you're reading...
daily's blings

It’s Never Gonna be Easy…

Tujuh tahun yang lalu, Mami meninggal. Ini di luar ekspekstasi karena saya tidak pernah melihat Mami berperang dengan penyakitnya. Langit secerah vanila dan burung-burung terdengar begitu cerewet, tapi tepat pukul dua siang, Mami meninggalkan saya selama-lamanya.

Hampir empat puluh hari sebelumnya, sahabat Mami, yang juga Ibu dari tetangga yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, meninggal dunia karena kanker Pankreas yang sudah akut.

Saat itu saya membanding-bandingkan perasaan sedih saya dalam kebisuan dan berkata, “Kalau Lia, Atta, Lena, kan sudah tau persis Mami-nya bakal meninggal.. Mereka tau kalau organ tubuh Mami-nya sudah tidak berfungsi sebagai mestinya. Dokter bahkan menyuruh mereka untuk merelakan kepergian tante Fred. Aku yang lebih sedih, aku yang lebih menderita karena kepergiaan yang sangat mendadak!”

Saya memang merasa lebih ‘berhak’ untuk bersedih, meratapi hari-hari tanpa Mami, dengan satu alasan: saya tidak siap. Kalau saja saya tahu Mami sedang menanti ajalnya, mungkin saya akan merasa lebih legawa, lebih siap menghadapinya, tidak terlalu sedih…

Tapi betul, kah?

**

Pagi ini saya teringatkan pada peristiwa kepergian Mami, bulan Juli tahun 2002 itu. Betapa saya merasa lebih berhak bersedih ketimbang anak-anak di seluruh permukaan bumi yang ibunya meninggal karena penyakit yang sudah divonis beberapa saat sebelumnya.

Peristiwa pagi yang mengingatkan saya pada kejadian saat Mami meninggal adalah ketika saya musti melihat Boss kesayangan saya, Mr H, yang sedang memberesi barang-barangnya sebelum benar-benar meninggalkan kantor karena masuk usia pensiun, pada hari Rabu, tanggal 23 Desember nanti. Kesibukan di pagi hari, ketika Mr. H memberesi barang-barangnya lalu dimasukkan ke dalam kardus, men-destroy berkas-berkas di alat penghancur kertas, ketika Mr. H menurunkan meja kerjanya untuk diangkut oleh truk remover, dan sapaannya pagi-pagi pada saya, “Tinggal dua hari lagi, nih, La…”

Kabar mengenai hari terakhir Boss bekerja di kantor memang sudah saya dengar sejak bulan Oktober kemarin, dan sejak saat itu saya menghitung hari. Setiap hari, setiap saya melihat wajah Beliau, saya selalu merasakan kesedihan yang amat sangat. Membayangkan bahwa tidak ada lagi sosoknya yang bakal memanggil saya ke ruangannya untuk membantunya mengerjakan laporan bulanan, tidak ada lagi sosoknya yang duduk di sudut ruangan sambil mengajak kami berbincang-bincang tentang apa saja yang sedang trend, juga kebiasaan-kebiasaannya menraktir kami tahu isi sampai Starbucks.

Hari demi hari berjalan terasa cepat. Seolah saya dipaksa berjalan di atas tanah dengan tebaran paku-paku yang siap melukai kaki saya. Pedih, sangat pedih. Saya hampir menangis setiap kali saya mengingat kalau sebentar lagi beliau akan meninggalkan saya. Meninggalkan kami; anak-anaknya selama puluhan tahun Beliau ada di sini, membimbing kami.

Dan pagi ini, saya diingatkan lagi bahwa dalam dua hari lagi, Beliau akan benar-benar pergi dari hadapan kami. Tidak akan ada hari yang sama seperti dulu. Tidak akan ada lagi.

Tanggal 23 besok adalah hari terakhir saya bisa bercanda dengan seorang Boss yang sudah saya anggap sebagai Ayah saya sendiri.

Saya tahu, dari awal, kalau Boss akan meninggalkan saya dalam waktu dekat, tapi tetap saja, it feels hurt like hell…

**

Dan saya kemudian menjadi ingat dengan kesedihan Lia, Lena, dan Atta, ketika Mami mereka meninggal karena kanker di Pankreas yang sudah sangat akut. Betapa saat itu saya menganggap kalau saya jauh lebih berhak untuk bersedih dibandingkan mereka yang sudah mengetahui dengan pasti kalau Mami mereka tidak akan terselamatkan oleh apapun kecuali mukjizat. Betapa saya merasa jauh lebih berhak untuk bersedih karena saya tidak memiliki kesiapan hati, tidak seperti mereka yang sudah mengetahui kalau Tante Fred bakal dipanggil oleh maut, sekalipun tidak mengetahui kapan persisnya.

Ya.

Saya mengingat betapa angkuhnya saya yang mengatakan di dalam hati saya bahwa saya berhak merasa lebih sedih dibandingkan mereka.

Karena akhirnya, hari ini, saya sadar kalau sebetulnya… it’s still painful. Sekalipun mereka tahu kalau Mami mereka tidak akan bisa sembuh dan berjuang melawan maut, tapi perasaan kehilangan itu akan tetap sama menyakitkan, tetap sama menyedihkan. Hati mereka tetap terasa sama kosong dan hampanya seperti saya yang kehilangan seorang Ibu tercinta. Siap atau tidak siap, goresan belati karena perpisahan dengan orang yang paling kita cintai tetap sama-sama membuat luka..

Seperti hari ini, saya merasakan kepiluan yang amat sangat karena Boss saya bakal pergi dari kantor, dalam dua hari ke depan.

Saya sudah tahu kalau Boss akan purna tugas pada tanggal 23 Desember nanti, tapi tidak mengurangi rasa sedih saya akan kehilangan Beliau.

Siap atau tidak, it’s never gonna be that easy to say goodbye… it still feels like hell…

Ah, maafin aku, ya, Li… Len… Ta..
I was so selfish that day…

***

Kantor, Senin, 21 Desember 2009, 4.49 Sore

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “It’s Never Gonna be Easy…

  1. itulah kehidupan Jeung, ada datang dan pergi, selalu berpasangan, ada duka ada suka.
    dengan menjalaninya menambah kedewasaan kita, walaupun tetap harus merasakan sedihnya kehilangan.
    Tetap tegar dan semangat ya Jeung.
    Salam.

    Posted by bundadontworry | December 21, 2009, 8:22 pm
  2. Selamat Hari Ibu, Natal dan Tahun Baru 2010…

    Posted by dykapede | December 22, 2009, 5:35 pm
  3. Selalu ada yang datang, dan selalu ada yang pergi. Semua merupakan siklus kehidupan yang harus dijalani dengan ikhlas dan sabar…

    Selamat hari Ibu La…
    Btw, bagaimana kabar Papi? Kok sudah lama tidak ada tulisan beliau lagi? Aku kangen dengan celotehan beliau. 🙂

    Posted by vizon | December 23, 2009, 9:57 am
  4. maksudnya knapa gak langsung aja gt yah, biar gak jadi beban untuk kita. Tapi itulah kehendak Allah mbak, mungkin ini lah caraNya untuk membentuk kepribadian mbak sedemikian rupa hingga jadi lebih baik dari waktu ke waktu … smangat !!!

    Posted by KutuBacaBuku | December 24, 2009, 6:17 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: