you're reading...
daily's blings, Thoughts to Share

Bitter Truth

Suatu kali, saya pernah memakai sebuah celana berbahan denim ketika (mantan) pacar mengajak saya keluar makan di dekat rumah. Celana jeans yang bentuknya pernah happening banget beberapa tahun yang lalu, yaitu sepanjang 7/8 dengan ujung yang melebar itu memang menjadi salah satu favorit saya. Longgar dan bahan denimnya tidak terlalu kaku.

Ketika hendak keluar rumah, mendadak dia bilang, “Ndut, ganti celananya, gih.”

Saya yang tengah bersiap memakai sandal pun menoleh. “Hah? Kenapa?”

“Jelek,” tukasnya.

“Ih, apanya yang jelek?” Saya masih ngeyel.

“Dibilangin jelek, ya, jelek. Udah, sana ganti.”

“Tapi celana ini enak banget, lho…”

“Terserah kamu, deh. Aku nggak mau pergi sebelum kamu ganti celananya.”

Berhubung saya malas bersitegang padahal sudah siap-siap berangkat, akhirnya saya pun nggak banyak cing-cong. Saya memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar, menukar dengan celana jeans favorit saya yang lain yang berpotongan lurus. Ketika keluar, dia tersenyum.

“Nah, now you look much better,” kata (mantan) pacar saya itu, sambil menggamit lengan saya dan kami pun berjalan keluar.

Dalam hati saya masih nggerundel.
Segitu banget, sih, sampai saya musti ganti pakaian segala? Emangnya saya tadi keliatan jelek banget, apa?

*

Beberapa saat yang lalu saya menjadi saksi pada pertengkaran yang serupa. Ya, soal komentar seorang lelaki pada seorang perempuan tentang pakaian.

“Sebetulnya badanmu tuh nggak gemuk, Bun,” kata Suami. “Cuman bagian pahamu aja yang gede banget.”

Si Istri diam.

“Udah gitu, kamu masih nekat pake rok mini begitu. Kan sudah dibilang, aku nggak suka kamu pake baju ini, tapi kamu masih tetep nggak nurut.”

Si Istri masih diam.

“Pahamu tadi keliatan kemana-mana… Iya kalo pahanya kecil.. ini, gede banget…” kata Suami sambil tertawa dan mengelus rambut Istri.

Dan kali ini, Istri tidak lagi diam. In fact, dia malah menangis terisak-isak. Ketika ditanya, Istri bilang kalau Suami telah menyakiti hatinya dengan berkata hal-hal yang sensitif buat perempuan, seperti bentuk badan. Tapi Suami malah marah dan bilang, “Lho, memangnya kamu nggak bisa bedain aku becanda atau nggak? Lagian, aku memang nggak suka kalau kamu make baju yang keliatan kemana-mana…”

Istri tetap terisak-isak. Suami malah semakin jengkel.
Saya?
Hm, saat itu saya cuman berpikir, “Can women handle to hear the bitter truth, or they simply just want to hear a sweet white lie?”

*

We, men and women, live in a different PO BOX.
Saya mengetahuinya dari artikel-artikel yang ada di majalah Wanita yang sering saya beli, sharing dengan teman-teman, atau membacanya dari internet.

Hari Jumat kemarin, saya berseluncur di dunia maya dan membaca profil-profil The Hottest Bachelors 2009, lelaki-lelaki ganteng di seluruh wilayah Amerika Serikat. Saya tidak sekadar ngiler melihat ketampanan mereka, lho (walaupun netes juga sedikit-sedikit, hihi!), tapi saya belajar sesuatu dari sana.

Ya Di artikel itu saya membaca satu komentar dari one hot bachelor tentang isi pikiran seorang lelaki. Dia bilang, “Men are straight forward. Kalau kami bilang sesuatu sama perempuan, memang itu yang kami maksud. Beda seperti perempuan yang kadang bilang ini, padahal maksudnya itu…”

Artikel itulah yang kemudian teringat di dalam isi kepala ketika beberapa saat yang lalu saya mendengar pertengkaran Suami dan Istri yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri..

*

Ketika (mantan) Pacar bilang kalau saya terlihat jelek banget dengan celana itu, saya memang sempet gondok. Oh well, siapa yang tidak? Sekalipun saya berusaha untuk melupakan kegondokan saya dan berhasil berpura-pura menikmati acara makan-makan dengan (mantan) pacar, tapi tetap saja saya sedih dan kepikiran.

“Ih, pacar bawel banget, sih!”
“Emang kenapa kalau aku pakai celana itu?”
“Siapa bilang aku keliatan ndut? Aku keliatan biasa-biasa aja dan nggak ada yang protes selain dia, kok!”

Itu adalah sedikit dari gerundelan saya saat itu. Gerundelan yang bertahan sampai beberapa saat sampai kemudian, entah beberapa bulan berikutnya, saya iseng melihat-lihat foto di folder komputer saya. Di situ saya melihat foto saya bersama teman-teman kerja saya di acara outing kantor. Ya, saya memakai celana kebanggaan saya itu; denim tipis, 7/8, dengan ujung lebar.

Saat melihat foto itu, senyum saya terkembang. Gimana nggak? Lha wong saya melihat figur saya keliatan aneeeehhh banget. Genduuuuttt banget. Celana model seperti itu jelas-jelas tidak cocok untuk dipakai oleh orang bertubuh seperti saya, yang banyak deposit lemak di tempat-tempat yang salah. Alih-alih menyamarkan bentuk tubuh, ini malah seolah semakin mengukuhkan kalau saya memang gendut banget๐Ÿ™‚

malang (32)

Dengan celana jeans yang diprotes sama (mantan) pacar...

Dengan celana jeans berpotongan lurus...

 

Ah, pantes saja kalau (mantan) pacar saya protes dan menyuruh saya mengganti celana. Kan saya sendiri yang suka rewel dengan pakaian dan bentuk tubuh, jadi kalau dia menyuruh saya ganti adalah pilihan yang tepat!

he didn’t mean to hurt my feelings. He was just telling the truth!

Lalu, saat saya menjadi saksi pertengkaran Suami Istri dan tersenyum melihat tingkah polah mereka, adalah karena tahu persis kalau Suami memang tidak berbasa-basi atau dengan sengaja menyakiti perasaan Istri.

Memang, dengan memakai rok sependek itu, selain reveal too much skin, juga membuatnya terlihat aneh. Pahanya memang besar, tidak sebanding dengan bagian atas tubuhnya yang kurus. Malah, ketika naik escalator, bagian paha Istri terlihat sangat jelas karena rok-nya naik! Uh-oh!

once again I say. He didn’t mean to hurt her wife’s feelings. He was just telling the truth.

Nah, kalau begini, siapa yang salah?

Men for saying the bitter truth,
Or women who just want to hear men to say the sweet white lie
?

“Nggak, kok, Sayang. Siapa bilang kamu terlihat gendut?”
Padahal timbangan di kamar tidurmu nggak pernah bisa bohong.

“Nggak, kok, Sayang. Potongan rambutmu keliatan okay, kok.”
Padahal cermin di rumahmu bilang sebaliknya.

Hmmm…

Saya sendiri nggak bisa dengan hebat menghandle bitter truth. Mungkin yang musti dibenahi memang hati saya sendiri; menanamkan dalam hati kalau bitter truth hanya akan menjadi sekadar truth kalau hati saya siap menerima kritik itu sebagai tindakan yang konstruktif, bukan destruktif.

Toh, saya memang nggak pantes memakai celana itu. Bukan mau nyakitin, tapi kritik itu bikin saya keliatan lebih cantik dengan memakai celana yang lain.

Dan, Istri juga nggak pantes memakai terusan rok sependek itu. Bukan mau nyakitin, tapi kritik dari Suami tentunya karena Suami kepingin istrinya terlihat cantik, sama seperti hari-hari yang lainnya tanpa memakai rok itu.

Memang, truth is truth. Masalah rasanya pahit, tentu itu tergantung kesiapan kita menghadapi kebenarannya.

Tapi, tapi,ย gimana ya, kalau someday, saya mendengar suami saya bilang begini, “Sayang… maaf. Saya selingkuh dengan sekretaris saya. Soalnya dia lebih cantik dari kamu. Badannya langsing, nggak kayak kamu. Sudah gitu, dia juga pinter orangnya….”

Kalau sudah begini, masih bisakah saya menghadapi truth tanpa embel-embel bitter?

Um…

Amit-amit aja, deh!๐Ÿ™‚

***

Kamar, Minggu, 15 November 2009, 10.28 Malem

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

16 thoughts on “Bitter Truth

  1. Aku juga gitu, suka begitu malah, cuman kita jujur, hehee kadang yanti suka bilang, kok kamu ngomong nya gitu sih, (mungkin kasar) yeah, aku bilang aja, lah emang begitu ???

    For me, sometimes speak the reality are the real good things even it bitter to make it better for ourself…

    Bukan maksudnya menghina, tapi supaya menanamkan ke dirinya agar dia mampu berbuat lebih baik lagi…..

    Posted by Raffaell | November 16, 2009, 3:36 am
  2. kalau berani selingkuh..tabokin aja, La? Kalau butuh bantuan, tinggal bilang…bilang sama siapa ya? Hehehe

    Posted by Riris E | November 16, 2009, 11:15 am
  3. So …
    Moral of the story is …
    There’s no such bitter if we talk about truth ..
    or … kalo boleh di reprhase lagi …
    Mari kita ciptakan … Truth-truth yang sweet saja …
    (yes indeed ini kadang tidak mudah …)
    (but worth to try kan ?)

    Salam saya

    (And BTW … Yes Indeed … denim 7/8 itu … memang “nggak banget” …)
    Ups …

    Posted by nh18 | November 16, 2009, 11:40 am
  4. bitter truth itu akan enak didengar bila disampaikan dengan bahasa yang lain. Kalo kayak si suami yang mengkomen rok mini si istri itu sih ya jelas melukai hati.. coba disampaikan dengan cara yang lain… Straight forward itu bagus, apabila bahasanya juga bagus๐Ÿ™‚

    Posted by Chic | November 16, 2009, 12:08 pm
  5. masih mending (mantan) pacar Jeung Lala lho, karena ngomongnya kan ga di depan umum, gak kayak si Suami itu kan…
    terus, pelajaran yang lain adalah, nurut sama suami itu penting, menanyakan ke suami, aku pantes gak pake baju ini, dll… di cerita di atas kelihatan kalo isteri ga nurut tuh. hehehe…

    salam
    Ly

    Posted by mamaray | November 16, 2009, 4:39 pm
  6. jd inget lagunya nikka costa…

    Posted by albertobroneo | November 16, 2009, 4:45 pm
  7. mbakku ternyata bisa berubah gituh sekarang,,,

    ohho,,,,

    Posted by Emy | November 17, 2009, 10:30 pm
  8. kekekeke.. saya juga pernah begitu mbak.. gondok.. (pengen bilang “bukannya elu harusnya menerima gw apa adanya?” :p) padahal sebenernya mah maksud dia juga baik.. ah, saya harus banyak belajar untuk tidak keburu defensif..

    Posted by narpen | November 28, 2009, 7:58 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: 18 SWEET TOUCHES BY THE GIRLS « The Ordinary Trainer writes … - December 30, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: