archives

Archive for

Kereta yang Datang Terjadwal

Entah bagaimana suara isi hatinya ketika Dokter memvonis usianya tidak lagi panjang, tapi semua orang mendengar betapa gaduhnya ruang praktek Dokter ketika istri lelaki itu terjatuh dari kursi dan menimbulkan suara yang cukup jelas sehingga orang-orang mulai berkerumun.

Siapa yang tidak pingsan, kehilangan kesadaran, lalu terjatuh dari kursi kalau mendengar kabar usianya tidak akan lama lagi? Kalau dalam waktu tertentu, lelaki yang telah menemaninya selama bertahun-tahun dan membuat perutnya sempat membesar selama sembilan bulan lebih beberapa hari karena mengandung buah hati mereka yang kini masih berusia tiga tahun itu, akan segera meninggalkannya, anak mereka, juga semua manusia yang masih hidup dan bernafas di muka bumi, di waktu yang seolah terjadwal?

Lain dengan istrinya, si lelaki itu terlihat tenang. Ekspresi wajahnya sangat datar. Air mata tak menetes sama sekali. Ia memang sudah mengetahui resiko tentang penjemputan ajal itu beberapa tahun yang lalu, ketika bibit-bibit kankernya masih tumbuh sedikit.

Dokter mengatakan, “Sebaiknya segera dioperasi, lantas kemoterapi.”

Tapi lelaki itu berujar, “Tidak, Dokter. Saya takut. Saya nggak mau dioperasi. Biarkan saja.”

Bukan hanya takut dengan suntikan jarum, sayatan pisau bedah, jahitan benang yang tajam, atau kemoterapi yang dikabarkan akan membuat badannya panas, tapi ia takut dengan biaya-biaya yang muncul kemudian. Dia hanya seorang office boy. Memangnya dia bakal mendapatkan uang dari mana? Dari hasil sapuan kolong meja di kantor? Atau rontokan pohon uang di pelataran rumahnya?

“Saya nggak mau dioperasi, Dokter. Biarkan saja,” katanya sekali lagi, beberapa tahun yang lalu.

Beberapa tahun kemudian, dia datang ke Dokter lagi dengan keluhan yang lebih berat. Kanker-nya sudah merambat ke mana-mana. Kanker di hidungnya membuat hidungnya membengkak sebelah dan menjalar ke mata kirinya. Dokter bilang, “Kankermu sudah stadium empat. Dan kalau dibiarkan, bola matamu akan copot…”

…dan usiamu tidak akan lama lagi.

Tapi dia tetap tak sudi dioperasi. Dia dengan tenang menjawab, “Biarkan saja.”

Setenang itu dia menjalani kehidupan yang seolah berkelakar dengan keimanannya pada sang Pencipta. Sedangkan istrinya? Ah, perempuan tercintanya itu kemudian terjatuh pingsan dari kursi, lalu terbangun beberapa saat kemudian… dan meraung-raung tanpa henti.

Suaminya sedang memegang sebuah tiket kereta yang sebentar lagi, kalau tidak ada force of nature, kereta itu akan datang tepat waktu. Bagaimana mungkin seorang Istri sanggup untuk tenang, diam, dan tidak meraung-raung?

She’s gonna lose her husband. What do you expect?

** Continue reading

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono