you're reading...
daily's blings

Sebuah Rekaman Suara

Di suatu sore, saya menunggu kakak ipar saya, Mbak Ira, yang masih belum turun dari lantai tiga sebuah gedung Bank, tempatnya mengais rejeki dari Senin sampai Sabtu. Berdua dengan kakak saya, Bro, seperti biasa, kami menunggu di dalam sedan hijaunya, menyetel musik dari stereo setnya, lalu bernyanyi-nyanyi bersama. Sudah bukan rahasia kalau anak-anak Mami dan Papi adalah ‘penyanyi kamar mandi’ semua, sehingga sering sekali kami melewatkan waktu dengan nyanyi-nyanyi gila barengan.

Namun ada yang berbeda dengan sore itu, ketika saya memutuskan untuk merekam suara saya dan Bro dengan ponsel saya. Saat itu, kebetulan lagu-nya Maliq & D’Essential, Untitled, yang terputar dari MP3 playernya. Aksi pertama memang diam-diam, karena Bro sebetulnya nggak suka hal-hal yang narsis seperti ini. Tapi entah, saat itu dia kesambit setan apaan, karena begitu tahu kalau suaranya direkam, dia malah makin asyik bernyanyi dengan suara sok dimerdu-merduin! 😀

Kelar lagu Untitled, lalu berlanjut ke lagu lain, sampai akhirnya kami berpikir, kenapa harus sesuai dengan MP3 player, sih? Kenapa nggak nyanyiin lagu favorit kami berdua aja? Lagu-lagu lama yang sering kami nyanyiin bareng Mami dan Papi dulu.

Salah satunya adalah I Left My Heart in San Francisco.

Yang membuatnya lucu adalah, selain menyanyikan liriknya, kami berdua menambah-nambahi dengan musik iringannya yang tentu saja berasal dari mulut kami sendiri, seperti :

Trengteng teng teng… teng teng…

Atau :

Dum, dum, dum, dum, dum, duummmmmmm…

Bayangkan saja; dua orang yang udah tuwir – satunya hampir 30, satunya hampir 34- nyanyi-nyanyi dengan off peech di mana-mana, pake acara ditambah-tambahin suara alat musik macam nyanyi acapela yang gagal, dengan volum suara yang naudzubillah, tentu saja ini jelas-jelas masuk kategori PG alias Parental Guidance, takutnya ada anak-anak kecil yang sawanen alias kemasukan roh halus! hihi.

Lagu itu diakhiri dengan ketawa najong kami berdua yang membahana dan sempat terekam oleh ponsel saya. Sungguh, lengkap sudah the freak show for today.

Beberapa saat kemudian, Mbak Ira masuk ke dalam mobil dan terheran-heran melihat kami berdua yang cekikikan seperti anak-anak kecil. Lalu, saya pun mengeluarkan ponsel saya lagi dan memutar rekaman suara kami tadi. Segera Mbak Ira pun berkata, “Nggilaanniiiii…”

Malam itu saya, Bro, dan Mbak Ira pun tertawa terbahak-bahak sambil mendengarkan lagu I Left My Heart in San Francisso ala duet Mirza-Lala yang sebelas dua belas sama suara panci yang berklontengan…

**

Dan beberapa sore berikutnya, saya sengaja memutar lagu ini saat berdua dengan Bro, di dalam sedan hijaunya, menuju kantor Mbak Ira.

Seperti yang sudah saya tebak, kami berdua tertawa terbahak-bahak sekali lagi, masih senajiz saat proses perekaman suara itu.

Then I looked at my brother and asked him, “Berani taruhan, ntar kalo kita udah tua renta terus dengerin lagu ini, pasti kamu bakal kangen sama aku, Bro…”

Dan senyum itu terkembang di wajah kakak saya, wajah seorang Kakak yang suatu saat nanti bakal terpisah jauh dengan saya karena tak mungkin selamanya saya ngintilin dia mulu seperti sekarang ini… Wajah seorang Kakak yang belum-belum sudah saya kangeni hanya karena beberapa menit yang lalu saya mendengarkan rekaman lagu itu, sekali lagi, dengan air mata yang membayang di kedua mata saya…

***

“It’s maybe simple and silly, but hell, it’s something that I would never forget for the rest of my life…”

Kantor, Senin, 14 Februari 2009, 1.29 Siang
Suddenly thinking of Bro

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

7 thoughts on “Sebuah Rekaman Suara

  1. jelasnya jadi ketagihan degh….

    Posted by hamidah | December 14, 2009, 1:42 pm
  2. This is simple but touchy …
    Cerita adik kakak yang manis sekali …

    BTW … Off Pitch …
    Ah aku ndak percaya .. kalo Lala bisa Off Pitch …
    aku nggak percaya …
    Kuping kamu sudah sangat terlatih La …
    Untuk bisa menangkap nada dengan benar … lalu mengirim sinyal ke otak dan selanjutnya ke pita suara kamu … untuk di nyanyikan …

    (halah dibahas … )(hehehe)

    Salam saya

    Posted by nh18 | December 14, 2009, 2:21 pm
  3. salam kenal.. 🙂

    Posted by dan | December 15, 2009, 1:18 am
  4. Haa haa haa … So Rockin’ in the beginning but really melancolize in the end, mbak lala pinter banget sih bikin perasaan kutu terhanyut biru gitu, huu

    kayak gmana yah lagu San fransisco something itu, kutu blom pernah denger deh

    Posted by adityahadi | December 15, 2009, 9:42 pm
  5. wow, suasana yg manis sekali antar kakak beradik, bikin iri Jeung.
    bener banget, nanti satu saat kalau kalian sudah terpisah jauh, lalu mendengarkan lagi rekaman ini, pasti akan membuat kekangenan menjadi2.
    salam hangat utk bro nya Jeung.
    salam.

    Posted by bundadontworry | December 17, 2009, 1:49 pm
  6. Bagian ini,

    Then I looked at my brother and asked him, “Berani taruhan, ntar kalo kita udah tua renta terus dengerin lagu ini, pasti kamu bakal kangen sama aku, Bro…”

    Kamu ngomongnya dalemmmm sihh…

    Posted by JakaPrasetya | December 17, 2009, 2:51 pm
  7. hahaa…. senengnya ya
    kebersamaan yang slalu memberi nuansa segar n slalu menggembirakan
    slalu semangat baruu..
    salam persahabatan yoooi

    Posted by elmoudy | December 17, 2009, 3:51 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: