you're reading...
Thoughts to Share

The Hatred

Ketika berita perceraian pasangan artis Kris Dayanti (atau akrab dipanggil KD) dan Anang Hermansyah ramai di-blow up di media-media cetak dan elektronik, bertubi-tubi komentar pedas melayang ke wajah KD yang saat itu dikabarkan selingkuh dengan seorang pengusaha kaya.

Komentar pedas, miring, dan tidak sedap didengarkan itu seolah menjatuhkan citra KD yang selama ini jauh dari gosip — ya, kecuali gosip dia selingkuh dengan gitaris beberapa tahun yang lalu itu. Reputasi KD sebagai seorang Diva tercoreng-moreng oleh mereka-mereka yang bergunjing KD begini, KD begitu.

Banyak penggemar yang kecewa.

Salah satunya adalah aku.

**

Reputasi KD pun melorot di mataku, juga orang-orang yang disekitarku. Kalau awalnya bicara soal selingkuh, perbincangan pun mulai merambat ke gaya hidupnya yang so glamourboobs jobs yang berkali-kali dia lakukan untuk memperindah fisik, tattoo di alisnya, kebiasaan belanja-belanjinya… Kehidupan KD yang timpang dengan apa yang bisa diberikan oleh Anang yang sederhana adalah topik pembicaraan yang seru dan berujung pada kesimpulan, “Pantes aja KD nggak bahagia dengan Anang… Wong Anang bukan pengusaha kaya yang omzet-nya milyaran tiap bulan! KD kan branded banget… Liat tuh make-upnya… Gaya hidupnya… Operasi ini itu… Beda banget ya, sama Anang yang keliatan down to earth banget…”

Terpengaruh dengan pemberitaan di media, juga perbincangan-perbincangan nggak penting dengan teman-teman, membuat aku, si pecinta KD, akhirnya pun menyesali apa yang dia lakukan. Ikut membenci. Ikut mengutuk tindakannya yang keliru. Ikut menghakimi.

Sampai suatu ketika aku ‘terdampar’ di sebuah toko buku sambil menanti banjir surut, aku memilih untuk  membaca buku autobiografi KD yang berjudul (kalo nggak salah, nih) My Life, My Secret. Buku itu menuliskan dengan gamblang bagaimana seorang KD, mulai dari awal perjalanan karir-nya sampai pengakuan blak-blakannya soal operasi payudara yang berkali-kali dilakukannya untuk mempercantik tubuhnya. Di buku autobiografinya itu, KD juga bercerita soal passionnya, hidupnya, rasa cintanya buat Anang dan anak-anaknya, impiannya… segalanya.

Dan meskipun tidak sampai menuntaskan buku itu — maklum, cuman numpang baca, bukan beli, hehe — aku mengenal KD dari sisi yang sama sekali berbeda. Bukan KD yang sok dandan heboh memakai bulu mata palsu, rambut yang dianeh-anehin, dan pakaian yang glamor… Bukan KD yang bergaya hidup borjuis, hanya mau memakai barang-barang branded saja… Bukan KD yang seperti selama ini aku bayangin dan aku hakimi.

She’s just a woman, with needs, with dreams, with passions…

Saat itu juga, hatiku mengilu. Teringat pada selarik lagu Michael Jakson berjudul Childhood, “Before you judge me, try hard to love, look within your eyes and say… have you seen my childhood…”

Apa yang aku tahu soal KD sehingga aku bisa menghakiminya sedemikian rupa?

I know nothing about her!

**

Pernahkan kamu seperti itu?

Maksudku, kamu membenci seseorang hanya karena sahabatmu membencinya? Hanya karena hampir seluruh rekan-rekan kerjamu bergunjing tentang orang itu? Hanya karena pemberitaan di media yang keliwat keji?

Padahal kamu tak tahu sama sekali siapa orang yang kamu benci. Padahal kamu tidak mengenal betul siapa orang yang kamu benci itu. Padahal kamu hanya seujung kuku mengenalnya, tapi kamu ikut-ikut menjadi seseorang yang membencinya?

Hanya karena seluruh dunia membencinya; pantaskah orang itu dibenci tanpa kamu mencoba untuk lebih dalam mengenalnya?

Seperti sebuah buku yang tidak pernah kamu baca; pantaskah kamu langsung menganggapnya buruk hanya karena review di koran mengatakan buku itu tidak layak baca?

Menjustifikasi seseorang, mencapnya buruk, berlomba-lomba membenci seseorang tanpa kamu mencoba untuk mengetahui siapa sebetulnya orang itu dan kamu hanya mengenali kulit luarnya… pantaskah?

Di sore dengan hujan lebat itu, di sebuah sofa sebuah toko buku itu, dengan sebuah buku berjudul My Life, My Secret yang ada di pangkuanku itu… aku menyadari kesalahanku.

Sangatlah kanak-kanak kalau aku membenci seseorang hanya karena pemberitaan yang buruk.

Apalagi tanpa mencoba untuk mengenal dekat seseorang itu…

Apalagi tanpa mencoba untuk melihat seseorang itu dari perspektif yang berbeda..

Ya.

Perspektifku sendiri.

***

Kantor, Senin, 25 Januari 2010, 1.32 Siang

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

15 thoughts on “The Hatred

  1. Psst… JeungLala, payahnya buku itu bukan tulisan KD sendiri sih.. tapi tulisan seorang penulis profesional yg dibayar untuk menulis indah guna mengkilapkan dan menggambarkan kehidupan para artis bak kisah cinderela, begitu, saya pernah baca artikel ttg hal ini di Kompas, kalo ga salah, jauh sebelum perceraian KD dan Anang. Masalahnya mmg story tale dengan real life bisa 1000% berbeda.

    Saya bukan penggemar KD dan ga benci juga sama KD. Malah kaget waktu tahu bhw mereka bercerai, sama sekali tidak menyangka.

    Kasihan dua2nya. Kasihan anak-anak mereka juga. Yang senang kan cuma para infotainment.

    Posted by G | January 25, 2010, 2:38 pm
    • Betul, Mbak G. Curhat KD terlihat begitu indah karena bantuan Albertien Endah yang superb. Begitu menyentuh hati… 🙂

      Cuman, lepas dari cara bertutur yang jauh lebih indah dari aslinya, sepertinya alangkah tidak bijaksana kalau kita menjustifikasi seseorang tanpa mengenal betul seseorang itu. Kenyataannya banyak yang begitu, kan, Mbak? Nggak pernah kenal tapi ikut-ikutan judgmental… Betapa menyedihkan… 🙂

      Oh ya.
      Soal infotainment itu, memang mereka yang bersenang-senang di atas segala kisruh rumah tangga ini, karena mendapatkan bahan cerita…
      Kasihan anak2nya…

      Posted by jeunglala | January 25, 2010, 2:45 pm
  2. Menurut pendapat saya …
    Yes Indeed …
    Kadang kita begitu membenci seseorang karena adanya (dalam contoh ini ) pemberitaan media infotainment …
    dan benar kata kamu bahwa … jangan menjudge seseorang jika kita tidak tau say “ujung pangkal” …

    However sebaliknya …
    Di beberapa situasi … kita tidak tau ujung pangkalnya tetapi kita kok bisa sangat mengagumi, sangat menyenangi … ngefans … sangat tergila-gila … bahkan dijadikan “kiblat” tertentu … juga karena fenomena ini bukan ?

    So …
    I think …
    Whatever it is … Good or Bad … Love or Hate … mesti dinalar betul-betul …
    dan ini harus bersumber dari berita yang benar … dari informasi yang sahih … dari segala sisi … dari segala perspektif …
    And Yes Indeed … ini kadang tidak mudah …

    Beuh komeng ku panjang banget yak ?

    Salam saya La …

    Posted by nh18 | January 25, 2010, 4:25 pm
    • Couldnt’ agree more, Yah.
      Semuanya musti dilihat dari berbagai perspektif. Cuman memang, alangkah lebih baiknya, untuk urusan benci-bencian yang bakal bikin luka, kita musti lebih bijaksana..
      Sementara untuk menyayangi, kan kita nggak bikin orang yang bersangkutan sakit hati tho?

      Komenmu panjang?
      Ah, masih panjangan tulisan2ku yang nggak pernah kurang dari one page only kan.. hihihi

      Posted by jeunglala | January 26, 2010, 4:58 pm
  3. Don’t judge a book by its cover …

    Posted by Oemar Bakrie | January 25, 2010, 7:15 pm
  4. Saya sih nyantai aja, lae. Buat apa urusan orang dijabanin, mau cerai kek, mau selingkuh kek, mau operasi, dan bla bla…ya terserah sing punya gawe ae. Ngurus diri saya aja repot, apalagi sampai meng-jaksa-i dan menghakimi orang lain segala. Makin repot saya tak iyeee…
    Salam gak mau repot

    Posted by ALRIS | January 25, 2010, 11:07 pm
  5. pasti yang ngarang my life, my secret : Alberthiene Endah. She’s my fave writer

    Posted by hanifah nila | January 26, 2010, 11:35 am
  6. Terlepas dari kasus KD itu, bener kata mbak, tak jarang kita terjerumus dengan public opinion, seperti pergaulan dikantor, ada gosip yg bilang klu bos anu itu orangnya galak, ga mau kompromi, ini itu tentang kejelekannya, eeee ga tahunya pas dia jadi bos saya, ga ada terjadi seperti apa yg digosipin selama ini….

    Posted by avartara | January 26, 2010, 3:38 pm
  7. setuju jeunglala..
    Ak pernah tuh membenci org krn cerita dr tmnku mengenai si A bahwa dia sombong. Karena ak emg tdk mengenalnya dan terlanjur ilfil dr cerita tmn2ku jd ak tdk pernah menyapanya n anggap dia ga ada. Tapi skrg setelah ak mengenalnya ak jd tau trnyata anaknya baik kok dan bukannya sombong tp emg dia pemalu utk menyapa terlebih dahulu 😀

    Posted by ipi | January 28, 2010, 1:54 pm
  8. duhh dah brp abad ya kaga maen k blog ini 😀

    hmm.. emang kayaknya tanpa sadar or dengan sadar kita sering kali menilai dan bahkan langsung menghakimi tanpa tau yg sebenarnya

    Posted by depz | February 5, 2010, 8:49 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: