you're reading...
Thoughts to Share

Evolusi Kebahagiaan

Seorang rekan kerja, tadi pagi, bercerita tentang masa-masa kanaknya. Yang memicu cerita ini adalah sebuah telepon kemarin sore dari kawan akrabnya saat masih bersekolah dengan seragam putih merah. Cerita mengalir, yang tentunya banyak menceritakan soal masa-masa kanak-kanak mereka. Pulang dan pergi ke sekolah bareng, kemana-mana bareng, cekakak-cekikik bareng. All the little stuffs they did back in 1970-s. Betapa menyenangkan!

“Paling enak memang jadi anak kecil, ya?” Rekan kerjaku tadi mulai membayangkan betapa menyenangkannya saat masih kanak-kanak dulu. Ketika yang mereka lakukan adalah main, main, dan main saja. “Pas masih kecil dulu, kayaknya kita tuh bahagiaaaaaa banget!”

I remember my childhood as a happy ones. Aku tidak perlu bekerja terlalu berat karena selalu ada asisten rumah tangga di rumah. Aku tidak perlu ngotot mencari tambahan uang saku karena Papi selalu mencukupinya. Pakaianku tidak pernah jelek karena Mami selalu memberikan yang terbaik yang Mami bisa. Makanan-makanan yang tersaji di bawah tudung saji meja makan rumahku selalu penuh dengan makanan-makanan favorit.

Masa kanak-kanakku memang sangat menyenangkan. Dan ya, aku juga merasa sangat bahagia sekali saat itu.

“Jadi anak kecil itu emang enak banget, ya.. Bahagia terus…”

Ya. Bahagia terus.

“Sekarang? Kepikiran mulu… Urus ini, urus itu…”

Ya. Setelah dewasa, manusia mulai memiliki tanggung jawab ini itu; dari membayar tagihan listrik sampai cicilan rumah. Dari membeli susu kaleng untuk anak-anak sampai menyekolahkan mereka.

Tidak hanya manusia-nya yang berevolusi, tapi juga tanggung jawab, kebutuhan, keinginan… dan ya. Jenis kebahagiaan itu sendiri.

When I was a kid — yeah, aku pernah kecil juga walaupun sekarang big size begini! ^_^ — ukuran kebahagiaanku adalah sekadar mendapatkan hadiah boneka Barbie yang kuminta dengan mengiba-iba Papi di depan toko mainan. Saat itu, bahagianya benar-benar dahsyat! Maklum, aku cinta banget sama boneka satu itu — sampai sekarang, sih.

Lantas aku berevolusi menjadi anak SD.

Ukuran kebahagiaanku saat itu adalah selalu mendapatkan rangking di kelas. Harus rangking satu, atau setidaknya, tiga besar. Dan alhamdulillah, aku selalu mendapatkannya.

Lantas, aku berevolusi menjadi anak SMP.

Ukuran kebahagiaanku saat itu adalah diperbolehkan jalan-jalan ke Tunjungan Plaza dengan teman-teman saat pulang ekskul Pramuka atau Basket. Dan um… bisa pacaran sama the hot shot guy di sekolah! Haha. Hanya jalan-jalan ke TPnya saja yang terwujud, being a girlfriend from a hot shot guy jelas tidak mungkin.. 🙂

Lantas, ketika aku berevolusi menjadi anak SMA, ukuran kebahagiaanku pun mulai berevolusi.

Saat itu, aku hanya ingin diterima di sekolah. Being a fat kid in a popular school, with hot babes and rich people every where, wasn’t that easy. I just wanted to fit in the crowd, tapi ternyata aku tidak pernah berhasil. Aku tidak terlalu bahagia di masa-masa SMA-ku, sekalipun akhirnya aku tahu kalau aku memiliki teman-teman terbaik yang masih bersamaku sampai sekarang. The ones who never left and being around.

Berikutnya, aku berevolusi menjadi anak-anak kuliahan.

Dan yang bisa membuatku bahagia adalah… CEPET LULUS KULIAH! 🙂 Butuh perjuangan untuk lulus mengingat betapa dodolnya otakku. Tapi alhamdulillah, after 4.5 years, aku berhasil lulus dengan nilai yang lumayan. Aku bahagia! Sangat.  Ketika kuliahku selesai, bahagiaku pun berevolusi sekali lagi. Aku akan sangat bahagia kalau bisa cepat dapat kerja! Plis!

Sampai akhirnya aku berevolusi menjadi wanita pekerja seperti sekarang.

Apa ukuran kebahagiaanku?

Gaji yang tinggi dan bisa mencukupi segala kebutuhanku. Tuhan memberikannya dan sepertinya aku sudah bahagia dengan keadaanku yang sekarang.

Dan seperti kehidupan yang selalu berevolusi tanpa henti, seperti itulah kebahagiaanku.

Ketika Papi sekarang sedang terbaring di ranjang sebuah rumah sakit dengan kondisi ginjalnya yang memburuk, satu-satunya yang bisa membahagiakanku adalah kesehatan Papi yang membaik. Hanya itu saja. Other than that, aku sulit untuk merasa bahagia.

Tapi,

Um… pantaskah aku tidak berbahagia?

Dan betulkah kebahagiaan itu berevolusi?

Apakah sejatinya bukan kebahagiaan itu yang berevolusi tapi adalah faktor mencukupi demand yang selalu mengikuti setiap perkembangan dari hidup manusia?

Kalau kamu memiliki anak, kamu memiliki keinginan untuk membesarkan anak-anakmu dengan kualitas terbaik. Mulai dari susu, pakaian, sampai pendidikan.

Kalau kamu memiliki pekerjaan, kamu memiliki keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang keren, atau setidaknya, gajinya mencukupi segala kebutuhan primermu.

Itukah arti kebahagiaan? Hanya karena bisa memenuhi apa yang kamu inginkan, maka serta merta kamu disebut bahagia?

Betulkah?

Detik ini juga, saat aku menulis tulisan ini, aku masih memikirkan definisi itu. BAHAGIA. Sederhana, tapi luas sekali maknanya. Sederhana, tapi jika diuraikan dengan kata-kata, bisa menjadi novel dengan ratusan halaman, mungkin — lebay.com ^_^

Lalu kemudian aku menyadari sesuatu.

Memang benar; jika keinginanku mampu terpenuhi dengan mudah,  aku akan sangat, sangat, sangaaaattt bahagia. Keinginanku untuk menikah, keinginanku untuk membeli rumah, keinginanku untuk naik haji, keinginanku untuk melihat Papi sehat kembali, keinginanku untuk menjadi seorang penulis hebat… jika semua itu terpenuhi, entah bagaimana hebohnya aku melonjak-lonjak di atas tanah yang sedang kupijak saat itu. Benar. Amat sangat benar kalau aku akan sangat bahagia jika semua keinginan itu terwujud, tapi.. um, bagaimana jika tidak?

Apakah itu artinya aku tidak bahagia dengan apapun pencapaianku sampai hari ini?

Dengan kesalahan-kesalahan yang kubuat dan kuhindari dari melakukannya sekali lagi?

Dengan kebodohan-kebodohan yang kemudian kupelajari maknanya untuk bekalku di kemudian hari?

Apakah serendah itu kualitas BAHAGIA dari seorang Lala? Begitu rendahkah arti bahagia sehingga setiap denyut jantung dan tarikan nafas yang sempurna diberikan Tuhan bukanlah faktor yang bisa membuatku merasa bahagia karena masih dipilih Tuhan untuk menyesaki dunia dan berbuat sesuatu untuk sesamanya?

Manusia berevolusi.

Demikian pula pola pikirnya.

Ketika mulai menulis tulisan ini, aku bermodalkan sebuah kalimat: “Bahagia yang Berevolusi”.

Tapi kemudian, ketika tulisanku sampai di baris ini, aku merasa pola pikirku mulai berubah.

Mungkin, bukan bahagia yang berevolusi, tapi manusianya, pola pikirnya, dan bagaimana dia menerima setiap jenis kenyataan yang tersodor di depan hidungnya.

Bahagia adalah jika kamu bisa menerima apapun yang ada di dalam genggaman tanganmu. Like it or not, itulah yang sedang kamu genggam, dan nikmatilah setiap keping fakta kehidupan yang sedang bergelimangan di dalam hidupmu.

If you really can accept every thing, every little disaster, every little unfortunate event, you’re gonna be the happiest person ever alive in the universe.

Ya. Kamu akan tetap merasa sangat bahagia, sekalipun kamu sudah berevolusi menjadi nenek-nenek atau kakek-kakek yang menggunakan tongkat untuk membantumu berdiri…

**

Kantor, Rabu, 27 Januari 2010, 2.02 Siang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

8 thoughts on “Evolusi Kebahagiaan

  1. Ukuran kebahagiaan seseorang berubah sesuai perubahan usia, lingkungan, gaya hidup dan lain-lain.
    Cuma satu yang harus diingat, bahwa kebahagiaan itu tidak dicari, namun harus diciptakan. Jika kita selalu mengukur, memperbandingkan, baik masa lalu dan masa sekarang, atau dengan orang lain…kita tak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan itu

    Posted by edratna | January 28, 2010, 7:12 am
  2. Saya sendiri bekerja dengan anak-anak, dan belajar dari mereka, merenungi kehidupan mereka, sadar bahwa jadi anak-anak itu sama sulitnya dan beratnya dengan menjadi orang dewasa. Kita pun dulu merasa begitu. Sayangnya, ketika kita dewasa, kita melupakan itu. Lalu kita bilang jadi anak-anak itu gampang. Maka kita mulai menyepelekan mereka, tidak mengindahkan, tidak mau mendengarkan. Itu yang terjadi, jeung..

    Posted by AL | January 28, 2010, 9:36 am
  3. Merasa berbahagia pada setiap tahap kehidupan yg kita lalui, seperti juga berusaha semaksimal mungkin untuk semua hal penting yg kita lakukan …

    Posted by Oemar Bakrie | January 28, 2010, 10:44 am
  4. kata kuncinya :”if u CAN accept”…
    legowo…besar hati.. be strong..tabah..sabar…pasrah…
    terhadap apapun yang terjadi..

    Posted by 69 | January 28, 2010, 1:51 pm
  5. emang sih enak jadi anak kecil. tapi gak bakalan di dengerin hiks..hiks..hiks… trus kalo mau ambil rambutan tetangga gak nyampe karena kaki tangan masih kecil

    Posted by 1121 | January 28, 2010, 2:21 pm
  6. keren mbak…!! 🙂
    hmm, tapi satu yang pasti, “Hidup ini indah jika kita tau cara menjalaninya…maka selamat berbahagia disetiap waktu 😉 “

    Posted by Hasian Cinduth | January 29, 2010, 11:30 am
  7. ukuran kebahagiaan bagi seorang muslim adalah ketika dia mendapatkan ridlo Allah dari setiap aktivitasnya, maka dia akan selalu mengevaluasi apakah yang dia lakukan buat Allah ridlo atau tidak? Jika pekerjaan memberikan gaji besar tapi membuat dia susah beribadah, membuat dia jauh dari Allah, buat seorang muslim bukan kebahagiaan itu yang dicari…

    sedangkan kesuksesan adalah proses….saat kita sekolah maka kelulusan dan nilai yang diraih menjadi target kesuksesan kita, tapi itu tidak berhenti, saat kita bekerja maka penghasilan dan pencapaian menjadi target kesuksesan kita, saat kita menjadi orang tua, maka keberhasilan anak menjadi target kesuksesan kita…dan itu tak pernah berhenti untuk terus mendapatkan yang lebih baik lage dari sisi kualitas…..

    he..he..just my opinion

    sedang

    Posted by Oyen | February 18, 2010, 2:33 pm
  8. bahagia buat tiap orang beda,buatku sendiri bahagia adalah melihat orang2 yg kucintai dan kusayangi bahagia juga. bahagiaku gak pernah berdiri sendiri,tapi diatas sesamaku.

    dan kata guru yogaku,manusia terlalu sering melihat keluar dirinya hanya untuk bahagia,padahal bahagia itu adalah proses melihat ke dalam bukan melihat keluar. bahagia bukan digantungkan pada benda,materi ataupun pada apa2 yg diluar diri kita,tapi hanya dengan keeksistensian kita saja kita sudah harus bahagia.

    benar kata lala ,saat kita bisa menerima (acceptance) dari semua realita yg ada,maka saat itu juga kita akan bahagia.

    bagi para sufi dan aliran zen,state of mind yg seperti inilah yg dicari,bahwa segalanya di dunia ini udah perfect,bahwa udah ada yg mengaturnya,makanya kalau sudah perfect ,kenapa harus gak bahagia??

    tulisan2 ku yg seperti ini ada di blog lama,tapi gak diekspor ke wp la,maunya biar kutulis ulang lagi dengan persepsi2 baru dan ilmu yg baru,biar lebih fresh… thanks udah share yg satu ini

    i like it!! 😀

    Posted by didot | February 18, 2010, 4:29 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: