you're reading...
Learning from The Movies, Thoughts to Share

Who Are You?

Learning fromThe Movies Vol. 6

Aku sedang menonton film The Nanny Diaries. Sudah entah untuk yang keberapakalinya aku menonton, tapi kali ini ketika film itu usai, aku seolah mengantungi pesan yang sama sekali berbeda dibandingkan ketika pertama kali menontonnya lewat DVD playerku, beberapa tahun yang lalu.

Seperti yang pernah kubahas di tulisanku, Sebuah ‘Pesan’, bagaimana pesan-pesan yang terserak di seluruh jagat raya ini akan berkonspirasi untuk sampai kepadamu dengan cara-cara yang aneh — lewat lagu, lewat tulisan di billboard pinggir jalan, lewat orang-orang yang bersliweran di hadapan muka. Dan ya, di saat yang berbeda,Β billboard yang sama mungkin tidak akan memberikan pesan yang sama. Itu karena menurutku — yang kuadopsi dari pendapat kawan baikku, Indah — β€œThe right message will come along to our lives at the perfect time, somehow, someday.”

Ya.

Ada sesuatu dari film ini yang membuatku kemudian berhenti sejenak sesaat setelah film itu usai kutonton. Menghela nafas berkali-kali kemudian mengaktifkan laptop untuk mulai menulis.

Beberapa bagian di film drama yang sederhana ini ternyata mampu membuat otakku bekerja lebih keras — bak menonton film-film sekelas Oscar yang penuh dengan kata-kata njelimet, ide-ide yang luar biasa extraordinary. Sederhana saja, tapi membuat pikiranku penuh dengan pertanyaan.

Dan ini adalah sebagian kecil dari film tersebut yang membuat aku menghela nafas berkali-kali hanya karena aku merasa tersindir, kepepet, sampai ke pojokan! πŸ˜€

**

Annie Braddock, just graduated from college and decided to leave her home town and moved to the big Apple. On one particular day, she had an interview at a huge company, which she had to compete with 8,000 applicants for 10 positions only.

The woman from human resource: “So, why don’t you tell me, in your own words, who exactly is Annie Braddock?”

Annie Braddock: “Wow, that’s… uh… that’s certainly an easy enough question.”

“Mm hm.”

“Um… Annie Braddock is… a kind… Well… I… I am… um…”

“Go on…”

“Well.. you see… um..”

“Mm hm?”

“I, I… have absolutely no idea! Excuse me..” Then, she ran.

While she was running away, she thought, “Who is Annie Braddock? It wasn’t exactly a trick question, yet somehow I couldn’t formulate a response. Of course I knew all the basic facts — the date of birth, home town, socioeconomic make up. But I really didn’t know who I was, where I fit in, who I was gonna be. I was suddenly terrified I’d never find the answer…”

**

Pernahkah kamu mendapatkan pertanyaan seperti itu: Who are you?

Pertanyaan yang standar diajukan oleh pewawancara yang kemudian malah membuat seorang lulusan fakultas Antropologi seperti Annie Braddock kelagepan karena tak bisa menjawabnya?

Itu adalah pertanyaan yang sederhana. Basis, sekali. Tapi sama seperti tokoh utama di film itu, aku merasa hal yang sama. Kelagepan. Tak bisa menjawab.

Siapa sebenarnya aku?

Aulia Fita Retnani Prabandari atau Lala Purwono ini?

Sekadar perempuan berusia tiga puluh tahun, bekerja di perusahaan pelayaran internasional, dan punya cita-cita sebagai penulis?

Apa yang sebenarnya kuinginkan?

Dan betulkah itu yang benar-benar kuinginkan?

Ketika aku menulis page Jeung Lala, apakah memang seperti itu deskripsi yang benar soal aku? Apakah aku berhalusinasi ataukah ada sesuatu yang lebih komplikasi daripada sekadar perempuan yang kusebut bawel, genit, banyak omong, tapi juga kemayu itu?

Apakah yang paling benar adalah apa yang dibilang orang lain tentang diri kita? Bahwa kita itu begini dan begitu?

Tapi bagaimana soal keinginan-keinginan kita? Bukankah hanya kita sendiri yang tahu apa yang kita inginkan — sekalipun akhirnya merasa terjebak lagi dengan pertanyaan: betulkah ini yang kita inginkan.

Duh, duh.

Ribet bener mikirnya hanya karena ingin menjawab satu pertanyaan saja.

“So, why don’t you tell me, in your own words, who exactly is Lala Purwono?”

I’m dying to find the answers!

**

Annie Braddock pun berjuang untuk mencari tahu apa jawaban yang pantas untuk pertanyaan tadi. Siapakah dia? Siapakah SEBENAR-BENARnya seorang Annie Braddock? Ingin menjadi apakah dia? Kelas sosial yang manakah yang paling pantas untuknya? Yang tidak membuatnya harus bersakit-sakit karena bergesekan dengan kelas sosial yang timpang?

Seorang Sarjana Antropologi itu pun akhirnya harus bekerja menjadi seorang Nanny, pengasuh anak seorang keluarga kaya yang mendedikasikan waktunya untuk bersosialisasi dengan orang lain ketimbang anaknya sendiri. Menjadi Nanny membuatnya seperti besi yang ditempa sedemikian rupa sehingga akhirnya mulai mewujud menjadi sesuatu setelah proses tempaan itu selesai, karena hari demi harinya selalu diisi dengan pengalaman-pengalaman berharga yang tidak tergantikan.

Melihat keluarga kaya yang memiliki segalanya kecuali kebersamaan di sebuah sofa, merawat anak sakit yang menjerit ingin ketemu ibunya tapi sang Ibu sibuk bermeditasi sendiri di sebuah spa yang terkenal, berbohong pada Ibunya bahwa dia bekerja di sebuah bank padahal sejatinya dia dibayar mahal untuk menjadi Nanny — dengan mengantungi gelar Sarjana, sampai memergoki perselingkuhan Suami majikannya di ruang kerjanya.

Pengalaman demi pengalaman sehari-hari itu seolah penempa sebuah besi bernama Annie Braddock. Penempa itu akan terus-menerus membentuk karakter Annie, sehingga kelak, pada akhirnya, Annie bisa menjawab pertanyaan itu. “Siapakah sebenar-benarnya Annie Braddock?”

Seperti besi yang ditempa atau dibentuk menjadi apa saja, tapi kemudian pada akhirnya ia akan menjadi satu wujud atau bentuk yang paling sejati. Pisau? Golok? Atau panci, mungkin? Kelak, akan berwujud juga, setelah melewati berbagai macam proses yang mungkin tidak akan selamanya mudah.

Di ujung cerita, diceritakan kalau Annie akhirnya bisa menjawab pertanyaan itu dengan lugasnya. Dia mengetahui apa yang dia inginkan — yaitu bersekolah kembali. Dia mengetahui siapa dia. Dia mengetahui bahwa hari kemarin adalah pengalaman berharga yang telah memahatnya menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Dan, kawan, itu setelah dia membiarkan dirinya berproses. Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan sederhana — yang rupanya tidak sederhana itu. Butuh waktu, butuh energi, butuh kemauan, untuk berproses.

Kalau aku tidak menemukan jawabanku sekarang, mungkin esok atau lusa, atau minggu depan, bulan depan, tahun depan… entah kapan, aku akan menemukannya.

Jadi untuk hari ini, kubiarkan diriku menikmati prosesnya, sembari mengganti kepingan DVD itu dengan DVD The Stepford Wives saja…

Siapa tahu ada bahan buat nulis lagi! πŸ™‚

***

Kamar, Rabu, 17 Februari 2010, 9.56 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

21 thoughts on “Who Are You?

  1. pernah nonton juga film ini, tapi nggak sedalem ini mengkajinya… πŸ™‚
    tapi emang bener La…semua berproses, sampai akhirnya kita mengetahui siapa diri kita dan untuk apa kita hidup…
    Tampaknya Usia Kepala Tiga Ini, banyak perenungan baru ya La… *sotoy mode on* :mrgreen:

    Posted by atmakusumah | February 17, 2010, 10:35 pm
    • Haha.. maklumlah, Mas… Wong aku ini kurang kerjaan, kok.. Jadinya apa-apa dipikirin dalem-dalem.. hehehe…

      Memang butuh waktu untuk mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, jadi biarkan sajalah proses itu berjalan secara alamiah… πŸ™‚

      Usia kepala tiga?
      Maksudnya: semakin tua, jadi banyak merenung, gitu? wekekekekeke…

      Posted by jeunglala | February 17, 2010, 10:37 pm
      • haha…gak juga La…tapi katanya usia kepala tiga kita sudah mulai menjajaki fase menemukan “diri sendiri” itu, pastinya tiap orang merasakan dan menyikapinya berbeda-beda La…gak harus selalu banyak merenung… πŸ˜€

        Lala said
        Hehehe.. benar juga, Mas Atma… yang aku tahu, ketika usia sudah kepala tiga, wujudnya sudah mulai keliatan… *lah, emang selama ini nggak keliatan? sembunyi gitu? hehehe*
        Ada banyak cara untuk menemukan siapa sebenarnya kita… dan aku, tentunya dengan cara menjalani dan banyak merenung… *sambil merenung, siapa tahu tiba-tiba ada yang kasihan terus ngajak makan, gituh… hehehehehe*

        Posted by atmakusumah | February 17, 2010, 10:42 pm
  2. Ahh, Laa.. itu bener bangets, film or buku yang sama kalo dibaca di waktu yang berbeda, bisa memberikan pemikiran yang berbeda pula, ahahaha πŸ˜€

    Who am I?

    Sejauh ini.. yang paling “pas” buat gua pribadi adalah : the soul traveller, ahahaha ^o^

    (eehh.. perlu dijawab ngga sih pertanyaan “who is Lala Purwono”-nya? Atau itu cuman pertanyaan retoris? :p)

    Apakah yang paling benar adalah apa yang dibilang orang lain tentang diri kita? Bahwa kita itu begini dan begitu?

    Hmm.. I personally think yaa ngga githu jugaa.. orang bebas berpendapat apapun tentang diri kita and kita juga bebas untuk ngga menjadikan pendapat mereka sebagai patokan dari pendapat kita tentang diri kita sendiri :p

    It’s true.. orang lain mungkin lebih bisa ngeliat sisi diri kita yang ngga keliatan karena kita terlalu “dekat” dengannya sehingga jarak pandang kita terbatas, but.. it’s also true kalo kita yang seharusnya lebih tau diri kita itu seperti apa karena kita yang menghabiskan 24/7 bersama dengan diri kita πŸ˜‰

    Yaa.. di-mix and match aja laahh.. pendapat orang dijadikan masukan sambil ditimang2 : bener ngga sih kita kaya githuu? Ngga perlu langsung ditelan bulat2 jugaa πŸ˜€

    *nyambung ngga, Laa? :p*

    Posted by Indah | February 17, 2010, 10:42 pm
    • Hehehe… Tergantung suasana dan mood, ya, Neng.. πŸ™‚

      Setuju banget, Neng, kalo yang lebih tahu soal kita adalah kita sendiri, yang 24-7 nggak pernah pergi dari sisi kita.. πŸ™‚
      Pendapat orang lain hanya sebagai bahan untuk introspeksi, tapi selebihnya, kita yang akan menentukan, apakah pendapat itu adalah sebuah amunisi untuk memperbaiki diri atau malah kerikil pengganggu yang musti dikebas biar nggak susah jalannya… πŸ˜€

      Nyambung atau nggak?
      Duh, gue malah takut kalau jawaban gue yang nggak nyambung… wekekekekeke

      Posted by jeunglala | February 17, 2010, 10:51 pm
  3. saya punya pertanyaan la : saat kamu ditanya sekarang dan misalnya aja kamu tau jawabannya bahwa kamu adalah lala si ini dan si itu (yg begini dan begitu) karena katakan aja kamu sudah menemukan jawabannya seperti si annie braddock itu,nah apakah jawaban itu pasti tidak akan berubah ,setelah…. katakanlah 10 tahun dari sekarang?

    menurut saya pribadi ,selalu ada proses dan hidup itu sangat dinamis,kadang pengetahuan membuat kita berubah,dari segi keinginan dan juga dari segi2 lainnya. tidak ada yg benar2 tau dirinya,karena hidup adalah proses mengenal diri tanpa henti,tapi bolehkah kita berandai2,seandainya kita tahu pun ,kita tidak akan pernah berhenti untuk menjadi berbeda lagi?

    ah ini cuma andai2,seperti 12 tahun lalu ,saya gak pernah nyangka kalo saya akan jadi seorang muslim hari ini, hanya Allah yg maha membolak balikkan hati yg tau sesungguhnya siapa kita,mungkin itu kali ya la? kita hanya berharap kita mengenal diri kita,padahal kita hanya melihat bayangan ego kita sendiri dalam banyak kesempatan…

    btw saya senang nih sama tipe lala,kalo nonton harus dapat sesuatu untuk direnungkan,agar dibawa kembali dalam kehidupan nyata. dan saya suka tulisan ini,isinya sangat filosofis,sangat mendasar… ditunggu komennya ya la:D

    Posted by didot | February 17, 2010, 11:16 pm
    • Hai, Didot yang lagi nungguin komen… πŸ™‚

      Sekalipun aku belum bisa menjawab pertanyaanku itu saat ini — dan kelak insyaAllah bisa — aku yakin kalau jawabanku akan terus berubah, mengikuti kondisi, kedewasaan, pencapaian yang sudah diperoleh, dan banyak faktor lain yang akan memengaruhi. Karena apa? Karena proses itu tidak akan pernah berhenti, selagi nafas masih mampu dihembus. Proses itu akan berjalan terus dan terus, sehingga akibatnya, ketika proses itu belum berhenti, jawaban itu akan terus berproses pula.

      Soal bayangan ego itu, Dot… oalah… kok kamu pinter banget sih, Dooottt.. πŸ™‚
      Seringkali jawaban yang keluar dari mulut kita adalah perwujudan ego kita, keinginan kita sendiri… Bagaimana kita mengetahui jawaban yang sejati? Hm, kalau kamu tahu caranya, Dot, ajarin aku ya.. hehehe…

      Mm, kalo soal kebiasaanku mencari sesuatu untuk direnungkan… well, karena emang aku ini orangnya kebanyakan mikir, Dot.. hehe… dan kalau sudah kebanyakan mikir, daripada menuh2in otak, mendingan aku tuangin lewat tulisan aja… Siapa tahu hasil perenungan yang sering bikin sumpek kepala itu bisa bermanfaat buat orang lain… πŸ™‚

      Itu aja sih, Dot.
      Udah cukup belom balasan komentarku ini? πŸ™‚

      Posted by jeunglala | February 18, 2010, 8:33 am
      • terimakasih atas responnya bu lala (kek lagi ngomong sama customer servis operator telepon ya??hihihi)

        kalau menurutku sih akhirnya jawaban terjujur dari siapa kita akan kita dapatkan di hari kematian kita ,dari orang2 terdekat kita…

        bagaimana mereka mengenang kita?
        apa arti kita bagi kehidupan mereka?

        ini jelas lebih jujur daripada kita yg jawab sendiri.

        seperti jika saya bertanya kepada sahabat2 terdekat saya,seandainya saya mati hari ini,apa yg mereka rasakan saat mendengar berita itu? mereka akan ngomong apa tentang saya? apakah hal yg baik? atau yg buruk? keliatannya apa yg mereka omongkan itulah diri saya tanpa distorsi.
        gimana setuju kalo jawaban ini lebih obyektif la??

        Posted by didot | February 18, 2010, 4:05 pm
  4. rata2 orang emang mengalami hal begini la. at least, gua pernah ngalamin dan beberapa temen gua pernah cerita juga ngalamin.

    emang ada saat dimana kita tuh jadi bertanya2. siapa kita, apa yang kita inginkan, kita mau apa…
    i think that’s what people called the quarter life crisis. soalnya emang di usia2 ini kita lagi bingung. antara udah dewasa tapi belum mapan. udah mandiri tapi gak mandiri sepenuhnya. bener2 dalam phase perubahan besar-besaran.

    tapi emang gak ada yang bisa bantu. yang bisa bantu dan bisa ngejawab ya diri kita sendiri. butuh waktu, pasti. asal jangan dibawa stres aja ya… πŸ™‚

    Posted by arman | February 18, 2010, 12:28 am
    • Quarter life crisis.
      Ya, proses pencarian jati diri yang disebabkan oleh krisis eksistensi diri.

      Setiap orang pasti pernah mengalami hal ini, ya, Man. Masih belum bisa berpijak dengan tenang di sebuah daratan, sehingga terombang-ambing ke sana sini, mengikuti gelombang yang dipijaknya. Fase ini memang akan berlalu setelah kita benar-benar mengetahui apa yang kita inginkan, dan ya.. butuh proses juga, seperti yang kamu bilang…

      Aku setuju kalau tidak ada yang bakal bisa membantu selain diri kita sendiri.
      Dan ya, stress tidak akan membuat prosesnya menjadi lebih cepat.. Malah mungkin, kagak selesai2 kali yee… hehehehe….

      Posted by jeunglala | February 18, 2010, 8:44 am
  5. Udah nonton juga itu film.. bagus…
    betul juga yg Lala bilang… kita juga sering bingung ya ‘mendeskripsikan’ siapa diri kita, apa yang kita inginkan, apa yang kita uju, bla..bla…

    tujuannya, dengan bisa mendeskripsikan diri kita sendri.. kita jadi punya ‘peta kekuatan’ diri kita sendiri.. ya nggak?

    peta kekuatan?? perang kali yaaaa…:)

    Posted by anna | February 18, 2010, 5:58 am
    • Hehehe.. perang terhadap musuh2 yang berwujud kehidupan yang keras, kali, An.. hehehehe

      Betul banget, An.
      Dengan mengetahui seperti apa kita, our positives, our negatives, our strength, our weak… bikin kita bisa mengukur seberapa mampu kita dalam menghadapi sesuatu. Ini bikin kita nggak nekat terjun ke pertempuran yang tidak masuk akal untuk kemampuan kita..

      Misalnya:
      udah tahu otak dodol untuk urusan itung-itungan, udah deh, nggak usah nekat ambil jurusan matematika saat kuliah… hehehehe…

      Posted by jeunglala | February 18, 2010, 8:39 am
  6. makanya dibanyak blog aboutnya saya isi dengan keterangan tentang isi siblog dan temanya…bukan tentang saya. Dan kalaupun ada yang bercerita tentang saya biasanya hasil copas dari aboutme di blog sebelumnya. Soalnya emang susah bener cerita tentang profile diri sendiri. Bingung euy…

    Posted by bukan detikcom | February 18, 2010, 12:44 pm
  7. and who is Yessi Greena? ummphhh…emang susah ya jawabnya.

    Posted by Yessi | February 18, 2010, 1:10 pm
  8. itu pertanyaan paling sulit la
    sampe sekarang aku ga bisa describing myself sumpeeeh

    Posted by gerhanacoklat | February 18, 2010, 5:02 pm
  9. Wahhh siapa ya Lala Purwono?? Maaf belum kenal sih.. Coba kalau sudah kenal, pasti aku bisa tebak.

    Posted by Kika | February 18, 2010, 6:07 pm
  10. tapi gak ada yang berubah loh dari Oyen TK mpe sekarang, tetep uimuuuuttttttt……..tapi kenapa yah tiap kali Oyen bilang kalo Oyen uimuutt kagak ada yg percaya, padahal pan Oyen kagak bo’ong

    Posted by Oyen | February 18, 2010, 7:27 pm
  11. wah sayang saya belum menonton film itu,kapan2 nonton ah. . . d^^

    hmm. . . . proses hidup memang berat dan proses setiap manusia itu berbeda2 dan memiliki hasil yang berbeda pula.

    Posted by atma djaya | February 18, 2010, 7:56 pm
  12. who am i??? πŸ˜€
    think about myself by myself… πŸ™‚

    Posted by adiarta | February 19, 2010, 11:43 am
  13. siapa kita sebenarnya,memang yg tau diri kita sendiri dan tentunya orang lain jg berhak utk menilai,krn biasanya kita kurang teliti melihat sisi negatif diri kita. seperti kata pepatah: semut diseberang lautan kelihatan, tapi gajah didepan mata tak nampak.
    Semoga saja Allah swt menjadikan kita orang2 yg bermanfaat utk orang lain, dan ketika maut menjemput, akan banyak orang yg kehilangan diri kita sambil membicarakan kebaikan2 kita,amin.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 19, 2010, 8:13 pm
  14. tampilan baru ya Jeung?
    sampai pangling, untung pas ketok2 , bener Jeung Lala yg bukain pintu :d
    salam

    Posted by bundadontworry | February 21, 2010, 12:47 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: