you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Penting, ya, kalian ngomel gitu?

Pagi ini, aku pergi ke rumah sepupuku yang akan menikah bulan Juni nanti. Dari pagi sampai siang, aku dan keluarga besar berkumpul di rumahnya untuk berangkat bersama-sama ke rumah calon suaminya. Judulnya adalah berkunjung balasan — karena prosesi lamaran sudah dilakukan bulan Desember kemarin.

Jadi pagi tadi, dengan berbatik ria dan make up tebel, aku sampai di rumah sepupuku yang letaknya di Surabaya Coret itu. Tapi saat aku sampai di sana, Melati — sepupuku — masih semedi di dalam kamarnya dan entah melakukan apa. Berhubung Melati dan aku memang sangat dekat, aku langsung saja mengetuk pintu kamarnya dan masuk ke dalam setelah dipersilahkan.

Begitu masuk, aku dan Mbak Ira — kakak iparku — langsung terperangah. Astagah! Sudah terlambat satu jam tapi Melati masih belum rapi juga! Rambutnya masih berwujud seperti rambut Megaloman yang megar ke kanan dan ke kiri. Masih bingung pula mau memakai baju yang mana. Wajahnya belum tersentuh bedak sama sekali. Beugh, aku yang nggak ikutan mau kawin aja langsung senewen.

“Mau pake baju apa, Dek?” tanyaku. “Ada kebaya?”

Melati menggeleng. “Kebayaku di gudang, Mbak…” Dia memang baru pindahan, sih.

“Batik, ada?”

Sekali lagi, Melati menggeleng. “Ada…. tapi di gudang semua.”

Aku mulai senewen, tapi kemudian aku memilih untuk mengaduk-aduk isi lemari pakaiannya. Mencari-cari pakaian yang pantas untuk dikenakan di acara yang penting ini. Pertemuan keluarga, gituh. Tampil cantik dan sopan adalah wajib hukumnya.

Setelah bermenit-menit aku pusing di depan lemari, akhirnya aku menemukan satu kemeja berbahan sutra lembut berwarna ungu.

“Ini aja, deh. Bawahannya pake rok aja. Punya, kan?”

Melati tersenyum. “Mbak Lala… Sejak kapan aku pake roookkkk???” Si Tomboi ini memang nggak pernah terlihat memakai rok.

“Iya, deh. Celana aja… tapi yang feminin… Jangan jeans!”

Akhirnya diputuskan, untuk melengkapi penampilannya tadi pagi adalah celana bahan berwarna abu-abu. Lumayan lah, untuk seorang perempuan yang lemarinya cuman berisi kaus oblong, celana jeans, dan jas almamater! Daripada nekat juga pakai jas lab — sepupuku ini dokter hewan — kemeja dan celana masih lumayan, lah.

Usai menemukan baju dan celana, aku dan Mbak Ira mulai bagi tugas. Mbak Ira mengurusi rambut Megaloman-nya Melati dan aku yang merias wajahnya. Rambut Melati dicepol darurat dengan meminjam jepit mbak Ira yang alhamdulillah tersimpan di dalam laci dashboard mobil dan wajah Melati ku’sulap’ dengan riasan yang natural. Tipis-tipis saja.

Saat aku dan Mbak Ira sedang bagi tugas itulah, dari luar aku mendengar teriakan-teriakan dari mulut-mulut Bude-nya Melati — dari Ayahnya, kalau aku dari garis keturunan almarhumah Ibunya.

“Melaatttiii…. ayoooo…. ndang cepetaaaann… kamu itu ngapain aja, siiihhhh….”

Melati pun membalas. “Iyaaa… sebentar lagiii….”

Tak sampai dua menit, terdengar teriakan lagi. “Kamu ini ngapain aja tho, Meeelllll…”

“Ini lho, lagi siap-siap….” kata Melati.

Tapi lima menit kemudian, Bude-Bude dan sepupu-sepupu Melati membuka pintu kamar dan menerobos masuk.

“Ya ampun, kamu ini pakai baju apa tho, Meeelll…”

Komentar pertama. Baju. Tau nggak sih, ente, kalau ini adalah baju yang paling pantes buat dipakai di acara nanti?

“Rambutmu itu lho…. Aduuhh…”

Komentar kedua. Rambut. Yang kebetulan, saat itu sedang dirapikan lagi karena sebelumnya agak berantakan. Huh, belum lihat aja rambut Megaloman-nya Melati tadi!

“Bude A itu kan perias penganteeennn…. Kok kamu nggak minta tolong Bude A aja, sssiiihhh….”

Komentar ketiga. Make up. Kenapa emangnya hasil riasan saya? Jelek? Kayak Badut? Mel cantik-cantik aja, kok!

Lalu Bude A pun ikutan mengomel.

“Tau kalo minta dirias mbok ya bilang dari tadiiii….” Sambil menarik Melati dan mulai memberesi rambutnya. “Diem aja di kamar… Nggak diapa-apain…”

Bujugbuneng! Lah, wajahnya yang sudah berbedak, berblush on, berlipstick, ber-eyeshadow gituh, apa nggak keliatan? Gitu dibilang belum diapa-apain? Beugh! Gimana yang udah diapa-apain, ye?

“Wong udah tau kalau Bude A itu perias penganten, kok nggak minta tolong Bude A aja, sih…” kata si Bude B dengan mata yang berbinar-binar menyebalkan.

Iye, iye. Perias penganten. Aye ngerti, kok. Aye denger, kok. Sumprit, pendengaran aye masih beres-beres aje! Asli, tadi jemariku segera mengepal kayak petinju siap bertarung! πŸ˜€

“Iya, Melati ini. Kamu kok nggak bilang kalau nggak punya baju… Kan bisa bilang sama aku,” si Sepupu bawel mulai berkomentar dengan nada sinis. “Masa pake baju begitu, sih…”

Idih!

“Melati iki pancen ndableg, kok…” Bude B ikutan komentar.

“Iyo, yo… Wis, tha. Melati iki…” Bude A, si perias penganten itu, ikutan ngomentarin.

Di dalam kamar yang ukurannya cuman 3 Β kali 3 itu, yang tadinya hanya diisi oleh aku, Melati, dan Mbak Ira, serta satu fan kecil yang berusaha sekuat tenaga untuk mencegah hadirnya keringat, saat itu makin gerah dan gerah saja. Kira-kira ada sekitar 4 kepala lagi nongol di sana dan semuanya ngomel panjang pendek!

Sumprit. Tanpa mereka mengomel, kamar sudah gerah. Nah, terbayang betapa gerahnya setelah mereka muncul berikut dengan omelan-omelan mereka kan?

Saking kesalnya, aku pun hanya bisa berkata sedikit kencang. “Mel, Mbakmu pusing di sini dengerin kayak begini. Aku tunggu di luar aja.”

Lalu aku keluar dengan kesal dan Melati pun hanya pasrah di dalam kamar, diserbu dengan saudara-saudaranya yang nyinyir itu.

**

Aku memang bukan orang yang senang bilang, “Aduhhh… coba kamu tadi begini…”

Atau, “Kan mestinya kamu tadi begitu…”

No, no. No way.

It already happens. Sekalipun sampai ribuan kali sepupu Melati tadi bilang, “Coba kamu tadi bilang sama aku kalau nggak ada baju…” memangnya bisa mengubah apa? Kecuali dia punya time machinenya Lang Ling Lung atau pintu ajaibnya Doraemon, boleh deh dia bilang begitu.

Dan ya. Daripada sekadar ngomel, kenapa dari tadi nggak masuk ke kamar Melati dan bertanya apa yang bisa dibantu. Kebetulan, Bude-nya kan perias pengantin, masa nggak mau segera berinisiatif buat merias keponakannya yang tomboi ini? Memangnya, dia pikir, bakal turun peri yang kemudian bakal mengayunkan tongkat ajaibnya lalu Melati bakal tampil cantik dalam hitungan detik?

Aku datang hampir empat puluh menit lebih terlambat dan melihat Melati masih kebingungan di dalam kamar. Tanpa banyak cingcong, aku dan Mbak Ira segera bagi tugas. Nah, apa yang dilakukan si Bude -yang perias pengantin itu- selama itu? Nungguin apa? Plis deh, Bude!

Dari dulu, aku memang paling nggak suka untuk mengatakan kalau saja kamu atau coba tadi kamu, atau gini, “Kamu sih nggak begini…”

Tidak akan mengubah keadaan. Tidak akan mengubah apapun, kecuali semakin bikin kesal, gugup, dan panik.

Daripada banyak ngomel, kenapa nggak segera melakukan sesuatu agar situasi yang genting ini bisa segera teratasi? Omelan tidak akan mengubah apapun. Aku percaya, Melati menyesal dengan apa yang TIDAK dia lakukan dan ini adalah pelajaran buat dia, kelak. Jadi yang paling penting adalah do something instead of talk about it.

Makanya, saat tadi aku mendengarkan omelan-omelan yang meluncur keluar dari mulut-mulut para Bude dan para Sepupu itu, aku memilih untuk keluar dari kamar dan tidak banyak cingcong.

Daripada mendadak aku bilang, “Please, deh. Penting ya kalian ngomel begitu?”

Sambil tentunya, mengepalkan tinju, menggulung lengan baju, dan memasang kuda-kuda. Preman, kok, ditantang! πŸ˜€

***

Depan televisi, Minggu, 7 Februari 2010, 8.08 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

38 thoughts on “Penting, ya, kalian ngomel gitu?

  1. weiss.. saya paling ga bisa ngomel mbak… !! suer.. capek di mulu dan pasti ga enak di kuping orang yang denger :). pernah maen ke rumah temen yang punya anak 3 tahun, dan selama di situ saya denger istrinya terus terusan ngomelin anaknya itu… ‘aduh..kok makannya berantakan si..’ .. ‘aduh… itu nasinya pada jatoh…’ ..’aduh bisa diem ga.. ‘… aduh gimana si..ini liat jadi kotor lantainya.. nanti banyak semut…’ dan bla..bla..bla… sakit bener di telinga ..!!.. saya cuma mikir.. tinggal dudukin anak itu di meja makan, ambil lap pel, bersiin makanan yang jatoh.. beres!

    Posted by ceuceu | February 8, 2010, 12:13 am
  2. itulah sikap kebanyakan masyarakat kita La; sepertinya di tangannya semua beres dan menafikan apa yang orang lain telah lakukan. sebal memang, tapi melawan dengan ocehan juga bukanlah sikap yang arif. keputusanmu meninggalkan mereka itu adalah sangat tepat. kebayang kan betapa hebohnya kamar itu jika ocehan mereka mendapat balasan dari seorang Lala? hahaha… πŸ˜€

    Posted by vizon | February 8, 2010, 8:27 am
    • Bener Uda.
      Ada orang2 tertentu yang menganggap dirinya yang paling cihuuiiii padahal dia kadang cuman bisa OMDO alias Omong Doang.. huh!

      Anyway,
      kalo aku ikutan bereaksi, jangan2 malah nggak jadi berangkat Uda… heboh duluan di rumah sampai melibatkan polisi, wasit tinju, dan suporter bonek segala! hihihi

      Posted by jeunglala | February 8, 2010, 9:34 am
  3. yup…memang ga ada gunanya nyari kambing (hitam) dan menganalisis panjang lebar apa yang sudah terjadi. Lebih baik langsung cari solusinya aja…

    BTW…aq pengen banget nulis tentang ini secara suamiku tercinta itu suka banget mencari kambing instead of nyari solusi…sigh…..dan aku bingung mesti ngomong yg bagus kek gimana biar suamiku ga ngerasa di guruin….*hehehe..ini ibu2 curhat karena salah satu dari 3 anaknya mesti jadi kambing kalo ada lainnya yg nangis…..*

    Posted by Dewi | February 8, 2010, 9:01 am
  4. lg blogwalking dan menemukan tempat baca yang menarik..

    salam kenal jeng:)

    Posted by iip albanjary | February 8, 2010, 9:18 am
  5. weh, emang paling sebel kalau menemui situasi yg kaya begitu, sudahlah tdk membantu, yg ada ngomel terus dan mengkritik.
    dan, kita itu memang seringnya utk complaint tuh gampang banget, banyaklah yg bisa jadi juara utk itu.
    sikap yg sangat tepat Jeung, dgn meninggalkan ”arena tempur” yg mulai memanas.
    padahal seperti Jeung Lala bilang, semua omelan itu sudah pasti tdk membantu.
    so……………………just let it happen and enjoy it.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 8, 2010, 9:49 am
    • Betul, Bunda. Kalo mau bikin perlombaan “Siapa yang Paling Pinter Komplain”, pasti pemenangnya banyak buanget… πŸ™‚

      Iya, mendingan aku keluar dari arena daripada menambah kisruh suasana. Lagian, sebagai seorang preman, rasanya kok tertantang banget nyalinya buat berbuat sesuatu.. hihihi

      Yang udah terjadi, ya sudahlah, terjadilah… πŸ™‚

      Posted by jeunglala | February 8, 2010, 10:23 am
  6. biasanya orang begitu kelihatan uneducatednya..maaf yah..tapi yah begitulah biasanya dikamopung saya

    Posted by boyin | February 8, 2010, 9:51 am
  7. Hahahaha,…. Gaswat neh klu preman dah turun tangan, bisa-bisa omelan itu berubah jadi pertumpahan darah,…. Ya saya setuju dengan mbak lala,… keluhan, omelan, kritikan tanpa adanya action nyata itu yg membuat keadaan semakin runyam saja. Dan itu banyak terjadi tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, dipemerintahan juga seperti itu, semua merasa dirinyalah yg benar dan harus diikuti, klu disuruh bertindak,.. eee malah mengelak dan beralasan.

    Posted by avartara | February 8, 2010, 9:51 am
    • Haaaaii..
      Iya, nih. Preman kok ditantang.. Biar cakep gini, tetep saja jiwanya preman.. hehehe…

      Eniwei,
      Sepertinya memang kerap terjadi di masyarakat, dalam segala aspek. Kalau di sidang2 wakil rakyat juga begitu, kan.. Sayangnya jarang sekali yang bisa meredam ngototnya dan melakukan sesuatu yang lebih signifikan.. πŸ™‚

      Posted by jeunglala | February 8, 2010, 10:34 am
  8. hehehehe…aku pernah ngalamin kejadian sama la…lebih tepatnya lagi itu kawinan salah satu temenku (cowok) ketika aku sampai rumahnya dia blom diapa2in kebetulan kemarinnya sudah ada pesta di tempat cewek hari itu pesta dirumah cowok. si mempelai perempuan aja blom ngapa2in…dudududu…akhirnya yg dandanin aku ehhh malah si ibu ceweknya ngomel2 sebel deh rasanya.

    membantu lebih berguna kali di banding ngomel.

    Posted by Ria | February 8, 2010, 10:40 am
    • Waduh, Ria… Tos dulu kalo gitu! πŸ˜€

      Sebel banget kan, Ya, kalo kita udah ngelakuin tanpa banyak cingcong, eh yang laen cuman modal ngomel doanggg.. .Beugh! Menyebalkan sekali!

      Kalo Ria kan kalem..
      Lah kalo aku kan preman abis gini. Kebayang kan, Ya, betapa horornya kalo kemarin aku nurutin emosi? hehehe…

      Posted by jeunglala | February 8, 2010, 10:47 am
  9. hu-uhm, La..kayanya kebanyakan emang gitu..ngomel doang tapi ga ngapa-ngapain..
    NATO..No Action Talk Only…xixixixiix πŸ˜‰

    Posted by Yessi | February 8, 2010, 11:11 am
  10. Adakalnya perlu, walau tidak penting

    Posted by Ersis Warmansyah Abbas | February 8, 2010, 11:21 am
    • Betul, Pak EWA. Selalu ada takarannya, selalu ada waktu yang paling tepat. Kalau sedang kisruh begitu, sepertinya kok kurang tepat kalau masih mau ngomel tanpa melakukan apa-apa dan tak akan mengubah apapun juga…

      Posted by jeunglala | February 8, 2010, 10:57 pm
  11. walah..kalo ga nyabar bsa jdi perang dunia I, antar cewe..he he..

    Posted by z4nx | February 8, 2010, 11:25 am
  12. Aiihh.. Bude2.. kalian pada ke mana ajee?!

    Orang udah sibuk dandanin aja baru ributs dhe aww, dari tadi diam ajaa..

    Posted by Indah | February 8, 2010, 11:52 am
  13. hahay! bener banget. mending langsung action daripada terakhir2 menyesalkan keadaan. *waduh! saya tertohok nih dengan komentar saya sendiri* :mrgreen:

    Posted by morishige | February 8, 2010, 11:58 am
  14. ga peuntingggg bangettttttttttt ngomel yg ga perlu πŸ˜€

    berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih πŸ™‚

    Posted by darahbiroe | February 8, 2010, 1:10 pm
  15. Banyak memang sodara yg modelnya begitu. Gak mau turun tangan klo gak diminta. Jadi nanti klo sodara udah kliatan jelek, baru dehhhh keluar monyongnya, kok ga minta bantuannn… kok bla bla blaa…

    Posted by zee | February 8, 2010, 1:10 pm
  16. wkwkwkkwkwk…..rasain lu, kena omelan orang nyinyir…. sikat aja bleh….:D

    Posted by tatiek priyanto | February 8, 2010, 2:04 pm
  17. bude A kan sibuk ngrumpi sama bude B
    ngrumpiin ibu tetangga itu lohh
    masa ga tau sihh la?

    oiya lupa kan preman ga suka ngrumpi
    *komen opo toh ikiii*
    hahahha

    kaburrrr

    Posted by depz | February 8, 2010, 6:20 pm
    • Wakakakakak.. Depzz.. Depzz.. jadi tergelitik buat komenin komen elo, ahahaha..

      *elo ikutan ngerumpi bareng Bude A and Bude B yaa, Depz? Makanya tau mereka lagi ngerumpiin ibu tetangga ;)*

      Wakakakakak πŸ˜›

      Posted by Indah | February 8, 2010, 8:58 pm
      • Hehehe..
        Padahal di situ, gue nggak nulis si Pakde D, ya, Ndah… kok dia bisa tahu gituu… wekekekekekeke…

        piss ah, Depz! πŸ˜€

        Posted by jeunglala | February 9, 2010, 12:10 am
  18. Baca ceritamu jadi mangkel juga. kalo aku, pasti aku bakal langsung pulang dan ga ngikutin acaranya…

    Posted by Fanda | February 9, 2010, 1:06 pm
  19. Yup…setuju…emang sebel kalo ada yang bilag…kalo ini…kalo itu…
    tambahin lagi sama “apa gue bilang…..”…nyebelin banget….

    salam kenal ya jeung:)

    Posted by Erry Andriyati | February 20, 2010, 10:24 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Twilight Express » Bela Diri - February 8, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: