you're reading...
daily's blings

Firasat

Ketika seseorang menjemput ajalnya, pernahkah kamu berkata, “Ah, aku sudah berfirasat demikian sebelumnya.”

Dan pula berkata, “Pantas saja waktu kemarin bertemu, dia sempat ‘pamitan’ segala.. Aduh, ternyata firasatku benar…”

Ya. Firasat. Sebuah tanda-tanda yang diberikan oleh orang-orang yang hendak berpulang ke pangkuan Tuhan, yang mungkin terabaikan hanya karena kita lost in translation, tidak pernah menyangka bahwa setiap kalimat yang teruntai, setiap gesture tubuh, telah menyimpan makna. Sebuah makna yang akhirnya baru diketahui setelah segalanya terjadi. Setelah mereka benar-benar telah kembali pulang.

Dan saat itu kita hanya bisa bilang, “Ah, pantas saja saat itu firasatku bilang begitu…”

Entah dengan kamu, tapi biasanya, ketika orang-orang terdekatku akan tutup usia, sebuah firasat meracau di benakku. Kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa sebentar lagi aku akan merasa kehilangan yang amat sangat, sebuah perasaan yang tidak bisa kuterjemahkan tapi aku merasakan kalau wajah dan pancaran sepasang mata mereka saat memandangku menyimpan duka yang mendalam dan berusaha untuk berpamitan. 

**

Hampir selalu aku memiliki firasat, membaca sebuah kalimat di dalam isi kepala, tapi takut untuk mengatakannya.

Menjelang Mami meninggal, Mami sudah meninggalkan begitu banyak pertanda. Salah satunya adalah berpamitan pada tukang pijit yang setiap Sabtu selalu memijitnya, tapi kali itu Mami bilang, “Pak, minggu depan nggak usah datang lagi. Saya sudah nggak pijet lagi, kok.” Persis esok harinya, Mami meninggal.

Kata hatiku juga mengatakan hal yang sama ketika melihat sosoknya untuk terakhir kalinya di tempat tidur. Entah kenapa, she seemed so far away, so distant. Entah kenapa, ada sebuah perasaan yang mengatakan seolah Mami sedang berada nun jauh di sana dan aku tidak akan bertemu lagi.

Ya. Siang itu, aku memang terakhir bertemu Mami. Persis pukul 2 siang, Minggu, Mami berpulang dengan satu kali tarikan nafas yang berat.

*

Menjelang Tante tersayangku, Lek Nan, meninggal, seekor cicak jatuh di atas pundakku saat aku usai berwudhu. Sungguh, aku kaget. Ada apa ini? Setahuku, cicak yang jatuh di atas tubuh seseorang menandakan bahwa ada kerabat yang akan meninggal. Terbayang betapa kepikirannya aku saat itu, kan?

Terlebih ketika esok harinya, Lek Nan meneleponku dan kepingin bertemu, tapi aku sedang sangat sibuk dan menundanya sampai minggu depan. Saat mendengar suaranya di telepon, entah kenapa, perasaanku mengatakan kalau ini adalah percakapan yang terakhir. Waduh, kenapa ini?

Besok siangnya, Lek Nan terserang stroke, pembuluh darah di otaknya pecah, dan koma sampai empat hari. Persis hari Minggu, 8 April 2008, Lek Nan berpulang.

*

Saat Om Sapto, Om paling kusayang, meninggal dunia tanggal 6 November 2008, aku sudah memiliki firasat sebulan sebelumnya. Om Sapto terlihat bersemangat untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarga dalam acara arisan keluarga — yang memang setelah itu terwujud, Om Sapto menitip pesan agar aku, Bro, dan Mbak Piet selalu akur untuk menjaga Papi, dan bertanya-tanya soal rumah yang kami tinggali sekarang. Entah kenapa, feelingku mengatakan kalau sesuatu yang buruk akan terjadi.

Aku tidak menyangka kalau dua hari berikutnya, Om Sapto meninggal dunia.

*

Sekitar dua minggu yang lalu, entah kenapa, Papi serentak menelepon ketiga anaknya.  Isi pembicaraan sama. Tentang menjaga kesehatan, tentang tidak boleh menyerah, tentang jangan selalu tergantung dengan gaji yang diberikan oleh orang — alias menjadi pegawai kantoran.

Saat itu, aku, Bro, dan Mbak Piet tidak mengerti kenapa Papi serentak menelepon kami. Sampai berjam-jam. Bertanya-tanya tentang apa yang sedang kami lakukan — asal tahu saja, Papi sudah tinggal terpisah sehingga kami lebih sering berkomunikasi via telepon. Kami tidak pernah menyangka, kalau perbincangan hangat itu adalah perbincangan per-telepon terakhir kami.

Ketika Papi terkena serangan jantung, tanggal 14 Januari 2010 kemarin, seolah ada yang membisiki telingaku bahwa usia Papi tidak akan lama lagi. Aku menjerit histeris di dalam hati dan berusaha untuk menenangkan diri dengan banyak berdoa.

Berkali-kali aku bilang sama Bro kalau perasaanku tidak enak, tapi Bro selalu berhasil menenangkanku dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Persis seminggu kemudian, Papi berpulang.
Dan aku menangis hebat.

**

Firasat.

Perasaan yang mencoba untuk menyampaikan sesuatu tapi sering  kita abaikan, sering kita memilih untuk tidak mendengarkannya karena selalu percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Terkadang, ketika aku mengingat kembali kenapa selalu mengabaikan firasat itu, aku menyesal kenapa tidak melakukan sesuatu untuk ‘mempersiapkan hati’. Setidaknya, kalau aku tidak terlalu cuek, aku akan lebih ‘siap’. Ya, memang tidak akan pernah bisa, tapi setidaknya mencoba untuk melakukannya.

Sekalipun air mata tetap akan turun seperti hujan yang tumpah, tapi aku merasa akan lebih mudah kalau aku tidak mengabaikan firasat itu…

Lebih mudah.

Hm, betulkah?

Bukankah perasaan kehilangan tidak akan pernah berubah, siap atau tidak siap? Bukankah orang yang pergi tetap akan pergi dan menyisakan perih yang mendalam, siap atau tidak siap? Bukankah perasaan sakit dan sedih itu tidak berubah menjadi tawa bahagia hanya karena kita siap menghadapinya?

Firasat, ada atau tidak, mereka akan berpulang.

Firasat, didengar atau diabaikan, mereka akan terus menumpang kereta yang telah terjadwal.

Jadi yang kini kulakukan, yang kelak kulakukan, jika mendapat sebuah firasat, adalah satu; aku akan berdoa.

Berdoa semoga segalanya akan baik-baik saja.

Dan jika segalanya tidak baik-baik saja, aku akan berdoa agar Tuhan memberikan pelukan terhangatNya untuk melindungi hati siapapun yang sedang bersedih.

Ya.

Itu saja.

***

Kantor, Senin, 1 Februari 2010, 11.48 Siang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “Firasat

  1. dan ya kalo saja saya tidak mengabai firasat itu, saya pasti sudah menikah ketika Papa masih ada, bukannya menikah di depan jenasah Papa 🙂

    sayangnya kita ini cuma manusia biasa ya La…
    *peluk-peluk Lala*

    Posted by Chic | February 1, 2010, 12:29 pm
  2. Firasat…
    selain theme blog kita yang sama, blogpost terakhir kita juga sama, tentang firasat… Aku menuliskannya (meskipun sebuah lagu) karna aku sedang merasakan suatu firasat, cukup membuat perasaan tidak enak, tapi mencoba berserah.

    Sebelum ibu meninggal, ibu juga memberikan tanda-tanda bahwa ibu hendak berpulang. Ibu bertanya tentang kehidupan setelah mati, ibu mendengarkan lagu-lagu rohani lalu beliau bertanya: “sepertinya ada tamu ya? Siapa?”. Aku bilan tidak ada, tapi ibu tetap bersikeras ada tamu.

    Lalu malam sebelum besok paginya ibu terkena serangan stroke, ibu minta tidur denganku. Biasanya ibu tidur berdua dengan bapak, tapi entah kenapa malam itu ibu ingin tidur denganku, sehingga malam itu kami tidur bertiga. Tidak menyangka besok paginya ibu mendapat serangan stroke yang ketiga dan besoknya lagi pulang ke rumah Tuhan dengan kesembuhan abadi.

    Ibu pulang dalam senyum. Dalam bahagia karna dua minggu sebelumnya sy dan kk diterima sbg PNS. Memang bukan cita2 kami, tapi keinginan orang tua. Dan aku bilang tanggung jawab ibu mengantarkan anak2 menuju mandri sudah selesai. Ibu mengiyakan, hanya tinggal mengantarkan kami berdua ke pelaminan, begitu katanya. Mungkin ibi juga rencana Tuhan, memanggil ibu pulang setelah ibu merasa tenang karna anak-anak sudah bisa mandiri semua.

    Firasat. Kadang baru kita sadari setelah sesuatu terjadi…

    Posted by yustha tt | February 1, 2010, 12:34 pm
  3. postingan kita sama mb…Firasat..

    Posted by yustha tt | February 1, 2010, 12:36 pm
  4. Bener La, ketika “firasat” itu datang, segeralah berdoa, sebab org lain pasti memerlukannya, dan diri kita sendiri pun memerlukannya.

    Peluk Lala, dan saya tahu Tuhan pasti sedang dan selalu pegang tangan kamu dan menguatkan kamu.

    Posted by G | February 1, 2010, 1:01 pm
  5. Firasat..

    Kadang kita tidak menyadari firasat itu sampai sesuatu sudah terjadi… Alam berbahasa mb (kalo kata Dee)..

    But, apapun yang terjadi, tidak ada kebetulan di dunia ini, Tuhan sendiri yang menetapkan waktu2 terbaiknya… Percaya dan amin, rencana Tuhan itu baik.

    Posted by yustha tt | February 1, 2010, 1:24 pm
  6. firasat blue menyatakan bahwa engkau akan selalu bisa berbenah diri untuk segera melanjutkan langkah langkah yg bijak untuk semua ummatNya…………(berbuat baik)
    salam hangat dari blue

    berkunjung ke sahabat lamaaaaaaaaaaaaaaaaaabanget ini

    Posted by bluethunderheart | February 1, 2010, 8:11 pm
  7. Bagiku..firasat itu adalah sebuah peringatan dini, utk menyiapkan segala sesuatunya, termasuk mental dan semangat kita.. Utk tetap jalani apa yg memang seharusnya kita jalani serta hadapi… Semoga Tuhan memuliakan mereka yg telah kembali ke pangkuanNya..
    Salam hangat dan damai selalu…

    Posted by Hary4n4 | February 3, 2010, 1:24 am
  8. uhuhuhuh, yah! nice write!!!!

    Posted by fazadante | February 9, 2010, 2:23 am
  9. hm… bener deh abis baca ini langsung menghela nafas panjang…
    firasat adalah sesuatu yang sebenernya bisa di tangkap. cuma ya itu tadi.. lost in translation seperti juenglala bilang.

    terkadang hanya bisa dipahami ketika sudah trjadi.
    saya termasuk orang yang ga peka, tentang firasat, tanda, ato sejenisnya.

    ya.. poinnya kita memang harus senantiasa ingat kepadaNya…

    Posted by anna | February 9, 2010, 4:57 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: