you're reading...
Thoughts to Share

Payung-Payungku

Payung.

Tak perlu saya definisikan bagaimana bentuk rupanya, tapi saya yakin, kamu semua pasti tahu bagaimana bentuk serta fungsionalnya. Payung; mungkin dalam warna-warni yang cantik, bergambar-gambar yang lucu, berukuran kecil sampai besar, bergagang plastik bening atau kayu berpelitur, yang fungsinya tetap sama: melindungi saya dan kamu dari hujan atau sinar matahari yang terlampau terik.

Payung; sebuah perlindungan termudah yang bisa saya cemplungkan di dalam tas dan membuat saya merasa terlindungi dalam aneka macam cuaca. Hari yang sangat terik sampai hari yang sangat basah. Sederhana, tapi sangat bermakna hadirnya buat seorang seperti saya, yang seringkali menumpang angkot kemanapun saya pergi. Yang sewaktu-waktu bakal kebasahan kalau gerimis tiba atau rela kulitnya menggelap karena sinar matahari.

Hm, kenapa saya tiba-tiba bicara soal payung? Sudah kehabisan ide atau kepingin mengalahkan wikipedia sebagai search engine?

Well, well. Mau sampai nenek-nenek, saya nggak bakal bisa menyaingi wikipedia, jadi sungguh, saya nggak ada niatan sama sekali untuk itu. Saya tiba-tiba bicara soal payung adalah karena seharian ini saya menghabiskan waktu dengan keluarga saya; my brother and sister, my in laws, and my nieces. Mulai dari siang yang terang benderang sampai langit menggelap. Mulai dari makan chicken steak di Sidoarjo, beli henpon di Plaza Marina, sampai memborong DVD di ITC — bener-bener keliling kota banget, kan? FYI, buat kamu yang nggak tinggal di Surabaya, itu letaknya dari ujung ke ujung, lho!

Dari situlah muncul sebuah kata payung di dalam isi kepala saya. Payung, alat pelindung darurat untuk segala macam cuaca. Payung, alat pelindung darurat yang dapat dengan mudahnya saya keluarkan dari dalam tas setiap saat saya membutuhkannya. Payung, yang meski bentuknya beraneka macam tapi berfungsi sama.

Ya.

Sama seperti keluarga saya; ‘pelindung’ dalam beraneka macam ukuran tapi fungsinya sama, they keep me safe and sound.

Ada Kakak-Kakak dan Istri serta Suami-nya; Bro, Mbak Pit, Mbak Ira, dan Mas Ar. Keempat manusia dewasa yang seluruh nasehat mereka adalah wajib saya dengarkan. Mereka selalu ada setiap saat saya butuhkan; minta antar ke situ-sini-sana, minta nasehat tentang ina-inu, atau sekadar mendengarkan cerita-cerita saya.

Kemudian ada dua keponakan saya, permata di hati saya, makhluk-makhluk mungil yang hanya dengan melihat senyum mereka ketika tertidur pulas mampu mengusir pergi semua sedih. Mereka tak perlu memberikan perlindungan berupa nasehat atau apa, tapi dengan hadirnya mereka, dengan senyum atau kenakalan-kenakalan mereka, dengan rengekan manja minta boneka atau yogurt – yang akhirnya nggak dimakan itu, d’oh! ^^ , telah membuat hidup saya jauh lebih tenang.

Mereka seperti payung-payung dalam beraneka ukuran, bentuk, dan warna.

Dad seperti payung yang bertangkai kayu, ringkih, tapi tetap melindungi.
Bro dan Mas Ar seperti payung yang lebar, gelap, dan kokoh.
Mbak Pit dan Mbak Ira seperti payung feminin berwarna kuning cerah atau pink lembut dengan ukuran standar.
Dan kedua keponakan saya, Kiki dan Keke, seperti payung warna-warni, yang mampu memuat untuk satu orang saja, dan paling cocok dipakai di saat hari sedang terik.

Fungsinya tetap sama; melindungi saya di segala macam cuaca. Sekalipun seperti yang saya bilang tadi, they come with different sizes and colors…

Keluarga adalah alat pelindung yang bisa sewaktu-waktu saya gunakan untuk melindungi hati saya dari amuk badai bernama gelisah dan sedih. Seperti payung yang dengan mudah saya raih dari dalam tas lalu kainnya terbuka lebar untuk melindungi saya, seperti itulah mereka; saya cukup sekadar meraih ponsel atau mendatangi mereka, lalu mereka akan melebarkan pelukannya dan merangkul saya. Sama; saya akan terlindungi dari hujan yang kali ini mendera hati saya, bukan langit di atas saya.

Saya beruntung telah memiliki mereka sebagai payung saya.
Dan semoga saja, mereka pun merasa beruntung karena telah memiliki saya sebagai alat pelindung dari hujan dan terik matahari, kapanpun mereka membutuhkannya…

I love you, Dad, Bro, Mbak Pit, Mbak Ira, Mas Ar, Kiki, dan Keke…
You’re all the greatest ‘umbrellas’ I could ever have in life!
Jangan capek-capek untuk melindungi Anak/Adik/Auntie kalian ini yah… 🙂

***

Kamar, Minggu, 13 Desember 2009, 7.47 Malam
Ada dua payung lagi, deng.
Mami dan Jonathan tersayang 🙂

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

3 thoughts on “Payung-Payungku

  1. satu lagi postingan tentang payung walau dari sudut pandang yang berbeda. Menambahkan keyakinan kutu bahwa Allah telah menciptakan semuanya dengan begitu indah dan sempurna, sehingga kita bisa mengambil manfaat dari semua ciptaanNya.

    Alhamdulillah akhirnya mbak lala kembali ke blog ini, sudah kangen neh setelah berhari2 absen posting, hee ^^

    Posted by adityahadi | December 13, 2009, 10:01 pm
  2. Lala … Strikes Back !!!
    Tulisan nyeng beginian gua paling suka !!!

    (but kali ini rada “ringkes” ya ??)

    Tetapi tidak kehilangan “daya ledak” nya …
    hehehe

    Posted by nh18 | December 14, 2009, 2:24 pm
  3. lala…..gw kira lo mo ngomongin maslah musim hujan dan fungis payung…ternyata payung dalam arti yang berbeda to….keuren bgt nich tulisan..lala bgt gitu loch….

    Posted by ephoy_nich | December 28, 2009, 5:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: