you're reading...
Fiktif

Tentang Dua Dunia

Lelaki itu biasa berpetualang; memandang langit dari daratan yang berbeda. Menjelajah satu negeri ke negeri lainnya, menjejakkan langkah dengan berbalut baju tebal sampai celana pendek dan kaos buntung berwarna cerah. Bersepatu tertutup sampai sandal jepit.

Dia berkelana, dari negeri dua musim sampai ke negeri empat musim. Dia merasakan salju di Belgia, cerahnya langit vanila di Venezia, hujan di Hong Kong, atau musim gugur di negara lainnya. Berkelana adalah nama tengahnya, sekalipun seperti pemberian nama sepasang orang tuanya, kalau saja ia bisa memilih, ia ingin memilih ‘nama’nya sendiri.

Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun  dia berkelana. Katanya, “Demi sekian ribu dollar Amerika, I work my ass off…” Sekalipun sebetulnya dia lelah.

Dia adalah seorang penyendiri. Seringkali berkelana sendiri. Tidur di dalam apartemen yang disewanya bulanan, sendiri. Menikmati sarapan, makan siang, sampai makan malam, sendiri. Mengunyah es krim dan coklat praline favoritnya, sendiri. Bercengkerama di depan laptop yang terkoneksi dengan internetnya, sendiri.

Suatu kali, dia bertemu dengan seorang perempuan ketika asyik berseluncur di dunia maya. Dia mengenal perempuan yang terlihat ramai dan enerjik serta memiliki dunia yang penuh warna-warni pelangi itu lalu mulai merasa dekat. Bahkan jatuh cinta. Ada sesuatu yang dimiliki perempuan itu yang tidak pernah ia miliki; kehangatan keluarga dan kegembiraan saat bercengkerama dengan sahabat-sahabat.

“Saya iri dengan duniamu,” katanya.

“Kenapa?” perempuan itu bertanya.

“Karena kamu hidup di dunia yang ingin aku tinggali… Dunia yang hangat dengan keluarga, dunia yang berwarna-warni, dunia yang penuh dengan tawa… Duniamu…”

**

Perempuan itu terdiam, memandangi layar laptopnya dengan diam. Jari-jemarinya seolah melumpuh sementara hatinya gaduh. Kalimat-kalimat di layar monitor itu dicernanya perlahan-lahan, seperti anak bayi belajar mengunyah bubur dengan gigi-geligi yang belum lengkap.

Dunia yang penuh warna-warni? Dunia yang hangat dengan pelukan keluarga? Dunia yang ramai dengan gelak tawa? Duniaku? DuniaKU?

Hati perempuan itu berdebar.

Tidakkah lelaki itu tahu kalau dunianya tidak seramai yang dibayangkan? Warna-warni pelangi adalah bungkus yang menipu. Tertawa? Dia pun sering kali menangis juga. Hangat dengan pelukan keluarga? Terkadang pelukan itu terlalu menyesakkan dadanya sehingga ia ingin lari saja.

Perempuan itu juga seorang penyendiri. Ketika ramai sayup-sayup hilang, dia pun pulang ke rumahnya yang kosong. Kembali ke kamarnya yang hanya ramai oleh celoteh-celoteh pemeran film di kepingan DVD yang tengah diputarnya. Memang ia memiliki sahabat-sahabatnya, tapi itupun hanya terangkul di ujung pekan saja, bahkan tidak di setiap pekan. She’s a loner, too. Jadi, dunia yang membuat lelaki itu merasa iri luar biasa, sebenarnya tidak benar-benar ada.

“Duniaku tidak seperti yang kamu bayangkan, Sayang,” kata perempuan itu. “Tidak sewarna-warni yang kamu sangka…”

“Tapi saya melihatnya begitu.” Lelaki itu menjawab. “Paling tidak, lebih indah daripada dunia yang saya tinggali sekarang ini…”

Perempuan itu menghela nafasnya sekali lagi. “Aku justru ingin berkelana seperti kamu,” katanya setelah itu.

Dia bermimpi untuk bisa berkeliling dunia. Mencangklong ransel berisi laptop, lalu berjalan-jalan kemana sepasang kakinya ingin melangkah. Singgah di sebuah tempat, lalu menulis tentang apa saja. Jalan lagi ke sebuah tempat, ngaso sebentar, menikmati latte sambil mengetik sesuatu di laptopnya. Terus begitu, sampai kaki-kakinya lelah, bahkan lumpuh. Tapi sebelum kakinya melumpuh, dia harus singgah dulu di London, kota impiannya. Duduk di atas bangku kayu lalu menghirup oksigen dalam-dalam dengan satu tarikan nafas. Setelah itu, Tuhan boleh mematikan keinginannya untuk berkelana. Perempuan itu rela.

“Berkelana itu melelahkan,” kata lelaki itu.

“Tapi aku tak pernah kemana-mana,” tukas si perempuan.

“Lah, kalau begini, siapa yang harus mengalah? Saya, atau kamu?

Lalu diam.

**

Dunia lelaki itu boleh gloomy, boleh gelap, dan sendiri, tapi berada di dunianya memungkinkan lelaki itu berjalan kesana kemari, berpindah dari negeri satu ke negeri yang lainnya. Menikmati coklat Belgia sampai berjudi di Macau.

Kalau dunia perempuan itu?

Hm, boleh berwarna-warni, boleh hangat dengan selimut bernama sahabat dan keluarga, boleh ramai dengan suara tawa, tapi dunianya hanya berputar di situ-situ saja. Same old routine. Tidak ada adventure, tidak pergi kemana-mana. Boleh ramai, tapi jenis keramaian yang sama. Hampir setiap hari.

Dua dunia yang sama sekali berbeda.

Lelaki itu ingin masuk ke dunianya, sedangkan perempuan itu ingin berlari menuju ke dunia satunya.

Kalau sudah begitu, siapakah yang akan menjawab pertanyaan tadi, “Siapakah yang akan mengalah?”

Pertanyaan itu menggerus terus isi otak si perempuan, juga si lelaki. Jika mereka berganti dunia, lantas, kapan mereka saling menjejak di dunia yang sama? Mungkinkah mereka bisa duduk bersantai menikmati kopi dan pisang goreng, jika dunia mereka tidaklah sama?

Sampai suatu kali, perempuan itu akhirnya menyadari sesuatu.

Apa yang terpenting dari semua ini? Menjejaki sebuah dunia yang ia inginkan tapi berkelana sendirian, atau menjejaki sebuah dunia yang mungkin bakal berubah menjadi sama sekali lain jika dijejaki bersama dengan lelaki yang telah menumbuhkan cinta luar biasa di hatinya?

Karena dunia tidak akan terasa sama lagi jika lelaki itu ikut melangkah bersama-sama di dalamnya. Mungkin saja, it’s gonna be a whole new place!

Tidak selalu berwarna-warni, tapi akan selalu penuh dengan petualangan.

Ya.

Petualangan yang jauh lebih menyenangkan karena ada seorang lain yang akan menjaga dari belakang punggung kita…

**

“Saya iri dengan duniamu,” kata lelaki itu.

Perempuan itu tersenyum.

Don’t be, Sayang. Kelak, kamu akan tinggal di sini juga, bersamaku… Sabar, ya? Soon, Baby… Sebentar lagi…”

Dan lelaki itu membalas senyumnya.
Senyum yang perempuan itu tahu, akan sebentar lagi muncul di hadapannya dengan nyata..

***

Kantor, 4 November 2009, 4.12 Sore

About Lala Purwono

Published writer (or used to be, darn!). A wife. A mom. A friend that you can always count on.

Discussion

7 thoughts on “Tentang Dua Dunia

  1. Cerita ini mirip waktu aku baru tamat kuliah dulu, aku melanglang buana sendiri sampe nyangkut disini, sendiri, trus setelah nikah semua berubah

    Posted by Raffaell | November 4, 2009, 8:29 pm
  2. Lala dear … aku tahu, aku tahu. Aku doakan dengan sepenuh hati, semoga dua dunia itu bisa bertemu dalam sebuah dunia baru yang indah. Mungkin perlu perjuangan, tapi aku yakin Lala tidak pernah takut berjuang, kan?

    Selamat menunggu hari-hari yang membahagiakan.

    Salam sayang,

    Posted by tutinonka | November 5, 2009, 9:10 am
  3. mba lala, aku silent reader blognyaa yg slalu mengunjungi stiap bbrp hari, hehe..
    mw minta ijin ngutip kalimat
    “Karena dunia tidak akan terasa sama lagi jika lelaki itu ikut melangkah bersama-sama di dalamnya. Mungkin saja, it’s gonna be a whole new place!

    Tidak selalu berwarna-warni, tapi akan selalu penuh dengan petualangan.”
    yaa… bwt status fb.boleh yah? makasii.. 🙂

    Posted by yuk.i.me | November 6, 2009, 6:14 pm
  4. rumput di halaman tetangga biasanya terlihat lebih hijau … hehehe …:)

    Posted by Oemar Bakrie | November 7, 2009, 7:27 am
  5. fiktif?? hemmmm….

    Posted by Bro Neo | November 7, 2009, 8:57 am
  6. Fiktif mbak? Hehehe.. *curiga*
    Menurut saya memang seringkali rumput tetangga lebih hijau. Tapi lebih sering lagi.. hijaunyanya rumput kita pun juga bisa kita nikmati (tanpa peduli dengan rumput tetangga), ketika kita bersama dengan orang yang kita cintai..

    Semoga tercapai yang diinginkan mbak 🙂

    Posted by narpen | November 7, 2009, 11:26 am
  7. ah, aku sangat yakin… ini bukan fiktif!!!
    hahaha…

    Posted by Hasian Cinduth | November 20, 2009, 3:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Catatan Harian

November 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Celotehan Lala Purwono

%d bloggers like this: