you're reading...
daily's blings

7 point 4

Sore pukul enam, aku membuka sebuah pintu kamar sebuah rumah sakit.

Aku melihat Papi terbaring di atas ranjang. Sepasang matanya terpejam, tangannya dilipat di atas dada, tubuhnya berbungkus selimut sampai ke pinggang, lalu terdengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya. Papi terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya.

Mbak Piet, kakak sulungku, bilang, “Tadi Papi sempat bangun sebentar, aku ajak omong sedikit, terus tidur lagi…”

Sepertinya, obat yang diberikan Dokter untuk menghilangkan rasa mual di perut Papi mengandung obat penenang, sehingga usai mengkonsumsinya, Papi langsung mudah mengantuk dan tidur dengan tenang.

Papi memang mual-mual terus belakangan ini. Nafsu makannya turun drastis — bahkan tidak makan sama sekali, selain dua butir anggur! Minuman apapun tidak bisa melewati kerongkongannya karena langsung mual. Walhasil, kondisi Papi semakin drop.

Tidak seperti orang-orang yang bobot tubuhnya cenderung turun serta terlihat kurus bila berhari-hari tidak makan, Papi malah terlihat lebih gemuk. Rupanya karena tidak bisa membuang urine dengan lancar hampir seminggu lamanya, membuat tubuhnya membengkak. Belum lagi Papi tidak bisa pup dengan lancar. Duh, aku jadi semakin merasa ngilu setiap harus berkali-kali ke kamar mandi seharian ini hanya karena minumku yang terlalu banyak.

Papiku berjuang sekuat tenaga untuk bisa pipis, sementara di kantor, aku beser sampai bosen! Betapa ironis.

Saat di rumah sakit tadi, sembari menunggu Papi terbangun dari tidurnya yang nyenyak, Nanna — istri Papi, memberikan secarik kertas yang berisikan angka-angka.

Kreatinin.

Seven point four.

Aku terhenyak saat membacanya. Tujuh koma empat? Fantastis sekali! Untuk ukuran normal kreatinin dalam tubuh manusia yang hanya boleh maksimal sampai 1.2, tujuh koma empat bukan angka sembarangan. Itu artinya… I hate to say this… Papi mengalami kegagalan fungsi pada ginjalnya.

Ginjalnya tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Racun bergelimangan dalam tubuhnya, tak sempat terbuang oleh urine.

Itulah kenapa tubuh Papi membengkak, nafasnya tersengal-sengal, nafsu makannya hilang, tekanan darahnya meningkat, perutnya terasa mual… Segala gejala yang tak pernah kusangka bakal mengindikasikan kalau ginjal Papi sudah tidak berfungsi sebaik biasanya. Terakhir aku tahu, kreatininnya baru 5.2, itupun sudah bikin kami was-was. Tapi sekarang? It’s now 7 point four. Aku merasa sepasang mataku mengabur usai membacanya… I was silently crying

Beberapa saat kemudian, Papi terbangun dari tidurnya. Masih dengan mata yang berat dan pandangan yang sedikit gelap. Kemungkinan karena masih dipengaruhi oleh obat mual tadi sore.

Aku segera mencium tangan Papi, mencium pipinya, lalu duduk di tepi ranjang, berusaha untuk selalu tersenyum dan tertawa di depan Papi.

I won’t let my Dad knows how sad I am.

Aku tidak mau menambahi beban pikirannya. Apalagi kalau Papi tahu, aku sedang memikirkannya, kondisinya yang memburuk, dan berbagai skenario menyeramkan yang tumbuh seiring dengan berkembangnya imajinasiku soal hasil-hasil pemeriksaan laboratorium. Aku akan tersenyum saja di depannya. Bahagia-bahagia saja.

Aku bercerita tentang ini itu, mengajaknya bercanda, memintanya untuk makan kroket enak yang dibawakan Nanna sebelum datang ke rumah sakit, dan menonton tv bersama. As if nothing bad is happening… Seperti pertemuan keluarga yang hangat, yang gayeng, yang seru, di sebuah kamar, di sebuah villa. Begitu menyenangkan.

But you know what actors do when the curtain is closed?

They remove their masks.

They’re being who they really are.

With their own feelings and emotions.

With their own fears.

With their own thoughts, imaginations.

With their own words.

Dan rupanya aku memang seorang bintang panggung ketika ada di rumah sakit tadi. Karena ketika aku duduk di sedan hijau milik Bro yang mengantarkanku sampai ke rumah beberapa jam yang lalu, aku tak sanggup untuk menahan air mataku yang mengalir deras tanpa diiringi suara isak tangis.

Aku menangis sambil mengingat wajah Papi yang tersenyum saat kukecup pipinya sebelum pamit tadi.

Aku menangis sembari mengingat elusan tangan Papi ketika aku ingin ndusel di ranjangnya lalu ikut berselimut bersamanya.

Aku menangis karena aku teringat sesuatu.

Sebuah kertas.

Dengan tulisan:

Kreatinin.

7 point 4.

Sebuah indikasi yang tidak menyenangkan untuk ginjal seorang manusia. Sebuah indikasi kalau ginjal tersebut telah kronis dan tidak lagi berfungsi dengan baik…

**

Depan televisi, Rabu, 27 Januari 2010

Aku hanya meminta kesembuhan untuk Papiku.
Doa-doa egois untuk diriku, Tuhan… um, lupakan sejenak, ya?đŸ™‚

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “7 point 4

  1. Semoga Papi cepet sembuh ya La.. Amiin *ikut berdoa buat kesembuhan Papi..*

    Posted by Ade | January 27, 2010, 3:55 am
  2. test

    masih ada kok postingannya

    Posted by ikkyu_san | January 27, 2010, 8:15 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: