termasuk gw kale ya…)😛
    bukan hanya kecoa, coba liat nyamuk..cari makan aja harus mempertaruhkan nyawa. hiks…

    Posted by Yessi | February 23, 2010, 2:26 pm
  25. Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan dan berpikir untuk belajar dari seekor kecoak.. Ilmu, pengetahuan, inspirasi, motivasi, hikmah memang bisa didapat dari mana aja..

    Semoga kita semua masih diberikan kesempatan dan berpikir untuk terus dan terus belajar serta mengambil hikmah dari kejadian/persitiwa yang ada di sekitar kita.

    Makasih La atas hikmahnya hari ini..🙂

    Posted by Laki-laki Biasa | February 23, 2010, 3:11 pm
  26. life can be a pain sometimes, but that should not stop us to keep moving forward….
    seperti kecoa yang berjuang sampai akhir masanya….
    excellent story….😉

    Posted by Cippy Bastian | February 23, 2010, 8:44 pm
  27. hhmmmm…. menginspirasi sekali mbak, tapi kok aku nggak takut sama kecoa yah, malah jijik sama semut gitu.aneh.

    Posted by tary curhat lagi | February 23, 2010, 9:37 pm
  28. mantap mbak, like thiz.
    semoga setelah membaca perenungan mbak lala ini, aq juga bisa belajar untuk tetap survive..

    keep chaiiyooo mbak,
    hev a naiz dei🙂

    Posted by Hasian Cinduth | February 24, 2010, 8:49 am
  29. lagi-lagi analogi yang menarik dari jeung😉
    kalo aku siy jelas ngga mau kalah sama kecoa, hehe..
    keep survive!

    btw, kita samaan lho, panik kalo liat kecoa..

    Posted by yani | February 24, 2010, 9:26 am
  30. Blog walking.

    Salam kenal.

    Semoga sukses selalu menyertai sobat ku.

    Posted by Yahya Adi Mulya | March 5, 2010, 12:03 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: