you're reading...
Thoughts to Share

Great Expectation

Ada suatu malam, ketika saya tergesa-gesa pulang ke rumah, karena saya tidak sabar untuk segera menonton sekeping DVD film drama romantis yang sudah sekian lama saya tunggu keberadaannya dan saat itu sudah ada di dalam tas laptop saya. Perjalanan pulang di atas kendaraan yang membuat saya senewen karena macet dan musti mampir sana-sini, jelas makin membuat saya ingin berteriak, “Aaarrrggghhh!!”

Dengan perasaan yang menggebu-gebu, jelas membuat saya makin berteriak girang ketika jarak tempuh saya dengan rumah sudah semakin dekat. Tapi apa yang terjadi? Sampai di rumah, ternyata listrik padam! Gimana bisa saya nonton DVD – FYI, laptop saya nggak ada cd-rom-nya – kalau listriknya padam? Mau dicolokin ke lubang idung? Kalaupun bisa, emang ada yang rela idungnya dibuat colokan DVD player?

Saya kecewa setengah mampus.
Udahlah nggak bisa nonton DVD, ini ditambah dengan nggak bisa nonton tivi sama sekali. Apalagi laptop juga lupa di-charge sehingga baterainya sekarat. Demikian pula baterei ponsel. That’s so f**king amazing! šŸ™‚

**

Dulu, saya pernah kecewa sekali dengan seorang mantan pacar – dulu sih belom mantan. Niat awal menggebu untuk merayakan setahun jadian dengan dia. Saya mengatur segalanya; mulai dari rencana kencan sampai membeli hadiah untuknya. I was so excited. Pacar pertama, first anniversary pula. Kebayang betapa girang dan excitednya saya saat menyiapkan segala sesuatunya, kan?

Saya membayangkan hari yang romantis. Saya membayangkan wajahnya yang tersenyum senang saat mendapatkan buku kumpulan puisi saya; buku harian yang saya tulis benar-benar sehari sekali atau bahkan setiap saat saya mengingat wajahnya. Beugh! Oh, my. Pasti bakal keren banget, deh!

Tapi apa yang terjadi? Pada hari itu, tepat di hari itu, saya malah putus dengan pacar yang sekarang sudah jadi mantan itu… Hiks!

**

Saya menyebutnya Great Expectations; sebuah pengharapan yang berlebihan terhadap satu hal yang sifatnya belum pasti. Apa, sih, yang disebut pasti di bumi? Kecuali ilmu eksakta, semuanya tidak ada yang pasti. Like life itself, tidak ada yang menduga kemana dia akan menggelinding. Jadi? Nggak ada yang pasti di dunia ini kecuali kita semua adalah makhluk ciptaanNya. Selesai. Itu saja.

Makanya, ketika saya cerita dengan seorang kawan, dia malah bilang, “Jadi orang jangan berharap terlalu banyak. Live your life aja. Kalau keliwat berekspektasi, ntar kamu bakal banyak kecewanya!”

Too much expectations will kill you, eh?

**

Dengan seorang kawan yang lain, saya bertanya, “Kamu pernah berharap sesuatu terus kecewa karena harapanmu nggak kesampaian, nggak?”

Sambil menyesap kopinya, dia bilang, “Ya, pernah. Pasti. Siapa yang nggak kecewa kalau harapannya nggak kesampaian?”

Saya manggut-manggut sambil menikmati sisa-sisa bulir air kopi yang ada di sudut bibir saya. “Kalau sudah kecewa begitu, apa kamu bakal berhenti berharap?”

“Supaya apa?” tanyanya. “Supaya aku nggak kecewa lagi, gitu?”

“Iya.”

“Emangnya bisa hidup tanpa ekspekstasi?”

“Hmmm..”

“Kalau emang kamu bisa hidup tanpa berekspekstasi apa-apa, mending kamu kasih tau caranya ke aku, gimana?”

Malam itu, kami tertawa. Gimana, nggak. Ini semacam orang buta yang menggandeng orang buta lainnya. Blind leads the blind. Kapan bisa nyampe tujuan?

**

Seorang kawan menyuruh saya untuk hidup tanpa ekspektasi; menikmati apa saja yang ada di depan mata. Grab the chance, grab the opportunity, and deal with all the risks. Ekspektasi membuat kita terlena, membuat kita merasa sakit hati kalau kemudian keadaan berbalik; seperti bumerang yang dilemparkan kencang-kencang ke depan tapi malah kembali melukai kita kalau kita nggak siap menangkapnya.

Don’t fly too high. Terasa lebih sakit kalau kamu jatuh dari ketinggian yang jauh lebih tinggi.

Don’t have a great expectation over things. Kalau tidak terwujud, kamu bakal kecewa setengah mampus.

Live your life as it is. Maybe as a running water. Berekspektasi membuatmu terlalu memikirkan hasil akhirnya saja dan ketika hasil akhir itu tidak sesuai, kamu malah menjerit histeris!

Tapi… can you live a life without any expectations?

Tidak punya mimpi apa-apa. Mengunyah apapun yang disodorkan, tanpa complain? Kamu tahu kamu memang tidak akan kecewa, karena.. ya. Emangnya apa yang tidak terjadi? Emangnya, apa yang gagal? Emangnya, apa yang tidak sesuai? Kamu tidak pernah berharap apa-apa untuk terjadi. Kamu tidak bermimpi kalau ini akan berhasil. Kamu tidak memiliki pengharapan tentang segala sesuatu.

Kamu hanya menjalaninya seperti air.

Kamu tidak berani bermimpi dan berharap karena takut kecewa.

Memang, kamu tidak merasakan kecewa. Memang benar, kamu merasa biasa-biasa saja. Tapi betulkah itu lebih menyenangkan?

**

Akhirnya saya memutuskan untuk begini saja.

Having expectations is great.

Sepanjang ekspektasi itu dibarengi dengan usaha, kerja keras, serta niat yang baik, ekspektasi itu cenderung akan membantu saya meraih apa yang saya inginkan.

Tapi, ekspektasi juga musti dibarengi dengan rasa legawa. Rasa nrima. Kalau tidak, ekspektasi malah akan menghancurkan mimpi-mimpi saya, dan mungkin, trauma yang ditimbulkan setelahnya malah akan membuat saya kecewa dan malas melakukan apa-apa. I maybe live my life, tapi saya tak punya keinginan dan ekspektasi apapun. Macam mayat hidup saja! šŸ™‚

**

Saya lebih baik merasa kecewa, merasa sedih, menangis karena apa yang terjadi ternyata tak sesuai dengan ekspektasi saya, daripada saya tak berharap apa-apa.

Hidup bagai air ternyata tak semudah yang dibayangkan, khususnya buat seorang perempuan yang moodnya gila-gilaan seperti saya. Jadi? Saya lebih baik berekspektasi saja… Sembari terus berdoa, “Tuhan, beri saya keikhlasan, apapun kondisinya kelak.”

Apapun itu.

Apapun.

***

Kantor, Senin, 30 November 2009, 4.29 Sore
“Dan saya lebih baik bermimpi tentang kamu, daripada harus berhenti memimpikanmu cuman karena saya takut sakit hati lagi, Sayangku…” ^_^

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

13 thoughts on “Great Expectation

  1. Hope for the best but be prepared for the worst …

    Posted by Oemar Bakrie | November 30, 2009, 4:43 pm
  2. HHmmm …
    Great Expectation it think … it’s Ok ok saja …

    Yang tidak boleh itu adalah …
    “Over Expectation”

    Let’s think about it first …
    (jaaahhh nemu kata-kata trade mark lagi nih …)

    Salam saya La …

    Posted by nh18 | November 30, 2009, 10:13 pm
  3. mantap postingannya…
    setuju, ekspektasi sangat diperlukan cuma jangan berlebihan dan harus diimbangi usaha keras..

    Posted by muhamaze | December 1, 2009, 7:22 am
  4. kata orang pintar nih: “Man propose God disposes” (benar gak La tulisannya? gak pede nulis enggris dekat Lala šŸ˜‰ )

    bila kita menyadari bahwa Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik buat kita, maka kegagalan atas espektasi kita itu akan dilalui dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. sehingga, gak bakal keluar penyesalan apatahlagi umpatan… šŸ˜€

    Posted by vizon | December 1, 2009, 10:15 am
  5. setujuuuuuuuuuuuuuu, banget banget mbak …

    gak ada salahnya menurut kutu untuk mempunyai ekspetasi, harapan, bahkan mimpi … karena mimpilah yang bisa membuat kita besar dan bersemangat meraih segalanya

    tentu saja kita telah sama2 dewasa, dan sudah seharusnya memiliki pertimbangan2 yang dewasa, jangan dikit2 mewek hanya karena pupus harapan. Sediakanlah banyak harapan agar … gugur 1 tumbuh 1 juta ^^

    tp yg cerita putus itu fakta yah mbak? hufhh, pasti sakit banget

    Posted by adityahadi | December 1, 2009, 12:52 pm
  6. semua itu harus ada harapan, mimpi, ekspetasi, karena itu penyemangat untuk menggapai yang lebih baik. tp kalo berlebihan sih, ya gka bagus juga. semua yang berlebihan gak da yang bagus, apapun itu

    Posted by zulhaq | December 1, 2009, 2:07 pm
  7. itu film favourite aku sepanjang masa…
    suka bangetttt

    Posted by yustine | December 1, 2009, 3:36 pm
  8. nah sekarang saya yang mampir sini kan? sukses terus dan keep writing ya… šŸ™‚

    Posted by herlinatiens | December 1, 2009, 10:00 pm
  9. tp terkadang menangis ituh sangat sakit mbak,,,
    T_T

    Posted by Emy | December 1, 2009, 10:07 pm
  10. dan sudah berharap yg terbaik ternyata harus kecewa la…mirip2 sama postingan gw nih šŸ˜€

    apa kabar cantik ?

    Posted by Ria | December 3, 2009, 2:40 pm
  11. keyen mbak. tapi hidup itu sendiri memang seperti gambling kan. gak ada kepastian akan mutlak bahagia atau merana. tapi apa iya mesti nerima begitu aja. so…aku sih selalu punya mimpi dan pengharapan. tapi hasil akhirnya…..? kuserahkan lewat kerja kerasku dan ketentuan yang diatas. kalo gak sesuai dengan harapan? aku sih memilih untuk mensyukuri nikmat yang ada aja dan membuat ekspektasi lagi. kapok? gak juga, hehehe.

    Posted by Neng Ika | December 9, 2009, 5:51 pm
  12. hidup harus punya harapan, namun bersiap jugalah utk akibat yg terburuk, agar seimbang.
    salam.

    Posted by bundadontworry | December 17, 2009, 1:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: