you're reading...
Thoughts to Share

Manusia-Manusia Istimewa

Dua malam yang lalu saya belanja keperluan bulanan di Indomart dekat rumah. Pulang kantor, saya minta Bro untuk menepi sebentar di toko tersebut lalu melenggang ke dalam dengan high heels dan menenteng keranjang belanja berwarna merah. Dari lorong ke lorong, saya meneliti barang-barang yang akan saya beli. Mulai dari body cologne sampai pembalut. Beberapa barang mulai berpindah masuk ke dalam keranjang saya, ketika pintu Indomart terbuka dan saya melihat dua bocah lelaki dan perempuan berlarian masuk ke dalam dengan berisik.

I couldn’t help to watch them.

Bagaimana tidak? Suasana Indomart yang tadinya sepi, mendadak menjadi gaduh sejak dua bocah yang usianya kurang dari delapan tahun itu berlarian masuk ke dalam, seperti keran air yang dibuka dengan sangat kencang; airnya melesak, berhamburan.

Saya menoleh. Melihat kedua anak itu berlarian dengan riang gembira, seolah Indomart adalah lahan bermain mereka berdua. Mereka berlarian dari lorong satu ke lorong yang lainnya, diikuti dengan seorang asisten rumah tangga yang kemudian berusaha sekuat tenaga untuk menyuruh mereka tenang.

Ketika salah satu bocah itu mendekati saya, jantung saya seolah mendadak berhenti berdenyut. Astaga, apa itu yang saya lihat? Apakah saya salah melihat? Ataukah minus kacamata saya sudah benar-benar melewati angka seperempat, sehingga saya perlu mengucek mata saya dulu untuk memastikan kalau yang saya lihat adalah… um… sebelah kaki yang palsu?

Ya. Karena dua hari yang lalu, saya melihat seorang bocah lelaki, usia kurang dari delapan tahun, dengan sebelah kaki kiri yang palsu. Dia memakai celana pendek, sehingga saya dengan bebas melihat batangan betisnya yang terbuat dari besi dan telapaknya yang bersepatu. I’m maybe rude, tapi saya jadi ingat dengan salah satu adegan di film Terminator II; The Judgment Day, ketika Arnold mengiris sebelah tangan kirinya dan memperlihatkan bagian besi di dalamnya.

Saya melihat besi beralaskan sepatu berwarna hitam yang menyangga tubuh sehat seorang bocah lelaki yang sejak masuk ke dalam Indomart sama sekali tidak lepas dari senyum dan tawa gembira bersama seorang anak perempuan yang saya duga adalah adiknya. Bocah berkaki palsu itu tidak nampak murung, tidak nampak minder. In fact, dia terlihat sangat normal!

Sungguh.

Kalau saja mata saya tidak iseng mengamati bocah yang masih berlarian ke sana kemari ketika saya sudah selesai dengan urusan saya di kasir Indomart itu, mungkin saya tidak akan pernah tahu kalau sebelah kakinya terbuat dari besi dan bukannya flesh blood!

Wow.

**

Keesokan paginya, seorang rekan kerja di kantor bercerita tentang sepupunya, yang kebetulan saya kenal juga saat SMP dulu. Namanya Yuni; saya mengenalnya karena dulu sering berbagi angkutan umum saat berangkat dan pulang sekolah. Maklum, sekolah Yuni berpunggung-punggungan dengan sekolah saya, sehingga kami seringkali duduk di dalam angkutan umum yang sama.

Yani adalah gadis cantik. Kulitnya putih, tubuhnya langsing tinggi, dan rambutnya indah sebahu. Pembawaannya sangat menarik. Sekalipun saya tak pernah mengenalnya secara personal, tapi saya tahu, dari caranya berbincang-bincang dengan kawan-kawan sekolahnya, Yuni adalah teman yang menyenangkan. Talkative, supel, dan ceria.

Dengan sifat-sifatnya yang menyenangkan itu, orang-orang yang dekat dengannya akan mengabaikan kenyataan kalau Yuni berbibir sumbing. Ya, bibirnya memang terbentuk tidak sempurna karena operasi bibir sumbing yang berhenti di tengah jalan.

Saat pertama kali melihatnya, I couldn’t help it to watch. Bahkan, mencuri-curi pandang untuk melihat pada gadis yang terlihat sangat cantik dari jauh itu ternyata memiliki bibir tidak sempurna. Tapi dengan berjalannya waktu, saya malah tidak pernah lagi memerhatikan bibirnya. Karena apa? Karena pembawaannya yang menyenangkan dan senyum yang selalu terhias di wajahnya, membuat saya mengabaikan kalau Yuni tidak memiliki bibir yang sempurna sehingga suaranya terdengar kurang jelas.

Dari rekan kerja saya di kantor saya mengetahui kalau Yuni adalah bungsu dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya adalah perempuan-perempuan yang sangat cantik, bahkan salah satu diantaranya adalah seorang fotomodel yang wajahnya sering muncul di kalender dan majalah lokal di Surabaya. Keduanya adalah kembang di kampus mereka karena mereka sangat cantik, berkulit bersih, bertubuh langsing tinggi, berambut sempurna…. and um, I’m going to say something rude here… but, ya. Mereka ‘normal’.

“Tapi Yuni tidak merasa terintimidasi, lho, La, sekalipun kakak-kakaknya sangat cantik,” kata rekan kerja saya, Mbak Ning. “Dan keluarga pun tidak pernah menganggap bibir sumbing Yuni adalah big issue. Mereka biasa aja. Menganggap Yuni sama cantiknya dengan kakak-kakaknya…”

Yuni memang cantik. Bibirnya yang tidak sempurna tidak membuatnya menutup diri dari pergaulan.

Setahun kemarin, dia menikahi lelaki yang mencintainya.

Wow!

**

If you only have one healthy leg dan sebelah lagi adalah kaki palsu, bisakah kamu berlari-lari dengan ceria? Lebih-lebih saat itu kamu sedang memakai celana pendek yang mempertontonkan kaki palsumu yang hanya terbuat dari besi dan beralaskan sepatu itu. Bisakah kamu?

Kalau kamu memiliki bibir yang tidak sempurna sehingga menghasilkan suara dengan resonansi kurang jelas, bisakah kamu menatap dunia dengan tegar dan malah tersenyum pada dunia yang menganggap bibirmu adalah cacat permanen? Lebih-lebih dengan dua orang kakak yang semuanya adalah idola di sekolah dan kampus. Bisakah kamu?

Kalau saya, um… entahlah. Bisakah saya tersenyum? Bisakah saya berlari-lari dengan ceria dengan sebelah kaki yang palsu? Bisakah saya menganggap bahwa kekurangan saya ini tidak membuat saya berbeda dengan yang lainnya? Bisakah saya merasa normal seperti yang lainnya?

Tapi bocah lelaki itu bisa; dia bebas berlarian dengan kaki palsunya tanpa malu.

Tapi Yuni bisa; dia bahkan bisa bergaul dengan baik dan menikah setahun yang lalu.

“Mungkin karena Yuni diperlakukan secara normal dari keluarga dan orang-orang disekitarnya, sehingga Yuni tidak melihat bibirnya yang sumbing itu sebagai kekurangannya, La,” kata Mbak Ning. “Mungkin malah Yuni menganggap bibirnya itu adalah ‘kelebihan’ yang nggak dimiliki orang lain…”

Saya mengangguk-anggukkan kepala tadi pagi. “Bisa jadi, ya, Mbak Ning. Kalau kita berada di lingkungan yang tidak menganggap itu adalah masalah yang besar, tentunya kita nggak mempermasalahkan hal itu ya…”

Saya pun mulai berasumsi sendiri, mulai menganalisa apa yang terjadi di dalam keluarga bocah lelaki berkaki palsu itu.

Besar kemungkinan, teori yang sama pun berlaku di sana. Ayah dan Ibu-nya mendidik si anak untuk tidak minder. Memperlakukan si anak dengan kondisi yang normal; tidak membedakan meski sebelah kakinya terbuat dari besi. Memakaikan celana pendek pada si Anak, instead of menutupinya dengan celana yang panjang terus menerus, yang bisa saja membuat si anak gerah dan berkeringat karena masih senang berlarian ke sana ke mari. Akibatnya? Bocah itu terlihat sangat normal, sekalipun seluruh dunia tahu kalau kaki kirinya tidak terbuat dari daging dan disangga dengan tulang belulang sebagaimana manusia normal lainnya.

Hm. Betapa hebatnya lingkungan telah memberikan pengaruh yang sangat besar pada seseorang.

Bayangkan saja kalau Yuni tumbuh besar di dalam keluarga yang cenderung mengucilkannya dari masyarakat, cenderung menganggap bahwa bibirnya yang sumbing adalah big issue, dan mungkin malah membanding-bandingkan dengan kakak-kakaknya yang cantik. Jangan-jangan, saya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dengan gadis cantik yang doyan tersenyum saat berebut angkutan umum, back in junior high! Saya mungkin akan melihat Yuni yang murung, yang menutup diri, yang tidak mau mengangkat kepalanya karena malu.

JacquiSalah satu episod di Oprah Winfrey tentang seorang perempuan yang berwajah cacat karena kecelakaan mobil sehingga dia terbakar hidup-hidup di dalam mobil juga mengajari saya bahwa society could be soooo mean and the other way around. Kalau saya Jacqui tidak berada di sebuah keluarga yang menganggap wajahnya tetap cantik sekalipun sekujur tubuhnya melepuh dan ruas jarinya hanya tersisa satu ruas saja, dia pasti tidak akan keluar lagi dari rumah sejak peristiwa kecelakaan itu terjadi. Tapi karena keluarga selalu mendukungnya, menganggapnya tetap cantik, dan menanamkan pemahaman kalau dia tidak berubah menjadi orang lain, bahwa dia tetaplah seorang Jacqui, perempuan hispanis yang cantik yang mengalami kecelakaan hebat tapi tetap survive, look at her now. Masih berinteraksi dengan masyarakat. Masih berbelanja di supermarket. Masih berjalan-jalan di mal… as if, um… nothing’s changed.

Wow.

I came to the point where I know that having a self confidence is a must and growing up in a family that support you is such a heaven on earth.

Tanpa keluarga yang mendukung,
Tidak akan ada Yuni yang tersenyum.
Tidak akan ada Jacqui yang tertawa.
Tidak akan ada seorang bocah lelaki di Indomart yang berlarian ke sana ke mari dengan gembira.

Ahhh…

Semoga saja, suatu saat kelak, saya bisa menjadi seorang Ibu yang mampu membesarkan anak-anak saya seperti Ibu-nya Yuni, Jacqui, dan si bocah lelaki yang sampai kini keriangan wajahnya masih terekam jelas di dalam isi kepala saya. Β Seorang Ibu yang bisa meyakinkan anak-anaknya, bahwa mereka adalah persembahan terindah dari Tuhan, pemilik seluruh semesta alam raya.

Even if they’re different… ummm… nope.
Even if they’re special
.

***

Kamar, Rabu, 11 November 2009, 4.20 Pagi

Advertisements

About Lala Purwono

Dreamer. Writer. Lover. Follow her twits @lalapurwono.

Discussion

16 thoughts on “Manusia-Manusia Istimewa

  1. Aku kenal La ama si “yuni” n you know she’s one of my best friend…. Dan selama 14thn aq kenal dia belum sekalipun aq menanyakan mengenai kekurangan dia krn aq anggap itu ga penting n ga sebanding dengan kebaikan yg dia miliki…. Thanks to being her become your inspiritation… N now she is happy with her husband’s family in semarang…

    Posted by Dewi | November 11, 2009, 5:05 am
    • Wow…!
      What a small world, ya, Wi…
      Iya, she’s a very genuine person. Dibandingkan dengan kebaikannya, kekurangannya itu jelas tidak ada artinya…

      Seneng denger kabar kalo dia sekarang live happily di Semarang…

      Posted by jeunglala | November 11, 2009, 8:49 am
  2. Selamat pagi, salam D3pd ^_^…V

    Posted by dykapede | November 11, 2009, 9:47 am
  3. karena orang yang istimewa adalah orang yang mampu berkompromi dengan apa yang di milikinya la…include plus dan minusnya. Tentunya ini memang harus di barengi dengan dukungan penuh keluarga dan orang2 tersayangnya.

    semoga kita bisa jadi orang2 yang istimewa itu ya…

    Posted by Ria | November 11, 2009, 10:44 am
    • Bener, Bungsu…
      Kalau dia sudah berkompromi dan memahami bahwa kekurangannya adalah kelebihan, dan kelebihan adalah hal yang patut disyukuri, dia akan menjadi lebih istimewa lagi karena bisa tetap berinteraksi dengan masyarakat…

      Ya, pastinya dengan dukungan lingkungan yang baik..

      Semoga, Bungsu.. Semoga… πŸ™‚

      Posted by jeunglala | November 11, 2009, 11:05 am
  4. di kamboja sini saya bertemu dengan mahasiswa indonesia yang belajar spesialis pembuatan kaki palsu. cacat atau tidak semua ciptaan yang diatas yang gak perlu dibeda bedakan.

    Posted by boyin | November 11, 2009, 11:03 am
  5. everybody’s special, kamu juga La πŸ™‚

    Posted by Chic | November 11, 2009, 11:59 am
  6. kunjungan pertama d rumah br

    Posted by depz | November 11, 2009, 12:47 pm
  7. aq ga bisa komeng banyak…ga tau mo ngomong apa, cuma bisa merenung betapa syukur itu harus senantiasa kulantunkan padaNya…makasih dah sharing

    Posted by sunflo | November 11, 2009, 2:30 pm
  8. Hmm.. peran keluarga emang “megang” bangets dalam hal ini yaa πŸ˜‰

    Posted by Indah | November 11, 2009, 2:36 pm
  9. Life is tough out there and only the toughest will survive… ‘Terminator’ cilik itu, Yuni, Jacqui dan banyak lagi pribadi tangguh lainnya sesungguhnya udah memberikan teladan yang baik bagi orang-orang ‘normal’ lainnya..
    Tulisanmu sangat inspiratif, Mbak… well done.. πŸ˜€

    Posted by soyjoy76 | November 12, 2009, 11:58 am
  10. membaca tulisan ini membuat bunda jd lebih banyak bersyukur,
    terima kasih Jeng telah mengingatkan,
    krn banyak dr kita yg selalu merasa kurang, inginnya lebih,
    padahal kita telah mendapatkan yg terbaik dariNYA.
    salam.

    Posted by bundadontworry | November 13, 2009, 9:55 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: