archives

Archive for

Panggilan dari Surga

Pernahkah kamu berada di sebuah toko buku, tanpa memiliki secuilpun bayangan jenis buku apa yang akan kamu beli, penulis mana yang bukunya bakal kamu nikmati lembar demi lembarnya, tapi kamu tak bisa menghentikan langkah kakimu untuk menyusuri lorong demi lorong rak-rak buku?

Kalau pertanyaan itu musti kujawab, aku bakal bilang, “Pernah.” Oh tidak, bukan pernah, tapi, “Sering.”

Toko buku adalah sebuah Surga dunia; bersebelahan dengan warung makanan cepat saji dengan menu andalan ayam goreng kriuknya, jadi kusebut saja toko buku sebagai Surga Dunia blok B. Ada kesenangan tersendiri untuk berlama-lama di dalam toko buku, membiarkan sepasang mataku berkelana dari satu rak ke rak yang lain, menikmati lembar demi lembar buku sambil berdiri atau mencari kursi beralaskan cushion empuk lalu diam di sana sampai berjam-jam.

Siapa yang ingin meninggalkan Surga cepat-cepat, kan? 🙂 Continue reading

How Judgmental Are You?

Beberapa jam yang lalu, aku kencan singkat dengan sahabatku, Ly. Karena rumah kami yang lumayan berdekatan jaraknya, biasanya, in only a phone call away (atau sebiji SMS saja), dalam beberapa saat kemudian, kami sudah berada di suatu tempat, entah itu Mal, warung bakso, toko alat elektronik, atau toko buku yang paling sering memberikan diskon, Uranus.  Jadi, tadi sekitar pukul enam sore lewat sekian menit, aku mengajaknya bertemu di Supermal, Mal terdekat dari rumah.

Saat kami sedang berada di Trimedia, asyik melihat-lihat beberapa judul novel yang sedang hip saat ini, mendadak aku curhat soal beberapa orang yang melihatku dengan kacamata yang salah. Mereka tidak mengenalku dengan baik, tapi menjustifikasi aku sedemikian rupa. Hanya orang-orang terdekat yang tahu seperti apa aku; living and breathing. Mereka menjustifikasi aku dengan kejam dan aku menangis karenanya.

Tadi aku bilang sama Ly, “I hate people who’s being judgmental…” Continue reading

Ternyata Memang Sepenting Itu…

Blackberry sudah booming sejak setahun terakhir. Beberapa bulan terakhir malah makin seru karena mulai bermunculan varian Blackberry dengan harga yang lebih terjangkau – tidak lagi main di angka 5 juta ke atas tapi 2 jutaan saja. Akibatnya, hampir setiap orang yang bersliweran di Mal, semuanya menenteng BB. Kalau dulu Foodcourt menjadi tempat yang asyik buat makan dan ngobrol, kini semua asyik dengan gadgetnya masing-masing. Dua orang duduk di meja yang sama, tidak saling berbicara, tapi mereka berbicara asyik dengan teman mereka nun jauh di sana menggunakan fasilitas E-Buddy atau BB messenger. Ya, sudah seperti inilah yang terjadi.

Kenapa aku mendadak cerita soal Blackberry? Continue reading

Bicara Soal Mati

Pernahkah kamu berbincang-bincang soal kematian? Tentang bagaimana kamu akan mati lantas berimajinasi atau berandai-andai bagaimana hidupmu setelahnya? Seberapa panaskah Neraka dan bagaimana perihnya kulitmu yang melepuh karena koyakan bara apinya? Atau mungkin kamu membayangkan bakal tinggal di Surga setelah mati – sekalipun aku tidak ingin gede rasa kalau pemberhentian awalku bakal langsung di Surga?

Aku takut pada kematian, mengingat kumpulan catatan dosa-dosaku yang mungkin jika seorang Penerbit memiliki keisengan tingkat tinggi untuk menerbitkannya, dosa-dosaku itu bakal tertulis dalam berjilid-jilid buku. Iya, sebanyak itu! Aku sudah merupakan pendosa sejak masih kecil dan sampai umur hampir tiga puluh ini, dosaku sudah cukup banyak untuk memenuhi kuota masuk ke Neraka. Itulah alasan kenapa aku takut pada kematian dan butuh waktu lebih panjang lagi untuk membuat timbangan pahala dan dosa menjadi tidak terlalu timpang. Continue reading

It’s Never Gonna be Easy…

Tujuh tahun yang lalu, Mami meninggal. Ini di luar ekspekstasi karena saya tidak pernah melihat Mami berperang dengan penyakitnya. Langit secerah vanila dan burung-burung terdengar begitu cerewet, tapi tepat pukul dua siang, Mami meninggalkan saya selama-lamanya.

Hampir empat puluh hari sebelumnya, sahabat Mami, yang juga Ibu dari tetangga yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri, meninggal dunia karena kanker Pankreas yang sudah akut.

Saat itu saya membanding-bandingkan perasaan sedih saya dalam kebisuan dan berkata, “Kalau Lia, Atta, Lena, kan sudah tau persis Mami-nya bakal meninggal.. Mereka tau kalau organ tubuh Mami-nya sudah tidak berfungsi sebagai mestinya. Dokter bahkan menyuruh mereka untuk merelakan kepergian tante Fred. Aku yang lebih sedih, aku yang lebih menderita karena kepergiaan yang sangat mendadak!”

Saya memang merasa lebih ‘berhak’ untuk bersedih, meratapi hari-hari tanpa Mami, dengan satu alasan: saya tidak siap. Kalau saja saya tahu Mami sedang menanti ajalnya, mungkin saya akan merasa lebih legawa, lebih siap menghadapinya, tidak terlalu sedih…

Tapi betul, kah?

** Continue reading

Gadis Pemimpi

Ada seorang teman mengatakan, “Kamu itu bermimpi!” ketika saya selalu percaya pada kata hati ketika kekasih sedang jauh.

Lalu seorang teman yang lain mengatakan, “Bangun, deh, La. Hidup nggak seindah seperti yang kamu bayangkan!” ketika lagi-lagi saya percaya kalau hidup bakal baik-baik saja sesuai dengan harapan saya.

Dan pernah juga seorang teman mengatakan, “It’s a great expectation!” ketika saya bilang sama dia kalau saya percaya pada happy endings di dunia digital yang mungkin sudah terlalu pilu dari hari ke harinya.

Bermimpi.
Hidup tidak seindah yang saya bayangkan.
Dan I live a life with a great expectation.

Enough said, saya adalah seorang Gadis Pemimpi. Continue reading

Sebuah Rekaman Suara

Di suatu sore, saya menunggu kakak ipar saya, Mbak Ira, yang masih belum turun dari lantai tiga sebuah gedung Bank, tempatnya mengais rejeki dari Senin sampai Sabtu. Berdua dengan kakak saya, Bro, seperti biasa, kami menunggu di dalam sedan hijaunya, menyetel musik dari stereo setnya, lalu bernyanyi-nyanyi bersama. Sudah bukan rahasia kalau anak-anak Mami dan Papi adalah ‘penyanyi kamar mandi’ semua, sehingga sering sekali kami melewatkan waktu dengan nyanyi-nyanyi gila barengan.

Namun ada yang berbeda dengan sore itu, ketika saya memutuskan untuk merekam suara saya dan Bro dengan ponsel saya. Saat itu, kebetulan lagu-nya Maliq & D’Essential, Untitled, yang terputar dari MP3 playernya. Aksi pertama memang diam-diam, karena Bro sebetulnya nggak suka hal-hal yang narsis seperti ini. Tapi entah, saat itu dia kesambit setan apaan, karena begitu tahu kalau suaranya direkam, dia malah makin asyik bernyanyi dengan suara sok dimerdu-merduin! 😀 Continue reading

Payung-Payungku

Payung.

Tak perlu saya definisikan bagaimana bentuk rupanya, tapi saya yakin, kamu semua pasti tahu bagaimana bentuk serta fungsionalnya. Payung; mungkin dalam warna-warni yang cantik, bergambar-gambar yang lucu, berukuran kecil sampai besar, bergagang plastik bening atau kayu berpelitur, yang fungsinya tetap sama: melindungi saya dan kamu dari hujan atau sinar matahari yang terlampau terik.

Payung; sebuah perlindungan termudah yang bisa saya cemplungkan di dalam tas dan membuat saya merasa terlindungi dalam aneka macam cuaca. Hari yang sangat terik sampai hari yang sangat basah. Sederhana, tapi sangat bermakna hadirnya buat seorang seperti saya, yang seringkali menumpang angkot kemanapun saya pergi. Yang sewaktu-waktu bakal kebasahan kalau gerimis tiba atau rela kulitnya menggelap karena sinar matahari.

Hm, kenapa saya tiba-tiba bicara soal payung? Continue reading

Menjelang Tiga Puluh

I was born in February 12, 1980.

Itu artinya, persis dua bulan lagi, saya bakal merayakan ulang tahun yang ke-30, the sacred age, di mana menurut saya, thirty is not a good age, karena saya… um, merasa tua. Ya. TUA. Perpindahan age box dari 20-an menjadi 30-an, jelas memberikan pengaruh yang signifikan buat saya, terlebih saya masih single sekalipun sudah memiliki Pacar yang saya cintai setengah mampus. Perpindahan age box ini jelas-jelas telah mengingatkan saya bahwa mulai sekarang, saya musti mulai memakai pelembab untuk perempuan usia 30-an, bahwa saya musti behave like I’m one of the thirties, bahwa saya musti dress as my own age. Entahlah, mungkin saya memang terlalu hiperbolis, tapi beginilah keadaannya: I’m almost 30 and it’s killing me! Continue reading

could I hold their hands?

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
Tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu?
Sekilas galau mata ingin berbagi cerit
a…

Seorang perempuan terduduk lesu di sudut kamar. Badannya kurus; hanya tulang dengan selimut kulit yang mengerut. Wajahnya pucat dengan lingkar-lingkar hitam di sekitar matanya. Rambutnya kusut masai. Kaos oblongnya yang nampak terlalu besar untuk melindungi tubuh cekingnya jelas membuatnya semakin tidak ‘indah’. Belum lagi ia diam, tanpa suara, dan memandang garis-garis samar di lantai sambil melukis dengan ujung jarinya. Melukis, yang entah apa.

Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan?
Satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh..

Lelaki itu memandangnya. Menghela nafas berkali-kali dari balik pintu. Ia meragu; ingin melangkah, tapi ia tahu sahabatnya itu akan mengusirnya pergi sekali lagi. Tapi, bisakah ia diam saja? Menanti waktu itu datang, merenggut nyawa, dan membiarkan sahabatnya sendiri sampai kereta-nya datang menjemput?

Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa

Ia terlalu menyayangi sahabatnya. Melihat binar-binar di kedua mata sahabatnya menghilang begitu saja jelas membuatnya ingin berbuat sesuatu. Lelaki itu bukan Ilmuwan yang bisa meracik obat-obat ajaib untuk mengusir pergi laranya, tapi.. ia memiliki sesuatu. Satu hal kecil yang harusnya diketahui oleh sahabatnya.

Lelaki itu..
..memiliki bahu.

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
Biar terbagi beban itu dan tegar dirimu
Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
Tak hilang arah kita berjalan menghadapinya…

**

Hari ini, tanggal 1 Desember 2009, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Sebuah hari yang didedikasikan khusus untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabahAIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Entah, ketika saya mendengar kata AIDS dan peringatan hari AIDS sedunia, mendadak saya teringat dengan sebuah lagu lama, yang dibawakan oleh Katon dan Uthe, Usah Kau Lara Sendiri, yang video klip-nya sangat dahsyat dan um, memorable buat saya. Bianca, si model, jelas telah dengan apik melakoni perannya di sana, sebagai seorang pengidap HIV AIDS yang murung dan menghitung hari.

Ah, sayang sekali saya nggak berhasil menemukan videoklip (orisinil)nya di belantara youtube.com, tapi buat kamu-kamu yang setidaknya sepantaran dengan saya (atau lebih tua), pasti pernah mengetahui video klip lagu itu, yang saat saya menulis cerita ini, angan-angan saya berkelana; mengembara, lalu bertanya, “Apakah saya bisa melakukan hal yang sama? Dengan tegar merangkul seorang sahabat yang menanti ajalnya? Dengan tabah menemani dia menghitung harinya? Memberikan cahaya di kegelapan harinya? Atau saya malah tak bisa berpura-pura sedih dan menambah beban dalam hatinya dengan ikut menangis bersama?”

Could I hold their hands?

Or  would I only cry for them…?

Ah, semoga saya tak perlu menjawab pertanyaan ini seumur hidup saya. Not ever…

***

Kamar, Selasa, 1 Desember 2009, 10.23 Malam

Catatan Harian

December 2009
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Celotehan Lala Purwono