you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Surat Buat Seekor Kodok Kecil di Kamar Mandi

Ada beberapa jenis binatang yang aku benci.

Dari yang sejenis ular, belut, ulet bulu, dan cacing yang kelonjotan, sampai sejenis reptil seperti cicak, biawak, komodo, dan dinosaurus (biarpun aku memang bukan manusia purba atau pernah bermain-main ke masa lalu dengan mesin transporter buatan Lang Ling Lung, nggak kebayang harus hidup damai berdampingan dengan T-Rex yang sewaktu-waktu siap menerkam. No way!).

Aku juga nggak hobi bermanis-manis dengan tikus (emang ada, ya?). Cute, sih. Apalagi yang di film Rattatouile — tolong koreksi tulisannya kalau salah — udah lucu, pintar masak pula. Tapi pada kenyataannya, yang namanya tikus got itu jauh dari kesan manis-manisnya. Apalagi kalau sudah ketahuan nyolong beberapa bungkus mi instan lalu mengeratnya sampai tak tersisa. Duh. Nggak tahu, apa, kalau mi instan sekarang harganya mahal?

Tapi above all, ada satu binatang yang sangat aku benci. Memang, ular menempati urutan pertama, tapi karena kemungkinan pertemuannya sangat kecil sekali – alhamdulillah – maka yang menempati urutan pertama saat ini adalah Kodok.

Iya. Kodok.

Mister Kermit the Frog.

Binatang yang hobi loncat ke sana ke mari, dengan tubuh warna gelap dan licinnya, yang suka juga melet-melet sambil jakunnya mengembangkempis gitu, dan suaranya terdengar kencang saat musim penghujan tiba.

Ya. Kodok yang itu. Rasanya tak perlu aku jelaskan lebih detil, kan?

Aku memang benci sekali dengan kodok. Kalau aku tahu ada kodok di dekatku, aku bisa menjerit-jerit histeris dan lebay, seolah kodok itu bakal melompat ke arahku, mengencingi mataku — kan, dulu aku selalu ditakut-takuti dengan air kencing kodok yang kabarnya bisa membuat buta, jadi ngeri juga lah!, atau memanggil seluruh koloni-nya untuk menyerbuku! Beugh. Bisa pingsan aku jadinya.

Sekalipun ada yang iseng berkomentar, “Ah, La. Gimana kalau kamu cium aja kodoknya. Siapa tahu dia ternyata Pangeran ganteng yang tersihir?”

Dan aku cuman menatapnya sambil berkata, “Lha, iya kalau dia Pangeran. Kalau ternyata emang beneran kodok, kamu mau tanggung jawab aku sudah melakukan tindakan tidak pantas pada seekor kodok?”

Jijik banget, kan?

Jadi, ya. Aku benci sekali dengan kodok. Kalaupun memang kodok itu benar-benar seorang Pangeran yang dikutuk sama Nenek Sihir, aku nggak peduli. Salah sendiri menjelma kok jadi kodok. Kenapa bukan jadi kucing, kelinci, atau anjing saja biar lebih enakan dikit?πŸ™‚

**

Tapi, seperti kata pepatah. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kalau sudah waktunya ketemuan sama kodok, ya aku nggak bisa menolak. Pagi ini, saat aku sedang melaksanakan kewajibanku di kamar mandi, mendadak aku berteriak-teriak histeris di kamar mandi dengan lebaynya, sampai menarik perhatian kakakku.

“Kenapa, Mbul?” tanyanya. Oh ya, Mbul adalah nama panggilan sayang untukku dari Bro dan tidak direkomendasikan pada kamu-kamu semua untuk memanggil aku dengan nama itu! Hehe.

“Ada kodooookkkk!!!!!”

Aku pun segera menuntaskan kewajibanku. Memflush wese dan segera angkat kaki dari dalam kamar mandi.

“Di mana?”

“Nempel di deket wese! Persis di deket kakiku, tadi!”

Aku keluar dari kamar mandi sambil berlari-lari. Kewajibanku memang belum sepenuhnya kelar, tapi kupilih untuk menuntaskannya di kamar mandi depan.

Bagaimana mungkin aku bisa berada di satu ruangan dengan seekor kodok yang tadi meloncat-loncat dengan riang gembira seperti itu? Kenapa, sih, si Kodok malah seakan-akan menikmati tarian ala Cacing Kepanasanku tadi, sehingga dia ikut meloncat kesana-kemari sambil melet-melet gitu? (hiperbolis.com)

Daripada musti berpandangan-pandangan dengan kodok ijo lumutan seperti itu, mendingan aku pindah ke kamar mandi depan, deh. Maaf, sekali benci tetap benci, hidup benci!

Saat berpapasan dengan Bro, dia bilang, “Lah, tapi tadi kok lama di kamar mandinya?”

“Kan aku nggak sadar kalau tadi ada kodok di deket kakiku…”

“Lah, padahal kan dari tadi kodoknya ada di situ, Mbul? Begitu tahu, kok malah langsung takut…”

Mendengar kalimat kakakku itu, seketika aku tercenung.

Aku yakin, kodok itu sudah nangkring di dekat wese sejak tadi. Sudah berlompatan dengan asyik di dalam kamar mandi, tanpa aku ketahui. Dan ya, aku baik-baik saja.

Tapi begitu tahu dan melihat wujudnya di situ, aku langsung ketakutan setengah mati dan lari tungganglanggang — lebay, lagi — ke kamar mandi depan.

Hm.

Mendadak, sebuah pemikiran melintasi isi kepalaku dan membuat aku tersenyum kecut.

**

Aku pun mulai sok pintar, tadi pagi. Sambil menuang isi gayung di kamar mandi, aku pun mulai menganalogikan peristiwa beberapa saat yang lalu dengan sebuah pemikiran yang lain.

Kodok itu kuibaratkan sebagai sebuah wacana dan pengetahuan.

Ketika manusia mengetahui sesuatu, misalnya rasa sakit kalau sebilah pisau atau cutter menyayat kulit, kita pasti akan lebih berhati-hati dan menghindar.

Ketika manusia mengetahui kalau menyetir dengan kecepatan tinggi bisa berakibat fatal, kecelakaan yang dahsyat, terpelanting di jalan raya dan jika Tuhan tidak memperpanjang kontrak maka bisa meninggal di tengah jalan, manusia mencoba untuk menghindari kebut-kebutan — ya, buat yang sadar, sih.

Ketika manusia mengetahui kalau terlalu banyak makan jerohan bisa bikin kolesterol dan itu bikin jantung koroner, mereka berlomba-lomba menghindarinya.

Tapi lucunya, kok ketika Tuhan sudah jelas-jelas berkata bahwa melakukan ini adalah dosa, melakukan itu adalah dosa, dan melakukan ina inu bakal berujung ke kekekalan dalam neraka, kok ya masiiiihhh ada yang berbuat yang demikian, ya?

Contohnya, ya aku sendiri.

Banyak, lah, yang tidak aku lakukan dan seharusnya aku lakukan, tapi kok aku malah tidak sehisteris saat mengetahui jantungku ada kenapa-kenapa, misalnya?

Itu dia kenapa tadi pagi, di tengah-tengah ritual mandiku, aku merasa senyumku getir sekali, masam sekali.

Melihat kodok yang berloncatan begitu saja aku histeris, lalu berusaha untuk menghindarinya.

Lah, kenapa aku tak pernah histeris dan bergerak dinamis serta kontinyu untuk menghindari sekecil apapun perbuatan yang membuahkan dosa? Berinteraksi terlalu akrab dengan lelaki, misalnya. Sering menunda waktu sholat sampai seringkali menjelang Maghrib aku baru menunaikan Ashar…

Duh, Gusti!

Nyuwun pangapunten sedaya kelepatan dalem!

Tolong jangan tutup loket penjualan karcis untuk membuka pintu Surga-Mu, ya. Aku masih mencari-cari cara untuk membelinya… Please

**

Jadi, pagi ini, kuputuskan untuk menulis surat buat seekor kodok kecil di kamar mandi yang tadi sempat membuatku histeris tapi kemudian malah menjadi semacam reminder untukku.

Kodok Kecil di Kamar Mandi,

Terimakasih, ya, buat kehadiranmu pagi ini. Aku jadi belajar sesuatu dari kamu, aku jadi teringat pada nilai-nilai yang sempat terlupa, aku jadi tahu bahwa aku harus berubah.

Tapi jangan GR dulu. Aku masih benci banget sama kamu. Aku masih jijik banget sama kamu. Aku masih nggak kepengen ketemu kamu. Sudah, cukup. Pertemuan kita sampai di sini aja. Kita putus aja. ^_^

Jadi, this is our final goodbye, ya, Dok, Kodok.

Dan kalaupun kita berjodoh untuk ketemu lagi suatu saat nanti, bisa nggak, sih, kamu agak kalem sedikit? Nggak usah leloncatan girang gitu dan pipis sembarangan? Ya? Bisa, kan, ya?

Ya suds, lah.

I’m sorry, but goodbye…

Salam manis dari yang paling manis,

Luna Maya

ehhh…

Dewi Lestari

ups!

Iya, iya. LALA PURWONO, deh!

***

Kantor, Selasa, 9 Februari 2010, 3.25 Sore

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

43 thoughts on “Surat Buat Seekor Kodok Kecil di Kamar Mandi

  1. eitsss ati2 lho jangan sembarangan nyium kodok. kayak film nya disney yang baru itu pas kodoknya dicium malah yang nyium ikutan jadi kodok! huahahaha

    Posted by arman | February 10, 2010, 1:30 am
  2. Seru nih baca tulisan Lala.. Agak datar di awal, sangat dalam di tengah (karena ada perenungan yg luar biasa), dan ringan a.k.a. lucu di akhirπŸ™‚

    Makasih La atas renungannya pagi, sangat berarti kita2 msh suka alpa mengingat-NYA. Semoga ALLAH Azza Wajalla msh memberikan kita waktu u/ memperbaiki diri dan kembali ke fitrah kita sbg hamba-NYA yg hanya mengabdi kepada-NYA.. amin yaa Rabb..

    Btw, saya paling sama tikus..bukan takut tapi jijik, jijik banget..hiiy..

    Posted by Duddy | February 10, 2010, 6:53 am
    • sangat berarti kita2 msh suka alpa mengingat-NYA.

      *** maksudnya, sangat berarti buat kita2 yang masih suka alpa mengingat-NYA.

      Posted by Duddy | February 10, 2010, 8:52 am
      • Hehehe…
        Kayak naik jet coaster, dong, Mas… awalnya biasa, terus makin seru, dan akhirnya berhenti juga.. hehehe..

        Eh, btw
        Tikusnya nggak jijik sama sampeyan, kan? hehe

        Posted by jeunglala | February 10, 2010, 4:43 pm
  3. Selamat Pagi,Jeung, selamat beraktivitas.
    setuju Jeung, ayat Allah swt ada dimana2, hanya kita saja yg kadang gak tau atau pura2 gak tau utk menyadarinya.
    Alhamdulillah, Jeung Lala telah diberikan hal yang istimewa utk segera bisa mendapatkan hikmah lewat seekor kodok. Bunda jadi iri, Apapun peristiwanya Jeung Lala selalu bijak dlm menghadapinya dan selalu mendapatkan sesuatu dr sana.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 10, 2010, 8:54 am
    • Sore, Bunda.. *sudah sore, sekarang*πŸ˜€

      Pelajaran itu terserak di mana-mana, dalam setiap guliran waktu yang dipersembahkan untuk kita, tapi hanya orang2 tertentu yang mencoba belajar darinya….

      Aduh, Bunda… Aku yang iri sama Bunda… Bunda selalu bijaksana… terbukti dengan tulisan-tulisan Bunda setiap hari… Aku menulis posting setiap hari adalah terinspirasi dari Bunda, yang setiap hari selalu memulai dengan mempersembahkan cerita yang layak direnungkan… Go, Bunda, go!πŸ™‚

      Posted by jeunglala | February 10, 2010, 4:50 pm
  4. cerita yang inspiratif

    Posted by Bayu Probo | February 10, 2010, 9:06 am
  5. hahaha…
    kalau mau bilang makasih sama kodoknya, ya makasih aja mbak..
    gak usah pake tapi-tapi-an kale…
    hahahha…..

    Posted by Hasian Cinduth | February 10, 2010, 9:22 am
  6. jiah… itu kodok sebenernya pangeran kamu la,coba kamu cium,nanti dia berubah jadi pangeran tampan. kan katanya kita gak boleh ngejudge dari covernya dulu??wkwkwkwkwk….*kaborr sebelum disambit si mbul eh lala:D

    Posted by didot | February 10, 2010, 11:19 am
    • Eeeeeeehh…
      buat aku ya, Dooottt.. Kodok ya kodooookkkk….
      Mau jelmaan apapun, terseeraaahhh…… :))

      Eh, btw,
      prinsip ngejudge itu emang betul, Dot..
      Buktinya, dibalik kemasanmu yang begitu, kamu ternyata boleh jugaa.. wakakakakakak

      Posted by jeunglala | February 10, 2010, 5:12 pm
      • kemasan saya?? emang saya makanan kaleng la??:D

        jelek2 gini saya halal lho,halaahh apaan coba??;p

        Lala said
        Yakin, kamu nggak mengandung babi, Dot? hihihihi

        Posted by didot | February 10, 2010, 6:37 pm
  7. Aku nggak takut pada kodok, tapi tetep sebel kalau dia sampai masuk ke dalam rumah. Ada sejenis kodok yang enak dimakan, dijadikan swike…tapi denger-denger ada agama yang melarang umatnya mengkonsumsi binatang ini…

    Posted by nanaharmanto | February 10, 2010, 11:47 am
    • Aku jijik banget kalo ngeliat kodok, Mbak Na. Seringkali jadi sangat imajinatif, ngebayangin dia leloncatan dan mipisin mataku…πŸ™‚
      Iya, kabarnya kodok itu enak, tapi sayangnya aku nggak boleh makan…πŸ™‚

      Posted by jeunglala | February 11, 2010, 10:47 am
  8. dpt renungan lg..
    shalat dulu yu..

    Posted by z4nx | February 10, 2010, 12:24 pm
  9. wah kodok nya beruntung banget bisa di kamar mandi ama lala.. hihi

    yaaa… tulisan ringan ini sarat makna La, bercerita ttg kodok di kamar mandi dengan ending mengingatkan kita semua tentang memlihara ‘rasa takut’ kepadaNya…

    nice post..

    Posted by anna | February 10, 2010, 1:14 pm
  10. Kodok??? Wuiiihhh….ikutan ngabuurrr…..

    Posted by chocoVanilla | February 10, 2010, 1:16 pm
  11. Hohoho.. welcome back, Laa, hihihi.. kangen ma postingan2 eloo yang bisa mengaitkan hal2 kecil yang sering terjadi (tapi sering luput dari perhatian banyak orang) dengan hidup secara keseluruhanπŸ˜‰

    Happy Rabuu ^o^

    Posted by Indah | February 10, 2010, 1:53 pm
  12. Kesimpulannya, fobia kodok donk…πŸ˜€

    Posted by adiarta | February 10, 2010, 2:15 pm
  13. SALAM KENAL dan SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI.WAH…WEB-NYA CUKUP INFORMATIF …OYA,BISA PASANG BANNER/LINK GA YAH…???
    HTTP: / / DUTACIPTA.WORDPRESS.COM πŸ™„

    Posted by denindodutacipta | February 10, 2010, 3:18 pm
  14. sebelnya pernah sang kodok masuk ke kamar dan pipis sembarangan. arghhh….. dasar kodok ngak sekolah

    Posted by orange float | February 10, 2010, 4:45 pm
  15. begitulah, kadang kita ini lebih mengutamakan sesuatu yang tampak ketimbang yang tak tampak. Lebih utama yang terlihat daripada yang gaib. contohnya ya itu, karena dosa itu ga terlihat seperti kodok…maka kita entneg saja melakukannya meski akibatnya lebih fatal dari peristiwa kodok.

    Posted by Kanvas Virtual | February 10, 2010, 5:09 pm
  16. manah yah komentarkuh?? perasaan dah nulis tadih

    Posted by Kanvas Virtual | February 10, 2010, 5:10 pm
  17. hihhihi…. semoga kodok-kodok yang ada di dunia ini membaca suratmu La…

    Posted by ceuceusovi | February 10, 2010, 5:36 pm
  18. Hahahahaa….
    Kalau aku ga geli sama kodok tapi hewan2 yg dirimu sebutkan di atas sekali itu. Cacing, belut, huehhhhhh! Bisa pingsan klo dekat2 mereka. Hueekk jijik banged, sampai waktu jalan kaki trs liat ulat kecil sedang melintas aja aku reflek muter jalan. Padahal jarak juga ada 50 cm.
    But kodok itu menijikkan karen basah dan jorokkkkkkkkkk.

    Posted by zee | February 10, 2010, 7:14 pm
  19. hehehhe gimana ya rasanya jadi tuh kodok dapet surat cinta dari lala yang terkenalitu
    hikz jadi ngiri gw

    Posted by gerhanacoklat | February 11, 2010, 12:13 am
  20. Hihihi … waktu loncat-loncat histeris di wese itu, lebih indah mana loncatan Lala sama loncatan kodok?

    Kenapa orang nggak histeris waktu mengabaikan perintah Tuhan? Ya karena surga dan neraka itu masih abstrak, masih ‘entah kapan’. Hawong setiap orang jelas akan mati saja kita nggak siap-siap untuk mati toh?

    Posted by tutinonka | February 11, 2010, 1:24 am
  21. manusia itu sbnrnya makhluk last minute. baru efektif saat udah kepepet. sama seperti karet yg baru berfungsi saat direnggangkan. untungnya Tuhan selalu memberi kesempatan kedua. Tuhan tau watak bawaan manusia..

    ngmg2, kodok mah enaknya dimakanπŸ˜†

    Posted by elia|bintang | February 11, 2010, 4:59 am
  22. Asik neh Jeung renungannya, mengena dan disampaikan dengan ringan…tapi dalem…
    banyak silaturahmi mampu membuat kita jadi pribadi yang saling mengingatkan…

    salam saya

    Posted by atmakusumah | February 11, 2010, 6:17 am
  23. Hahahahahah,….. (ketawa dulu)…. Ternyata rumor kodok itu tidakhanya didaerah saya saja,.. di Jakarta juga seperti itu,.. “awas kena pipis kodok, ntar matanya bisa buta”…. makanya jdi takut dipipisin ama kodok….. Ga nyangka saya mbak lala,… akhirnya berbuah manis, suatu penyadaran dari kasus kehidupan yg sederhana,…. mantap,…

    Posted by avartara | February 11, 2010, 8:30 am
  24. tahu gak mbak kenapa tiap ketemu mbak tuh kodok loncat-loncat…soalnya DIA JUGA JIJIK LIATIN EMBAAKKKK…kalo kodok punya blog, pasti posting juga tuh..ho..ho…kidding.com

    Posted by Oyen | February 11, 2010, 9:33 am
  25. hihihi..dapet salam dari kodok belakang rumah gw, LaπŸ˜›

    Posted by Yessi | February 11, 2010, 10:15 am
  26. cerita yang menarik nunggu yang baru lagi

    Posted by sai | February 11, 2010, 10:27 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Kecoa yang Pintar! « the blings of my life - February 21, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: