you're reading...
Thoughts to Share

A Blood Test

Beberapa bulan yang lalu, kakak perempuanku diketahui mengidap diabetes, yang entah didapatnya dari pola makan yang salah atau memang keturunan dari Papi yang mengidap diabetes di usianya yang ke-30.

Dia hampir jatuh pingsan karena tingginya kandungan gula di dalam darahnya. Maklum saja, gulanya saat itu hampir mencapai 300-an, sehingga tubuhnya lemas dan terjatuh di depan ruang training kantornya.

Dari Papi yang sudah terbiasa mengendalikan kandungan gula, kakakku akhirnya mulai tahu bagaimana cara  mengatur pola makannya. Berapa porsi makanan utama yang boleh dilahapnya, berapa kali cemilan untuk mencegah gula-nya drop, apa yang harus serta tidak boleh dimakan, dan yang terpenting adalah: rajin-rajin memeriksa kandungan gula darah.

Papi bahkan menyarankan agar Mbak Piet membeli sebuah alat untuk memeriksa kadar gula darah secara praktis. Ujung jari yang ditusuk oleh jarum yang sangat tajam, lalu darahnya diletakkan di atas sebuah strip khusus yang ditempelkan di alat pendeteksi gula. Dalam waktu singkat, hanya beberapa detik saja, besar kandungan gula darah itu akan muncul dalam bentuk digital di sebuah layar kecil.

Alat ini memang penting agar sewaktu-waktu penderita diabetes mengetahui besarnya kandungan gula di darahnya.

Usai disarankan Papi, Mbak Piet pun membeli alat tersebut di apotik. Dan sejak saat itu pula, Mbak Piet semakin rajin memeriksa kandungan gula darahnya. Saking praktisnya alat tersebut — bentuknya pun mungil — Mbak Piet tidak pernah lupa membawa alat itu kemanapun dia pergi. Dia seperti tukang cek darah keliling from mall to mall! Siapa yang mau cek darah? Silahkan datang dan cukup bayar lima belas ribu Rupiah saja sekali cek! 🙂

Tahu apa akibatnya kalau kakak perempuanku yang bawel itu berlagak seperti Suster keliling? Ya, tentu saja, tanpa mengenal tempat, dia selalu menawari kami untuk memeriksa kandungan gula darah! Saat di food court, belanja di Hypermart, main ke rumahnya, atau kemana saja, dia selalu bilang, “Ayo, kita check darah!”

Biasanya yang antusias adalah Bro, kakak lelakiku yang juga adik Mbak Piet. Beberapa waktu yang lalu, saat kami makan di food court sebuah mal, Bro minta tolong Mbak Piet untuk memeriksa darahnya. Dalam beberapa menit kemudian, hasilnya sudah bisa diketahui; kandungan darahnya normal. Wajahnya nampak lega sekali.

Ketika Mbak Piet bilang, “Kamu nggak sekalian, Mbhink?” — Ya, ‘Mbhink’ adalah panggilan sayang dari kakak perempuanku itu. Aku menggeleng. Sumprit, aku memang paling nggak berani untuk mengetahui apakah aku diabetes atau tidak, normal atau tidak.

“Kan buat preventif, Mbhink…” katanya.

Tapi lagi-lagi aku bilang, “Emoh, ah. Mendingan aku nggak tahu, daripada tahu lantas kepikiran… Bukannya akhirnya malah ngejaga, tapi jadinya malah stres.”

“Lah, kan daripada ntar makin sakit…”

“Mendingan mati karena sakit daripada karena stress…”

Excuses, excuses.

Alasan banget!

Dari dulu aku memang selalu takut untuk tahu apakah ada yang salah dengan fungsi tubuhku. I hate medical check up. Aku malas memeriksa kesehatan di Dokter hanya karena aku takut kalau akhirnya si Dokter menemukan fakta-fakta menyeramkan yang bikin aku kepikiran.

Tahu worst case scenario-ku?

Aku datang ke Dokter untuk memeriksa asam lambungku, misalnya. Eh, ternyata ketahuan kalau organ-organku yang lain sedang menjerit “Mayday! Mayday!”. Knowing the fact that I’m having such problems, bukannya malah mikir positif, yang ada aku menjerit histeris!

Stress, kepikiran, depresi, dan tidak bersemangat. I’d rather not knowing those kind of stuffs, daripada tahu tapi kepikiran.

Manusia yang aneh?
Atau ada di antara kamu yang sama seperti aku?

Setidaknya seorang teman kantorku punya pikiran yang sama. Barusan, dia disarankan untuk memeriksa kepalanya yang sering pusing tapi lebih memilih untuk tidak melakukannya.

“Lah, ntar kalau ketahuan aku kena tumor otak, apa nggak tambah pingin semaput?” katanya membela diri. Dan aku pun tertawa. Senang, pastinya, karena punya teman senasib dan sepemikiran 😀

Cuman saat aku mulai menulis tulisanku kali ini, aku mulai berpikir, kenapa aku memilih untuk membuta, memilih untuk menuli, dan tidak tahu apa-apa daripada sakit hati, daripada kepikiran.

Aku memilih untuk tidak tahu apa yang sedang menggerogoti tubuhku, karena aku takut, aku malah tidak bisa berdamai dengan kenyataan.

Aku memilih untuk tidak mendengarkan sesuatu yang buruk, menutup segala sumber yang bisa mengatakan padaku soal keburukan-keburukan itu, karena aku takut aku tidak bisa menghadapi kenyataan.

Aku mengetahui bagaimana kapasitasku dalam menghadapi kenyataan yang buruk. Aku bukan orang yang sanggup dengan legawa menerima kenyataan yang buruk dan membuatku terluka.

Akibatnya, aku memilih untuk tidak tahu saja, sembari memiliki pengharapan, kalau aku bakal baik-baik saja.

Okay, ini memang pilihan yang tidak tepat. Aku akan berusaha untuk berubah menjadi seorang perempuan yang legawa dengan apapun kenyataan yang ada di hadapanku. Aku akan terus berusaha untuk bisa dengan lapang dada mengetahui bahwa something bad telah terjadi dalam hidupku dan melakukan cara-cara untuk mencegahnya menjadi lebih buruk lagi.

Bagaimana caranya?

Oh well.

Mungkin cara pertamanya adalah dengan cara…
Berani menerima tantangan blood test dari kakak perempuanku, barangkali? ^_^

***

Kantor, Rabu, 20 Januari 2010, 2.35 Sore

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “A Blood Test

  1. memang gula itu dampaknya fatal kl berlebihan. alm. teman saya meninggal di usia 35 karena diabetes. sejak saat itu, saya bnr2 atur pola makan, ngitung berapa byk gula yg udah masuk ke badan. karena dari nasi aja udah ada kandungan glukosa yg lumayan..

    Posted by elia|bintang | January 20, 2010, 8:54 pm
  2. Salut buat jeung Lala yg akhirnya memutuskan untuk periksa darah sbg langkah pertama. Sebab semakin dini terdeteksi semakin baik, semakin cepat terobati, harapan hidup jd semakin besar. Yg penting pd saat kita takut untuk diperiksa, ikhlaskan saja semua hasilnya kpd yg Maha Pengatur…

    Posted by Reni | January 21, 2010, 7:12 am
  3. La… pemeriksaan gula darah itu bisa online gak? Kalau bisa, tolong periksakan gula daraku dong… hehehe… 😀

    Kata kuncinya adalah “self-acceptance” La; menerima keadaan diri apa adanya untuk kemudian mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dengan keadaan itu, bukan justru menangisinya.

    Oya, aku pernah menuliskan ini lho, check this: http://hardivizon.com/2010/01/16/self-acceptance/

    Posted by vizon | January 21, 2010, 8:28 am
  4. Suamiku juga diabet, sejak tahun 1984 (saat itu masih seumur DM) tak makan manis, mengurangi/tanpa gorengan (sesekali pengin juga)….perbanyak sayur dan buah. Dengan pengelolaan yang benar, usia penderita diabetes bisa panjang dan tetap sehat, nenek suami sampai >80 tahun.

    Posted by edratna | January 21, 2010, 5:48 pm
  5. I hate medical check up too
    daripada stress dan akhirnya mati mending gak pernah mau chek up positif thinking dan bahagia hehehe
    :salam kenal:

    Posted by peri01 | January 22, 2010, 9:45 am
  6. Lala, saya juga sering males kalau disuruh periksa macem-macem padahal seumuran saya harus mulai check-up dan jaga diri lebih ketat … gimana ya ?

    Posted by Oemar Bakrie | January 23, 2010, 6:40 am
  7. Mbak,…. saya selalu memiliki ketakutan saat saya harus menjalani tes2 untuk mengetahui penyakit saya. Semakin saya tahu, itu akan menjadi semakin sakit mbak,…. ketakutan itu yang membuat mental semakin down,… sehingga tambah sakit, selain kedokter gigi dan dokter umum, saya ga pernah ke dokter lainnya, apalgi medical check up…..

    Posted by avartara | January 25, 2010, 9:33 am
  8. Beneran mending ga tau sama sekali daripada harus tau sesuatu yg akhirnya bisa membuat stresssss XP!

    Posted by ImUmPh | January 26, 2010, 8:54 am
  9. jeung lala suami saya diabetes, yg aneh sampe kadar gula darah 512 dia masih seger buger, jeung tolong dong cara ngendaliin gula darahnya gmn sih, dia skrg selalu ada di 300an tp anehnya masih seger buger aja ya? mksh ya jeung sblmnya.

    Posted by della | January 28, 2010, 5:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d bloggers like this: