you're reading...
Fiktif, Thoughts to Share

She’s Beautiful

She’s a beautiful girl.

Dengan kaca mata berlensa setebal pantat botol, rambut berponi yang biasa dikuncir ekor kuda, dengan dua gigi kelinci, juga dengan dua buah tahi lalat yang tumbuh di dekat bibir bawah serta samping mata kirinya.

She’s a beautiful girl.

Dengan pakaian yang sederhana; kemeja dan celana kain bermotif tabrakan, dengan tas selempang yang lusuh, dengan sepatu olahraga yang itu-itu saja, juga dengan tambahan suspender yang membuatnya nampak seperti perempuan yang lugu.

Some people may call her a Geek or even a Clown.
But, still… she’s beautiful.

Di balik kaca mata berlensa setebal pantat botolnya, dia pernah memandangku dalam-dalam dan bertanya, “Kamu baik-baik aja, kan? Mau aku temenin?” Lalu dia duduk di sebelahku. Tenang. Diam. Tak menghujani kalimat-kalimat menghakimi yang sering kudengar. Kedua mata cantiknya yang bersembunyi di balik lindungan kaca mata tebal itu, sesekali mencuri pandang ke arahku, mencari tahu apakah aku masih menangis.

Dan dia duduk di sebelahku, diam saja di situ menemaniku yang menangis gila. Dia hanya bilang, “Kamu boleh nangis di bahuku, kok…” dan akhirnya aku menangis di bahunya dan dengan segera harum rambutnya yang berponi dan berkuncir ekor kuda itu menerobos masuk ke hidung dan membuat paru-paruku nyaman seketika. Ya. Mendadak, aku merasa sangat tenang hanya dengan mencium harum rambutnya..

Bermenit-menit aku menangis di bahunya, sampai aku malu sendiri. Saat itu, aku mengangkat wajah dan memandangnya lalu berucap, “Maaf… bahumu jadi basah…”

Lalu, dua gigi kelincinya tersaji di depan mataku karena ia tersenyum hangat padaku. “Lebih baik bahuku yang basah daripada kamu sedih,” katanya setelah itu.

Wajah bertahi lalat besar-besar itu ada begitu dekat di depan wajahku. Kedua matanya yang terlindung di balik kacamata tebal itu terus mencoba untuk menenangkanku.

“Lagipula, bajuku nanti akan kering kembali, kan? Jadi kamu nggak perlu kuatir…” Dia berkata sambil membetulkan letak kemeja bermotif garis-garis yang sedang ia pakai saat itu, yang sedikit lusuh karena aku sempat menangis di bahunya. Di atas baju yang mungkin menjadikannya olok-olokan karena tidak matching dengan celananya, beberapa waktu lalu menjadi tempat aku menumpahkan segala air mata karena putus cinta.

“Yang harus dikuatirkan adalah kamu. Yakin, kamu nggak kenapa-kenapa?” tanyanya.

Aku mengangguk kuat-kuat. “I’ll live, anyway…”

“Kamu pasti bisa melewati ini, kok,” katanya. “Kamu cantik. Dunia berpihak kepada orang-orang sepertimu…”

“…”

“You’re not like me. Kalau kamu seperti aku, mungkin kamu akan menangis sepanjang masa,” katanya saat itu sambil tergelak.

Ah! Betapa menyenangkan mendengarkan tawanya saat itu! Seulas senyum segera terbit di wajahku.

“Are you feeling better now?”

Aku mengangguk.

“Good,” katanya. “Sekarang aku pergi dulu, ya?” Dia berdiri.

Aku tak sempat mencegahnya berdiri, saat itu.
Aku tak sempat menggamit lengannya, saat itu.
Karena dengan segera, setelah ia berkata, “Semoga kamu baik-baik saja, ya? He’s just another bastard and he doesn’t deserve any of your tears…” perempuan itu beranjak pergi, meninggalkanku sendirian, memandangi sosoknya yang berlalu menjauh.

Sosok perempuan, dengan baju dan celana bermotif tabrakan, ditambah dengan suspender, yang melangkah pergi dengan kaki-kaki beralaskan sepatu olahraga, membawa tas selempangnya yang sudah nampak lusuh, itu melangkah pergi. Menjauh. Dan hilang dari jarak pandangku.

Dia tidak meninggalkan harum parfum apapun yang bisa menusuk-nusuk indera penciumanku.
Dia hanya meninggalkan sebuah kehangatan, persis di hatiku.

Yeah.
People may call her a Geek.
Or even a Clown.

Dengan penampilan culun yang sering menjadi bahan olok-olokan, orang menganggapnya aneh.

Tapi tidak di depan mataku.

She’s not a geek.
She’s not a clown.In fact,
She’s an angel.
Malaikat yang diturunkan ke bumi, saat seorang manusia membutuhkan pertolongan ketika tidak ada manusia lainnya yang mengambil peduli padanya. Malaikat yang sengaja turun ke bumi untuk menenangkan hati seorang manusia yang sedang berkubang rasa sedih dan kesepian.

She’s an angel. A beautiful one.
And I wonder if she knows that she is…

***

Kamar, 22 Juli 2009, 11.09 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “She’s Beautiful

  1. ijin mengamankan pertamaxxxxxxxxxxxxxx

    berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya

    Posted by darahbiroe | February 5, 2010, 1:14 pm
  2. salam kenal aja ya hehehe
    eh, ada post baru tuh di rumah ane
    šŸ˜†

    Posted by andika | February 5, 2010, 1:23 pm
  3. Fiksi? Juli 2009?
    Mmm…nice story mb..

    Posted by yustha tt | February 5, 2010, 5:22 pm
  4. setiap kita selama ini hanya memandang dr tampilan luar yg wah saja, ternyata dibalik tampilan lusuh dan tdk menarik ada hati yg luas dan kasih sayang tak terbatas.
    she’s really an beautiful angel.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 6, 2010, 7:19 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: