you're reading...
Thoughts to Share

Panggilan dari Surga

Pernahkah kamu berada di sebuah toko buku, tanpa memiliki secuilpun bayangan jenis buku apa yang akan kamu beli, penulis mana yang bukunya bakal kamu nikmati lembar demi lembarnya, tapi kamu tak bisa menghentikan langkah kakimu untuk menyusuri lorong demi lorong rak-rak buku?

Kalau pertanyaan itu musti kujawab, aku bakal bilang, “Pernah.” Oh tidak, bukan pernah, tapi, “Sering.”

Toko buku adalah sebuah Surga dunia; bersebelahan dengan warung makanan cepat saji dengan menu andalan ayam goreng kriuknya, jadi kusebut saja toko buku sebagai Surga Dunia blok B. Ada kesenangan tersendiri untuk berlama-lama di dalam toko buku, membiarkan sepasang mataku berkelana dari satu rak ke rak yang lain, menikmati lembar demi lembar buku sambil berdiri atau mencari kursi beralaskan cushion empuk lalu diam di sana sampai berjam-jam.

Siapa yang ingin meninggalkan Surga cepat-cepat, kan?🙂

Karena aku tidak.

Dan aku ketagihan untuk mengunjungi Surga setiap saat aku sempat, seperti kemarin malam, saat aku berjalan-jalan dengan kakakku dan istrinya beserta dengan seorang keponakan. Saat Mbak Ira asyik memilih sandal, aku lebih memilih untuk masuk ke Gramedia. Ketika ditanya mau cari apa, aku hanya bilang, “Nothing. Sightseeing aja…” Karena biasanya, setelah masuk ke dalam toko buku, aku membiarkan insting dan kata hati menuntunku. Terserah, aku memercayainya. Terserah, mau dibawa kemana aku lalu buku apa yang bakal menarik perhatianku dan mungkin akan kubawa pulang – iya, iya, pasti aku bayar dulu, kok. Jangan nuduh gitu, dong, ah!😀

Entah kenapa, setiap masuk ke dalam toko buku, seolah buku-buku tersebut memanggil-manggilku.

“Sini dong, La… Tengok aku di sini,” teriak sebuah buku novel.

“Ke sini aja, deh, La… Ada yang menarik buat kamu pelajari,” bisik menggoda sebuah buku tentang self help.

“Ngapain serius begitu. Kesini aja… Katanya kamu pengen seriusin minat bikin buku anak-anak bergambar,” kata sebuah buku tentang cara-cara praktis menggambar Manga lewat media photoshop.

Buku-buku itu berteriak, berbisik, berkoar-koar mempromosikan diri mereka. Dan semuanya selalu bilang, “Udah, coba lihat dulu, deh… You’re gonna love it…

Lalu aku menuruti instingku.

Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, instingku memang seringkali tidak keliru. Dia menuntunku ke buku-buku yang seolah memberi cahaya dalam gelap. Setitik saja, tapi sinarnya cukup membuatku merasa percaya bahwa cahaya memang tidak pernah benar-benar lenyap dari kehidupan.

Seperti malam itu.

Instingku menuntun ke sebuah rak yang tadinya tidak menarik perhatianku. Dari awal sebetulnya aku ingin mencari novel terbaru karya penulis favoritku, Okke Prasetya, tapi instingku seolah menyurutkan minatku untuk melangkah ke rak novel lalu menahanku di sebuah rak yang berisi buku-buku inspiratif yang didasari oleh kisah nyata. Buku berisi perjalanan manusia-manusia di dunia dalam mencari setitik cahayanya dan membiarkan titik itu semakin terang.

Ada sebuah buku yang tiba-tiba seolah merayuku begitu hebat sehingga tanganku terjulur ke arahnya, menimangnya, dan mulai mencari tahu, “Buku apa ini? Siapa penulisnya? Apa isinya?” Tapi yang paling membuatku penasaran adalah, “Mengapa dia berteriak memanggilku dan instingku menyuruhku untuk mencoba mengulik isinya?”

Akhirnya aku membaca sampul belakangnya dan mengetahui kalau buku itu berisi tentang kisah perjuangan seorang Ajeng yang menderita Marfan’s Syndrome; sejenis penyakit yang membuatnya terus bertumbuh dan bertumbuh sehingga aorta jantungnya membesar lalu membuatnya sesak nafas.

Dari hasil membaca singkat, aku tahu kalau Ajeng adalah perempuan usia 23 tahun, dari Sidoarjo, yang dengan kekurangannya ini membuatnya menjadi inspirator buat orang lain bahwa seseorang berhak menikmati hidupnya. Ada kalimat yang menjadi pegangannya selama ini: “Bukan bagaimana kamu mati, tapi bagaimana kamu menjalani hidup”. Kalimat ini seolah mantra dukun mujarab buat seorang penderita penyakit yang divonis meninggal dalam waktu dekat.

Keinginannya begitu menggebu, termasuk menulis sebuah buku, tempat ia bisa berbagi pengalamannya, berbagi isi kepalanya, sekaligus menginspirasi banyak orang bahwa hidup memang harus dinikmati tanpa harus takut mati. Akhirnya buku itu terbit juga; buku hasil tulisannya – yang ditulis oleh orang lain (karena penglihatannya terbatas akibat penyakit yang dideritanya), sebuah cita-cita yang kesampaian.

Tapi, sayangnya…

Dia meninggal, beberapa saat sebelum menikmati hasil pemikirannya dalam bentuk buku…

18 September 2008, Ajeng meninggal, sekalipun sempat menuliskan kata pengantar yang sukses membuat air mataku berjatuhan semalam tadi. Setiap buliran huruf yang terangkai di halaman kata pengantar itu benar-benar membuat bulu kudukku meremang. Aku membayangkan betapa excitednya Ajeng saat menulis ini. Aku pernah ada di posisi itu dan Tuhan tahu seberapa girangnya aku saat merangkai kalimat untuk mengantar pembaca sampai di depan pintu gerbang bab pertama hasil karyaku. Aku tahu bagaimana girangnya Ajeng dan jantungku benar-benar seolah berdegup lebih kencang ketika di ujung kata pengantar itu ada sebuah note dari penerbit bahwa ini adalah tulisan terakhir Ajeng karena dia meninggal sebelum buku itu terbit.

Ah!

Sayang kemarin aku terlalu terburu-buru sehingga tidak sempat membawa buku itu ke kasir. Aku meletakkannya kembali di atas rak dengan janji bahwa dalam waktu dekat, aku akan kembali ke ‘Surga Blok B’ dan kali ini akan membelinya lalu kubawa pulang untuk aku baca sampai larut.

Malam itu, dalam perjalanan pulang ke rumah, aku teringat dengan kata-kata seorang kawan baik, Indah Wd.

Dia bilang (kurang lebih begini), “The right messages will come along at the right time, for the right person.” – sorry kalau gue mis-quoted ya, Ndah..🙂

Lalu aku berpikir kalau kata-kata itu benar.

In my deepest despair, aku menemukan pencerahan yang luar biasa dari sebuah buku yang kutahu ia pasti dengan ‘sengaja’ memanggilku dari dalam toko buku Gramedia.

“Bukan bagaimana kamu mati, tapi bagaimana kamu menjalani hidupmu.”

Dan satu lagi.

Kalau seorang Ajeng-pun tidak menyerah, kenapa aku harus? Life wasn’t meant to be easy. Hanya orang-orang pilihan saja yang bakal bertahan…. Dan aku cukup GR, kalau Tuhan menciptakan aku dengan kualitas terbaik yang bisa Dia berikan.

Ya.

Aku semakin memercayainya…

Terimakasih karena sudah memanggilku, Ajeng…

Ternyata benar… Toko buku adalah Surga, karena aku yakin, di sanalah kamu berada sekarang…

**

Kantor, Selasa, 29 Desember 2009, 10.40 Siang

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

2 thoughts on “Panggilan dari Surga

  1. dalam bentuk buku maksudnya?😛

    *barusan abis jalan-jalan ke gramed juga*

    Posted by Chic | December 29, 2009, 2:50 pm
  2. wah….jadi pengen langsung masuk “surga”
    hahaha
    salam kenal…

    Posted by alfarolamablawa | December 31, 2009, 12:37 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: