you're reading...
Thoughts to Share

Bicara Soal Mati

Pernahkah kamu berbincang-bincang soal kematian? Tentang bagaimana kamu akan mati lantas berimajinasi atau berandai-andai bagaimana hidupmu setelahnya? Seberapa panaskah Neraka dan bagaimana perihnya kulitmu yang melepuh karena koyakan bara apinya? Atau mungkin kamu membayangkan bakal tinggal di Surga setelah mati – sekalipun aku tidak ingin gede rasa kalau pemberhentian awalku bakal langsung di Surga?

Aku takut pada kematian, mengingat kumpulan catatan dosa-dosaku yang mungkin jika seorang Penerbit memiliki keisengan tingkat tinggi untuk menerbitkannya, dosa-dosaku itu bakal tertulis dalam berjilid-jilid buku. Iya, sebanyak itu! Aku sudah merupakan pendosa sejak masih kecil dan sampai umur hampir tiga puluh ini, dosaku sudah cukup banyak untuk memenuhi kuota masuk ke Neraka. Itulah alasan kenapa aku takut pada kematian dan butuh waktu lebih panjang lagi untuk membuat timbangan pahala dan dosa menjadi tidak terlalu timpang.

Aku takut pada kematian, sehingga pernah pada suatu fase hidupku, aku tidak bisa tidur. Berguling ke kiri dan kanan di atas ranjang ukuran King yang kunikmati sendiri sampai pagi ini, karena aku takut memejamkan mata. Pikiran konyolku saat itu adalah, “Aku tidak ingin tidur, karena aku takut bakal tak bisa bangun!” Aku mencoba mengakali Malaikat Tuhan yang bisa sewaktu-waktu mengambil nyawaku. Mungkin malah dengan mata terbuka, aku bakal berbicara padanya kalau aku butuh perpanjangan waktu. Bah, seperti pertandingan sepak bola saja! Tapi, ya, siapa tahu Malaikat ini bisa kuajak bernegosiasi, kan? Siapa tahu kalau aku bisa memberikan speak-speak Bombay sedikit –hey, kata orang aku pintar menulis, jadi siapa tahu dia bakal terharu dengan pilihan kata-kataku, kan?- dia bakal luluh lalu pulang dan lapor pada Tuhan, “Beri dia kesempatan, Tuhan.” Ya. Siapa tahu saja.

Aku takut pada kematian karena aku takut bagaimana kelak aku mati. Membaca berita tentang pembunuhan, membuatku bergidik dan bertanya, “Seperti itukah aku akan mati?” Lalu melihat gambar-gambar lewat forward-an email dari kawan-kawan tentang peristiwa kecelakaan dimana otak terburai dari dalam kepala, kepala terpisah dari tubuh, terlindas kontainer atau terjepit di mobil karena kecelakaan lalu lintas, membuat perutku mual seketika. “Seperti itukah aku akan mati?” Pertanyaan ini selalu muncul dalam isi kepala dan membuatku bercita-cita ingin mati dalam kondisi tenang, di atas ranjang, setelah menyeruput kopi hangat dan dipeluk oleh lelaki yang kucintai. Oh ya, tentu saja setelah aku berpamitan dengan seluruh orang-orang yang aku cintai; keluarga dan sahabat. Namun, hm, tetap saja aku nggak bakal bisa melenggangkangkung dengan jumawa saat melintasi portal perbatasan dunia dan akhirat. Surat-suratku tidak bakal lengkap untuk masuk ke Surga, jadi aku musti menginap di Neraka entah untuk berapa hari sampai Tuhan memberikan surat referensi kalau perempuan pendosa ini layak menjadi salah satu penghuni Surga.

Ya. Aku tidak bakal masuk Surga tanpa dicelup di Neraka, entah untuk berapa lama. Ini bukan karena aku merasa minder atau rendah diri, tapi karena aku cukup mengetahui seperti apakah aku.

Ketakutanku pada kematian membuat topik ini tidak pernah aku bahas. Kubiarkan saja teronggok di salah satu sisi otakku dan kubiarkan dia diam di sana, bertapa di sana. Biar aku yang memanggil hadirnya setiap aku ingin, jangan dia yang datang mengusik. Aku ngeri pada kematian. Aku ngeri pada Neraka. Aku ngeri sekali!

Tapi kemarin, aku berbincang dengan salah satu sahabatku, Indah Wd. Topik kematian sengaja kuhadirkan karena beberapa hari sebelumnya aku memiliki mimpi cukup aneh soal kematianku yang disebabkan oleh inginku sendiri, yaitu bunuh diri. Aku bercerita padanya soal aku yang tidak mampu mengolah gelisah menjadi energi yang positif untuk melangkah lagi. Tumpukan masalah membuatku enggan untuk hidup dan memilih untuk mati saja. Di dalam mimpi itu, aku mempersiapkan sebuah surat perpisahan untuk keluarga dan kekasih tercinta. Aku bilang pada mereka kalau aku mencintai mereka dan meminta maaf mereka karena tak bisa membuat mereka bahagia. Surat itu kutinggalkan di sebelah laptop dan kuharap bakal terbaca oleh kakak lelakiku yang terbiasa membangunkan adiknya setiap kami akan berangkat ke kantor. Di surat itu, aku juga memintanya untuk menuliskan berita kematianku di halaman Facebook. Username dan password sudah barang tentu aku tulis di sana agar dia memiliki akses masuk ke dalam akun Facebookku itu. Ya. Aku telah merancang proses pemberitahuan itu dengan teliti agar orang-orang tidak menganggapku sombong karena telah berhari-hari tidak menegur mereka di dunia maya ataupun dunia nyata.

“Elo masih inget gimana caranya elo bunuh diri, La?” Kemarin, Indah menanyakannya lewat telepon dan membuatku tersedak.

Bagaimana caranya aku bunuh diri? Aku mencoba mengingat-ingat kembali. Angan-angan itu kubiarkan melayang-layang seperti balon gas yang talinya tergelincir dari genggaman seorang anak kecil. Tapi, seperti balon gas yang tak akan pernah kembali lagi, seperti itulah aku tidak menemukan petunjuk apapun tentang bagaimana aku bunuh diri.

Memotong urat nadi dengan pisau cutter yang tajam lalu darahnya semburat kemana-mana? Seingatku, aku tidak melihat darah di situ.

Menegak racun serangga lalu aku mati karena organ-organ di dalam tubuhku sudah gagal berfungsi semua? Seingatku, aku tidak merasakan nafasku terputus-putus lalu aku mati.

Kecelakaan lalu lintas? Ah, aku tidak melihat darah dan kecelakaan manapun pasti melibatkan darah.

Atau aku menyuntikkan sesuatu di tubuhku atau menelan pil tidur terlalu banyak sehingga aku mati dalam tenang di atas ranjang? Hayah. Tidak mungkin! Tidak ada alat suntik atau pil tidur di dalam mimpiku. Tidak, tidak. Sudah bisa kupastikan bukan begitu caraku mengakhiri hidup.

Lantas apa?

“Gue nggak inget, Ndah…” kataku akhirnya. Karena memang, aku tidak mengingat bagaimana caraku menghabisi nyawaku sendiri.

Di dalam mimpi itu, aku memang menulis sebuah surat untuk orang-orang tercinta, meminta siapapun yang membaca suratku untuk mengumumkan kematianku, memberi mereka akses untuk masuk ke dalam akunku agar seluruh dunia tahu kalau Lala Purwono atau Aulia Fita Retnani Prabandari telah menghembuskan nafas terakhir di tanggal sekian dan jam sekian. Tapi, aku tidak mengingat apakah saat itu aku benar-benar mati. Aku malah nggak tahu apakah seluruh rencanaku itu sudah berjalan dengan sempurna atau tidak.  Apakah itu hanya sekadar rencana atau sudah dilakukan? Aku buta sama sekali.

Lalu pagi ini, topik kematian yang kubiarkan teronggok di salah satu sisi otakku melesak masuk tanpa mengetuk pintu. Dia bosan duduk sendirian dan memaksaku untuk membicarakannya dari hati ke hati. Melihat seseorang yang sedang berlimpahan waktu seperti aku, rupanya dia gatal untuk tidak mengajakku berdiskusi.

“Kamu tahu kenapa kamu nggak ingat bagaimana cara kamu bunuh diri?”

Aku menggeleng.

“Karena sebetulnya kamu terlalu takut untuk mati…”

Ya. Itu bukan rahasia.

“Kamu hanya memimpikan bagaimana reaksi kakak-kakakmu, kekasihmu, sahabat-sahabatmu, kawan-kawan terdekatmu, orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidupmu, kalau kamu meninggalkan hidup mereka untuk selamanya… Kamu hanya ingin tahu apakah kamu merasa berarti buat mereka.. Kamu hanya ingin tahu bagaimana hidup mereka setelah kamu pergi; seberapa lama mereka berduka, seberapa kehilangan mereka, berapa ember yang bisa menampung air mata mereka, lalu kapan mereka mulai tersenyum dan tertawa lagi lalu menganggap ketiadaanmu sudah tidak perlu lagi ditangisi.”

Aku menangis. Kata-katanya persis menohok hatiku. Sakit sekali.

“Maaf, kalau kata-kataku kasar, tapi… aku tidak ingin berbohong. Kamu menggunakan aku sebagai alasan untuk mengukur eksistensi dirimu selama ini. Tidak lain dari itu.”

Dia benar. Dia sangat benar. Aku takut pada kematian, karena aku takut masuk Neraka. Aku takut pada kematian, karena aku tak punya cukup nyali untuk berargumentasi dengan Tuhan kalau aku layak masuk Surga. Aku takut pada kematian karena aku takut pada darah, pada benturan, pada ketidakmampuanku untuk bernafas… Aku takut pada kematian, sekalipun kematian kuanggap sebagai proses pembuktian bahwa setelah aku mati, karena ternyata mungkin aku berarti.

Hm.

Aku percaya kalau aku memiliki makna, sekecil apapun buat orang lain. Indah Wd pernah bilang, “You have no idea how many hearts you have touched by your writings”, jadi sekalipun kecil maknanya, tapi setidaknya, aku akan dirindukan oleh keluarga, sahabat terdekat, dan petugas penagihan kartu kredit yang bakal kehilangan seorang pelanggannya J Aku tak perlu berkecil hati. I will be missed, entah oleh siapa, but I know I will be.

Pagi ini aku berbicara soal kematian.

Tapi kali ini, aku tidak bicara bagaimana aku akan mati atau ketakutanku jika kelak itu terjadi.

Aku memilih untuk berbicara soal bagaimana aku menikmati hidupku yang entah kapan bakal tak bisa kunikmati lagi. Aku bicara soal bagaimana aku bisa menikmati waktu yang tersisa dengan orang-orang yang aku cintai. Aku bicara soal bagaimana aku ingin memaknai setiap kepingan waktu yang ada di genggamanku saat ini.

Hidup memang adalah perjalanan menuju mati.

Tapi aku tahu, aku akan memilih belokan serta jalan yang menyenangkan untuk menuju ke sana, bersama dengan mereka-mereka yang selalu berhasil membuatku merasa berarti…

***

Kamar, Jumat, 25 Desember 2009, 10.11 Siang

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

One thought on “Bicara Soal Mati

  1. unidede likes this *facebook mode on*

    sama La, aku juga pernah ga bisa tidur gara2 takut besok ga bangung lagi.. hiks
    pernah juga sedih tiba2 karena takut orang2 tercinta pergi

    membaca postingan ini jadi berasa ngaca..🙂

    Posted by Ade | December 30, 2009, 3:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: