you're reading...
Thoughts to Share

The Unfinished Business

Lelaki bermata sipit yang sering kusebut “Taiwan” itu menyalamiku di suatu pagi. Dia mengucapkan ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Papi, seminggu yang lalu. Senyumnya nampak tulus, juga sepasang matanya terlihat tulus sekali. Seolah dia ikut merasakan apa yang aku rasakan. Oh, setidaknya, mencoba untuk put himself in my shoes.

Are you OK, now?” tanya Taiwan, usai menyalamiku.

Hm, not that OK. It still feels so hard to let him go…” jawabku.

Lalu dia tersenyum. “Well, Lala. At least, you know where he’s going. At least, you know for sure that your father has gone to someplace.

What do you mean?”

Remember how I’ve told you about my father, don’t you?”

Seketika itu juga, ingatanku melayang ke percakapan kami setahun yang lalu, sehingga aku bisa memaknai kalimat-kalimatnya tadi.

Setidaknya kamu tahu kemana Ayahmu pergi..
Setidaknya kamu tahu dengan pasti kalau Ayahmu telah pergi ke suatu tempat…

Ya.

Aku mungkin lebih beruntung daripada Taiwan yang tidak pernah tahu kemana Ayahnya pergi, bertahun-tahun yang lalu…

**

Beberapa tahun yang lalu, Ayah si Taiwan pergi meninggalkan rumah. Tak meninggalkan pesan apapun, Ayahnya pergi. Lelaki tua dengan tubuh setinggi 185 senti itu pergi dan tak pernah pulang ke rumah lagi sejak saat itu.

Segala cara sudah dilakukan untuk mencari tahu kemana perginya sang Ayah. Menghubungi kantor Polisi, mendatangi setiap rumah sakit di penjuru kota, mendatangi kamar mayat dan mencari tahu apakah Ayahnya ada di sana. Sekaligus, menitip sampel DNA dan berkoordinasi dengan pihak rumah sakit serta kepolisian agar suatu saat, jika ditemukan jenasah dengan ciri-ciri tubuh yang mirip dengan sang Ayah, mereka bisa segera menghubungi pihak keluarga.

Setelah bertahun-tahun, setelah melewati pergantian tahun baru Imlek berkali-kali, tetap saja tidak terdengar kabar baik berhembus di keluarga mereka.

My mother is getting older every year, Lala. I want her to move in to my house, stay with me, with my wife and kids. I want to take care of her in her old days. But she refused to do it… She didn’t tell me her reason, but we all know why she chose to stay…

Karena sang Ibu memang tidak ingin meninggalkan rumah itu; rumah yang pernah ditinggalinya dengan suami yang kini entah berada di mana. Dia ingin tetap ada di rumah, just in case, suaminya memutuskan pulang atau seseorang datang ke rumah, mengabari kalau telah menemukan suaminya. Dead or alive.

“My mother always prays that somehow, someday, there will be any information about my father. Her heart’s still wondering where her husband is. Is he OK? Is he dead? Is he with someone else? Is he sick? She’s dying to have the answers.

Aku tercenung mendengarnya. Hatiku terasa perih. Apalagi melihat sepasang bola matanya yang nampak berkaca-kaca saat bercerita pagi itu. Berusaha kutahan sekuat tenaga agar air mataku tak ikut tumpah. Jujur, dengan hati yang sedang berduka seperti ini, lalu melihat seseorang bercerita mengenai Ayahnya yang menghilang, aku seperti merasakan energi yang sama. Kesedihan yang sama.

That’s why I told you, Lala. At least you know where your father’s going… Me? I don’t know where he is, now. I really don’t have any clue at all.

Aku terdiam dan memilih untuk menjadi pendengar yang baik saja.

Sometimes I have this thought… I better hear a bad news that he’s dead or something and stop wondering…

**

The unfinished business.

Belum terasa lega sampai semuanya selesai.

Pernahkah kamu memiliki perasaan seperti itu? Berpisah dengan seseorang yang kamu sayangi tanpa tahu apa alasan yang melatarbelakanginya, lalu orang itu menghilang begitu saja tanpa pernah bisa ditemui lagi?

Misalnya saja, kamu berpisah dengan pacar tercintamu. Suatu ketika, dia memutuskan untuk menghilang tanpa kabar. Tak meninggalkan pesan apapun, lalu pergi begitu saja tanpa pernah diketahui kemana rimbanya.

Apa yang kamu rasakan?

Kecewa? Marah? Bertanya-tanya apa yang salah? Dan ngomel panjang lebar kalau sebaiknya dia secara gentle bilang sama kamu, putus baik-baik saja, biar kamu tak perlu bertanya-tanya lagi?

Setidaknya, kamu tidak akan menghabiskan waktumu untuk bertanya-tanya apakah kesalahanmu, apakah alasannya, dan mulai melanjutkan hidupmu.

Ya, the unfinished business yang akan membuatmu merasa tidak tenang sampai the business is finished.

Aku pernah merasakan hal yang sama, dua tahun yang lalu. Betapa jengkelnya aku karena Pacarku saat itu memilih untuk pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Hampir setahun aku berkubang dengan rasa marah yang luar biasa, dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dengan kecamukan rasa sedih yang tak kunjung selesai. Sampai akhirnya aku sadar, it’s all about letting go.

Merelakan dia pergi tanpa alasan.
Merelakan dia menyakitiku tanpa alasan.
Merelakan dia melakukan apa yang ingin dia lakukan, tanpa perlu menjelaskan apapun.

I let him go. No questions. Period.

The business is finished.

The show is over.

The curtain is down.

Good bye.

**

Meninggalnya Papi yang mendadak — meski didahului sakit, tapi saat itu aku tak pernah menyangka kalau Papi bakal meninggal, apalagi sebelumnya Papi masih asyik bercanda — masih merupakan unfinished business buat aku.

Jujur, aku masih belum bisa sepenuhnya let go. Masih tersisa perasaan tidak rela dan terkaget-kaget karena kini aku sudah yatim piatu. Masih terngiang di telingaku suara Papi saat meneleponku di kantor setiap sore, sehingga yang kurasa, Papi masih ada dan tidak pulang ke peristirahatannya yang terakhir.

I can’t let him go.

Masih banyak yang ingin aku lakukan bersama Papi. Masih banyak sekali permintaan Papi yang belum aku penuhi. Masih banyak cita-cita Papi yang belum aku wujudkan.

I can’t let him go.

Tapi, apakah dengan tetap berkubang dalam perasaan seperti sekarang, akan membuat kesedihanku berkurang?

Papi tetap pergi.

Dunia tetap berputar.

Jarum jam tetap bergerak, sekalipun aku ingin berdiri statis atau berenang dalam luka dan perasaan tidak rela.

Sama seperti Taiwan yang bilang, “Sometimes, I better hear a bad news than keep on wondering where he is now…

Apakah sebaiknya Taiwan merelakannya saja, menganggap bahwa sang Ayah memang sudah benar-benar pergi, tidak akan kembali, sehingga dia bisa melanjutkan hidupnya, dengan orang-orang yang dia cintai?

Ah.

Aku tahu, aku tak berhak menjawab pertanyaanku berusan. Aku tak berhak berkata pada Taiwan, “Well, you should let him go..” Karena aku tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua tanpa tahu kemana mereka pergi, apa yang membuat mereka pergi.

Biarlah Taiwan itu menyelesaikan urusannya sendiri.

Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik jika suatu saat dia membutuhkan telinga untuk mendengar ceritanya. Atau memberikan usapan di punggung ketika dia membutuhkannya.

Seperti pagi itu.

Ketika air mata mulai merebak di sepasang matanya, aku hanya bisa menepuk punggungnya sambil berkata perlahan, “Well, Taiwan. Be stronger, OK…

Dan dia pun memandangku sambil mengucapkan hal yang sama, “You too, Lala. Be stronger…

Pagi itu, dia melangkah masuk menuju ruang meeting kantor dan aku kembali naik ke lantai tiga untuk menyelesaikan laporan overtimeku. Dengan langkah perlahan, aku menapaki anak-anak tangga untuk menuju ke meja kerjaku dan duduk kembali di hadapan sebuah laptop yang layarnya nampak terang.

Sosok Papi terlihat di sana.

Memakai kaos abu-abu, bertuliskan Hard Rock Cafe Singapore, topi gelap, berkacamata hitam, dengan tangan berkacak di pinggang. Papi terlihat sangat tampan dan gagah. Senyum yang sumringah di wajahnya makin menguatkan karakternya yang tegas namun lembut dan penyayang.

Seketika air mataku mengalir perlahan.

This business won’t be finished, until I let myself finish it…
Dan jahat sekali kalau aku memberikan bandul-bandul pemberat di setiap langkah kaki Papi menuju peristirahatan terakhirnya, kan?

Hmm…

I really think that it’s about time for me to let my father go.
Not just because he deserves to have a pleasant journey.
But also because…
I love him.

***

Kantor, Kamis, 4 Februari 2010, 12.08 siang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

24 thoughts on “The Unfinished Business

  1. he never go..
    he will be always in your heart
    forever…

    Posted by Yessi | February 4, 2010, 2:34 pm
  2. Ah, Lala, sometimes love is to holding on, but sometimes it’s about letting go. Yang pasti, the memory of love will linger and nothing can take that away, not even death, because love is stronger than death.

    Posted by G | February 4, 2010, 3:05 pm
  3. move on be brave, don’t weep at my grave because i am no longer here
    but please never let your memory of me dissapear
    -the spirit carries on, dream theater-

    sedih itu manusiawi mbak, tapi jangan berlarut-larut, karena sedih yang berlarut akan membuat sampeyan keliatan menyedihkan 🙂

    Posted by mas stein | February 4, 2010, 5:57 pm
  4. Iklash la…memang susah ngelakuinnya tapi itu senjata ampuh untuk menyelesaikan yg blom bisa terselesaikan 🙂

    I know you can do it…be strong ya la…

    Posted by Ria | February 4, 2010, 6:50 pm
  5. Kunjungan perdana nich.
    Salam knal buat anda, sukses slalu buat anda!
    Ditunggu kunjung baliknya!

    Posted by Carissha | February 4, 2010, 7:25 pm
  6. Dia akan selalu ada dihatimu Lala….dan engkau akan selalu berdoa untuknya….

    Posted by edratna | February 4, 2010, 7:42 pm
    • Benar, Bunda…
      He didn’t go anywhere. He will remain in my heart, forever…

      Makasih Bunda..
      Aku akan selalu berdoa untuk kedua bintang yang tak pernah berkurang pijarnya bahkan ketika waktu membawanya pergi..

      Posted by jeunglala | February 5, 2010, 9:06 am
  7. makasih ceritanya
    mampir ke blog saya juga ya teman^^

    Posted by didtav | February 5, 2010, 7:23 am
  8. Kalo dipikir-2…bener juga yang dikatakan Pak Taiwan ya mbak…
    Bendol juga pernah ngalamin hal yang sama, 5 tahun yang lalu.
    Smoga ayah kita bisa bertemu “disana”
    Salam

    Posted by HumorBendol | February 5, 2010, 8:34 am
    • Iya, Mas Bendol.

      Setelah dipikir-pikir, memang masih mendingan aku yang tahu kemana Papi pergi. Lah, dia masih harus kepikiran Bapaknya kemana..

      Semoga Bapak2 kita ketemuan di sana ya, Mas. Kira-kira mereka bakal ngomong apaan, ya? 😀

      Posted by jeunglala | February 5, 2010, 9:09 am
  9. i’ve been there…keep moving forward

    and it’s true…love is stronger than death

    Posted by hamidah | February 5, 2010, 8:47 am
  10. Papi mu gak pernah pergi, beliau selalu ada di hatimu Jeung, dan dlm setiap doa yg dipanjatkan selalu ada nama Papi mu disebutkan,
    jangan memberatkan kepergiannya,disana Papi lebih berbahagia, apalagi diiringi doa tulus dr anak tercinta.
    salam.

    Posted by bundadontworry | February 5, 2010, 10:20 am
  11. wah memerlukan google translate nuy untuk mengerti hahah

    berkunjung n ditunggu kunjungan balikna lagi makasih

    Posted by darahbiroe | February 5, 2010, 12:24 pm
  12. Kepergian bukanlah berpisahan, suatu saat pasti akan ketemu lagi. Itu kata-kata yang selalu saya ucapkan ketika papiku juga pergi

    Posted by joko santoso | February 5, 2010, 1:06 pm
  13. Beliau pasti telah berbahagia di sana, La…

    Posted by nanaharmanto | February 5, 2010, 6:55 pm
  14. Lala perempuan pilihan itu. Yang dipilih Tuhan untuk hadapi hidup di dunia tanpa dua orang terkasih. Hanya seseorang yang tangguh bisa lalui itu.

    banyak cinta buat Lala.

    Posted by nakjaDimande | February 5, 2010, 9:33 pm
  15. aku memang belum pernah mengalami seperti si Taiwan. tapi, aku sangat merasakan kekecewaan yang mendalam bagi yang merasakannya setelah membaca Epitaph. ternyata, memang berat hidup dalam ketidakpastian seperti itu. berada antara harap dan cemas..

    La… aku rasa dirimu sudah menemukan jawaban atas kesedihan dari berpulangnya Papi. Hanya soal waktu saja,kapan kesedihan itu akan bertukar dengan keikhlasan. Jalani saja semuanya dengan nyaman, insya Allah semuanya bakal baik-baik saja… 🙂

    Posted by vizon | February 6, 2010, 8:28 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: