you're reading...
daily's blings, Fiktif, Thoughts to Share

You are My Sunshine!

...sunshine...

Tadinya dia adalah lelaki yang saya anggap sebagai cahaya mentari.

Betapa tidak? Kehadirannya selalu memberikan cerah di setiap mendung. Senyumnya begitu ceria, melenyapkan galau. Gelak tawanya ketika kami bercanda, jelas membuat hati saya tak lagi galau. Ya. He was like a sunshine.. Bright sunshine… sampai kemudian, dia meredupkan cahayanya dan bersembunyi di balik gumpalan awan-awan pekat. Tidak keluar dari situ. Hanya mengintip saja.

Dia berubah. Tak lagi bersinar, tak lagi menerangi. Aura tubuhnya menjadi gelap dan hampir-hampir saya tak mengenalinya. Sama sekali. Tidak ada senyum yang mengembang begitu ceria, tak ada lagi hadirnya yang menghilangkan mendung, dan suara tawanya? Entah pencuri mana yang nekat mencurinya, tapi ia tak lagi tertawa!

“Aku sakit, La,” katanya.

Lelaki tampan, berusia dua sembilan, memiliki profesi yang luar biasa untuk usianya itu berkata lirih dengan mata berkaca-kaca. Saya diam saja. Soal penyakitnya itu, bukan rahasia yang baru saja terkuak sekian detik yang lalu. Saya adalah sahabatnya. Saya tahu persis tentang operasi transplantasi ginjalnya beberapa saat yang lalu.

“Aku sudah nggak kayak dulu lagi…”

Memang tidak akan pernah sama lagi. Ginjal yang berfungsi di dalam tubuhnya sudah tidak lagi sama, sekalipun ia berdenyut seirama di sana. Ginjal yang kini berdenyut itu pun tidak akan sama persis seperti dulu; ia akan mengalami degradasi fungsi tubuh yang bakal dirasakannya perlahan-lahan. Dia tidak akan sekuat dulu. Sahabat lelaki saya itu bakal mudah capek dan banyak istirahat. Ia harus mengurangi aktivitasnya, kalau tidak… oh, well. Kamu tahu, lah.

“Aku ingin sendiri aja…”

Saya melihatnya berlalu dari kehidupan saya. Membanting pintu, menutup korden jendela, mematikan lampu-lampu, lalu mengurung di dalam sebuah ruangan yang gelap. Duduk di atas sebuah dipan yang mungkin kusut karena ia selalu duduk merenungi hidupnya yang sontak berubah seratus delapan puluh derajat sejak sebuah organ tubuh yang asing menyelinap masuk di dalam tubuh gagahnya; tubuh yang menyusut dua puluh kilo dalam waktu beberapa bulan saja.

Berkali-kali saya mengetuk pintu, tapi ia bilang, “Go away!”
Berkali-kali saya mengirim SMS, tapi tak dibalasnya.
Dan berkali-kali pula saya mencoba untuk menelpon, tapi tetap saja, ia diam seribu bahasa.

Hm.
Sahabat saya memang tak mau diganggu. Hidupnya hanya ada di dalam ruangan empat kali lima, dengan dipan, hembusan air conditioner, juga lampu yang menyala redup.

Sudah tidak ada lagi sahabat yang selalu saya anggap sebagai cahaya matahari itu, karena kini ia kehilangan cahayanya. Ah!

*

Dia adalah sahabat lelaki terbaik yang pernah saya miliki.

Lelaki paling tampan yang pernah saya cubit pipi dan hidungnya. Lelaki paling ringan tangan yang tak pernah ragu untuk membantu ketika saya meminta tolong. Lelaki paling bijaksana yang selalu bisa memberikan nasehat-nasehat ketika saya mengomel panjang lebar. Dan lelaki yang bahunya paling nyaman ketika saya menangis…

Ah, saya benar-benar kehilangan dia. Dan saya tahu, tidak hanya saya yang merasa demikian.

Bukankah matahari banyak ditunggu ketika pagi menjemput? Bukankah matahari banyak dinanti untuk pakaian-pakaian basah yang sedang dijemur? Dan bukankah ia selalu diinginkan hadirnya, sekalipun beberapa hari menutup diri karena hujan?

Jadi saya putuskan untuk menulis sebuah SMS. Singkat saja. Pendek saja.

“Kamu boleh merasa cahayamu meredup.
Kamu boleh merasa cahayamu tak akan lagi sama.
Kamu boleh merasa dunia tak lagi bersahabat.
Tapi, kamu tetaplah Matahari, yang entah terang atau redup, akan selalu dinanti…
Ayo, Matahari!
Kami sudah menggelap terlalu lama tanpamu.. ^_^”

Saya tahu, transplantasi ginjal telah mengubahnya menjadi lelaki yang tak seperkasa biasanya. Tapi di mata saya, dia tetaplah seorang sahabat yang bisa saya andalkan. Bahunya yang kurus tak akan mengurangi kenyamanan saya saat menangis di bahunya, karena yang saya butuhkan adalah… sentuhannya, senyumnya, kata-kata lembutnya.
Dan..
Ya.
Hadirnya.
Hadirnya di dalam hidup saya.
Hadirnya, yang selalu bisa menerangi redupnya hati saya, menenangkan kegelisahan saya, membuat saya tertawa terbahak-bahak pada lelucon drama kehidupan yang terkadang terasa begitu getir.

Ah,
Semoga dia membaca SMS saya, ya?

**
Kantor, Kamis, 19 November 2009, 10.54 Siang
Untuk Shinta dan sahabatnya
Yakinkan sahabatmu kalau dunia masih tetap menggelinding seperti biasa, ya, Dek. Stand beside him in his worst of times and let him know that you’re always there… 🙂

 

Gambar diunduh dari sini

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

19 thoughts on “You are My Sunshine!

  1. terkadang memang perlu waktu untuk menerima, dan setiap org berbeda2…

    tetap semangat….terutama orang2 yang disekelilingnya…..

    Posted by hamidah | November 19, 2009, 12:06 pm
    • Benar, benar…
      Kenyataan seperti ini memang tidak mudah ditelan begitu saja. Makanan saja butuh waktu untuk dikunyah, kan? Jadi, biarkan orang berproses tapi biarkan dia tahu kalau kita selalu ada di sampingnya…

      Tetap semangat?
      Harus! 🙂

      Posted by jeunglala | November 19, 2009, 2:06 pm
  2. hai jeung, kangen aku padamu ^^
    sampaikan salamku juga untuk sahabat sunshine itu ya untuk teteup semangat ^^
    btw SMS yang kau kirimkan padanya itu yakin singkat La??perasaan itu panjang deuh *gag penting banget, belum tahu apa kalo tulisannya lala itu p x l x t = luas hueheee*

    Posted by olvy | November 19, 2009, 1:14 pm
  3. mba’ la’..makasih yaaaaaaaaaaaaa……:..=*)

    Posted by shinta soebijandono | November 19, 2009, 1:27 pm
    • sama-sama, Dek…
      Nanti aku buatin cerita yang lain.. INi sekedar tulisan iseng yang masih dangkal.. hehehehe…..
      Lagi bete sama koneksi internet, sih, jadi nulis seadanya dan numpang posting di ruang IT.. hahaha…

      Posted by jeunglala | November 19, 2009, 2:07 pm
  4. Mentari Yang beruntung punya sahabat seperti JeungLala…
    Saat dunianya menjadi Gelap, sahabatnya menerangi dengan Cahaya Bulan…
    Nice Blog, Like It 🙂

    Salam Kenal…

    Posted by atmakusumah | November 19, 2009, 1:47 pm
  5. it’s so beautiful! Really open up a new vision.. Met kenal mbak Lala 🙂

    Posted by Arwanto Weby | November 19, 2009, 2:44 pm
  6. matahari….
    jadi ingat seseorang yang selalu bilang sedang mengejar matahari….. dan ternyata mataharinya adl sy…
    padahal aku pun meneyebut seseorang yang lai matahari…menerangiku di siang hari dan menitipkan cahayanya pada bulan untuk menerangi gelap malamku…..
    http://celoteh4ti.wordpress.com/2008/11/03/kau/

    Posted by yustha tt | November 19, 2009, 5:14 pm
  7. Mungkin.. mungkin.. sekarang waktu yang paling tepat untuk orang2 yang selama ini selalu menikmati kehangatan sinar sang mentari untuk gantian menjadi “cahaya” bagi sang mentari yang mulai meredup sinarnya 🙂

    Semoga sang mentari akan segera kembali memancarkan sinarnya..

    Posted by Indah | November 20, 2009, 2:19 am
  8. Terkadang orang tidak menyadari posisi dirinya di tengah masyarakat. Setiap orang punya tempat yang berbeda di hati rekan-rekannya … hanya orang bodoh yang menganggap ia tidak berarti lagi. Tuhan menciptakan kita untuk berbuat “sesuatu” bukan untuk berdiam diri dan menjadi tidak berguna

    terlalu formal ya mbak lala ?

    Posted by adityahadi | November 20, 2009, 4:44 am
  9. … dan bahkan ketika malam haripun tiba, matahari tetap bersinar di belahan dunia yg lain …

    Posted by Oemar Bakrie | November 20, 2009, 7:05 am
  10. doakan saja agar sang mentari itu segera menyebarkan sinarnya kembali. dengan kesabaran dan keikhlasan, aku yakin, ia akan muncul lagi di depan pintumu… 🙂

    Posted by vizon | November 20, 2009, 9:22 am
  11. Bacanya aku jadi sedih banget.. Tan saya cuma bisa berdoa semoga sahabat tante bersinar lagi dan optimis lagi menjalani hidup ini.. Support selalu tan..

    Posted by Soni Satiawan | November 20, 2009, 12:53 pm
  12. Salam kenal mbak,, ini kunjungan pertamaku!!

    Mbak bolehkah aku memberikan copy tulisan ini pada adik sahabatku? dia memiliki kisah yang sama…
    nuwun sebelumnya

    _Sash
    *menunggu ijin ^_^*

    Posted by Sash | November 20, 2009, 3:49 pm
  13. semoga matahari kembali menampakkan cahayanya,
    semoga matahari kembali bangkit bersinar.
    walaupun mungkin tak seterik dulu, namun cukup utk menghangatkan.
    salam.

    Posted by bundadontworry | November 22, 2009, 9:24 am
  14. dia adalah matahari buatmu
    tapi mungkin baginya, kamu adalah mataharinya?

    OOT:
    Senengnya dia dapat sms berkali-kali darimu
    sedangkan aku ngga pernah dapat sms darimu 🙂

    EM

    Posted by ikkyu_san | November 23, 2009, 3:11 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: