you're reading...
Thoughts to Share

Menikmati Pelangi

rainbow-tooSiapa yang tidak jatuh hati dengan pelangi? Fenomena alam berupa lukisan berwarna-warni di langit, yang saking indahnya sampai menginspirasi seorang pencipta lagu, sampai akhirnya lagu itu menjadi lagu wajib untuk anak-anak TK itu?

Pelangi, Pelangi…
Alangkah indahmu…
Merah, kuning, hijau, di langit yang biru…
Pelukismu agung, siapa gerangan?
Pelangi, Pelangi, ciptaan Tuhan…

Saya rasa, siapapun akan mencintai pelangi. Warna-warninya di langit tentu memberikan sensasi yang berbeda pada langit yang biru. Langit yang biasanya penuh dengan gumpalan awan saja, kini terhiasi dengan jembatan berwarna-warni, yang di komik Donal Bebek dibilang, “You can find a gold pot in the end of the rainbow…”  sehingga beberapa kali Donal berburu pundi-pundi berisi emasnya itu, walaupun seringkali gagal. Ay, seperti nggak kenal Donal aja… Jarang banget happy ending!🙂

Anyhow, saya yakin, semua orang mencintai pelangi; fenomena alam yang hebat, yang menginspirasi banyak orang, mulai dari pencipta lagu, komikus, dan ya… juga seorang perempuan lajang, usia tiga puluh tahun kurang sedikit, yang sedang berada di depan laptopnya dan membiarkan jari-jemarinya menari lincah di atas keyboard…

**

Pernahkah kamu merasa begitu letih dengan apapun yang sedang terjadi di dalam hidupmu?

Having the same old problem yang tidak pernah bisa terkunyah dengan gigi-geligi lengkap, tapi nyelip melulu disela-selanya? Letih menghadapi permasalahan yang menguras energimu, menggerogoti pikiranmu, dan membuatmu ingin berteriak, “Hey! Cukup! I had enough already!”?

Saya sedang menghadapinya sekarang. Mengunyah permasalahan seperti mengunyah permen karet yang anehnya, rasanya tidak segera berubah padahal sudah terkunyah berkali-kali, berbulan-bulan, tapi tetap saja, it feels the same Dan saking istimewanya permen karet yang satu ini, it feels like shit😦 Tidak manis, tidak legit, but yeah, shit.

Ironisnya, the minute I try to spit it out… permen karetnya melekat di langit-langit mulut. Saya congkel dengan jari, malah nempel di jari. Begitu lepas dari jari, jatuh ke tanah, malah nempel di kaki. Hey, chewy gum. Tolong, deh! Saya sudah capek menghadapi kamu! I had enough, already!

…but it was still there.

Permasalahan-permasalahan. Lengkap dengan visual effectnya; nangis, sedih, nyesel, marah, dan kawan-kawannya yang semuanya negatif.

It was still there; akan terus ada. Melek atau merem, masalah itu tidak akan selesai sampai benar-benar selesai. Permen itu akan melekat, sampai daya melekatnya hilang karena tergeser-geser oleh tanah, tempat saya melangkah dan berpijak.

Belakangan, saya sedang ingin berteriak saja. Ya, teriak yang sekencang-kencangnya! Saya ingin masalah yang sedang saya hadapi ini segera cepat selesai. Saya sudah nggak tahan, saya saya sudah nggak tahan, sudah NGGAK TAHAN. Please, stop…

Lalu saya terduduk. Berhenti berkeluhkesah sesaat, mendistraksi pikiran dengan hal lain, dan mencoba untuk bernafas dengan lebih teratur. Saya menarik nafas, saya mengembuskan nafas.. begitu terus sampai saya merasa tenang, sampai saya merasa jantung saya berfungsi dengan normal tanpa sesakan permasalahan-permasalahan yang mengganggu terus beberapa bulan belakangan ini.

Saat itulah saya merasa angin di ruangan kantor saya terasa sangat sejuk. Biasanya air conditioner di kantor masih belum juga menyejukkan ruangan karena cuaca Surabaya sedang panas-panasnya, tapi sore tadi, anginnya terasa lebih sejuk. Saya menengok ke luar jendela. Ah, langit terlihat gelap! Mungkin sebentar lagi akan turun hujan!

Membayangkan hujan turun membuat senyum saya mengembang. Kenapa? Hm, karena saya memang pecinta hujan. Saya suka sekali merasakan butiran air hujan yang jatuh di atas rambut saya. Saya sangat menikmati tumpahan air dari langit itu jatuh di atas jemari saya yang terbuka. Saya mencintai hujan juga fenomena alam setelahnya. Aroma khas tanah basah yang menggelitik indera penciuman saya… juga pelangi.

Ketika kata ‘pelangi’ dan ‘bau tanah setelah hujan’ melintas di dalam isi kepala, mendadak, saya merasa malu seketika.

Ah!

**

Tidak akan ada bau tanah yang sedap, yang menggelitik hidung pesek saya, yang bisa membuat rongga dada saya tersugesti untuk merasa tenang seketika… jika hujan tidak pernah datang. Bau tanah yang disiram dengan air keran jelas tidak sama dengan bau tanah karena tersiram air hujan. Saya pecinta hujan, saya tahu persis bedanya!🙂

Dan ya.

Tidak akan ada pelangi, yang berwarna-warni indah, yang menghiasi langit dengan figurnya yang luar biasa… jika hujan tidak pernah datang. ‘Pelangi’ yang tercipta karena semprotan air dari selang yang tertimpa sinar matahari jelas tidak sama dengan pelangi di langit. Tidak akan pernah sama.

Hm.

Kalau begitu, saya musti bersyukur dengan hadirnya hujan. Karena kalau hujan tidak hadir, menghujam bumi bak ribuan panah yang jatuh dari langit, saya tidak akan pernah membaui harum tanah basah yang menenangkan, saya tidak akan pernah bisa melihat pelangi.

200236712-001Seperti saya, seharusnya, mensyukuri setiap permasalahan dalam hidup saya. Ibarat hujan, permasalahan itu akan datang dan terus datang dengan membawa misi untuk membuat hidup saya jauh lebih baik setelah semuanya selesai. Sampai permasalahan itu akhirnya selesai, disitulah saya baru bisa melihat pelangi, disitulah saya bisa menikmati aroma tanah basah.

I can’t expect to have a rainbow without a rain.
I can’t expect to have a happy ending without a process.

Jika saya ingin menikmati pelangi, saya musti rela menikmati hujan.
Dan jika saya ingin menikmati kebahagiaan, saya musti rela menikmati prosesnya.

Kadang hujan turun dengan sangat deras, kadang hujan turun dengan mesra dalam bentuk gerimis.
Demikian pula dengan permasalahan. Kadang ia hadir seperti Naga menyemburkan bara api dari mulutnya lalu siap melalap apa saja, dan kadang hadir seperti anak anjing yang penurut saat dielus.

Tapi, bagaimanapun, deras atau tidak, tanah akan tetap basah. Pelangi akan tetap muncul sekalipun tak terlalu jelas. Di ujung hujan akan selalu muncul dua hal yang saya cintai; bau tanah basah juga pelangi. Tidak peduli!

Okay. Saya mengerti sekarang.

Saya tidak perlu risau dengan permasalahan yang kini saya hadapi. Saya hanya perlu terus mengunyah sampai rahang saya pegal. Sampai permen karet itu kehilangan daya lekatnya lalu rela terbuang di dalam bak sampah.

Saya harus menikmati ‘hujan’ ini, jika saya ingin menikmati ‘pelangi’ saya.

Jadi?

Doakan saja agar saya tidak masuk angin karena sedang ber’hujan-hujan’an ya…!🙂

***

Kamar, Kamis, 12 November 2009, 10.05 Malam
Sambil bertanya-tanya kenapa hujan tak segera datang😦

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

9 thoughts on “Menikmati Pelangi

  1. Laa.. itu gambar tetesan air ujannya kereeenn bangetss!! Love it soo much!!

    Posted by Indah | November 12, 2009, 11:06 pm
  2. Things will always get better within time, Laa.. kalo sekarang masalah yang ada terasa membelenggu.. just hang on, a little bit longer until it’s all over and senyuman itu akan kembali menghiasi wajah lagii😉

    Met menikmati hujan and menyambut datangnya pelangii, Laa ^o^

    Posted by Indah | November 12, 2009, 11:29 pm
  3. Salam kenal Jeng Lala.
    terima kasih sudah berkunjung ke blog bunda.
    Wah, Jeng, what is real problem ?
    kok sampai segitunya sih ?
    semoga pelangi sekarang sudah datang membuat hidup Jeng Lala berwana kembali ya.
    salam.

    Posted by bundadontworry | November 13, 2009, 9:43 am
  4. Suka dengan yang ini :

    I can’t expect to have a rainbow without a rain.
    I can’t expect to have a happy ending without a process.

    dan ikut dikuatkan melalui artikel ini. Thanks for sharing, La

    Posted by Riris E | November 13, 2009, 11:17 am
  5. Seharusnyalah kita mensyukuri nikmat yang tek bisa kita hitung.
    Salam dari Surabaya

    Posted by Pakde Cholik | November 14, 2009, 7:38 am
  6. kadang ketika menghadapi suatu masalah lebih sering menganggap itu musibah drpd proses pembelajaran, dan lupa kalau selalu ada hal baik yg menunggu diakhir proses…

    Makasi ya mba’ Lala, secara g langsung post na mengingatkan unk tidak mudah mengeluh dan putus asa kalo lg ada masalah🙂

    Posted by Inge | November 14, 2009, 10:51 am
  7. hidup adalah perjalanan dan cobaan (termasuk masalah) adalah batu sandungan yang senantiasa menjadi penghalang jalan kita. namun jika kita mampu melaluinya dengan baik maka batu sandungan itu akan menjadi batu loncatan🙂

    Posted by dafhy | November 15, 2009, 5:18 am
  8. saya juga suka hujan dan pelangi. menentramkan. kadang2, kita hanya harus diam saat sedih mbak.

    Posted by haris | November 15, 2009, 9:53 am
  9. pelangi mang indah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
    kyak qhyu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,[[[[[[[[[[]]]]]]]]]]]]]]][[[[[[[[[[[[[]]]]]]]]]]]

    Posted by the bekiss | December 27, 2009, 10:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: