you're reading...
Thoughts to Share

Sebuah Novel dan Penulisnya

Seorang penulis terduduk dengan gelisah sambil menimang sebuah koran. Dia melesakkan tubuhnya di atas sofa, lalu berkali-kali menyesap cairan kopi yang sedari tadi sudah disesapnya dengan perasaan berdebar. Keringat itu bermunculan, dibarengi dengan rasa kesal yang luar biasa. Oh, bukan kesal atau marah yang berhubungan dengan emosi. Tapi lebih karena dia tak bisa melakukan apapun.

Salah satu artikel dari koran yang sedang ditimangnya itu bercerita tentang review sebuah novel yang baru saja ditulisnya, diselesaikannya dengan sepenuh hati, melaksanakan semacam Sumpah Palapa; dimana dia berjanji untuk tidak bersenang-senang, tidak berhura-hura, tidak hang out dengan kawan-kawannya, selama project novel itu belum selesai. Novel itu dikerjakannya dengan hati, dengan keringat, dengan tidur yang tak cukup, serta larutan kopi yang entah sudah berapa liter kafein telah meracuni tubuhnya. Novel itu adalah anak rohaninya, penjelmaan dari isi hati, perasaannya, juga pemikirannya. Pendek kata, novel itu adalah dirinya. Dia sendiri, dalam untaian alfabet.

Tidak ada seorang penulis pun yang menginginkan sebuah review yang buruk, ulasan yang menyiratkan rasa kecewa akan ekspekstasi yang tidak terpenuhi setelah membaca halaman paling akhir. Tidak ada. Sekalipun tentu saja, sebagai seorang penulis dia sangat tahu kalau setelah hasil karyanya terlempar di pasaran, dibaca oleh khalayak umum, dia hanya bisa berdoa semoga karyanya bermanfaat dan tidak boleh sakit hati jika ada yang tidak menyukainya.

Dia tahu. Dia sangat tahu soal itu. Ini bukan novelnya yang pertama. Waktu telah menempanya menjadi seseorang yang lebih banyak mengetahui tentang berbagai karakter pembaca, apa minat mereka, menyelami keinginan mereka. Ia tahu. Bahkan sangat tahu.

Hanya sayangnya, review kali ini membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Bahkan, jantungnya seperti sebuah kereta yang melaju keluar dari rel, dengan kecepatan penuh, lalu berhenti tepat setelah menabrak sesuatu. Perasaannya nyeri. Air matanya tak terbendung lagi. Kalimat-kalimat yang mengalir lancar di koran itu sungguh melukai hatinya. Sekalipun waktu menempanya sedemikian rupa, tetap saja, ia bukan makhluk ciptaan manusia yang tak mampu berekspresi. Ia memiliki sebuah sisi humanis yang mampu menerbitkan air mata ketika terluka.

Dan di pagi itu, dia menangis.

Di sebuah sofa ruang tamu, dengan koran yang terpangku di pahanya, serta sebuah buku novel terakhir hasil perasan imajinasinya yang tergeletak pasrah di atas meja.

Angan-angannya berkelebat; mengingat kembali masa-masa ketika jemarinya asyik menari di atas keyboard laptopnya. Satu demi satu tokoh dihadirkan untuk saling berinteraksi dan memberi makna dalam setiap kepingan bab, waktu yang berlompatan tetapi kronologis adalah alur yang dipilihnya. Novel itu memang tidak bagus, tidak menawarkan sesuatu yang istimewa, sesuatu yang fenomenal semacam novel Iluminasi, Epitaph, Laskar Pelangi, atau novel-novel tulisan Dan Brown yang selalu cetak ulang sampai berkali-kali. Tapi ia tidak mengharapkan sebuah review semacam ini. Menghujat, menghina, menyindir, mencaci maki, menganggapnya kacangan, dan semua kritikan-kritikan yang makin menciutkan hatinya. Dia tahu, ini adalah sebuah resiko dan orang bebas memiliki opini.

Tapi setelah tahu (dari beberapa sumber terpercaya di koran yang menerbitkan review itu) kalau si pemberi review adalah seorang wartawan yang bahkan tidak menuntaskan bacanya, hanya membaca sekilas, berlompatan dari bab 1 ke bab 7, lalu mundur ke bab 5 dan maju lagi sampai halaman terakhir, apakah isi pemikirannya berhak menjustifikasi sebuah karya?

Review adalah opini, maka review tidak memberikan kebebasan seorang penulis untuk memberi hak jawab. Isi pikiran seseorang tak bisa diatur oleh seorang penulis. Lembar demi lembar itu bisa bermakna apa saja buat orang yang berlainan. Kebetulan saja, wartawan itu membacanya dengan sekilas. Entah karena dituntut untuk segera tayang atau bagaimana, tapi ia harus menyimpulkan dengan segera. Lalu wartawan itu mulai menarikan jemarinya di sebuah koran, lalu koran itu terbit, lalu koran itu terbaca, lalu setiap orang akan memberikan penilaian mereka sendiri.

Ah, ternyata novel terbaru Penulis itu sangat kampungan, tidak orisinil, banyak cacat di penggambaran waktu, misalnya.

Atau bisa jadi, dengan review itu, banyak yang segera ingin membeli, membaca sendiri, lalu berseberang pendapat dengan wartawan bahwa novelnya ternyata lumayan juga, sarat pesan moral juga, dan termasuk layak untuk dikoleksi di perpustakaan rumah mereka.

Akhirnya Penulis itu terdiam. Tidak ingin meladeni sakit hatinya lagi karena ia tahu ia tidak memiliki hak jawab.

Yang terpenting buat dia sekarang adalah tetap menulis, tetap membuktikan bahwa tulisan-tulisannya layak baca, tetap menghadirkan sebuah senyum yang selalu bisa menyuntikkan energi saat jemarinya menari.

Review yang jelek bukan harga mati. Seribu review yang jelek tidak akan mematikan ide-ide yang berkeliaran bebas di dalam kepalanya. Seribu pembaca yang tidak menyukainya, tidak membuatnya malas berkarya.

Dia ingat pada pesan seorang rekan penulisnya, “Toh biarpun mereka membenci karyamu, mencacimaki karyamu, tapi ada banyak pembaca lain yang menyukainya, kan? Ini masalah minat. Kamu tidak bisa memaksakan orang untuk menyukai hasil karyamu. Biarkan golongan pembacamu akan ter-evolusi seiring waktu. Kelak, kamu akan tahu, siapa yang sebenarnya menggemari tulisan-tulisanmu, menggemari jenis karya yang kamu hasilkan.”

Ada sebuah perasaan nyaman menyelinap masuk ke dalam hatinya. Membuatnya kembali bisa bernafas dengan tenang dan membuntu aliran air matanya yang menganaksungai. Ujung-ujung jarinya mulai sibuk menghapus titik-titik air mata yang berjatuhan bagai gerimis di atas permukaan pipinya. Sebuah senyum terulas di wajahnya dengan perlahan, dengan membutuhkan ketenangan yang luar biasa, tapi muncul juga membuat harinya cerah.

Tidak ada yang bisa mencuri rasa cintanya pada laptop, tarian jemari, dan imajinasi yang melayang-layang di dalam isi kepalanya.

Sampai ia mati. Sampai Tuhan merenggut kemampuannya untuk menulis, ia akan terus menulis.

Ya.

Bahkan jika sejuta manusia menulis review yang buruk tentang karyanya, entah mereka membaca atau hanya sekadar mendengar, dia tahu, dia akan tetap menjadi  seorang penulis yang akan selalu terus menulis. Yay, namanya juga penulis, kan?

Jadi, dia tidak akan berubah menjadi siapapun.

Dia akan selalu menjadi dirinya sendiri, yang tak pernah bisa lepas dari laptop, kopi, dan ide-ide di dalam kepalanya.

Pagi itu, secangkir kopi yang kosong melompong menjadi saksi akan janjinya sendiri, yang terutas di dalam hatinya yang mendadak memiliki energi yang penuh untuk selalu bersemangat.

Aku, melihatnya dari balik cermin, dan tersenyum. Jangan sedih, Penulis!

**

Kantor, Selasa, 12 Januari 2010, 12.57

Special thanks to: Mbak Lisa Febriyanti untuk ide Sumpah Palapanya 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “Sebuah Novel dan Penulisnya

  1. hello, websitenya keren. artikelnya menarik.
    Oyah, saya alfons, baru belajar ngeblog.
    kalo sempet, maen ke blog saya yah.
    thanks

    Posted by Alfons | January 13, 2010, 8:45 am
  2. seperti yang sering dikatakan oleh DM, “setelah novel dilempar ke pasaran, kita tak punya kuasa atasnya lagi, biarkan dia berjalan dengan arah yang dibentuk oleh pembaca”.

    So, apapun kata orang, jadikan itu masukn paling berharga La. Karena, besi takkan jadi pisau bila tak ditempa… 🙂

    Posted by vizon | January 16, 2010, 3:14 pm
  3. hmmm, curhat pribadikah ini mbak? 😉

    Posted by Hasian Cinduth | January 25, 2010, 5:44 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Sebuah ‘Pesan’ « the blings of my life - January 13, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: