archives

Archive for

The Blings of My Life

Happy 2nd Birthday, Ms Blings!

Continue reading

Happy Birthday, Mbak!

Thursday, February 25, 2010.

Mbak Piet & Me

Dear Mbak Piet,

Maybe I’ve never told you how proud I am to be your (not so) little sister. But you should know, that I always prayed, back then when I was much younger than today, that someday, I wanted to grow up and be a woman like you; beautiful, smart, lovable, can cook (and can cook good!)…. exactly just like you.

I know, I will never be a woman like you. But I’m so proud, that I can call you as my Beautiful, Smart, Lovable Sister.

Happy 35th Birthday, Mbak!

Sudah berkeping-keping doa kurangkum sepanjang umurku, dan kutambahkan pagi ini dengan satu pengharapan khusus di hari ulang tahunmu. Semoga kebahagiaan selalu ada untukmu, di setiap langkahmu…

Love you, Mbak. Forever and ever….

Kiss, kiss.
Hug, hug.

From your (not so) little sister,

Wahyu Sihombhienk (dan memang hanya kamu dan aku aja yang tahu sejarah soal nama ini, ya, Mbak.. hehehe)

***

Kamar, Kamis, 25 Februari 2010, 11.19 Malam
Sejatinya ditulis pukul 6 pagi, tapi lupa dipublish.. hihi!

My Mood Boosters

Awas, Galak! πŸ˜€

Sudah banyak yang tahu kalau aku adalah seorang perempuan yang moody. Gampang senang, gampang sedih. Semuanya bisa terjadi dalam satu jentikan jari. Ya, kawan. Secepat itu perubahan moodku!

Seringkali, untuk masalah yang sama, reaksiku bisa jauh berbeda. Kalau biasanya aku bersikap tenang dan cool, tapi bisa jadi, ketika masalah yang sama menimpa lagi, aku bisa ngamuk luar biasa! Aku bisa menyalak hebat dan mencoba menggigit siapapun yang mendekat! Haha.. anjing, kali, ah… Continue reading

Kecoa yang Pintar!

Kecoa yang Pintar!Ada seekor kecoa bermain-main di kamar mandiku. Setelah kodok kecil yang meloncat-loncat kemarin dulu, kini giliran kecoa yang membuat aku sedikit panik di dalam kamar mandi. Aku memang geli melihat wujud kecoa cuman sayangnya, aku juga nggak tega untuk menggencetnya dengan sandal jepit yang biasa kupakai di kamar mandi. Yang ada, aku malah ‘menari-nari’ di atas lantai kamar mandi karena menghindar tubrukan kecoa yang nubrak-nubruk, srudak-sruduk kayak banteng kalap.

Berhubung geli tapi nggak tega menggencet kecoa, akhirnya aku memilih untuk menyiramnya dengan air dalam gayung. Maksudnya, sih, supaya kecoa itu segera menjauh dari kedua telapak kakiku yang bisa sewaktu-waktu menggencetnya. Berkali-kali kusiram kecoa itu dengan air, sampai akhirnya, kecoa itupun tak lagi membuatku ‘menari-nari’ lagi. Mengapa? Karena tubuhnya sudah dalam posisi terbalik, dengan kaki-kaki yang bergerak-gerak di atas. Tentu saja dia tak bisa bebas merangkak kemana-mana seperti sebelumnya.

Aku pun mulai mandi dengan tenang, sambil sesekali mataku melirik ke kecoa yang kaki-kakinya tak berhenti bergerak itu. Ya, sekalipun aku tahu kalau kecoa itu sudah tak berdaya lagi, tapi tetap saja aku takut kalau sewaktu-waktu kecoa itu bisa dengan suksesnya membalikkan tubuhnya lalu mulai bergerilya lagi. Serem!

Tapi alih-alih merasa takut, aku malah menikmati ‘perjuangan’ kecoa itu. Bukannya aku suka melihat penderitaannya, lho, hanya saja dari kecoa yang tubuhnya terbalik itu aku mendapat permenungan yang luarbiasa.

Permenungan macam apa? Continue reading

Saling Melengkapi

OppositeAjang kontes America’s Got Talent sudah mencapai babak penyisihan untuk sampai ke perempat final — 40 peserta terbaik. Dari ribuan peserta, hanya tersisih beberapa ratus peserta. Dan dari ratusan itu, hanya 40 peserta saja yang bisa lolos sampai ke Hollywood.

Bisa terbayang betapa banyak air mata yang tumpah saat itu, kan? Berapa banyak jantung yang berdebar kencang sampai mungkin tak perlu stetoskop untuk mendengarnya secara jelas. Berapa banyak orang yang berkeringat dingin, berharap-harap cemas: apakah aku lolos? Apakah aku akan pulang ke kampung halamanku? Apakah setelah ini aku menelepon orang-orang tersayangku dan mengabari mereka bahwa aku belum akan pulang karena masih harus mengikuti proses selanjutnya? Atau mereka harus bersiap-siap menemaniku dugem akibat stress dengan hasil keputusan juri? Continue reading

Boneka dari Keponakan

Boneka dari Keponakan

Keponakan-keponakanku menyambut ketukan pintu pagarku, kemarin malam saat aku bermain ke rumah Mbak Piet, kakak sulungku. Dengan gembira mereka mengulurkan tangan lalu mencium punggung tanganku seperti biasa, secara bergantian. Buru-buru mereka menyeretku ke kamar mereka lalu mengangsurkan sebuah boneka perempuan yang lucu.

“Ini buat Aunty,” kata Q, keponakan sulungku.

Adiknya mengangsurkan satu lagi Β boneka untukku. Sebuah boneka beruang yang memeluk bantal hati bertuliskan ‘I love you‘. “Ini juga buat Aunty, lho.”

Aku tersenyum. Senang, pasti. Pertama, karena senyum manis mereka yang selalu berhasil merontokkan kesedihan dan gundah gulanaku, dan kedua, tentunya karena boneka-boneka itu memang lucu. Continue reading

Who Are You?

Learning fromThe Movies Vol. 6

Aku sedang menonton film The Nanny Diaries. Sudah entah untuk yang keberapakalinya aku menonton, tapi kali ini ketika film itu usai, aku seolah mengantungi pesan yang sama sekali berbeda dibandingkan ketika pertama kali menontonnya lewat DVD playerku, beberapa tahun yang lalu.

Seperti yang pernah kubahas di tulisanku, Sebuah ‘Pesan’, bagaimana pesan-pesan yang terserak di seluruh jagat raya ini akan berkonspirasi untuk sampai kepadamu dengan cara-cara yang aneh — lewat lagu, lewat tulisan di billboard pinggir jalan, lewat orang-orang yang bersliweran di hadapan muka. Dan ya, di saat yang berbeda,Β billboard yang sama mungkin tidak akan memberikan pesan yang sama. Itu karena menurutku — yang kuadopsi dari pendapat kawan baikku, Indah — β€œThe right message will come along to our lives at the perfect time, somehow, someday.”

Ya.

Ada sesuatu dari film ini yang membuatku kemudian berhenti sejenak sesaat setelah film itu usai kutonton. Menghela nafas berkali-kali kemudian mengaktifkan laptop untuk mulai menulis.

Beberapa bagian di film drama yang sederhana ini ternyata mampu membuat otakku bekerja lebih keras — bak menonton film-film sekelas Oscar yang penuh dengan kata-kata njelimet, ide-ide yang luar biasa extraordinary. Sederhana saja, tapi membuat pikiranku penuh dengan pertanyaan.

Dan ini adalah sebagian kecil dari film tersebut yang membuat aku menghela nafas berkali-kali hanya karena aku merasa tersindir, kepepet, sampai ke pojokan! πŸ˜€ Continue reading

It Isn’t Everything…

Uang, uang, uang!Lelaki itu adalah seorang Boss besar. Perusahaannya berjumlah lebih dari jumlah jemari tangannya dan mengalirkan uang yang tak pernah berhenti mengisi pundi-pundinya. Hidupnya bergelimangan uang. Rumahnya mewah. Mobilnya berganti-ganti seperti mengganti celana dalam saja. Kalkulator mungkin menyerah saat menghitung bungaΒ bank untuk depositonya. Dia adalah lelaki yang sangat kaya. Bahkan sebuah gunung pun dibelinya karena ia ingin mengeksploitasi hasil bumi yang terkandung di dalamnya! Continue reading

Foto yang Berbicara

Monalisa, by Leonardo Da Vinci

Pernah dengar ungkapan β€œA picture can paint a thousand words”? Sebuah gambar yang akan bermakna ribuan kata-kata? Selembar kanvas berisi wajah, tubuh yang meliuk, pematang sawah, langit yang kotor oleh serakan bintang, pantai yang sunyi dengan kapal kecil yang terlihat layarnya saja, atau sepasang mata seperti Monalisa yang seolah bergerak mengikuti kemanapun seseorang melangkah kaki.

Gambar yang bercerita banyak tanpa membutuhkan kata-kata yang terlontar keluar dari mulut. Kegelisahan yang terurai dari gerak penari Bali, misalnya. Atau kesepian yang tertangkap dari sebuah perahu yang berlayar sendiri dalam lautan yang gelap.

Karena seperti ungkapan tadi, β€œA picture can paint a thousand words”, dan memang begitulah kekuatan sebuah gambar. Bertutur banyak tanpa kata, menyisipkan pesan tanpa disadari. Continue reading

Tertatih atau Tertinggal?

Kehidupan yang Sibuk

Seorang lelaki, memakai setelan jas yang rapi, duduk di belakang sebuah meja, menghadap sebuah laptop yang menyala. Grafik dan angka menyambut sepasang mata yang memandangnya, bunyi aduan ujung jari dan kenop-kenop kecil keyboard berbunyi nyaring membentuk irama yang konstan. Sesekali, ia meluruskan punggungnya yang kencang karena seharian tak beristirahat. Kekakuan tubuhnya ditunjukkan dari bunyi gemeretak engsel-engsel tubuhnya.

Dia memang lelah sekali. Dari pagi menyentuh sampai langit berubah gelap, lelaki itu seperti tupai yang meloncat dari ranting satu ke ranting lainnya. Dari gedung yang satu ke gedung yang lain, dari berjumpa dengan pebisnis yang satu lalu ke pebisnis yang lain, dari janji makan siang dengan Istri sampai pejabat. Semua dilakoninya seperti clockwise. Berjalan, seolah menyatu dengan nafasnya. Dia lelah, tapi dia tak bisa berhenti. Continue reading

Catatan Harian

February 2010
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Celotehan Lala Purwono