you're reading...
daily's blings

Why Wait?

Aku terbiasa menunggu. Menunda. Menggampangkan segala sesuatu. Seringkali jika ada sesuatu, aku selalu bilang, “Kan bisa nanti? Nanti saja, deh!” Dan sering pula, sekalipun keinginan itu sudah mendominasi isi ruang di kepala, aku malah mengabaikannya dengan melakukan hal yang sama; menanti, menunda, menggampangkannya, dan akhirnya malah tidak melakukannya sama sekali.

Lalu, apa yang terjadi ketika aku tidak melakukannya sama sekali? Ketika aku mengabaikannya? Ketika aku menundanya?

Tidak sekali dua kali akhirnya aku menyesal karena tidak bersikap impulsif terhadap apa yang didorong hatiku. Ya, padahal, seharusnya aku mendengar apa yang dibisikkan oleh hatiku — seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, di mana bisikan itu hampir selalu benar — tapi aku memilih untuk tidak bereaksi secara impulsif. Tidak segera. Tidak saat itu juga. Karena seperti yang aku bilang, aku memilih untuk menunggu.

Bukankah bisa nanti saja?

Bukankah bisa ditunda?

Bukankah tidak terlalu penting?

Bukankah… dan bukankah… dan bukankah yang lainnya, sampai akhirnya aku selalu duduk dengan penyesalan yang luar biasa.

Rupanya sifat buruk ini masih bernafas bersamaku sampai semalam.

Sudah berhari-hari ini hatiku berbisik, “Hey, kamu nggak kangen Papi? Sudah lama lho kamu nggak ketemu Papi…”

Lalu selang beberapa jam berikutnya, dia berbisik lagi, “Kok kamu nggak telepon, sih? Apa beratnya telepon untuk sekadar menanyakan kabar?”

Besoknya, dia berbisik lagi, “Papimu sekarang pasti kangen kamu, kangen anak-anaknya. Terakhir Papi kan mengeluh karena jarang ketemu sama anak-anaknya, kan?”

Dan dari semua bisikan itu, aku menjawab:

“Iya, nanti aja kalau sudah sampai kantor, aku telepon Papi.”

Tapi apa yang terjadi? Aku sibuk mengerjakan ini itu, laporan awal tahun yang bikin mataku siwer, dan tentunya, karena aku tidak memiliki keinginan kuat untuk segera melakukannya, sehingga akhirnya, mengangkat telepon hanya untuk sekadar menelepon Papi dan bertanya soal kesehatannya alpa kulakukan.

Padahal kamu tahu, di dalam isi kepalaku penuh berisi dengan sosok Papi. Berbisik kepingin bertemu, berbisik kalau dia kangen, berbisik kalau dia sedang ingin bercakap-cakap dengan anaknya, tapi, hey, aku terlalu bodoh untuk menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal yang lain.

Aku tak segera melakukannya; meneleponnya, bertanya kabarnya.

Aku malah menunggu sampai impuls syarafku menyuruhnya! Gebleg, kan?

Dan semalam tadi, sebuah telepon datang dari Nana, seorang perempuan yang sudah menjadi istri Papi atau pengganti Mami sejak 6 tahun yang lalu. Nana bilang kalau Papi terkena serangan jantung dan kini sedang diobservasi di ruang ICU sebuah rumah sakit internasional, Surabaya.

Dada papi nyeri, sekujur tubuhnya ngilu, dan gigi-giginya sakit. Dokter spesialis yang biasa merawat Papi menganjurkan untuk segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Dan sejak pukul setengah sepuluh malam tadi, Papi masih terbaring di ICU dan tak bisa kuajak berkomunikasi sampai kondisinya memungkinkan. Aku hanya bisa duduk di depan sebuah pintu, mengintip ketika pintunya terbuka sedikit dan melihat sosok Papi berselimut di dalam sana. Aku tak bisa bertanya bagaimana kabarnya, apa yang dirasakannya, masih nyeri-kah dadanya, masih linu-kah tubuhnya, masih sakit-kah gigi-geliginya… Tidak. Aku hanya bisa melihatnya dengan mencuri-curi, sembari berharap seorang perawat bakal sering keluar masuk dari ruangan itu.

Dan seandainya kamu jadi aku, apa yang terlintas di dalam hatimu selain rasa menyesal yang amat sangat?

Aku memiliki banyak kesempatan untuk menelepon, tapi aku tidak menggunakannya.

Aku memiliki waktu sedikit untuk mengangkat gagang telepon, tapi aku memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan.

Aku menunggu dan menunggu sampai impuls syaraf itu menarikku, menggerakkanku. Tapi yang terjadi, seperti yang kamu tahu, aku terlambat.

Ah,

Semoga saja Papi lekas sembuh. Semoga saja Papi lekas kembali pulang dan bisa kuajak ngobrol kapan saja, tanpa harus menunggu jam besuk rumah sakit. Semoga saja Tuhan mengijinkan aku untuk berubah dan memperbaikinya.

Semalam tadi, aku menemukan sebuah pelajaran.

Why wait for God gives you second chances, if you can do it at the first ones?

Ya.

Karena tidak selamanya, Tuhan memberikan kesempatan ke-entahberapakali-nya ini buat seorang Lala yang bebal, kan?

***

Jumat, 15 Januari 2010, 7.43
Cepet sembuh, ya, Dad! Be stronger this time…



About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “Why Wait?

  1. Semoga ayahmu cepat sembuh….
    Lala, rumah Papimu masih dekat kan? Inilah kesempatanmu merawat Papi, membaktikan dirimu sebagai anak yang baik…karena keberadaanmu akan membuat Papi mu cepat baik seperti sedia kala

    Posted by edratna | January 15, 2010, 8:28 am
  2. semoga cepat sembuh papanya…jangan dilawan suara hati..kalo terlintas sedikit saja langsung kerjakan…kayaknya sifatnya mirip ama saya..heee

    Posted by boyin | January 15, 2010, 9:51 am
  3. Semoga papanya segera pulih kembali menikmati precious moments, precious time bersama seluruh keluarga tercinta …

    Posted by Oemar Bakrie | January 15, 2010, 2:30 pm
  4. menundah memang bikin runyem. Pelajaran berharga. Moga cepet sembuh yach

    Posted by 1121 | January 15, 2010, 2:54 pm
  5. Semoga papi cepat sembuh ya …

    Posted by Oemar Bakrie | January 15, 2010, 5:14 pm
  6. Lala …
    Semoga Papi cepat sembuh ya La …

    So … Jangan menunda-nunda lagi … apa yang bisa kamu kerjakan sekarang …

    Salam dan Doa saya

    Posted by nh18 | January 15, 2010, 5:37 pm
  7. semoga papi jeung Lala cepet sembuh….dan tidak akan menunda lagi, mumpung masih ada kesempatan…sedangkan teteh sudah tak bisa lagi berbakti untuk ayah tercinta…

    Posted by Desri Susilawani | January 15, 2010, 6:39 pm
  8. semoga papanya cepat sembuh.

    sama Triunt juga suka menunda2 kerjaan.
    tapi buat orang sakit, disempetin yah🙂

    Posted by Triunt | January 15, 2010, 11:05 pm
  9. Lala… seperti yang sudah kukatakan di FB, janganlah tunda apa yang dapat dirimu perbuat saat ini. Karena, kita tidak pernah tahu, apa yang akan terjadi nanti…

    Salam buat Papi ya…🙂

    Posted by vizon | January 16, 2010, 3:04 pm
  10. semoga cepet sembuh…..

    Posted by hamidah | January 18, 2010, 12:29 pm
  11. Jeung, janganlah kebiasaan menunda menjadi ” bad habit”.
    krn kita gak pernah tahu apa yg akan terjadi sedetik kedepan.
    apa yg bisa dilakukan sekarang, lakukan segera.
    salam hangat utk Papi, semoga Papi selalu sehat,amin.
    salam.

    Posted by bundadontworry | January 24, 2010, 9:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: