you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

The Least You Could Do

Pernah, nggak, kamu berada di sebuah perempatan jalan, duduk di atas sepeda motor, kursi mobil pribadi, atau kursi penumpang sebuah angkutan umum, lalu melihat seorang bocah kecil, tidak sampai lima tahun usianya, sedang berjalan hilir mudik dari satu mobil ke mobil lainnya, dengan membawa setidaknya lima eksemplar koran, menawari siapapun yang ingin membeli?

Dan pernah, nggak, ketika kamu melihat jenis pemandangan seperti itu, cuaca sedang sangat buruk? Panas yang terlalu terik dan angin dingin yang bertiup terlalu kencang, sehingga tubuh kecil bocah lelaki (atau perempuan) yang berbalut pakaian seadanya itu nampak ringkih menahan sakit? Telapak kakinya yang kurus mencoba menapak dengan gemetar karena tak beralaskan apapun? Tidak pula sandal jepit murahan yang paling tidak membuat telapak kakinya tak bersentuhan langsung dengan jalanan yang beraspal.

Dan apa yang kamu ada di dalam pikiranmu ketika melihat itu semua?

Sedih melihat bocah sekecil itu sudah harus berjualan koran, ketika seharusnya dia sedang ada di rumah, bermain dengan kawan sebaya dengan riang gembira, atau tidur berselimut saat cuaca sedingin itu?

Atau..

Marah melihat bocah sekecil itu sudah terpaksa berjualan, yang pastinya semua juga tahu jarang sekali ada anak berumur empat tahun yang dengan sukarela bercita-cita ingin menjadi penjual koran tanpa alas kaki di perempatan jalan, kecuali ia dipaksa oleh orang-orang lebih tua yang menjadikan mereka sebagai obyek penderita, sebagai sales koran yang hebat?

Ada beragam reaksi saat melihat pemandangan seperti itu; selayaknya sebuah patung yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda, seperti itulah sebuah kasus dengan pasangan mata-mata yang berbeda.

Pagi tadi, seorang teman kantorku cerita  tentang pertemuannya dengan seorang penjual koran usia sekitar empat tahunan, ketika sedang menikmati pangsit mie ayam di sebuah depot, kemarin sore. Tengah menyantap pangsitnya, seorang bocah datang menawarkan koran. Tubuhnya kecil, mungil, berbalut baju seadanya, dan kaki yang telanjang. Melihat pemandangan yang mengharukan itu, temanku tertarik untuk ngobrol-ngobrol dengan bocah kecil tadi.

Ketika usai bercerita, temanku tadi memberikan sebungkus pangsit mie untuk mengisi perut penjaja koran itu. Ketika anak itu melangkah menjauh, hati temanku terenyuh melihat pemandangan yang lain. Anak kecil itu bersama-sama dengan Ibu dan kakak perempuannya,  menyantap dengan lahap sebungkus pangsit mie pemberian temanku.

“Ternyata, anak kecil itu memang disuruh untuk sekalian minta-minta, La,” kata temanku, pagi tadi. “Masa, pas aku bilang nggak mau beli korannya, dia bilang minta uang seribu aja… Berarti kan sudah ada doktrin dari orang lain, kan? Mana mungkin ada anak kecil yang punya pikiran seperti itu dari hatinya sendiri?”

Aku mengangguk.

“Pas aku nanya, siapa yang nyuruh dia jualan koran… dia bilang ibunya yang nyuruh. Pas aku nanya, mana ibunya. Dia cuman nunjuk ke suatu tempat yang lumayan jauh dari sini. Jadi, dia bekerja sambil diawasin Ibunya yang cuman nungguin penghasilan anaknya…”

Hatiku langsung sakit. Sumpah!

“Di daerah kebon bibit juga ada yang begitu, Dek,” timpal kawanku yang lain. “Malah, sepasang suami istri itu memperkerjakan tiga anak mereka untuk mengamen dan berjualan koran di perempatan yang berbeda-beda…”

Suami-Istri yang tidak bekerja, tapi mengandalkan anak-anak mereka untuk bekerja. Penghasilannya pun lumayan; lebih dari lima puluh ribu Rupiah tiap hari. Sulung dan Tengah mengamen seadanya, si Bungsu disuruhnya berjualan koran. Dari hasil mengeksploitasi anak-anak mereka itu, rumah mereka pun menjadi yang terbesar di gang kecil, sebuah ponsel untuk Sulung dan Tengah, serta pakaian trendi untuk mereka semua ketika sedang tidak mengamen.

Dari mana temanku itu tahu?

“Waktu itu aku beli gorengan di pinggir jalan, Dek… Dari penjual gorengan itu aku baru tahu kalau ternyata mereka bertetangga.. Wis, tha. Akhirnya aku jadi ilfeel sejak saat itu, padahal tadinya aku kasihan melihat anak sekecil itu musti kerja di jalanan…”

Akhirnya aku pun teringat dengan pengalamanku sendiri, entah berapa tahun yang lalu. Ketika aku duduk di atas sepeda motor dan melihat seorang pengemis yang usianya, kutebak, masih 5 tahun. Melihat penampilannya yang lusuh, aku pun iba, dan mengeluarkan sejumlah uang yang lumayan. Tapi ketika beberapa detik kemudian, seorang pemuda, usia dua puluhan merebut uang itu dan anak tersebut hanya diam, pasrah, lalu mengemis lagi. Sumpah, aku sebal luar biasa. Apalagi melihat pemuda yang tertawa-tawa riang dengan beberapa kawannya itu. Huh! Pingin aku tonjok aja mukanya!

Sejak saat itu, aku sempat ragu kalau hendak memberikan sesuatu pada pengemis-pengemis atau penjual koran anak-anak yang berpakaian lusuh. Seperti ada yang bertengkar di dalam hatiku.

Am I doing the right thing?

**

Sepagian ini aku bertukarpikiran dengan beberapa rekan kerjaku mengenai hal ini. Apakah dengan memberikan sesuatu yang lebih buat mereka adalah benar? Bisakah ikhlas setelah mengetahui bahwa mereka adalah semacam komoditas untuk bapak-ibu mereka atau orang-orang dewasa yang telah mengeksploitasi wajah polos dan lugu mereka?

Seporsi pangsit mie yang kita harap bisa mengenyangkan perut si kecil, akhirnya dikeroyok ramai-ramai oleh Ibu dan Kakak yang membiarkannya bertelanjang kaki, berjualan koran, dan mereka hanya menanti hasil jerih payah adiknya..

Selembar dua puluh ribu Rupiah yang kita harap bisa membuat anak kecil itu girang, malah akhirnya di’rampok’ di depan mata kita sendiri..

Sekeping lima ratus Rupiah, yang lebih dari cukup untuk seorang pengamen cilik yang bermodalkan tutup botol dan gumaman tidak jelas, tapi ternyata diperuntukkan pada orang tua mereka yang tidak bekerja…

Are we doing the right thing?

Apakah dengan ikut memberikan ‘sumbangsih’ seperti itu akan menumbuhsuburkan kecenderungan eksploitasi terhadap anak-anak oleh orangtuanya sendiri?

Apakah dengan memberikan sedikit yang kita punya, bisa menyelesaikan masalah? Apakah kita harus jadi orangkaya untuk mengentas sekalian: menampung mereka di sebuah lembaga yang bisa mendidik mereka menjadi orang-orang yang berkeahlian, misalnya?

Diskusi tadi ditutup dengan satu inti saja, yaitu ikhlas.

“Kalau memang kita ingin memberi, apapun bentuknya, berikan dengan ikhlas. Lupakan bahwa pangsit itu akhirnya ‘dikeroyok’ oleh orang lain. Lupakan bahwa uang itu akhirnya ‘dirampok’ oleh orang lain. Lupakan bahwa pengamen cilik itu ternyata berpenghasilan lumayan.

Teguhkan pada niat semula : ingin melakukan sesuatu. Entah, apapun impactnya, yang penting kita melakukannya tanpa paksaan dan disertai dengan hati yang ikhlas.”

Jadi, jika kamu melihat seorang anak kecil, berpakaian lusuh, bertelanjang kaki, mendekatimu, meminta belas kasihmu, dan kamu merasa hatimu tergetar… Semua pilihan itu ada di tanganmu.

If you really think that giving out some money to a little kid in the intersection is the least that you can do… then don’t hesitate to do it. Percayalah, kalau kamu ikhlas memberikannya, hatimu tetap akan sama senangnya, kok… 🙂

***

Kantor, Selasa, 26 Januari 2010, 11.54 Siang
Thanks to Mbak Ning dan Bunda Bea, buat inspirasinya

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “The Least You Could Do

  1. Setuju 1000% karena segala sesuatu jika dilakukan dengan hati, sekecil apapun, apapun hasilnya tentu akan membahagiakan hati pula, hati sendiri, hati orang lain yg melihatnya dan tentunya hati yg telah kita “sentuh” it …

    Posted by Oemar Bakrie | January 26, 2010, 12:39 pm
  2. U know what? eke jg pernah mengalami situasi spt itu. Tp klo kita negative thinking terus, capek hati…, so the key word is; “ikhlas”.

    Posted by Diana | January 31, 2010, 3:21 pm
  3. Memang bener mbak,… kayaknya hampir diseluruh kota memiliki modus yang serupa, bahkan ada kecendrungan anak2 itu malas sekolah karena dengan mengemis dan meinta mereka akan mendapatkan uang dengan mudahnya.
    Saya juga setuju bahwa apapun yg kita lakukan, lakukanlah dengan hati yg ikhlas, sehingga tidak hanya bermanfaat bagi kita sendiri juga bagi orang yg kita bantu, terserah uangnya mau diapain,… itu bukan urusan kita lagi

    Posted by avartara | February 4, 2010, 1:07 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The Blings of My Life « the blings of my life - February 26, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: