you're reading...
daily's blings

It’s Not Worthless, but Precious

Dua hari yang lalu, topik obrolan di kantor adalah mengenai sepasang kekasih yang akhirnya musti berpisah karena mereka berbeda agama. Yang membuatnya istimewa adalah sepasang kekasih itu bertahan di dalam hubungan percintaan itu sampai tujuh tahun lamanya! Fantastis, kan?

Seorang kawan, dengan tanpa tedeng aling-aling, segera berkata, “Itu namanya buang-buang waktu!” Dan dari nadanya, entah kenapa, saya menangkapnya sebagai kalimat yang melecehkan pilihan hidup seseorang, melecehkan keputusan seseorang dalam menjalani hidup mereka, sehingga kemudian hati saya seperti berteriak sekalipun hanya cukup untuk konsumsi pikiran saya sendiri.

Diam-diam, saya menulis status di Facebook untuk menuangkan kekesalan saya. Saat itu saya menulis:

Ada obrolan tentang sepasang kekasih yang akhrinya berpisah setelah tujuh tahun pacaran karena berbeda agama. Seorang teman berkomentar, “Mereka buang waktu!” Tapi saya bilang, “Nope. Mereka pasti belajar banyak hal lewat tujuh tahun itu. Pelajaran yang mungkin tidak kamu ketahui, tapi membuat mereka menjadi lebih dewasa..” *Gosh, I hate people who’s being judgmental!*

Ya. Saya menulis begitu karena saya tahu tidak akan bisa meluapkan rasa marah saya kepada seorang rekan kerja yang setiap hari berbagi rejeki di tempat yang sama. Terlebih, kalau saya marah-marah padanya, apa bedanya saya dengan orang yang saya benci?

Setiap orang berhak memiliki pendapat terhadap segala sesuatu. Entah itu bakal sesuai dengan pola pikir kita atau tidak, mereka berhak menyuarakan pendapatnya. Memaksakan pendapat saya jelas bukan pilihan, sehingga yang saya bisa katakan saat itu adalah, “Hum… nggak tahu, deh, Mbak. Tapi aku yakin, kok, kalau mereka belajar sesuatu dari tujuh tahun pacaran itu…”

Karena saya selalu percaya, nothing comes for nothing. Selalu ada pembelajaran. Selalu ada maksudnya. Selalu ada tujuannya. Kamu setuju dengan saya?

Entah dengan kamu, tapi saya tahu, seorang sahabat yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri, Sis Imelda Coutrier, sependapat dengan saya. Kakak saya itu pernah berpacaran selama tujuh tahun dengan lelaki yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Justru ketika hubungannya berakhir, she finally found herself. Imelda Coutrier yang sesungguhnya. Imelda Coutrier yang punya keinginan. Imelda Coutrier yang bebas mewujudkan keinginannya.

Semasa tujuh tahun berpacaran menggemblengnya menjadi manusia yang lebih baik. Jadi, siapa bilang kalau dia membuang waktu?

Seorang teman yang lain, Adi namanya, mengatakan kalau banyak pelajaran yang bisa diambil di sana. Kita belajar bertenggang rasa dan respek terhadap orang lain.

Hm, ini benar.

Saya sendiri sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan lelaki yang berbeda agama, bahkan pacar saya yang sekarang memeluk agama Kristiani. Dulu, saat berpacaran dengan lelaki beragama Kristen, saya belajar untuk bertenggangrasa terhadap kebiasaannya. Mulai dari berangkat ke Gereja, merayakan Natal, juga Paskah. Dia pun menghargai saya, sampai-sampai, justru dia yang mengingatkan saya untuk sholat lima waktu. Keren, kan? 🙂

Hubungan saya pun berakhir tiga tahun berikutnya. Tapi apakah saya menyesal dan merasa waktu saya terbuang?

Oh tidak.

Sama sekali tidak. Saya justru belajar banyak dari situ. Bukan hanya dari perbedaan agama di mana kami berdua musti tidak berusaha saling mengungguli satu sama lain, tapi juga dari hal-hal lain, yang terjadi dalam tiga tahun saya berpacaran dengannya.

Lagi pula, saya putus bukan karena perbedaan agama, tapi karena selisih pendapat yang rupanya tak bisa ditolerir lagi. Sekalipun saya menangis, sekalipun saya sedih setengah mampus, tapi bukan berarti saya menganggap bahwa saya telah membuang-buang waktu saya. Oh well, siapa yang menyangka kalau kini saya baik-baik saja, kan?

Saya tahu, sekeliling saya ramai mengatakan kalau saya telah membuang-buang waktu dengan mantan pacar saya itu. Tapi, sesungguhnya, mereka tidak tahu kalau saya yang sekarang ini adalah hasil dari tempaan setiap keping peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Jadi? Buang waktu?
Ah, itu kan mereka yang bilang, bukan saya… 🙂

**

Balik ke soal tadi, ketika saya tidak berani menyanggah pendapat teman saya karena saya mencoba untuk menghargai pendapat semua orang; akhirnya saya pun mencoba untuk membiarkan orang berpendapat sesuai dengan isi kepalanya, sesuai dengan pemikirannya.

Kalau mereka menganggap saya buang waktu, ya biarlah mereka menganggapnya begitu.
Masalah kemudian mereka sesungguhnya tidak mengetahui apa yang saya rasakan, pelajaran apa yang saya petik, dan bahwa saya mendewasa karenanya; tak perlu lah saya membela diri sampai sedemikian rupa.

Tujuh tahun pacaran lalu putus, membuat Sis Imel berhasil menemukan dirinya sendiri.
Tiga tahun pacaran lalu putus, membuat saya banyak belajar tentang hidup bertenggangrasa dan menghargai pendapat orang lain dengan lebih bijaksana.

See? Nothing comes for nothing, kan?

Jadi, kalau sampai kamu berada dalam posisi seperti sepasang kekasih yang menjadi topik obrolan saya dua hari yang lalu, percayalah pada satu hal.

If you think that it’s right, just do it. Not just ‘do it’, but do it BEST.
Dan kalau ternyata keputusanmu salah, well, anggap saja… it’s your sweet mistake…

Dan sama halnya dengan kamu-kamu yang tidak berada di posisi itu, hm.. setidaknya, you will never know what it feels to be them, unless you try to wear their shoes.

Saya percaya. Kalau kamu benar-benar memakai sepatunya dan memahami apa yang mereka rasakan, mengerti apa yang mereka hadapi, dan menikmati apa yang pernah mereka jalani, mungkin kamu akan sependapat dengan saya, bahwa it’s not worthless, but precious.

Sama preciousnya dengan kesalahan-kesalahan lain yang pernah terjadi dalam hidupmu, yang telah membangun seorang kamu, di hari ini…

***

Kantor, Kamis, 26 November 2009, 3.07 Sore

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

11 thoughts on “It’s Not Worthless, but Precious

  1. Hi jeung, saya sering baca blog-mu cuma jadi pembaca saja sih sebenernya 🙂 lumayan iseng2 kalo di kantor lagi bengong.

    hari ini liat tulisanmu di atas gateeeel banget pengen komen. i was there… 9 taun lamanya berbagi kasih dengan seseorang yang berbeda agama. sama sekali ga nyesel pernah berbagi bersama dia dulu. bener, saya belajar tentang banyak hal ketika itu. saya percaya tidak adanya suatu kebetulan, tanpa pengalaman masa lalu maka tidak ada saya yang sekarang, termasuk ketika pada akhirnya saya menikah dengan orang lain 🙂 tidak ada yang bisa kita lakukan dengan masa lalu, tidak juga untuk disesali selain untuk dipetik hikmahnya 🙂

    Posted by yustine | November 26, 2009, 4:36 pm
  2. Seandainya ada thumb up-nya, pasti saya kasih thumb up di sini.. Saya setuju bahwa tidak ada sesuatu apapun yg sia-sia, bila kita mau belajar dari semua itu, namun, selalu ada org yg tidak merasa mendapatkan hikmah apapun dari suatu peristiwa, maka semuanya pasti dirasa dan dipikirnya sebagai sia2, atau mereka yg memang tidak pernah berada pada posisi tsb maka akan sulit untuk memahami hal tersebut.

    Posted by G | November 26, 2009, 6:53 pm
  3. Kalau prinsip gue dalam mencari pasangan, La. Biar beda agama, yang penting jenis kelamin sama! (Loh…?!?!?)

    Posted by hilman | November 26, 2009, 7:45 pm
  4. baru mampir jeng

    salam knal ya!

    Posted by hellgalicious | November 27, 2009, 7:22 pm

  5. Hai La..
    Wah udah lama gak mampir sini..
    ..
    Menurutku mending pacaran 7thn terur putus, daripada gak pernah pacaran sama sekali hehe..
    ..
    Semua orang memang bebas berpendapat, asal tidak sinis dan menyakiti perasaan orang laen 😉
    ..

    Posted by septarius | November 27, 2009, 8:02 pm
  6. ..
    Baca kata worthless jadi pengen dengerin -for what its worth- the cardigan
    ..

    Posted by septarius | November 27, 2009, 8:15 pm
  7. saya setuju mbak..
    klopun ada yang berhak bilang sia2, menurut saya ya adalah orang itu sendiri.. kita sebagai orang luar ga berhak untuk menghakimi karena kita toh ga tau sikon yang bener2 terjadi saat itu gimana..

    dan saya super setuju sama mbak, bahwa pasti mereka belajar banyak dari hubungan tersebut 🙂

    Posted by narpen | November 28, 2009, 7:47 am
  8. memang betul sekali yang mba jelaskan,
    segala sesuatu tidak ada yang sia-sia,
    kita sebaiknya merenung dan mengambil hikmah dari kisah-kisah itu,
    salam kenal ya mba

    Posted by agung chandra presetya | November 28, 2009, 4:21 pm
  9. Betul Sekali …
    dan yang terpenting adalah …

    Bisakah kita mengambil hikmah dari waktu tersebut …
    Agar pembelajaran yang kita dapat itu …
    tidak jalan di tempat …

    Salam saya

    Posted by nh18 | November 30, 2009, 12:53 pm
  10. Perbedaan itu indah =)

    Posted by hanifah nila | December 9, 2009, 5:11 pm

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: The Blings of My Life « the blings of my life - February 26, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: