you're reading...
daily's blings

Ternyata Memang Sepenting Itu…

Blackberry sudah booming sejak setahun terakhir. Beberapa bulan terakhir malah makin seru karena mulai bermunculan varian Blackberry dengan harga yang lebih terjangkau – tidak lagi main di angka 5 juta ke atas tapi 2 jutaan saja. Akibatnya, hampir setiap orang yang bersliweran di Mal, semuanya menenteng BB. Kalau dulu Foodcourt menjadi tempat yang asyik buat makan dan ngobrol, kini semua asyik dengan gadgetnya masing-masing. Dua orang duduk di meja yang sama, tidak saling berbicara, tapi mereka berbicara asyik dengan teman mereka nun jauh di sana menggunakan fasilitas E-Buddy atau BB messenger. Ya, sudah seperti inilah yang terjadi.

Kenapa aku mendadak cerita soal Blackberry?

Hm, begini.

Hari Kamis kemarin, setelah seharian tepar di atas ranjang karena flu hebat, aku memutuskan untuk ikut ke Mal bersama Bro. Flu-ku sudah mendingan dan yang terpenting adalah aku sudah sangat bosan dengan bau kamarku yang sudah bercampur dengan bau keringat seorang perempuan yang malas mandi seharian. Haha! Beginilah aku menghabiskan liburan panjangku, tuck in bed, watch DVDs, lalu ngemil di atas ranjang. Nggak heran kalau hari Senin nanti, lipatan daguku akan bertambah seiring dengan bergeraknya jarum di timbangan badanku ke arah kanan.

Jadi malam itu, aku pergi ke Tunjungan Plaza, salah satu Mal terbesar yang merupakan tempat jujugan pada turis domestik – Surabaya punya apa, sih selain Mal? Kebun binatang? Lantas apa? Taman Safari? Hayah, itu bukannya sudah Surabaya coret?

Kami jalan berlima; Bro, Mbak Ira (istrinya), si kecil Mahendra (keponakan) dan seorang teman perempuan Mbak Ira, Mbak Erin.  Melihat sepatu, mengantar Mahendra bermain, lalu melihat-lihat kue tar untuk hantaran Natal sampai akhirnya kami merasa kelaparan. Oh, tepatnya, kakak lelakiku yang  selalu mendadak  kelaparan lalu lemas seketika –rupanya dia belum makan siang.

Nah, ada satu tempat makan di dekat Tunjungan Plaza, letaknya dapat dijangkau dengan jalan kaki saja, tidak sampai sepuluh meter dari pintu keluar samping Matahari. Kalau sudah bosan dengan makanan di Mal (okay, faktor ngirit juga! Hehe), biasanya aku makan di situ. Namanya Warung Bambu, tapi aku dan sahabat-sahabatku menamakannya Bam’s Café. How cool is that? 😀

Jangan bayangkan tempatnya yang fancy, karena Bam’s Café adalah warung makan biasa. Ruangannya sempit, kursi dan meja ditata seefisien mungkin sehingga seluruh lahan dapat dimanfaatkan dengan optimal, warna cat dindingnya hijau muda dengan penerangan ruangan yang minim. Secara fisik, tempat ini mungkin bukanlah tempat yang nyaman, tapi dengan menu masakan yang enak dan murah, serta keramahan pekerja-pekerja di sana, Bam’s Café membuat kami datang lagi dan lagi.

Kami duduk di meja belakang, memesan nasi goreng dan bakmi goreng. Menu andalan Cap Cay sudah habis sejak siang, katanya. Ya sudah, toh nasi goreng dan bakminya juga enak banget. Yang menyenangkan di tempat ini adalah betapa cepatnya proses masak dan penyajiannya. Baru saja meletakkan bokong di kursi, tahu-tahu masakan sudah tersedia di meja. Kami pun makan dengan lahapnya sambil bersenda gurau.

Tiga puluh menit lewat sedikit, kami sudah kenyang. Piring sudah bersih dan isi gelas kami juga sudah tandas. We should get going. Temaramnya lampu di Bam’s Café cuman cocok buat orang yang pacaran saja, selebihnya tidak. Bikin sakit mata! Hehe.

Ketika kami hendak beranjak dari kursi, aku melihat tiga orang perempuan dengan dandanan masa kini masuk ke dalam warung. Mereka terlihat soooo stylish. Dengan sepatu hak tinggi, skinny jeans, baju kaus perempuan, kalung yang merantai di leher, mereka masuk ke dalam, ke bagian paling ujung – tempat aku duduk – lalu seorang di antara mereka bertanya, “Mas, ada colokan, kan? Batere BB-ku habis, aku perlu charge batere-nya…”

Pertanyaan itu rupanya tidak common didengar oleh Mas-Mas yang bekerja mengurusi es teh, es sirup, dan es jeruk. Mereka nampak terbengong-bengong dengan pertanyaan itu dan membuat si Mbak-Yang-Batere-BBnya-Habis itu bertanya sekali lagi, “Ada, Mas?”

Setelah sadar –emang pingsan? Hehe- si Mas lalu berjalan ke depan, diikuti dengan tiga Mbak-Mbak yang super trendy itu. Belakangan, ketika aku berjalan keluar dari warung, aku melihat kalau si Mbak akhirnya berhasil mendapatkan colokan yang dia mau untuk men-charge Blackberry-nya. Kamu tahu di mana letaknya? Aku kasih tau.

Dia meminjam colokan yang tadinya dipergunakan untuk colokan kipas angin.

Ya, Saudara-Saudara.

Demi mengisi batere BB-nya, dia musti merelakan sebagian orang di warung merasa gerah karena kipas anginnya musti rela untuk dicopot sebentar.

Kami berjalan keluar dari Bam’s Café tapi benakku tertinggal di kepingan terakhir adegan yang aku lihat di sana. Perempuan itu akhirnya tenang duduk di meja – tadinya keliatan gelisah banget- dan wajah sebal dari Mas-Mas yang bekerja di sana.

Tanpa harus memiliki Blackberry, aku tahu kalau ponsel yang internetnya aktif sepanjang hari akan memakan usia aktif batere. Jangankan Blackberry, ponsel Sony Ericsson-ku juga bakal koit batere-nya kalau aku bolak-balik meng-update status FB. Jadi, aku tahu persis kalau batere Blackberry bakal sering koit kalau tidak di-charge dengan sempurna sebelum pergi.

Cuman yang aku tidak tahu, kalau batere Blackberry habis, seorang pengguna bakal lari ke warung-warung pinggiran, dan merebut colokan kipas angin, lalu membiarkan beberapa pengunjung yang lain kegerahan…

Ah,

Ternyata Blackberry memang sepenting itu..  😀

***

Kamar, Jumat, 25 Desember 2009, 6.31 Malam

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

5 thoughts on “Ternyata Memang Sepenting Itu…

  1. Idem La …
    I share the same feeling …
    Entah kamu sudah baca atau belum postinganku berjudul MANNERS …
    Ini tentang BB juga …
    BB telah membuat manners kita menjadi jongkok …
    tak peduli pada lingkungan … uplek sendiri …

    Salam saya La

    Posted by nh18 | December 28, 2009, 11:34 am
  2. belajar banyak

    Posted by online | December 30, 2009, 11:17 pm
  3. iya mas bisa bikin autis

    Posted by atics | January 4, 2010, 11:56 pm
  4. hahaha…
    barangkali tangannya bakal gatel2 mbak kl gak megang BB-nya…. hahaha….

    Posted by Hasian Cinduth | January 8, 2010, 12:35 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: How Judgmental Are You? « the blings of my life - December 25, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: