you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Menjelang Tiga Puluh

I was born in February 12, 1980.

Itu artinya, persis dua bulan lagi, saya bakal merayakan ulang tahun yang ke-30, the sacred age, di mana menurut saya, thirty is not a good age, karena saya… um, merasa tua. Ya. TUA. Perpindahan age box dari 20-an menjadi 30-an, jelas memberikan pengaruh yang signifikan buat saya, terlebih saya masih single sekalipun sudah memiliki Pacar yang saya cintai setengah mampus. Perpindahan age box ini jelas-jelas telah mengingatkan saya bahwa mulai sekarang, saya musti mulai memakai pelembab untuk perempuan usia 30-an, bahwa saya musti behave like I’m one of the thirties, bahwa saya musti dress as my own age. Entahlah, mungkin saya memang terlalu hiperbolis, tapi beginilah keadaannya: I’m almost 30 and it’s killing me!

Kemarin, saya menulis status tentang bagaimana inginnya saya tetap berumur 29. Tidak ada simbolisasi angka 30 di perayaan ulang tahun saya nanti. Tidak ada yang menyebutkan, “Happy 30th birthday, ya, La…” Tidak ada yang mengingatkan bahwa saya sudah masuk ke kepala tiga.

Saya tahu, saya memang akan aging. Usia saya bakal bertambah sekalipun batere jam tangan (atau jam dimanapun, di seluruh penjuru dunia) saya copotin agar berhenti berdetik. Apapun yang terjadi, saya bakal getting older. Saya tahu itu. Tapi… hell. Saya cuman nggak pingin ada simbolisasi bahwa saya sudah tigapuluh. Yang artinya, yap, I’m officially old now. D’oh!

Saat saya menulis status itu, beberapa kawan baik saya berkata bahwa saya tak perlu segitu hebohnya memikirkan perpindahan age box ini. Yessy Muchtar, my dearest, malah bilang kalau banyak hal yang bikin dia iri pada saya. Eventhough, saya berpikir kalau dia sangat excited untuk menjadi perempuan kepala tiga –yang artinya berkebalikan dengan ketakutan saya– hanya karena dia seolah telah memiliki segala (karir, pasangan, anak — apa lagi yang kurang?), ternyata dia pun punya rasa iri yang tak pernah saya sadari.

Sawang sinawang — itulah yang disebut oleh orang Jawa. Kita selalu melihat orang lain lebih baik daripada kita. She may have all the things in the world, but she doesn’t have what I have right now. Apakah itu? ‘ME time’. Ya. Waktu untuk sendirian; luluran, ke salon, belanja, chatting sampai tengah malam bahkan pagi buta, makan siang bareng sahabat, semua yang bebas saya lakukan sekarang. Termasuk, nonton DVD tanpa perlu diganggu dengan rengekan anak lelakinya! Wow!

Okay, then. I get it. Sawang Sinawang. Check!

Lalu, kata Indah, kawan baik saya yang lain. Dia bilang, kelak kalau saya benar-benar sampai di usia tigapuluh, perasaannya pasti bakal biasa lagi, kok…

Hm. Ini benar. Somehow, (seperti yang saya tulis di blog saya yang lain, http://curhatkelana.blogspot.com) kita terlalu ketakutan terhadap sesuatu padahal sebetulnya, tidak semenakutkan yang kita bayangkan… Bagaimana kita tahu kalau itu ternyata tidak menakutkan? Tentunya dengan cara… menghadapinya. Jadi, seperti yang dibilang Indah. Mungkin setelah dihadapi, malah ternyata biasa saja.

lucu, ya? I wrote the whole sentence, mungkin tanpa berkedip, tapi kok prakteknya susah bener.. hehe —

I went home, thought about it, lalu mengambil kesimpulan bahwa tidak sepatutnya saya merisaukan hal ini, tapi… oh my Lord. Susah bener, ya? Saya berjuang untuk mensugesti diri sendiri bahwa it’s okay being a thirty and single. It’s okay being a thirty and doesn’t have much achievements. Santai napah, La?

Tapi, ya. Lala adalah Lala. Perempuan lebay yang masih kepikiran dengan pertambahan usianya dua bulan lagi, yang dengan sekaligus mengumumkan pada dunia bahwa… she’s now thirty. Argh!

**

I can’t stop the time.

I can’t stop my natural aging in my body — especially my face!

Saya tidak punya kuasa untuk melakukannya, untuk menghentikan semua ini. Satu hal yang bisa saya lakukan adalah, um, memanipulasi penampilan! I’m maybe aging, but I’m not looking as a thirty years old woman. Saya pingin tetap bergaya muda! 🙂

Memotong rambut saya pendek-pendek adalah salah satu cara supaya saya tetep keliatan awet muda — walaupun sempet tersindir gara-gara ada iklan pelembab wajah yang mengatakan kalau bukan rambutnya yang dipotong pendek, tapi pake pelembab yang benar biar keliatan muda. Jiah!

Rajin-rajin bergaul dengan anak-anak muda, mencari tahu apa yang sedang happening.

Dan satu hal lagi; dress like ’em.

Yap.

Tadi siang, saya mencoba untuk berpakaian ala anak kuliahan saat jalan-jalan ke mal bareng sama sahabat saya, Lin. Tidak pernah dalam sejarah, saya memakai kaos, celana jeans, tas selempang, sepatu keds, dan kaca mata minus saya serta membawa buku saat jalan ke mal, but hey, I did it!

Biasanya, saya ke mal dengan pakaian favorit saya. Girly ones with highheels. Bisa blus perempuan dengan celana jeans, bisa kaos oblong dengan rok jeans pendek… dan semuanya with heels atau sandal perempuan. Tapi tadi siang, saya ternyata membuka pintu ajaib. Instead of my room’s door, I opened a door to the past! Iya, 12 tahun yang lalu, saat saya masih kuliah.

What’s got in to me?

Nggak jelas juga. Mendadak, saya cuman ingin berganti kulit menjadi perempuan remaja atau anak-anak kuliahan lagi. Sindroma Menjelang Tiga Puluh, kali!

Jadi, saya pun melenggang keluar dari pagar rumah dengan setelan mirip anak kuliahan. Short hair, t-shirt berkerah favorit saya warna hitam, celana jeans, running shoes, tas selempang, menenteng buku tebal — chicken soup, dan ya. Memakai kaca mata minus saya. Hey, world! Saya berganti kulit, nih!

Dengan penampilan semacam itu, membuat supir yang angkotnya mengantarkan saya sampai ke mal berkomentar, “Mbak mau kuliah nih? Ada ujian, ya?”

Hiyah! Berhasil! Berhasil! Berhasil! Horrraaayyy! – ala Dora the Explorer.. hehe –

Sampai di mal, saya pun berlari-lari kecil dengan sepatu keds saya. Naik ke atas tangga berjalan dengan lincah, menapakkan kaki ke lantai mal dengan riang dan sedikit jumpy… bener-bener, deh. I was like a kid! Saya tidak pernah berlari-lari lincah dengan riang gembira seperti tadi. Saya seringkali memakai highheels. What do you expect, but ankle’s accidents?

Lin geleng-geleng kepala saat melihat saya. Dia memang sudah berpikir kalau sahabatnya ini gila, tapi dia mungkin baru menyadari kalau sahabatnya ini sudah keliwat gila! Hehe.

I just wanna look young…”

“Kenapa?”

I don’t want people look at me as I’m an old woman.

“Kamu masih tiga puluh. You’re young!”

But I feel old…”

Then it’s your own problems, Dear. Deal with it.

Saya tercenung memikirkan kalimatnya.

That’s my problem and I have to deal with it?

Saya yang menciptakan sugesti semacam itu dan adalah tugas saya pula untuk melakoni apa yang saya ciptakan?

Saya yang menganggap bahwa being thirty and not married artinya adalah kegagalan terbesar sepanjang sejarah dan itu pula yang musti saya kunyah dan telan?

“Satu pertanyaan deh, La.”

“Apa?”

Are you sure that you choose a running shoes over a stiletto?”

Saya melirik ke sepatu keds yang saya kenakan dan suddenly, I miss my high heels!

**

-Ting!-

Pintu lift terbuka. Saya masuk ke dalam tabung lift itu lalu menunggu untuk sampai ke lantai tiga, tempat food court berada. Hanya ada segelintir orang di sana; seorang petugas lift, saya, Lin, dan seorang remaja yang sedang asyik dengan ponselnya.

Gadis remaja itu mungkin sedang asyik berteleponan dengan pacarnya. Ini saya ketahui karena beberapa kali saya mendengar cekikikannya dan senyum-senyum girang yang terlihat di wajahnya. Belum lagi kata-kata yang keluar dengan desahan-desahan seperti orang kepedesan. Beugh! Saya yakin, dia sedang pacaran!

Lantas apa urusan saya?

Hm, tentu saja, karena saya melihat tingkahnya yang soooooo childish. Sudah tahu lift itu susaaaaahhhh banget dapet signal ponsel, ini masih pake acara ngomong, “Hallooo?? Hallooooo?? Haaalllllllooooooooooooooooowwwww….” Dan keliatan sok kebingungan gitu. Lah, jelas aja ilang suaranya. Elo di dalam lift, Neng!

Ketika pintu terbuka, remaja itu mulai lancar mendesah-desah lagi. Tapi saat tertutup, dia mulai lagi dengan, “Haaaallllooooowww?????”

Idih!

Ketika kami sama-sama keluar dari lift, saya sempat mengamatinya. A girl who’s not supposed to wear that kind of outfit. Pakaian yang tidak menunjukkan keremajaannya sama sekali — kalian sadar nggak, sih, kalau banyak anak-anak jaman sekarang yang pakaiannya naudzubillah di-sok-sok-in dewasa banget? Dengan sepatu setinggi galah dan rok sependek mungkin, lalu rambut di-rol, dan nggak beda sama penampilan emaknya? Perhatiin deh kalau sempet ke mal. They’re everywhere!

Lalu saya tersenyum dan Lin melihatnya.

“Kenapa?”

“Gue ngerasa malu aja.”

“Kenapaa??”

“Karena gue mati-matian berlagak muda dan anak tadi berlagak dewasa banget.”

“Hm…”

“Padahal apa? It’s only a cover…”

Sekalipun saya berjuang untuk berpenampilan seperti anak kuliahan, tapi tetap saja saya adalah perempuan berusia menjelang tigapuluh. I can cover my looks, my I can’t cover my inner self. Saya tetap Lala, perempuan yang sebentar lagi bakal berusia tiga puluh, yang bawel dan cerewet serta kepingin kawin dengan Pacarnya. Sosok itu bakal terlihat nyata ketika saya mencopot outfit tadi dan memakai pakaian tidur lalu mengoleskan krim malam untuk menghilangkan kerut merut di wajah saya…

Siapa yang ingin saya manipulasi? Orang lain, atau saya sendiri?

**

Saya memang masih deg-degan dengan pertambahan usia nanti. Saya memang masih menganggap tiga puluh adalah usia yang matang — kalau tidak ingin disebut tua. Saya masih merasa tidak nyaman dengan simbolisasi tigapuluh di ulang tahun saya nanti.

But hey…

Saya tidak ingin stand still. Saya pengen ber-progress, dan yang disebut progress adalah maju ke depan, tidak mundur ke belakang. Resiko dari maju ke depan adalah… aging.

Daripada saya menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan perpindahan age box yang bakal membuat kerut-merut di wajah saya semakin nampak, why don’t I enjoy the ride?

Afterall…

I will be a fabulous thirty years old gal, anyway… 🙂

***

Kamar, Sabtu, 12 Desember 2009, 11.31 Malam
Untuk Yessy Muchtar dan Indah Wd.


Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

4 thoughts on “Menjelang Tiga Puluh

  1. Siap siap cari jodoh, inget sodaranya istriku, saat dia umur 32 mau ga mau akhirnya di jodohin lagi, ortunya nyalahin anak nya karna ngga bisa memilih, akibatnya “hak pilihnya” dicabut, dan dinikahken atas pilihan orang tau… well, banyak jalan menuju cina, hahaha.

    Posted by Raffaell | December 13, 2009, 8:41 pm
  2. Kutu yakin koq mbak lala bisa menghadapi semuanya. First, ini masih 2 bulan lagi, coba menyibukkan diri dengan sesuatu yg exciting, pasti kelewatan n tahu2 dah surprise party, HAppy Birthday ^^. Second, we have to be older from time to time, emang mungkin ada yg beda ketika kita bertambah tua (sama kayak kutu yang beralih dari kepala satu ke kepala dua 6 bulan yang lalu), tapi semuanya musti dijalani, dan tentunya Tuhan pasti telah menyiapkan hal2 menarik untuk kita di umur yang baru … Semangat Mbak !!!

    Salam hangat dari kutu ^^

    Posted by adityahadi | December 13, 2009, 9:59 pm
  3. yess…keep moving forward kalo kata walt disney.

    Posted by hamidah | December 14, 2009, 9:55 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: It Isn’t Scary « the blings of my life - February 13, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: